Don’t Leave

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 19 June 2017

Entah mengapa keadaan di kelas tidak seperti dulu. Kini rasanya membosankan. Apalagi Rina masih terlihat cuek kepadaku. Entah mengapa itu terjadi. Aku merasa seperti telah melakukan sesuatu terhadapnya, tapi apa? Aku sendiri tak tahu.

Belajar di sekolah rasanya menjadi sangat membosankan. Dari pagi sampai sore cuma belajar saja. Tak ada yang lain. Entah mengapa saat aku tak berbicara dan tidak chatingan lagi dengan Rina rasanya aneh. Seperti semangatku yang dulu hilang.
Biasanya aku mengerjakan pr di rumah, sekarang tidak. Aku menyelasaikan semua pr di sekolah. Itu pun nyontek. Aku merasa mulai keluar dari diriku sendiri. Kemana diriku yang selalu rajin? Apa mungkin aku berubah karena Rina? Entahlah.

Pada jam pelajaran pertama tiba-tiba Bu Caca masuk ke kelas secepat kilat. Mukanya terlihat memerah. Sepertinya ia ingin marah. Entah kenapa?
“Ibu kan sudah bilang, kalau kelas harus setiap hari dibersihkan.” kata Bu Caca sambil memukul meja. “Sekarang apa? Kelas berantakan begini. Sampah di mana-mana. Siapa yang bertanggung jawab?” Semua murid terdiam tak ada yang berani menjawab. “Kalau gitu seksi kebersihannya aja. Mana dia?”
“Saya Bu.” Aku berdiri dari bangkuku. “Saya yang bertanggung jawab atas semua ini.”
“Okee.. Sekarang kamu langsung ikut ibu ke lapangan.” bu Caca pelahan keluar kelas, diikuti aku di belakangnya.
Saat keluar kelas aku sama sekali tak menatap ke teman-temanku di kelas. Entah apa yang aku lakukan ini benar atau salah.

Dengan pasrah aku mengikuti Bu Caca ke lapangan. Sudah pasti ia ingin menghukumku. Bu Caca berjalan sangat cepat ke lapangan. Sepertinya ia ingin cepat-cepat menghukumku.
“Sini kamu Aldi.” Bu Caca membawa ku ketengah lapangan upacara. Kamu liat matahari kan?”
“Liat Bu.”
“Masih pagi bukan? Kalau pagi baik kan untuk olah raga?”
“Iya Bu. Baik.” jawabku sambil menunudukan kepala.
“Kalau begitu kamu lari 5 keliling.” mendengar hanya 5 keliling hatiku sedikit lega. “Ditambah, skotjam sambil muterin lapangan 5 puteran, sama jalan jongkok 5 puteran!” Sepertinya kakiku akan copot.
“Siap Bu.” jawabku dengan muka melas.
Dengan terpaksa aku menuruti semua itu. Tak bisa lagi aku membuat alasan. Bu Caca saja terlihat sangat marah, jika aku membuat alasan dia pasti akan menanmbahkan hukumannya.

Sebenarnya aku bukan seksi kebersihan di kelas. Bahkan aku tidak punya jabatan apa-apa di kelas. Sebenarnya hal ini kulakukan karena aku tahu kalau Rina lah seksi kebersihannya. Entah mengapa aku mau melakukan hal ini? Sebenarnya aku juga merasa sedikit bersalah, karena kemarin sesudah pulang sekolah aku tidak piket. Padahal kemarin itu jadwal piketku.

Baru 4 putaran aku berlari, rasanya sudah lelah. Apalagi aku memakai pakaian putih abu-abu. Rasanya panas sekali. Matahari pun bersinar terang, membuat keringat ini terus mengucur. Tapi bagaimana pun aku harus menyelasaikan hukuman ini.
Di pinggir lapangan masih ada Bu Caca yang mengawasiku. Sepertinya dia tak ingin melepaskanku dari hukuman ini. Di pinggir lapangan juga ada beberapa anak kelas 10 yang sepertinya sedang asik melihatku dihukum. Rasanya sedikit malu, tapi mau diapakan lagi?

Setelah lari 5 putaran aku beristirahat sebentar. Bahkan aku tak tahu sedang duduk di mana, kotor atau tidak, panas atau tidak, yang penting duduk lah. Sekarang masih ada skotjump dan lari jongkok yang harus aku lewati. Semangat!

Bel istirahat kedua pun berbunyi. Semua murid berbondong-bondong pergi ke kantin. Tapi, tidak denganku. Aku pergi ke UKS. Di sana juga pasti ada minum dan badanku ini rasanya sakit semua. Jadi aku ingin tiduran sebentar di UKS.
Tak ada pikiran untuk kembali ke kelas. Bukan karena aku malu, tapi rasanya aku sudah tak kuat lagi. Apalagi setelah istirahat ke dua ini ada pelajaran Fisika. Bisa-bisa aku dihukum lagi karena tidur di kelas.
Kurasa cobaan hari ini sudah cukup. Entah berapa jam aku terus berlari tadi. Rasanya semua ototku kram. Yang bisa aku lakukan saat ini adalah tidur di UKS.

Entah mengapa terbayang Rina di otakku. Apakah Rina memikirkanku? Sebelumnya aku dan Rina sangatlah dekat. Dan karena itu yang membuatku suka padanya. Dia tak terlalu cantik, tak terlalu pintar, bahkan banyak perempuan lain yang lebih dari dia. Tapi entah mengapa aku selalu memikirkannya.
Mungkin beginilah jika aku menyukai seseorang. Aku tak akan melepasnya dari bayangku dan tak akan ada yang lain di hatiku. Kecuali ada seseorang yang telah memilikinya, aku pasti akan pergi.

Saat ini yang aku pikirkan hanyalah pulang. Rasanya aku ingin mandi dan tidur. Mungkin tidurku tak akan sebentar saat di rumah. Jelas aku sudah seperti ini. Aku sudah memikirkan pulang tapi jam masih menunjukan 13.00. Masih 2 jam lagi. 2 jam rasanya seperti 2 hari jika sudah begini.
Entah mengapa aku masih saja memikirkan mengapa aku melakukan hal itu. Tak biasanya. Bahkan tak pernah, baru kali ini saja.

Setelah beberapa menit aku tiduran di UKS. Aku memutuskan untuk kembali ke kelas. Biasanya pada jam pelajaran terakhir tidak ada guru. Jadi aku bisa beres-beres lalu pulang.
Saat berjalan rasanya sempoyongan, seperti ingin jatuh. Tapi aku mencoba untuk tetap kuat. Bajuku juga sudah kering dari keringat. Tapi bau keringat ini tak kunjung hilang. Saat melewati lorong-lorong kelas aku berjalan sedikit ke pinggir. Agar bila aku jatuh aku bisa bersender ke tembok.
Saat sampai di kelas, aku langsung duduk di bangkuku. Seperti yang sudah aku bilang. Tak ada guru di jam pelajaran terakhir. Teman-teman satu kelasku melihatku dengan kasihan. Tak sedikit dari mereka yang menanyakan hukuman yang aku dapat. Tapi aku tak pedulikan mereka. Aku langsung saja tidur di meja. Mataku sudah tak sanggup lagi membuka.

Tak terasa sudah sore. Akhirnya aku pun terbangun dari tidurku. Ohh ya, aku lupa kalau aku tidur di sekolah. Aku segera melihat jam dengan muka yang masih ngantuk. Jam tanganku sudah menunjukan pukul 15:58, berarti sudah jam 4 sore. Jam segini pasti sekolah sudah sepi.
Saat aku melihat sekeliling kelas ternyata masih ada orang di kelas. Rina, ya Rina. Rina sedang duduk di bangku paling depan sambil memainkan handphonnya. Tak lama aku berjalan ke arahnya dengan membawa tas yang kugendong sebelah.

“Rin! Lo kok masih di sekolah sihh?” Tanyaku sambil duduk di sebelahnya.
“Enggak, gak kenapa-kenapa. Emang gak boleh yaa?”
“Boleh-boleh aja sih. Tapi kan gak biasanya. Lo nungguin gue yaa?” aku mengarahkan tatapanku ke wajahnya
“Iyaa. Gue nungguin lo.” jawab Rina yang masih memainkan handphonennya.
“Ya ampun Rin. Gak usah nungguin lo kali. Lo pulang aja, gak papa.”
“Tapi kenapa tadi lo maju? Emang lo seksi kebersihannya di kelas ini? Emang lo yang salah?” tanya Rina dengan tatapan serius.
“Yaaa, emang gak boleh? Boleh-boleh aja kan.” kataku yang juga menatapnya.
“Tapi kan kalo gitu lo sama aja ngorbanini diri lo sendiri Di. Liat sekarang lo kaya gimana? Lo kecapean. Rumah lo kan juga jauh. Apa kuat lo pulang sendiriian? Gue khawatir tau gak. Lo gak perlu Di ngelakuin sejauh ini.”
“Rin. Gue ngelakuin semua ini karena gue suka sama lo. Gue gak bisa nahan rasa ini lagi. Gue gak bisa terus-terusan lo cuekin. Emang kenapa dengan gue, gue ngelakuin kesalahan sama lo?”
“Tapi Di, lo gak perlu segininya. Ini udah diluar batas tau gak sihh.” Rina mengalihkan pandangannya ke depan.
“Tapi kenapa? Kenapa lo cuekin gue? Gue gak bisa kalo sehari gak ngomong sama lo.” aku terus melihat ke arah Rina.
“Aldi.” Rina kembali mengerahkan pandangannya ke arahku. “Gue cuma gak mau ngerasain patah hati. Gue rasa udah cukup sekali.” tiba-tiba Rina menangis.
“Gue tau Rin. Tapi kan kita sama-sama tau. Kalau kita sama-sama pernah dibuat patah hati sama seseorang. Gue kan pernah ngerasain, jadi gue gak akan ngelakuin itu sama lo.”
“Tapi Di, gue ini gak sesempurna apa yang lo pikir.”
“Gue tau kok. Gue gak perlu orang yang sempurna, gue gak perlu cewek yang cantik, yang pinter, yang kaya, pokoknya yang segalanya deh. Gue gak perlu itu. Gue cuma perlu lo. Dengan adanya lo gue ngerasa hidup gue sempurna, hidup gue jadi lebih berarti, jadi lebih baik. Itu semua karena lo.” aku memegang kedua pundak Rina. “Tenang aja Rin. Gue gak maksa lo untuk bisa suka sama gue juga kok. Tapi tolong biarin gue untuk terus suka sama lo.”
“Tapi…” Aku memotong omongan Rina yang belum selesai.
“Gue gak minta jawaban Rin. Gue cuma pengen lo gak cuekin gue lagi. Lo anggep aja gue temen lo kaya yang lain. Atau lo anggep aja gue temen yang baru lo kenal. Kita mulai dari awal lagi. Jujur, gue kangen sama lo yang dulu. Lo yang sering natap gue gak jelas, yang sering nyubit tapi sumpah gue kangen sama rasa sakitnya. Pokoknya seterah lo deh.” kataku dengan nada setengah serius.
“……” Rina menahan tawa.
“Lahh, kok ketawa. Emang lucu yaa?” kataku heran.
Tanpa sadar Rina menangis sambil tertawa. Aku jadi takut melihatnya. Apa dia kesurupan? Ah tidak mungkin.
“Kan gue udah pernah bilang Di. Kalau cubitan gue tuhh pasti akan lo kangenin.” kata Rina sambil menghapus air matanya sendiri. “Kalo gitu gue cubit yaa?”
Rina tanpa rasa kasian mencubit lenganku dengan kencang. Alhasil aku teriak dengan kencang. Ternyata rasanya masih seperti dulu. Tapi kali ini rasanya lebih lembut.

“Sakit gak?” Tanya Rina sambil mengernyitkan dahinya.
“Enggakk… Lagi dong! Tapi pelan aja yaa hehehe…”
“Ya udah sini tangannya!” Rina siap untuk mencubit lagi.
“Gak. Gak mau ahhh.” aku langsung kabur dari cubitannya, dan Rina pun mengejarku.
Aku dan Rina jadi main kejar-kejaran di kelas. Sepertinya dia juga kangen ingin mencubitku lagi. Mungkin baginya 1 cubitan masih belum cukup. Aku pun memang kangen dengan cubitannya, tapi tetap saja sakit rasanya.

Entah mengapa sore itu menjadi sore yang indah. Akhirnya masalah ini terselesaikan sudah. Ku kira aku akan terus dicuekin sama Rina. Kalau itu terus terjadi aku tak tahu harus bagaimana lagi.
Mungkin, pacaran bukanlah jalan yang terbaik untukku dan Rina. Memang, aku sangat ingin mendapatkannya. Tapi saat ada pertemuan pasti ada perpisahan. Aku hanya takut suatu saat nanti kehilangan dia. Mungkin dengan adanya dia di sampingku sudah cukup membuatku bahagia.
Mungkin juga karena aku dan Rina sama-sama pernah patah hati, jadi kami berdua sama-sama ragu untuk berpacaran. Aku hanya bisa pasrah dengan keadaan. Entah kedepannya akan jadi seperti apa, aku tak tahu.

Kini Rina akan selalu ada dalam do’a ku. Do’a setelah sholatku. Aku akan selalu berdo’a agar kelak nanti aku dipertemukan kembali dengannya. Saat aku sudah siap menghadapi dunia sendirian, saat aku sudah bisa membahagiakan orangtua, saat aku bisa mendapatkan segala impianku.
“I love you, and I need you. Don’t leave again.” dari hatiku yang terdalam.

Cerpen Karangan: Aziz Rito’a
Facebook: Aziz Cassanova

Cerpen Don’t Leave merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Halal Bersamamu

Oleh:
“Assholatu Khairun minan naum” Kalimat adzan yang hanya dapat didengar ketika subuh itu membangunkan herman dari tidur pulasnya. Hanya membuka mata dalam hitungan 5 detik saja dan dengan mulut

Penyesalan Cinta

Oleh:
CINTA… Cinta bagiku adalah rasa kasih sayang terhadap sesama… cinta itu suci… indah… dan tak dapat di ungkapkan dengann kata-kata. PENYESALAN… Penyesalan untuk ku merupakan perasaan bersalah atas semua

Di Balik Sikap Aneh Si Ale

Oleh:
“Loe tahu nggak kenapa akhir-akhir ini jadi aneh?” tanyaku pada sahabatku Beno yang sedang duduk di samping gue. “Masak sih, kayaknya Ale biasa-biasa aja deh Ci” jawab Beno sambil

Dusta Persahabatan

Oleh:
Pagi yang tetap sama. Gelap tanpa secercah cahaya. Ini adalah hari-hari biasa yang sangatlah membosankan. Mau pagi, siang, sore, ataupun malam, semuanya gelap gulita. Sudah biasa sejak 6 bulan

My Star

Oleh:
“walau kamu jauh, nggak tahu kenapa aku selalu ingin menggapaimu.” gadis itu berdiri di teras kamarnya, matanya menatap langit hitam yang berkelap-kelip oleh bintang yang bertaburan indah di sana.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *