Ditooo… Apa Lagi (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 18 December 2013

Sore yang dingin, Dito memandang ke langit yang semakin lama beranjak gelap. Tak sampai lima menit kemudian tetes-tetes air hujan mulai jatuh ke bumi. Hiks… hujan lagi… musim apa sih ini sebenernya? Dito sebenarnya punya segudang rencana sore ini. Sepulangnya dari kantor ia sudah berencana pergi nonton dilanjutkan dengan makan malam dengan sang pujaan hati yang baru dikenalnya tadi pagi… wkwkwk… gawat juga nih anak, main tembak di tempat, pagi kenal, sore diajak kencan, kalau perlu langsung ditembak.

Tapi… yah… hujan bertambah deras, mana petir menyambar-nyambar pula, rencana sore ini bakalan gatot alias gagal total. Segera Dito mengambil handphonenya dan dengan panik dia mencari nama sang gadis pujaan hati. Sial… kenapa aku bisa lupa ya… siapa tadi namanya? Itulah akibatnya kalau barusan kenalan terus janjian, begitu panik lupa deh semuanya. E…ee… aduuhhh… grrrhhh… kenapa jadi lupa sih. Dito kembali mengarahkan jemarinya untuk men-scroll nama-nama yang ada di phone booknya, sambil memelototi nama-nama itu satu per satu… khawatir ada yang terlewat. Ah… ini dia… Scarla… akhirnya ketemu juga. Dengan senyum penuh kemenangan Dito menekan tombol phone di HP nya, dan sedetik kemudian… tuuut… tuut… nada tunggu… semenit… dua menit… tiga menit berlalu tanpa ada jawaban, mendadak tut.. tut.. tut… yaaahhh putus, kemana ya nih anak.

Rasa penasaran masih menggelanyut di hati Dito, sekali, dua kali, tiga kali dicoba telpon tetap masih tidak diangkat. “Apa aku salah memasukkan nomor HP ya?” runtuk batin Dito… gawat… gawat nih. Akhirnya Dito menyerah juga setelah untuk kesebelas kalinya dia mencoba telpon Scarla. Dito memasukkan HPnya ke dalam saku celana sambil melangkah gontai masuk kembali ke dalam ruang kerjanya yang ber AC. Brrr… dingin amat nih AC, apa karena aku barusan di luar en agak kehujanan ya? Lah kenapa baju ini basah semua, ternyata tadi saat sibuk telponan tanpa sadar Dito berdiri jauh ke depan teras di tempat yang tidak lagi beratap, sehingga tetes-tetes air hujan membasahi bajunya. “Pantesan aku kedinginan, bajuku basah semua gini, bisa masuk angin nih aku”. Ah… untung aku kemarin bawa kaos yang mau untuk futsal kemarin sore tapi batal. Dimana ya nih kaos… nah ini dia ketemu. Dito langsung melepas bajunya yang basah dan mengamit kaos kering yang baru ditemukannya, mendadak “AAahhh” sebuah pekikan tertahan di balik pintu yang emang ga ditutup oleh Dito. Sandra menutup mulutnya berusaha menahan teriakannya. “Ditooo gilaaa kamu” “ganti baju tuh di kamar mandi atau minimal pintunya ditutup yooo…”. “Hehe” jawab Dito singkat dengan muka culunnya. “Maaf, buru-buru tadi”. “Sarap… emang loe gila kali yeee” runtuk Sanda sambil menjauh dari Dito sembari memegang jidatnya sendiri “cape deh, gini deh jadinya kalau berurusan sama orang gila”

Ting ting tong… ting ting tong… tong ting (ringtone sebuah merk HP terkenal) berdering di HP Dito. Ah Scarla… horee… batin Dito bersorak gembira… buru-buru diterimanya telpon dari sang pujaan hati. “Ada apa sayang?” Deg… batin Dito. Hatinya langsung berbunga-bunga dipanggil sayang oleh sang gadis pujaan hatinya. “Eng… anu…” Hehe ya begini ini kalau Dito lagi grogi bahasanya jadi gak lancar “begini…”. “Kamu kenapa sih?” lho.. lho… lho bahasa lembut Scarla mendadak berubah menjadi teriakan bengis bak nenek sihir. “Aku lagi hemat pulsa, buruan ngomongnya” lanjut Scarla yang disambut dengan tampang bego Dito. Ni anak kalau udah syok bawaannya kembali ke pikiran balita… bego akutnya kumat deh. “Eh.. ya udah deh sorry…” jawab Dito. “Loh… gimana sih” teriak Scarla dari seberang sana. “OK aku aja yang nelpon” jawab Dito singkat, setelah dia tersadar dari bego dadakannya. Harga dirinya sebagai laki-laki terasa diinjak saat diteriakin seperti itu. Oke deh Scarla memang cantik, body b*hay, tapi kalau judesnya kelewatan atuuut (baca: takut) deh jadinya.

Dito segera men-dial nomor Scarla “tuuut… tuuut… Halo” suara manis Scarla di seberang sana, weits tapi kok ada suara cowok di dekatnya ya, “sebentar” terdengar lirih suara Scarla. “Halo” sahut Dito, “aku cuma mau batalin janji kita sore ini… hujan nih jadi aku nggak bisa jemput kamu” . “Okay, but next jangan ingkar janji lagi ya” jawab Scarla singkat sambil menutup telponnya. “tut.. tut.. tut” Dito masih bengong sambil memegang HP yang masih menempel manja di kupingnya.

“Siapa ya cowok yang tadi Scarla ajak bicara, ah… sudahlah jangan berburuk sangka siapa tahu itu adeknya atau malah supirnya” batin Dito. “Tapi kok ada yang aneh dari suara Scarla tadi terasa agak berbisik… seperti takut didengar orang lain, ada apa ya?” batin Dito melanjutkan petualangannya.

Esok paginya saat bangun tidur, Dito mendapati sebuah pesan singkat di HP nya, dari Scarla, “Dito, ntar sore jadi jalan kan? Scarla kebetulan lagi butuh tas buat ke acara ultah temen weekend ini, jadi ntar sekalian nyari” “oke deh pujaan hatiku” jawab batin Dito berbunga-bunga. Segera ditulisnya “OK Scarla mpe ketemu ntar jam 7 malem ya, aku jemput di rumahmu” Cihuuuyyy… akhirnya kecan yang tertunda kemaren terbayar sudah.

Dito gak sabar menanti hari menjadi gelap, sepanjang siang mendadak Dito rajin memandangi jarum jam dinding yang terasa bergerak lebih perlahan daripada biasanya. Ketika jam menunjukkan pukul 16.50, Dito segera berkemas. Yang ada di kepalanya hanya Scarla, meski pekerjaan hari ini banyak yang jadi rada berantakan. Hehe… memang parah ni anak kalau udah ada maunya yang lain urusan yang lain mesti minggir semua.

Setelah mandi dan berdandan rapi, tak lupa Dito mengoleskan minyak rambut ke rambut di kepalanya dan menatanya sesuai gaya yang lagi ngetrend “mohawk”. “Kayaknya aku kelupaan sesuatu deh tapi apa ya” batin Dito, “ah, sebodo amat…” Lupa kayaknya memang menjadi sohib dekatnya. Sesudah meyakinkan bahwa dirinya benar-banar sudah rapi, dan sesudah mengikhlaskan kaca cermin tidak lagi memandangi dirinya, Dito bergegas berangkat menuju rumah sang pujaan hati, Scarla nan imut permai, tapi membahana bak permata yang berkilau.

“Duh, mana nih cowok, ngaretan juga ternyata” Scarla sudah tak sabar menunggu di depan rumahnya. Tetapi sedetik kemudian terdengar suara mesin peggiling kelapa nan berisik, “pasti tuh Dito”. Scarla segera mempersiapkan senyum manisnya untuk menyambut Dito.
“Scarla, cantik, yuk berangkat” sapa Dito begitu wajahnya menyembul di balik kaca helm, tepat di depan hidung Scarla (maksudnya karena Scarla nungunya di depan pagar rumahnya jadi motor Dito berhenti lima senti di depannya). Scarla hanya melempar senyum manis, mengambil helm dari tangan Dito, mamakainya, lalu melangkah ke boncengan Dito.

Brrrummm… kepulan asap tebal dan suara mesin penggiling kelapa meninggalkan Scarla yang masih berdiri tegak mematung. Sedetik kemudian… “Ditoooo…” lengkingan panjang Scarla mengalahkan suara mesin penggiling kelapa. Dito buru-buru menghentikan motornya dan “ya ampun kenapa Scarla bisa ketinggalan ya…”
“maaf… maaf… kayaknya gue terlalu semangat deh, maapin ye…” Dito memberondong ucapan permintaan maaf tanpa memberi kesempatan Scarla berbicara. Dengan wajah manyun Scarla langsung duduk di boncengan Dito, “jalan” katanya dengan ketus. Yah tapi memang wajar, siapa sih yang gak kesel punya cowok begonya gak ketulungan. Padahal sih sebenarnya Dito tuh gak bego-bego amat, kan dia lulusan PTS terkenal dengan IPK yang diatas 3.25. Cuma dia bakalan jadi bego kalau lagi terlalu gembira atau lagi kaget.

Sebentar kemudian mereka berdua tiba di sebuah mall. Segera Dito mencari parkiran untuk motor tercintanya. Setelah beberapa menit berkutat dengan antrian di pintu masuk dengan mesin tiket otomatisnya, akhirnya Dito menemukan sebuah tempat parkir untuk motornya.

“Yang ini bagus deh” kata Scarla sambil memamerkan sebuah tas berwarna ijo lumut, “atau yang ini saja kelihatan agak wow gimana gitu…” kata Scarla sambil memamerkan tas yang lebih mirip karung beras saking gedenya. Dito membayangkan seandainya tiba-tiba Scarla berubah menjadi pendekar jaman Majapahit yang sedang bertarung dengannya, terus dia hunus pedangnya, Dito terdesak dan terjatuh, lalu tanpa ampun Scarla menggorok lehernya dan memotong-motong tubuhnya dengan pedang, lalu dimasukkan dalam tas itu, kayaknya cukup deh. “Ditooo… kamu tuh diajak ngomong malah ngelamun, hoiii”. “Eh… oh… sorry” jawab Dito setelah tersadar dari lamunannya.
“Kayaknya mending yang ijo aja” jawab Dito sekenanya. “Ok, Mbak saya ambil yang ini”. Kalimat Scarla langsung disambut senyum manis oleh mbak-mbak SPG yang berjaga di counter itu. “Ambil satu aja, Mbak?” “Maunya sih lima mbak tapi kayaknya cowok saya gak kuat bayarinnya” jawab Scarla yang langsung disambut cibiran Dito. Satu sama… ini pembalasan gara-gara tadi Scarla hampir ketinggalan dari boncengan motor.

Acara shopping sore itu diakhiri dengan minum teh berdua, maksudnya beli tehnya 1 gelas, minta sedotan 2 biji terus diminumnya bergantian. Jangan dilihat dari nilai rupiahnya (baca: pelitnya Dito) tapi lihatlah dari sisi romantisme nya, minum segelas berdua, so sweet.

Malam itu keduanya mimpi indah tentang pertemuan mereka sore tadi.

Cerpen Karangan: Axas
Blog: Http://andystnt.blogspot.com

Cerpen Ditooo… Apa Lagi (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia Kita Berbeda

Oleh:
Namaku Vesya. Aku adalah seorang gadis berkacamata yang duduk di bangku kelas X SMA Nusa Bangsa, selain gadis yang berkacamata aku juga seseorang yang pendiam dan tidak terlalu akrab

Paris, Help Me

Oleh:
“Hidup di negeri orang. Tersesat. Bingung. Jadi gelandangan.” — Otak Sindy tersetrum listrik. Error. Kesalahan fatal dalam dunianya kali ini bermula karena kecerobohannya membeli tiket pesawat. Ia salah memilih

Boyfriend

Oleh:
“hei, kan sudah kubilang kalau yang itu jangan pasang di sudut sana tapi pasang di atas, ngerti nggak sih kalian!” “udahlah Sel, hampir seluruh anggota panitia yang ada disini

Dia Bukan Kakakku

Oleh:
“Masih belum mau cerita siapa dia?” Kinan terkejut mendengar suara ayahnya. Buru-buru dia mematikan ponselnya. “Apaan sih, Papa? Bikin kaget aja!” “Walaupun cuma namanya?” tanya ayahnya sekali lagi. Kinan

Aku dan Ceritaku

Oleh:
Namaku Aditya Prahasta, hobiku menggambar. Saat menggambar aku hampir sering lupa waktu. Itu membuatku jarang bersosialisasi dan membuatku hanya punya sedikit teman atau sering kusebut sahabat. Aku seorang pemalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ditooo… Apa Lagi (Part 4)”

  1. Mz C says:

    Keren ni cerpennya. Ditunggu Next nya yaa. Semangat berkarya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *