Ditembak Balik Nembak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 May 2019

Pukul 6.45 WIB.
Segera ku bergegas untuk berangkat sekolah. Seperti biasa, aku berangkat diantar ayah. Di perjalanan terselip rasa takut. Takut karena terlamat dan mendapat hukuman dari guru. Perasaan itu seketika hilang saat pintu gerbang masih terbuka untukku, tepat di depan mataku.
“syukurlah.” batinku bernafas lega
Segera kulewati pintu gerbang yang lumayan sesak karena banyak siswa yang hampir terlambat sepertiku.

Seperti biasa, aku berjalan melewati taman sekolah dimana banyak siswa cowok nongkrong di situ. Tak ada niatan untuk cari perhatian, hanya saja jalan itu adalah jalan satu-satunya yang paling dekat dengan kelasku karena sekolah SMKku lumayan luas.

Sesampainya di kelas, aku disambut dengan 2 cewek yang suka ngejudge aku.
“hei girl! Kau selalu saja datang terlambat, payah!.” kata Mia.
“lu sih jomblo, kagak ada yang bangunin gak kayak kita ya mi?” Sahut Uyi.
“ha? Ngomong apa? Gak denger.” jawabku pura-pura tuli.

Aku duduk di bangku sebelah Mia dan meletakkan tas di bawah laci meja. Tiba-tiba, Darma si Gembul menghampiriku.
“ey! Fikri minta no hp mu.” kata Darma sambil meletakkan telapak tangan kirinya di atas meja.
“fikri punya no ku kali! Kalo lu mau minta ngomong aja. Haha” jawabku
“bukan fikri temen SMPmu dulu, tapi fikri yang hjmdvtgntkwq.” jawab Darma.
“haus pak? Haha” jawabku.
Memang si Gembul kalo ngomong agak belepotan, jadi aku sedikit malas untuk meresponnya. Dia tetap kokoh meminta nomer hp ku, tapi ku tak menggubris.
Dan “kring-kring” suara bel masuk berbunyi. Darma kembali ke tempat duduknya dan aku bernafas lega karena perdebatanku dengan Darma telah usai.

8 jam sudah berlalu. Waktunya pulang sekolah. Seperti biasa aku pulang dijemput ayah. Sesampainya di rumah, aku bergegas makan, mandi, nonton tv dan habis manghrib tiba-tiba handphoneku berbunyi “ting-ting”. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tak kukenal.
“hai Adis, aku fikri” ujarnya.
“ganti nomor lagi kamu fik?” jawabku.
“loh, aku bukan fikri temen SMP mu dulu. Aku temannya Darma.” jawab fikri.
“si Gembul usahanya kuat juga ternyata ya.” batinku.

Dengan cueknya aku membalas chat dari fikri, dan dengan pintarnya dia mencari topik pembicaraan.
Basa-basi dan gombal si Fikri terus berlangsung yang pada akhirnya Fikri mengajakku untuk bertemu.
“wah. Ada apa gerangan?.” batinku.
Aku si cewek polos yang memang canggung sama cowok dan belum pernah pacaran, menolak mentah-mentah ajakan Fikri. Dan Fikri tetap sabar menunggu sampai aku mau diajak bertemu. Memang sungguh polos diriku.

2 bulan berlalu, rupanya Fikri mulai geram dengan sikapku yang dingin dan sulit untuk diajak bertemu.
Di malam sabtu yang sepi, Fikri mengungkapkan perasaannya melalui pesan singkat.
Sungguh tak percaya diriku. selama ini Fikri mengajakku bertemu mungkin untuk mengungkapkan hal ini, itu dugaanku.
Kutolak Fikri dengan cara halus karena alasan aku tak mengetahuinya. Mau tak mau dia harus mengiyakan keputusanku.
Tak ada pilihan lain, dia mengajakku menjadi sahabat. Keputusan yang tepat bagiku.

Hubunganku dengan Fikri semakin lama semakin baik. Dia bercerita mengapa dia suka aku. Ternyata karena setiap hari aku selalu melewati taman sekolah yang di situ adalah tempat Fikri nongkrong. Dia juga bercerita saat aku dan kedua sahabatku menggodanya waktu main futsal.
“kamu inget gak? Waktu aku main futsal kamu godain aku sama temen-temenmu. Kamu bersembunyi saat aku menoleh ke arahmu. Tapi aku masih sempat melihatmu Haha.” ujar Fikri.
“wah. Dia baper ternyata.” batinku.
Aku dan kedua sahabatku memang suka menjaili orang dan tidak ada niat apapun saat menjaili Fikri.
Sejenak anganku mengarah kesitu, ingatanku membenarkan apa yang dikatakan Fikri. Sedikit ku ingat bagaimana wujudnya.

Meski kita satu sekolah, kita tak pernah bertemu. Sebab, Fikri sering sakit dan jarang keluar kelas.

2 bulan pula pun berlalu. Fikri pindah sekolah dengan alasan sering sakit dan jarang antara rumah dan sekolah terlalu jauh. Semakin tipislah kesempatanku untuk bisa bertemu Fikri dengan cuma-cuma.

Sore yang cerah, kebetulan ada acara karnaval di daerahku. Fikri mengajakku untuk bertemu, aku mengiyakan ajakannya demi rasa penasaranku.
Lagi-lagi aku diantar Ayah dengan alasan untuk melihat karnaval. “tidak apa, mungkin nanti bertemu di jalan.” batinku.

Betul saja dugaanku, di lokasi tiba-tiba Fikri memanggilku. Sontak aku terkejut “hey!.” ucapku. Ku menoleh ke arahnya,
Dengan refleks dan kaget aku berkata “fikri!.”
Tak ada yang kuucapkan lagi selain kata “lumayan tampan.” sambil senyum-senyum sendiri
Pertemuan yang sangat singkat namun berarti bagiku. Karena setelah pertemuan itu, Fikri jarng memberi kabar karena sakit. Sedangkan hati ini mulai merasa kehilangan seseorang yang memberi warna di hari-hariku.

Di sore hari, aku duduk di teras rumah. Tiba-tiba handphone berdering “ting-tung.” Fikri memberi kabar padaku.
Betapa senangnya aku. Dia muncul di kehidupanku lagi.
Namun senangku tak bertahan lama. Dia mengatakan kalau sudah punya pacar dan aku tetap menjadi sahabatnya.

Bukan apa, aku berpura bahagia meski di dalamnya sangat berduka.
Tetapi hubungan persahabatan kami tetap berjalan baik yang sampai akhirnya Fikri diputuskan pacarnya karena mengira kalau kita memiliki hubungan yang lebih.
Hubungan mereka berjalan hanya 6 bulan. Ada sedikit kegembiraan bagiku, karena perasaanku semakin lama semakin dalam untuknya dimulai sejak ada pertemuan singkat kala itu.

Ada benak ingin mengungkapkan rasa, tapi mengingat kalau aku adalah perempuan. Tak pantas jika aku melakukan itu.
Namun, jika tak aku ungkapkan, hari-hariku semakin lama semakin gelisah dan kacau.
Sehingga aku memutuskan untuk melakukan hal yang memalukan.

Di hari jum’at pukul 13.00 WIB aku mengungkapkan perasaanku yang telah lama aku pendam melalui sebuah pesan singkat. Tak kusangka, respon Fikri berkali-kali lipat lebih “wah” dariku.
Dia langsung menembakku.
Sekarang kita resmi berpacaran. Kita sering bertemu jika ada waktu luang untuk sekedar bercanda dan melepas rasa rindu.

Namun, bahagia kita tak berlangsung lama. Tepat 1 bulan hari jadian kita, aku dan Fikri memutuskan untuk tak bersama lagi karena ada kesalahfahaman juga. Dan sejak hari itulah tak ada pertemuan lagi aku dengannya, hubungan di sosial media pun juga tak berlanjut karena aku memang meminta Fikri untuk memblok semua sosmed yang berhubungan denganku agar aku bisa move on.
Amat mengenaskan cintaku.

Hari itu berlalu, masa lalu sudah kubuang jauh-jauh. Namun masih ada saja yang tertinggal. Yaitu cintaku, sampai saat ini cintaku padanya masih melekat erat dalam jiwaku. Kisah 2 tahun yang lalu masih terikat kuat dalam ingatanku.
Apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Saat ini aku hanya berharap bisa berjumpa lagi dengannya. Tak perlu lama, cukup kulihat wajahnya saja sebagai obat rinduku.
Aku rindu, amat rindu

Cerpen Karangan: Adis Viky Shofia
Blog / Facebook: Adis Viky Shofia
Nama: Adis Viky Shofia
Usia: 18 th
Hobi: menulis karya sastra

Cerpen Ditembak Balik Nembak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


DayDream

Oleh:
Covering my ears to listen to you Shutting my eyes to imagine you You have slowly become blurred, You have slowly left me in the unstoppable memories – Daydream

Berandalan Remaja

Oleh:
Kami sekumpulan pemuda-pemuda tanggung yang merasa hebat dan tak terkalahkan. Tidak ada yang benar-benar menakutkan bagi kami selama kami masih bersama. Kami hanyalah kumpulan-kumpulan teman-teman dekat yang melakukan banyak

Iis Safriani

Oleh:
Malam yang dingin di tengah suasana hati yang hening. Kalimat itu mungkin tepat untuk menggambarkan perasaanku saat malam. Bagaimana tidak, pagi hari kujalani biasa saja. Siang yang aku lalui

Arti Sebuah Pertemuan

Oleh:
Sore hari, langit kelabu berwarna kemerah-merahan disertai tiupan angin sepoi-sepoi. Lalu aku keluar duduk di teras depan rumah. Hari ini mengingatkanku tentang kenangan indah yang dulu pernah kualami, saat

Cinta Yang Telah Pergi

Oleh:
Pada sore hari Aku duduk di teras belakang rumah, sambil liatin ikan hias piaraan papa di kolam kecil samping teras. Aku kepikiran terus kata-kata Mutia sahabat baik aku di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *