Dua Hati Akan Menyatu Suatu Saat Nanti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 July 2016

Pulang sekolah hari ini aku dan Floren menyempatkan diri untuk melihat pertandingan futsal di lapangan sekolah. Ini bukan pertandingan yang memperebutkan gelar juara secara resmi, hanya pertandingan persahabatan antara sekolahku dan SMA sebelah. Beberapa siswa juga sudah mengisi bangku penonton. Dan kami pun segera ambil tempat di bagian depan.
“apa sih yang menarik dari futsal? Aku tu nggak paham sama permainannya, yang kutau cuma kalau bola masuk berarti gol.” Begitu komentar Floren disela-sela kami melihat pertandingan.
“seru aja, apalagi kalo pemainnya keren-keren, kan jadi makin betah ngeliatnya.”
Floren tak membalas lagi. Dan aku pun kembali menikmati pertandingan yang disajikan.

Peluit telah dibunyikan, pertandingan telah berakhir dengan skor 5-3 untuk kemenangan sekolahku. Aku dan Floren beranjak meninggalkan lapangan futsal.
“Sena, kamu tau yang namanya Cello, kan?”
“anak futsal sekolah kita kan? Yang nomor punggungnya 10. Emangnya kenapa? Kamu suka sama dia?”
“bukannya gitu, kemarin dia sempet nanya-nanya tentang kamu gitu ke aku. Dan dia juga suka sama Arsenal, kaya kamu.”
“Terus?”
“dia minta nomer hp kamu. Ya udah aku kasih, nggak papa kan? Hehe. Sori baru bilang, aku baru inget.”
“ya udah nggak papa, udah kejadian juga kan?”

Sampai hari ini tak pernah ada nomor asing yang menghubungiku. Yang ada hanya satu nama yang hampir selalu memenuhi pesan masuk di hapeku, Adri, pacarku satu tahun ini. Aku dan Adri memang tidak satu sekolah. Kadang kita melewatkan waktu bersama ketika hari minggu. Dan itu pun untuk saling mengerjakan tugas masing-masing. Adri memang pintar di sekolah. Yang paling mending biasanya dia mengajakku makan di luar. Sejujurnya, aku mulai bosan dengan hubungan ini.

Ini masih terlalu pagi ketika aku sampai di sekolah. Banyak kelas yang kulewati masih kosong tak berpenghuni. Begitupun dengan kelasku. Jadi aku memilih untuk duduk di bangku yang ada di depan kelas. Menikmati udara pagi, melukiskan imajinasi. Tak lama, seseorang datang menghampiriku, ia duduk di sampingku.
“hai… Goonerette?” ia menyapaku setengah meragu. Goonerette adalah julukan untuk supporter Arsenal bagi wanita.
“hai”
“aku nggak salah manggil kan?”
“Nggak kok. Asal jangan dipanggil Goonerette abal-abal aja.” candaku.
Ia tersenyum, lalu membalas.
“emangnya kamu fans abal-abal?”
“mungkin, hehe. Aku jarang liat pertandingannya, lebih sering ngecek skor di sosmed, kan banyak yang update”
Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya padaku.
“Cello”
“Sena”
Lalu kami saling bertukar cerita tentang apa saja yang melintas di pikiran kami berdua. Sebelum akhirnya banyak siswa yang mulai berdatangan dan kami pun berpisah masuk ke kelas masing-masing. Tadi adalah obrolan pertamaku dengan dia.

Sekarang hampir setiap malam aku dibuat senyum-senyum sendiri oleh pesan singkat yang dikirimkan Cello. Sedangkan yang dari Adri kubalas seadanya.

Ketika di sekolah aku juga sering menghabiskan waktuku bersama dengan Cello dan juga Floren. Mulai dari makan di kantin, mengerjakan tugas di perpus, sampai menemaninya bermain futsal. Kami pun sempat jalan berdua ketika pulang sekolah. Cello juga memberikanku jersey Arsenal, padahal aku sudah punya. Tapi yang dari dia yang akan sering kupakai. Cello hadir membawa warna baru di kehidupanku. Dan sejenak melupakan hubunganku dengan Adri.

Malam ini Cello mengantarkanku pulang. Kami baru saja nobar pertandingan Arsenal bersama teman-teman lain yang juga menyukai klub asuhan Arsene Wenger itu. Ketika sampai di depan pintu gerbang rumahku, aku mengucapkan kata perpisahan untuk malam ini.
“makasih ya buat malam ini. Sampai ketemu besok.”
Aku hampir meninggalkannya sebelum akhirnya ia berucap. “aku sayang sama kamu, Sena.”
Seketika itu juga aku menoleh, tak mampu tuk berucap. Lalu memilih masuk ke rumah.
Aku merebahkan diri, memikirkan pernyataan Cello barusan. Sejujurnya aku pun menyukainya. Tapi, bagaimana dengan statusku bersama Adri?

Hari ini Adri menawarkan diri untuk menjemputku pulang sekolah. Aku pun mengiyakan.
“aku duluan ya, Flo. Bye”
“hati-hati ya”
“iya”
Aku meninggalkan Floren dan langsung naik ke motor Adri. Di sepanjang perjalanan tak ada obrolan. Adri memang begitu, katanya biar fokus. Sedangkan aku larut dalam keresahan yang luar biasa. Ada cinta lain yang kini hadir di hatiku, aku takut Adri terluka.

Malam ini tak ada pesan masuk dari Cello, padahal aku sudah mencoba menghubunginya duluan. Tapi tetap tak ada balasan.

Beberapa hari ini ketika di sekolah Cello seperti menjauhiku, seperti tak pernah saling mengenal satu sama lain. Apakah rasa sayang yang pernah diucapkannya itu tak berarti apa-apa?
Aku merasa perlu meminta penjelasan dari dia. Sore ini aku menunggu Cello selesai latihan futsal. Ketika dia coba melewatiku, aku langsung menghadangnya.
“kamu itu kenapa sih? Kenapa tiba-tiba ngejauh gini, Ada apa?”
Cello mengambil napas panjang, lalu menjawab.
“Selama ini aku suka sama kamu dan aku berharap kamu bisa jadi pacar aku. Tapi kenyataannya nggak bisa kan? Kenapa kamu nggak bilang kalau udah punya pacar? Setidaknya dulu aku nggak perlu berharap lebih, dan rasa ini seharusnya nggak ada, Sen.”
Jawaban itu cukup untukku. Cukup untuk semua alasan dibalik sikap Cello yang berubah. Cello meninggalkanku dalam keterpakuanku.

Hari ini Aku mengajak Adri untuk bertemu di rumahku.
“ada apa, Sen?”
“aku minta maaf sama kamu.”
“kita nggak lagi berantem kan? Jadi kamu minta maaf buat apa?”
“hati aku yang berantem, Dri”
“maksud kamu?”
“kita putus… Aku nggak bisa ngelanjutin hubungan ini. Aku udah nggak cinta lagi sama kamu. Aku udah punya cinta yang lain, aku nggak mau nyakitin perasaan kamu lebih dari ini. Maaf.” aku langsung berlari masuk ke rumah meninggalkan Adri di teras depan. Pelupuk mataku hangat. Aku menangis. Apakah yang aku lakukan pada Adri jahat? Tapi aku tak ingin terus berperang dengan perasaanku saat ini. Aku mencintai Cello.

Kulihat Cello tengah duduk termenung di depan kelasnya. Aku mencoba menghampirinya, ingin mengungkapkab perasaanku padanya, tapi Floren menahan langkahku dan mengajak untuk menjauh.
“ada apa sih, Flo?”
“kayanya sekarang kamu nggak perlu ngedeketin Cello lagi deh.”
“kenapa? Karena aku punya pacar? Aku udah putus sana Adri, Flo”
“putus? Jangan bilang karena Cello!”
“memang karena Cello. Aku cuma cinta sama dia, dan juga aku pengen jujur sama perasaanku sendiri, Flo.”
“semuanya udah terlambat. Cello jadian sama Chelsea kemarin.”
Hatiku tersentak hebat mendengar penjelasan dari Floren. Semudah itu dia melupakan rasanya untukku. Jadi selama ini harapan itu untuk apa. Kebersamaan antara aku dan dia itu artinya apa. Ketika akhirnya dia telah melabuhkan hati untuk yang lain. Lalu pergi meninggalkan aku sendiri, sendiri bersama kenangan yang memaksa untuk terus dikenang. Sedangkab dia, terlalu sibuk bersama kebahagiaan barunya yang dia sebut dengan cinta. Jadi selama ini aku dan dia itu bukan cinta?

Belakangan Cello dan Chelsea selalu terlihat bersama di sekolah. Sedangkan aku menyibukkan diri untuk persiapan unas beberapa bulan lagi. Aku benar-benar tak ingin membuka hati untuk siapapun. Rasa itu masih untuk dia.
Di sekolah aku selalu menghindar untuk bertemu Cello. Kini aku tak lagi punya minat untuk sekedar melihat tim futsal sekolah berlaga. Hatiku cukup terluka ketika aku pernah sekali melihat Cello bertanding, ada Chelsea yang menemaninya, ada tatapan tidak suka yang Chelsea berikan kepadaku. Aku tak bisa apa-apa.

Malam ini aku terjaga. Aku tak bisa tidur. Karena tak ada hiburan aku menyalakan tv. Ada Arsenal yang sedang berlaga. Pikiranku kembali memikirkan sosok itu. Aku berjalan membuka lemari pakaianku, mengambil jersey Arsenal yang dulu pernah diberikannya untukku. Aku mendekapnya erat, benar-benar merindukan kehadirannya di dekatku. Pertemuan memang tak membawanya jatuh dalam dekapanku. Setidaknya kita pernah saling mencintai, meski hanya sekejap, meski tidak terikat.

Unas telah berlalu, libur panjang telah menanti. Kita telah lulus dengan hasil terbaik. Teman-teman yang diterima kuliah di luar kota sudah sangat sibuk dengan mengurus ini dan itu. Sedangkan aku dan Floren memutuskan untuk kuliah disini.

Sore ini Floren mengajakku ke taman kota. Sekedar mengobrol santai dan mengamati jalanan di sore hari.
“Aku denger-denger, Chelsea kuliah di luar kota.”
“kenapa musti ngebahas dia sih, Flo?”
“kemarin aku nggak sengaja ngintip Cello dan Chelsea berantem di sekolah. Gara-gara Chelsea nggak mau LDR sama Cello. Kayanya mereka bakalan putus deh. Kamu masih sayang sama Cello, kan?”
“entah aku yang bego atau gimana, aku emang masih sayang sama dia. Dia itu terlalu berkesan buat aku.”
“mungkin sekarang saatnya kalian menyatukan hati.” Floren menepuk pundakku pelan. Berusaha meyakinkan aku. Tapi apa yang kini harus kulakukan?
Aku dan Floren pulang agak petang. Kulihat pintu gerbang dibiarkan terbuka. Seseorang telah menungguku di ruang tamu. Cello. Kita tak saling bicara, sunyi beberapa saat. Sampai akhirnya dia buka suara lebih dulu.
“maaf…”
“nggak ada yang salah dan nggak ada yang perlu minta maaf. Ini cuma soal waktu, kan?”
Ia mendekat, lalu berusaha merengkuh tubuhku. Lalu ia berbisik.
“aku sayang sama kamu, Sena.”
Aku melepaskan dekapannya.
“jangan pergi lagi, ya.”
Kini tak ada lagi penghalang antara aku dan Cello. Kadang kita hanya perlu bersabar untuk menyatukan hati. Selalu ada masa terindah dalam sebuah penantian.

Cerpen Karangan: Ari Diana Fitri
Facebook: Ari Diana Fitri
Twitter @aridianaftr

Cerpen Dua Hati Akan Menyatu Suatu Saat Nanti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintang Antaris

Oleh:
Bintang itu besar atau kecil? Apakah dia berada di langit yang paling tinggi? Atau ada di angkasa sana? Apakah aku mampu untuk menggapainya? mungkin tidak. Bintang itu tidak akan

Perempuan Anggun (Part 1)

Oleh:
Aku sedang berada di perpustakaan. Sendiri, karena sahabatku sedang berpacaran. Oh ya namaku Vena. Aku adalah seorang gadis yang sederhana tapi agak tomboy sih. Aku terkenal dengam sikapku yang

Pesta Malam Terakhir Di Pesantren

Oleh:
Namaku adalah Ikbal. Aku bermukim di salah satu Pesantren Pasuruan untuk menuntut ilmu agama. Disetiap tanggal 20 Ramadlan aku melepas rindu menemui keluargaku, di kampung halaman tempat Aku dilahirkan.

Surat Cinta Sizia

Oleh:
Semua berawal dari cinta. Sejak Sizia menyukai kakak kelasnya, ia jadi melupakan semuanya. Melupakan pelajaran kelas, melupakan hobinya, cita-cita tertingginya, pokoknya semua Sizia lupakan saat kehadiran kakak kelas itu.

200 Percent Sweet Seventeen

Oleh:
Deburan angin menerpa wajah mungilnya. Kacamatanya berembun. Entah percikan air apa yang menyelimuti kacamatanya itu. Kakinya yang telanjang memainkan pasir yang tak berdosa itu. Pansusnya digantungkan di tali slingbag

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *