Dream Card

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 January 2018

“Aw!” kata seseorang yang aku kagumi selama beberapa bulan ini. Tak sengaja aku menyinggung pinggangnya dengan sikuku saat hendak mengeluarkan tangan dari tas. Dia hanya memasang wajah datar dan dingin, namun ia agak sedikit kesal. Aku hanya membalas dengan senyuman dan minta maaf padanya. Di dalam hati aku melompat kegirangan karena aku bisa bersentuhan dengannya walaupun dengan tanpa disengaja. Kemudian ia berlalu meninggalkanku menuju lapangan upacara bersama teman-temannya. Hari itu hari jum’at dimana setiap paginya diadakan kultum alias kuliah tujuh menit.

Sejak kejadian itu aku selalu berharap bisa menjadi seseorang yang berharga di hatinya walau hanya sesaat. Aku cuma ingin merasakan bahagia bersama dengannya, diantar pulang atau mengerjakan tugas bersama. Semua khayalanku itu selalu kurangkai bila malam tiba, meski kutahu khayalan itu tak akan pernah menjadi nyata. Bahkan setiap hari pikiranku selalu padanya, membayangkan saat-saat indah yang kami lalui bersama layaknya sepasang kekasih.

“Hooaaaam…” kubuka mataku perlahan dan tersadar aku baru terbangun dari mimpi indahku dengannya. Rasanya aku ingin tidur lagi melanjutkan mimpi itu tapi jam beker di meja belajar seakan menyuruhku lekas mandi dan segera berangkat sekolah. Mimpi itu ya mimpi itu selalu menghantuiku saat mandi sampai berangkat sekolah aku selalu bertanya-tanya akankah mimpi itu akan menjadi kenyataan? Oh ya Allah jadikanlah mimpi menjadi kenyataan walaupun aku merasakan kebahagiaan itu hanya sesaat pintaku dalam hati.

Tiba di kelas aku terkejut melihat ke sekelilingnya karena sepi. Tak ada satupun teman sekelasku yang telah datang, biasanya jam segini mereka sudah pada nongol tuh. Aku langsung berjalan menuju bangku yang berada di tepi dinding barisan nomor tiga. Sepucuk surat segi empat kecil tergeletak di atas mejaku. Aku pun heran kenapa ada surat berwarna pink ini ada di sini. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh isi kelas kalau mungkin ada seseorang yang meletakkan surat itu tapi malah salah sasaran. Tak ada orang satu pun, kembali mataku tertuju pada surat itu. Kuangkat dan mulai kubaca

“Happy birthday Divia!”. Hah! Astaghfirullah… aduh kenapa aku lupa sih di hari ulang tahunku sendiri? Tanyaku sendiri dalam hati. Seketika lampu kelas menyala semua dan teman-teman sekelasku tiba-tiba masuk membawa kue yang di atasnya bertengger angka 17.
“Happy birthday.. Happy birthday.. Happy birthday.. Happy birthday.. Divia… yeee…” semua teman-temanku mengelilingi membentuk lingkaran.

“Happy birthday yah Divia” ucap salah satu temanku. Dan diikuiti oleh semua temanku yang lainnya. Aku membiarkan mataku mencari sesosok orang yang ingin kuharapkan saat moment ini. aku tak berhasil menemukan wujudnya, di mana dia? Kenapa dia tidak muncul? Atau mungkin ia belum datang pikirku dalam hati.

“Hoy! Kok malah ngelamun sih buk nyari siapa?” tanya sahabatku. “Hmm nggak ada aku cuma masih bingung aja pagi-pagi sudah dapat surprise, makasih ya semuanya” ucap ku bohong karena aku tak mau ada satu pun yang tahu kalau aku sedang mencari Def pangeran hatiku.

Hari ini aku merasa orang yang paling bahagia di dunia ini. Hanya satu yang selalu terpikirkan olehku, ke mana Def? Apa dia sakit sehingga ia tidak masuk hari ini, hari dimana hari yang begitu spesial bagiku. Rasanya aku tidak ingin langsung pulang ke rumah. Aku ingin menghabiskan beberapa jam lagi untuk menghirup udara segar di tepi danau.

Tiba di danau
Hamparan danau yang luas kembali mengingatkanku pada Def. Entah kenapa aku merasa kehadirannya di sekitar danau ini. Pandanganku lurus menatap danau tak berkedip sedkitpun.

“Happy birthday!” ucap seseorang dari belakangku.
Aku pun membalikkan badanku ke belakang, Def! jeritku dalam hati. Aku mencubit tanganku, memastikan bahwa aku sekarang tidak dalam mimpi. Aw! Sakit, ternyata benar ini nyata.

“D..D..Def!?”
“Iya, ini aku Def” kata Def memastikanku.
Aku tersipu malu berada di depannya, nafasku menderu kencang dan keringat dinginku bercucuran.

“Happy birthday” ucapnya lagi padaku.
“Terima kasih” sontak aku merasa pipiku menjadi hangat.
“Aku mau memberikan ini padamu” Def mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas sekolahnya.

“Apa ini?” tanyaku penasaran
“Kamu pasti akan tahu setelah membukanya”
“Ok. Aku buka ya”
“Hmm”

Aku pun langsung membuka kotak itu dan betapa terkejutnya aku seketika tahu apa isinya. Ini kan buku dream card pribadiku, buku dream card yang selalu aku tulis hanya satu kata yaitu nama Def pikirku dalam hati, tapi… dari mana Def mendapatkannya? Aku menunduk diam, bahkan untuk mengangkat kepala untuk menatap Def saja rasanya aku tak mampu. Begitu juga Def, ia juga diam beberapa saat. Mengikuti yang aku lakukan yaitu menatap danau. Aku memberanikan diri untuk menanyakan perihal dari mana ia dapatkan buku dream card itu. Sebelum itu aku mendesah panjang. Tapi Def lebih dulu memulai pembicaraan di antara kami.

“Itu buku kamu kan?” tanya Def serasa pedang menghujam hulu hatiku.
“Iya” jawabku menunduk menatap buku yang ada di gengamanku.
Suasana kembali hening.

“Aku menemukannya di kelas, mungkin kamu lupa membawanya pulang waktu itu. Jadi.. aku ambil”
“Hmm”
“Kenapa kamu menghabiskan waktumu hanya untuk menulis namaku?”
“Aku… aku… eee itu… anu… duh..”

“Kamu tidak perlu grogi begitu, santai saja. Santai saat kamu menulis ribuan namaku sampai buku dream cardmu habis”
“Aku… aku cuma lagi mood aja menulis” kataku mencari alasan.
“Tapi kenapa harus nama aku yang harus jadi pemeran utamanya?”
“Hah? Gila! Emang film apa pakai-pakai pemeran utama segala, ish”

“Nggak usah banyak alasan deh, mengaku saja..”
“Hmm”
“Aku tahu kok! Kamu suka sama aku, iya kan?”
“Hmm iya… karena kamu terlalu tampan. Aku tak mau terlalu berharap padamu. Makanya setiap malam aku hanya bisa menulis namamu sampai buku dream card ini penuh” ucapku sambil menatap lurus ke danau.

“Apa aku begitu penting buat kamu?”
“Iya… mana mau aku menulis kalau untuk hal yang tidak penting”
“Kok kamu memberi nama buku itu buku dream card sih?”
“Karena aku selalu bermimpi dan berharap mimpi itu akan menjadi nyata”

“Bagaimana kalau aku membuat mimpi itu menjadi nyata?”
“Emang kamu mau melakukan apa?”
“Aku mau membuat semua mimpi kamu tentang aku menjadi nyata, gimana? Kamu mau kan?”
“So, will you be a girlfriend Divia?”

What!!! Def nembak aku? Apa aku tidak salah dengar nih? Tanpa basa basi aku langsung menjawab jawaban Def.
“Yes i will”
Def tersenyum padaku, aku pun membalas senyumannya. Senyuman yang selama ini aku impikan menjadi milikku. Senyum yang selalu aku inginkan hanya untukku. Mimpiku semalam menjadi nyata yang tak akan terlupakan di umurku yang ke tujuh belas tahun. Terima kasih Def telah membuat semua mimpi itu menjadi kenyataan.

Cerpen Karangan: Sisi Aulia Putri
Facebook: Sisi Aulia Putri

Cerpen Dream Card merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenapa Harus Kamu? (Part 2)

Oleh:
Kami pun sama-sama memacu kendaraan kami masing-masing. Aku yang merasa agak canggung, entah kenapa kami jadi membisu kembali. Aku pun memulai pembicaraan dikala itu, dengan kendaraan bergandengan. “maaf ya

Memori Bersama IPA 1 Smansa Mamuju

Oleh:
Entah mengapa malam ini aku memikirkan sesuatu. Entah mengapa malam ini teringat Sesuatu. Entah mengapa malam ini hanya ada aku. Entah mengapa malam ini aku ingin menulis sesuatu. Kehidupan

Ketidaksengajaan Rasa

Oleh:
Hari minggu adalah hari yang dinanti-nanti oleh semua pelajar di indonesia, karena hari weekend merupakan hari bebas dari pelajaran yang memabukkan itu menurut Tasya Anggraini, seorang siswa SMAN 1

It’s Not Easy

Oleh:
Dulu, jauh sebelumnya kami begitu akrab. Kami sering membicarakan banyak hal. Dulu kami begitu ringan berdiskusi tentang hidup, cita-cita, dan mimpi-mimpi. Namun, kini tak lagi seperti itu. Tak ada

Gadis Teh Hangat (Part 1)

Oleh:
Kau tau jatuh cinta itu sangat tidak enak, ya tidak enak! Coba saja kau bayangkan, bagaimana rasanya melabuhkan perasaanmu kepada orang yang sama sekali tidak kau kenali… 2 hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *