Dua Belas Dua Belas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 December 2012

Rasa malas melanda ku berangkat kantor hari ini, muka kusut, mata sedikit sipit karena sembab. Ini karena semalam hujannya deras sekali, trus diiringi dengan suara gemuruh yang cetar banget belum lagi kilatan yang ikut serta, lebih parahnya lagi aliran listrik dimatikan, kalau menurut aku ini untuk keselamatan juga. Semuanya ini membuat aku tidak bisa tidur semalaman, karena aku phobia gelap.
“hari ini dua belas, dua belas lho”, ucapku pada nina saat baru aja tiba di kantor.
“memang ada apa dengan dua belas,dua belas buk vira?”, balas nina padaku.
“gak ada apa-apa sich buk nina, Cuma promo ja angka cantiq”, jawabku sambil menyalakan komputer di meja kerjaku.
“biasa aja tuch buk, gak cantik menurutku”, bantah nina, yang barangkali merasa gak ada yang spesial sama angka itu.
Tapi menurutku angka itu hanya akan ada satu kali untuk satu putaran kehidupan dunia, banyak orang yang mengagungkan akan ini, banyak orang yang sengaja membuat rencana jauh-jauh hari untuk diadakan di hari ini karena mereka ingin menjadikannya moment yang akan selalu diingat.

Ada yang sengaja berencana menjadikan hari ini moment tepat untuk menyatakan cintanya, ada juga yang sudah merencanakan dari beberapa bulan yang lalu mereka akan melangsungkan pernikahan di hari ini.
Tapi kalo aku malah belum ada rencana mau nikahnya kapan, karena cowok aja aku gak punya, setelah aku putus sama tio 2 bulan yang lalu, sampai sekarang aku belum mau pacaran dulu, karena belum siap sakit hati lagi.
Tapi hari ini aku berjanji akan balikan sama tio. Kemaren aku dan reina sahabatku sempat ngobrol panjang masalah aku dan tio. Reina bilang tio sekarang lagi kesulitan menyelesaikan skripsinya karena pikirannya dipenuhi sama penyesalan telah menyakitiku. Reina mengatakan kalo tio janji gak akan mengulangi kesalahannya lagi kalau aku mau balikan sama dia.

Hari ini dengan tanggal cantik dua belas, dua belas, mungkin aku juga akan sama dengan orang-orang yang ingin menjadikan hari ini moment spesial dalam hidupnya, di hari ini tio dan aku akan kembali bersatu, kami akan kembali lagi bersama tapi dengan lembaran baru, karena kisah kami sebelumnya telah berakhir.
Aku akan menemui tio sepulang kerja nanti di sebuah cafe dekat kantorku, awalnya tio menyarankan kita bertemu di tempat favorite kami, tapi aku menolaknya karena aku mau memulai hubungan kami dengan hal yang baru. Bahkan aku juga menolak tio menjemputku sepulang kerja nanti.

Gak sabar pengen cepat-cepat pulang hari ini, rasa penasaranku dengan apa yang terjadi sore ini, apa yang akan tio katakan padaku, trus bagaimana sikap ku nanti, apa saja yang akan kami perbincangkan nanti, akankah suasananya sama seperti dulu.

Fikiranku dipenuhi rasa penasaran, yang membuatku melakukan beberapa kesalahan dalam pekerjaanku, beberapa kali atasanku memanggilku untuk keruangannya akibat kesalahan-kesalahan yang telah ku buat tanpa sengaja.
“setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan tapi tidak denganmu karena kamu itu seorang accounting vira, kesalahan sekecil apapun yang kamu buat akan besar sekali dampaknya pada perusahaan. Kalau kamu terus melakukan kesalahan, bagaimana saya bisa mempercayai hasil kerja kamu, saya harus bekerja lagi mencek kerjaanmu.” Ucap atasanku saat diruangannya.
“maaf pak, saya sudah mencoba untuk lebih teliti, maafkan saya, saya tidak akan mengulanginya lagi”. Jawabku dengan rasa sesal akibat kecerobohanku.
Saat makan siang aku bercerita pada Nina teman kantorku tentang niatanku yang akan kembali pada tio.
“aku bilang juga apa, suatu saat dia bakal butuh kamu, akan mencarimu lagi, dia akan menyesal, nah buktinya sekarang”. Kata Nina padaku
“iya juga ya Nin”. Jawabku
“gak gunakan kemaren kamu nangisin dia, trus galau berminggu-minggu”. Tambahnya
“iya nin, tapi kan dengan menangis akan mengurangi beban kita, lagian menangis karena rasa sedih yang amat dalam itu dapat membuang racun dalam tubuh kita”. Sahutku
“kalau gitu kita nangis aja tiap hari biar racun yang masuk kedalam tubuh kita keluar tiap hari”. Canda Nina
“gak segitunya juga kali nin, nangis tiap hari apa sanggup, yang ada malah jadi kurus karena stres mikirin hal-hal yang bisa bikin kita nangis”. Kataku
“hehehe”.nina tertawa yang kubalas dengan senyuman.

Belajar dari kesalahan aku berusaha untuk lebih teliti dan lebih berkonsentrasi pada kerjaanku sore ini, karena aku gak mau dipanggil keruangan atasan lagi akibat melakukan kesalahan.
Hmm dan benar aja sampai jam pulang ini gak ada panggilan dari atasan untuk menemuinya akibat kesalahan yang kuperbuat, berarti kerjaanku lancar bebas kesalahan.

Sepulang kantor aku memilih langsung berangkat ketempat janjianku tadi, karena aku gak mau telat untuk kali ini, karena biasanya dulu aku selalu datang telat kalau janjian ma tio. Walawpun tio gak suka dan sering menasehatiku tapi kebiasaan burukku itu gak pernah berubah, hanya untuk tio aku sengaja datang telat, karena aku menguji sebatas mana kesabaran tio padaku. Untuk hal lain aku selalu on-time.

Sudah setengah jam aku menunggu, satu gelas orange jus ditambah pangecake coklat keju telah kulahap namun sosok tio masih belum menampakkan diri, tumben kali ini tio telat pikirku, jangan-jangan dia ingin balas dendam karena dulu aku sering telat saat ingin bertemu, atau dia memang gak mau bertemu, berbagai pertanyaan muncul dibenakku.
Sekarang waktunya pulang, karena sudah satu jam lebih aku menunggu orang yang mungkin hanya mempermainkanku, tanpa ada kabar, bahkan ponselnyapun seperti sengaja dimatikan.

Tepat jam 8 malam aku baru nyampe rumah, baru saja aku merebahkan badan dipembaringan, tiba-tiba poselku berdering, aku berharap ini bukan tio, seandainya ini tio aku akan langsung reject telepon darinya.
“apa??yang benar aja kamu rei”, ucapku setelah menerima telepon dari reina sahabatku, air mata bercucuran mengalir di pipiku, gak ada satu katapun yang bisa kuucapkan lagi.
“kamu tenang ya vir, yang sabar ya, gak ada yang bisa menolak kehendak-Nya”, reina coba menenangkanku, tanpa kubalas dengan satu katapun.

Aku menangis semalaman, sambil terus mengirimi pesan singkat pada reina, karena gak ada yang bisa kulakukan di malam buta seperti ini. mataku gak mau terpejam, karena fikiranku selalu tertuju pada kenanganku bersama tio dulu.
Subuh sekali aku langsung berangkat kerumah orang tua tio di luar kota bersama reina, setelah kabar tio yang kuterima kemaren malam dari reina kalau tio kecelakaan saat menuju tempat aku dan tio janjian, namun nyawanya gak bisa diselamatkan karena terdapat pendarahan di otaknya.

Hari dengan tanggal cantik dua belas, dua belas yang akan kami jadikan moment terindah, malah harus dilewati dengan perpisahan untuk selamanya.
Aku berharap masih sempat melihat jasad tio untuk yang terakhir kali, karena keluarganya akan segera melakukan pemakaman pagi ini.
“tio tunggu aku ya, kamu jangan pergi dulu, aku berharap bisa melihatmu untuk yang terakhir kali”, ucapku dalam hati dan lagi-lagi butiran airmata menetes di pipiku.
“kenapa harus pake acara macet segala sich rei disaat seperti ini, aku takut gak keburu bertemu sama jasad tio”, isakku
“sabar ya vir, ini kan jadwal berangkat kerja wajar aja macet, aku yakin pasti keburu koq”,jawab reina.
Sekarang kami kesulitan mencari alamat keluarga tio yang dituju, semakin memakan waktu, mengapa terlalu banyak rintangan untuk aku bertemu tio, bahkan bertemu untuk yang terakhir kali sekalipun.
Sesampai aku dirumah keluarganya tio, ternyata jasadnya telah dibawa kepemakaman, tapi belum terlalu lama, aku buru-buru menyusul, jalan yang harus aku tempuh adalah mendaki bukit, karena pemakaman keluarga tio berada di sebuah bukit yang gak terlalu jauh dari rumahnya.

Dengan nafas yang tersengal-sengal akhirnya aku tiba di pemakaman, jasad tio baru aja diturunkan ke liang, aku menyelip kedepan para penziarah lainnya, aku ingin melihat jasad tio untuk yang terakhir kali, dan ya wajah pucat tio kutatap dari atas liang, tempat pembaringan tio yang terakhir.
“selamat jalan tio, aku ikhlaskan kepergianmu”, ucapku dalam hati.
Semua orang telah mulai beranjak meninggalkan pemakaman, tapi aku masih ingin berlama-lama disini.
“sudahlah nak, dia sudah tenang berada disana, ikhlaskan kepergiannya, gak ada yang bisa menentang kehendak-Nya”. Ucap seorang bapak padaku, yang merupakan ayah kandung tio.

Kami berjalan menuju rumah keluarga tio, aku merasakan lelah yang begitu sangat, aku gak tau apa ini ragaku yang lelah setelah melewati perjalanan panjang, atau hatiku yang kelelahan karena berusaha menerima keadaan yang telah terjadi.
Selamat jalan kekasih hatiku, aku kan tetap mengenang kisah kita, takdir telah memisahkan kita untuk selamanya sebelum kita sempat bersatu kembali.

Cerpen Karangan: Yossi Febriani
Facebook: cie yossi febriany

Cerpen Dua Belas Dua Belas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Jadi Musuh

Oleh:
Ini adalah hari pertamaku di sekolah baruku yang berlokasi di bandung. Dan sedih rasanya meninggalkan sekolah ku di bogor. Walaupun aku berpisah dengan teman lamaku aku akan berusaha untuk

Tak Kemana (Part 1) Cinta Yang Pergi

Oleh:
“Dunia memang perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita soleha.” “Akhirnya siap juga kata-kata terakhir yang harus ditempel di dinding.” kataku dalam hati sambil mengamati kata-kata tersebut. Aku pun segera

Cinta Yang Rumit

Oleh:
Namaku ani, sejak kecil aku di ajarkan untuk patuh pada aturan dalam keluarga. Papa ku terbiasa oleh aturan militer, begitu juga kami di rumah pun kami selalu di awasi.

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Aku mempunyai orang teman yang berinisial A dia adalah seorang cowok yang sangat tampan di kelas ku ya itu menurut ku tetapi entah apa menurut orang lain yang menilai

Mencintaimu Dalam Diam

Oleh:
“Maaa! Mamaaa! Adiiiik! Huuufft, sunyi lagi deh nih rumah,” ucap Rara, kesal. Ia lalu melangkah ke kamar, mengganti seragam sekolah, lalu segera meluncur ke dapur. ‘Bawalah pergi cintaku, ajak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *