Dreams in Love (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 March 2018

Suasana gedung-gedung yang cukup sepi dengan jumlah orang yang tidak terlalu banyak. Di salah satu sudutnya berdiri seorang gadis cantik jelita, ramah, pendiam, murah senyum, dan baik hati. Yah, salah satu kawasan perumahan elit Bogor, Jawa Barat. Tinggalah Wilona Angelista yang merupakan gadis berdarah asli Indonesia. Wilona panggilannya, ini merupakan putri bungsu dari dua bersaudara. Wilona adalah gadis yang beruntung yang terlahir dari seorang pengusaha Batik ternama di kota Yogyakarta.

Mentari telah membuka matanya, Wilona memulai aktivitasnya sebagai seorang pelajar. Yah, gadis cantik yang kini duduk di bangku kelah 12 SMA ini selalu diantar sopir pribadinya ke sekolah.

Bi Inah adalah seorang asisten rumah tangga yang setiap pagi membangunkan Wilona. Tepat pukul 05.00 WIB, Bi Inah menuju kamar Wilona untuk membangunkannya.
“Nonnn, Nonn bangun Nonn!!. Udah pagi Nonn!!” terlihat Bi Inah mengetuk-ketuk pintu kamar Wilona.
“Udah siang ya Bi?” walau dengan sedikit baterai tubuh yang tersisa Wilona berusaha terbangun.
“Iya Nonn, Non harus sekolah kan?. Bibi sudah siapkan air hangatnya Non.” ujar Bi Inah seperti biasa.
“Wilo nggak mau pakai air hangat Bi, cukup pakai air biasa saja” sahut Wilona dengan tersenyum manis.
Lalu Wilona mengambil air wudlu untuk solat subuh, dan kemudian Ia membersihkan tubuhnya dengan air dingin biasa.

Sampai akhirnya, waktu terunjuk pukul 06.00 WIB yang berarti Wilona harus bergegas. Setelah Ia sarapan, Ia pun berangkat sekolah. Salah satu sekolah elit di daerah Bogor, Jawa Barat merupakan sekolahnya. Cukup jauh dari rumahnya, namun sekolahan itu cukup membuat Wilona senang.

Terlihat Wilona berjalan menyusuri gedung-gedung sekolah, hingga Ia sampai di salah satu sudutnya yang merupakan kelas Wilona.
“Morning All, hem i feel so something with my friend. Why?” tanya Wilona dengan nada khasnya.
“We have homework, and then all friend no work it.” ujar salah seorang teman Wilona yang bernama Katty.
“Seriously?, I work all. And if you borrow my homework, its no problem.” kata Wilona kembali dengan senyuman.
“Ok, i borrow your homework Wilo.” sahut Katty dengan senyuman lega.

Tiba-tiba Marcela datang, bisa dibilang Marcela adalah anak “Hitz” di kelas Wilona.
“Katty, ngapain sih lo pinjemin PR Wilo segala!!!” terlihat Marcela merebut buku Wilona dari Katty, dan melemparnya ke wajah Wilona.
“I am false Marcela?. Why?, i feel pity with my friend. You so Bad Marcela!!” ujar Wilona dengan santai.
“Gua nggak suka ya, kalau lo baik ke teman-teman gua!!!” tegas Marcela pada Wilona dengan tatapan tajam.
“Why?, your friend is my friend. You so Bad!!. You very angry Marcela!!!” Wilona menatap tajam Marcela.
“Lo tahu kan?. Semua teman gua nggak ada yang suka dengan lo!!!!” tegas Marcela lagi.
“No problem to me, and i love my friend. If they are not love, its no problem. I am in here to studied. Please!!, Don’t make me to feel sad. Are you Understand?” Wilona terlihat bersabar menghadapi Marcela.
“Ok, kalau itu mau lo!!. Gua akan buat lo nggak betah sekolah di sini!!” Marcela mendorong tubuh kecil Wilona.
“But, i am stay in here better than. And i study in here a half from one year again. Soo, no problem to me!!!” telihat ekspresi tegar Wilona.

Kringggggg… Kringggggg… Bel istirahat berbunyi, para pelajar pun bergegas keluar kelasnya. Namun lain dengan Wilona, dia hanya menyendiri bersama satu sahabatnya bernama Bella Velicia.
“Bella, i don’t know character my friend in the class. But i try to calm, and i try to love my friend.” ujar Wilona pada Bella sahabatnya itu.
“Iya Wilo, aku tahu. Kamu yang sabar ya, aku akan tetap jadi sahabat kamu. I always to accompany you.” ujar Bella sambil merangkul bahu Wilona.
“Thank you my best friend.” Wilona tersenyum manis.

Seorang guru pun menemui Wilona untuk keperluan sastranya. Ya, Wilona adalah salah seorang penulis terkenal di sekolahnya. Melalui hobinya Ia mampu mewakili sekolahnya sebagai seorang penulis, dan pembaca puisi.
“Wilona, kamu besok Ibu minta untuk membuat puisi tentang cita-cita. Karena akan diadakan lomba menulis puisi besok dua hari lagi. Ibu minta yang bermajas, serta tata bahasa yang baku ya Wilo.” ujar Bu Eni Serina salah satu guru bahasa Indonesia di sekolahnya.
“Baik Bu, terima kasih. Saya akan berusaha membuat yang baik. And i make my poetry with my imagination. I try it!!” sahut Wilona dengan raut wajah yang ceria.
“Ok, good luck Wilona!!!” sahut Bu Eni dengan senyuman manis.

Tak lama kemudian, Wilona menuju perpustakaan mengajak Bella sahabat karibnya. Namun, tanpa sengaja Wilona bersenggolan dengan salah seorang teman lelaki satu sekolahnya yang berbeda jurusan dengannya.
“Oh my God!!, i am sorry friend” ujar Wilona sambil membereskan buku yang terjatuh.
“No problem friend, and thanks for help me to take the book.” ujar seorang teman lelaki Wilona dengan tatapan manis, serta membuat Wilona gugup.
“You’re welcome friend,” terlihat senyuman manis terpancar dari Wilona.

Yah, bagaikan siang tertimpa Durian. Wilona bersenggolan dengan sang cowok idaman. Wilona telah mengaguminya semenjak Ia masih SMP, bahkan sampai sekarang rasa cintanya tak pernah menghilang. Namun sayang, dia telah menjadi milik seorang temannya. Walau begitu, Wilona masih tetap mencintainya dari jauh.

“Cieee, yang barusan senggolan ma cowok idaman.” terlihat Bella sedikit menggoda Wilona sahabatnya.
“Hemm, iya. I am so happy, after 2 year. I can touch him!! aaaaa, thanks Bella!!!!” Wilona kegirangan karena selama 2 tahun baru sekarang Ia bersenggolan dengannya.

Bel pulang berbunyi, seperti biasa Wilona menunggu sopir pribadinya di depan gerbang sekolahnya. Sampai akhirnya, Wilona kembali ke rumahnya. Terlihat kedua orangtuanya duduk di sofa ruang tamu.
“Assakamu’alaikummm!!!” salam Wilona seperti biasa.
“Sayang, kamu udah pulang?.” tanya Mamah Wilona di sofa.
“Yes Mommm, i miss you Mommm!!!” Wilona memeluk Ibunya dengan cepat karena lama tak berjumpa.
“Mamah juga kangen adek,” terlihat Mamahnya memeluk erat Wilona.
“Dad, when you back home?.” ujar Wilona dengan senyuman.
“Udah dari tadi, kamu nggak lihat Papah?.” sahut Papahnya dengan ketus karena memang sifat papahnya yang temperamental.
“Ok Dad, Mom. Wilona go to my bedroom, see you!!” tampak Wilona bergegas menuju kamarnya.

Seperti biasa setelah mengganti pakaian Ia tidur sejenak, lalu Ia terbangun untuk membuat sebuah puisi.
“Oh My God, me make poetry?. Ok, fighting!!” Wilona tampak berbicara sendiri di kamarnya. Kemudian, Wilona mulai menulis larik-larik puisi bermajas khasnya.

“Menggapai Mimpi”
Karya: Wilo.Ang

Nampak mentari tersenyum begitu mesra.
Menyapa pagi yang tertimbun embun.
Tulisan seribu malam menggambar di angkasa.
Bertanya, cerita apa yang tersimpan.
Nyanyian merdu sang gejolak rerimbunan.
Menyanyikan berjuta lagu kehidupan.
Duduk sendiri di antara sunyinya hari.
Sayatan kehidupan yang menginspirasi.
Seorang gadis pengais rezeki.
Duduk sendiri membawa koin-koin pengisi perut.
Seberapa besar mimpi gadis itu?
Membawa sebuah tinta, dan buku biru.
Menanamkan mimpi sebesar samudra hindia.
Keringatnya tak henti mengalir.
Deras terbawa gelombang kehidupan.
Keseriusan pendidikan Ia tanamkan.
Merajut asa, menggapai mimpi, dan cita-cita.

BERSAMBUNG

Cerpen Karangan: Ambarwati
Facebook: Ambar Wathie
Hello Guys!! Namaku Ambarwati, anak bungsu dari dua bersaudara yang terlahir pada 20 Mei 1998. Sejak kecil aku sudah gemar menulis baik cerpen, maupun puisi. Kini aku duduk di bangku perkuliahan tepatnya di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong prodi Keperawatan. Saya berasal dari Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah. Itulah profil singkatku, Selamat Membaca!!

Cerpen Dreams in Love (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Inikah Akhirnya

Oleh:
“Rasanya tidak mungkin!” gerutuku dalam hati. “Hai, kenapa kamu melamun?” tanya Safa sambil memegang pundakku. “Tidak, aku tidak melamun!” ucapku. “Kamu pasti sedang memikirkan seseorang?” tanya Safa. “Tidak,” kataku.

Kutunggu Abu Abu

Oleh:
Aku masih berada dalam buaian mimpi indahku, saat tiba-tiba seseorang meneriakkan namaku. Membuatku seketika melonjak mendapati Anya sudah ada di kamarku. Menggoyang-goyangkan tubuhku, memaksaku untuk bangun. Aku hanya menggeliat,

Pukul 15.00

Oleh:
“kau tetap temanku, walau dirimu tak menganggapku ada.” Mata Vina melihat langit-langit kamarnya setelah terbangun dari mimpi buruknya, peristiwa dimana dirinya melakukan dialog terakhir dengan salah satu temannya, Syifa.

Suara Tengah Malam

Oleh:
Ayam berkokok, menandakan sang fajar telah terbit. Aku pun segera beranjak dari tempat tidur untuk mandi, lalu mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah, karena hari itu Sabtu, 23 Desember

Unreal

Oleh:
Nathan menatap layar laptop di depannya dengan malas. Kedua matanya sudah tidak lagi bersahabat untuk diajak bekerja sama mengerjakan tugas kuliahnya. Diseruputnya secangkir kopi yang sudah mulai dingin. Itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dreams in Love (Part 1)”

  1. Mery Ananta says:

    lumayan bagus ceritanya.pasti kelanjutannya akan lbh bgus..
    mksh untuk admin cerpenmu..
    ku harap ini akan menjadi hoby setiap remaja dlm membaca cerpen.
    ini akan menjadi penghibur dan pemberi motivasi serta menambah kreatifas para remaja. drpd mengisi kekosongan waktu dgn hal yg konyol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *