Dua Muka Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 20 December 2015

Senyampang masih ada larik-larik bernyawa cinta, walau temaram sekali pun, bertahan merupakan pilihannya. Juwita memang relatif, tak butuh elok wajah, tak harus berpostur ideal, dan tak selalu mesti berjejal harta gelimpangan. Teduhnya senyuman juga sorot mata menenteramkan lebih dari cukup bagi Ayyub untuk tak mampu habis memuja pesona Jannah. Serbuan rindu yang sekian waktu menudungi harinya berangsur seakan menganak-pinak, menumbuhkan sebab-sebab anyar untuk terus dirundung cita-cita cinta tak kesampaiannya.

Filantropinya dengan Jannah yang berakhir oleh ketercampakan membuat ia was-was demi mengukir kisah lagi, hatinya masih belum berani kembali dihantam palu godam. Kini, definisi cinta baginya tak lebih dari kilatan kesepian dengan lumuran pedih tanpa titik usai. Hingga, menyuarakan bening kudus anugerah Tuhan itu menjadikan dua daging bibirnya kelu berucap, bahkan ringkih untuk sekadar menghirup dan menghentak napas. Ia masih berdiam di ruang putih, berdinding putih, beralas dan beratap dengan warna selaras. Kerinduan. Hanya saja ia sembari memantati onak runcing yang dimandikan nestapa berkepanjangan. Dalam kerinduan, ia meradang. Menanggung malang.

Derik-derik alam juga tak lekas menghidangkan solusi atas gumaman melankolis dan gurat kuyu nadi-nadinya yang kian tampak. Hidung bak gagang pintu gerbang yang dilas serampangan miliknya juga semakin mengilap. Pipi cembungnya juga tak kunjung mengempis. Sering ia limbung, bila bukan bersama Jannah, adakah gadis lain yang sudi bersandar lagi di bahunya. Akankah aku dilahirkan untuk semata menyendiri saat selainku dibenderangi ingar-bingar berpasangan? Demikian yang santer dituturkan sudut-sudut kecil hatinya ketika ia bercermin. Betapa pun ia membendung perasaannya, ia tetaplah laki-laki pada umumnya.

Beberapa waktu silam, demikian kerontang lubuk hatinya, terlalu lama layu. Seluruh pengusir kecewa telah ia laksanakan, saking segalanya, pernah suatu waktu ia mendebumkan bogem mentah demi menghaluskan terigu sebagaimana saran seorang pedagang kaki lima yang menghampirinya yang tengah meringkuk pilu ketika hari masih berselimut kabut tipis dan membawa aroma basah embun yang diangkut semilir di bibir trotoar beberapa hari sebelum insiden. Berlari sepanjang langit melukis senja dengan batas akhir napas bersisa sejengkal dari tenggorokan bahkan megap-megap demi memutus aliran air kran toilet umum milik alun-alun kota pernah dilakoninya.

Sampai, si penjaga berseru murka, “Ke luar, kau bayar dengan seluruh yang kau kenakan,” betapa tidak, sepanjang siang ia demikian. Malamnya juga tak bertandas, bedanya ia mempersambungkan dua alis jarangnya untuk mengangkangi teori konyol milik Darwin tentang Evolusi, ia berpikir keras, mengerahkan segenap potensi intelejensinya dan menumpahkan sisa-sisa cakrawala pengetahuannya untuk menelurkan buah analisa dan eksperimen berupa cara duduk dan berdiri berbarengan. Atau, setidaknya ia hendak membantah kemakluman bahwa matahari terbenam di pucuk barat, “Matahari tak terbenam, ia hanya takut pada kegelapan, lantas bersembunyi. Mana mungkin tiba-tiba menyembul lagi dari ufuk timur,” tukasnya di awal hari yang lain dengan raut pongah bak baru saja sukses ke luar dari labirin tersukar.

Berada di pucuk senja selalu menjadi kepulan memukau yang melahap penat dan lesu yang berjejal di sekujur jasmani. Keduanya berganti kemilau yang memperanakkan segerombol syukur lantaran kembali diberi kesempatan merogoh kontur panorama alam yang membentangkan beragam keindahan yang kebanyakan manusia hanya mampu mengeksploitasi tanpa hendak melestarikan keberadaannya. Mereka tak pernah berpikir, dengan musnahnya spesies flora-fauna langka akan membuat anak keturunannya kelak mengenal namanya semata tanpa pernah tahu bentuk nyatanya. Bukankah kita tak pernah melihat garuda -yang menjadi simbol Pertiwi- dalam keadaan masih menghirup dan menghempas napas?

Ayyub terperanjat dari langlangan khayalnya selepas bus yang ia tunggu-tunggu meraung dengan klakson membahana untuk memarahi sebuah kendaraan bak terbuka yang mengerem mendadak. Sopir bus mengeluarkan kepala dari jendela, “Kau kira aku hendak mati serupa kau, heh?” Sopir bak terbuka manyun di balik jendela, menyadari kesalahannya. Ayyub bersegera memasuki bus. Seperti lazimnya petang, kursi-kursi kendaraan umum sesak bertuan. Bagi mereka yang terbiasa, kekumalan tak mengurungkan hasrat untuk segera merobohkan tubuh di ranjang masing-masing pasca rutinitas keseharian.

Mujur bagi Ayyub, seorang perempuan paruh baya memilih turun karena bayi yang ia papah seakan minta diiba untuk menumpangi tunggangan yang lebih layak bagi seusianya. Selepas perempuan itu hengkang, Ayyub terkesiap lama hingga seseorang berambut afro mengambil alih kansnya untuk duduk. Di samping perempuan dengan bayinya itu ada wanita lain. Jadilah ia mesti berdiri sampai bus menambatkan badannya di pemberhentian terakhir. Andai ia tak tertegun lama mencerna keterkejutan tadi, mungkin cakap-cakap bersimbah kenangan akan membopongnya menuju ratapan kelam yang tanpa keterusaian dapat tercipta lagi. Boleh jadi akan terwujud dialog dan drama demikian.

“Haruskah wanita yang memulai?”
“Seharusnya tidak,”
“Masih belum banyak berubah,”
“Jangan terlalu dini memvonis!”
“Awal adalah identitas keseluruhan!”
“Itu milikku,”

“Tak tepatkah?”
“Tak selalu,” setelahnya, untuk beberapa detik suasanan menjadi lengang.
“Sudahkah?” kali ini dua kutub melebur.
“Kau saja dahulu,” semua saling menunjuk, memaksa lawan bicara mengawali dialog yang terputus oleh gelapan dan wajah bersemai merah. Disipu malu.
“Baiklah, Ni,” panggilan masa kecil Jannah dilontarkan Ayyub. Muka Jannah pun makin tak keruan, antara merah malu atau geram. Selain, lantaran itu adalah panggilan termesra ketika mereka masih saling menengadah langit bersama sembari mendefinisikan cinta sebagai salah satu sajian terbaik dari Tuhan untuk mereka.

“Sudahkah aku terganti?”
“Sejak dulu,” balas Jannah segera, tanpa jeda antara jawabannya dengan pertanyaan Ayyub. Ayyub melukis seutas senyum pilu. Jannah menampakkan mimik seolah jawabannya biasa saja.
“Alangkah lapang hidupmu, kejam kehidupan tak lagi bertamu padamu,”
“Memang, kau masih..” tak rampung pertanyaan Jannah, telah diangguki Ayyub.

“Kau dan ampas harapanku padamu masih terus membangun istana di hatiku, di sana, kumpulan impianku masih tak kunjung sudi untuk redup. Sejenak sekali pun. Bercak darah, berlinang-linang air netra dan pahatan memar tak sanggup meyakinkannya untuk berhenti hidup di keringkihan,”
“Mengapa demikian?” ditanya begitu, tentu Ayyub antusias bukan kepalang. Biarlah genangan rontaan hatinya ia tumpahkan seluruhnya sekarang, di hadapan gadis yang telah terfragmen sempurna di benaknya.
“Jawabannya ada di sorot mata, sungging senyum, dan kegemaranmu memurkaiku,” hampir saja Jannah tergelak karena pucuk kalimat Ayyub, namun situasi tak memperkenankannya demikian.

“Kau dan cintamu terlalu tulus untukku,”
“Katakan saja bahwa aku memang tak layak kau jadikan bahu bersandar,”
“Tidak, demikiankah selama ini asumsimu?”
“Ya,”
“Baiklah,” ia menghela napas, panjang sekali, hendak memberi kebenaran yang selama ini disalahartikan Ayyub.
“Kau masih ingat kalimat terakhirku di atas bulir-bulir pasir dan di antara lenguhan angin ketika itu, bukan?”
“Tak lupa secuil pun,” keduanya membuka bersama kembali kitab cinta yang mungkin telah sedikit teronggok di ingatan masing-masing. Bukan karena tak ada keinginan untuk bertautan lagi dengan semarak peristiwa dengan aneka cita rasa yang terlalui. Melainkan, khawatir akan disumpal oleh kenangan bertombak lancip prahara.

“Kau memang tak pernah peka dengan perasaan kaumku. Berlama-lama aku menunggu kau dapat sealur dengan kriteria lelaki yang ditancapkan pada urat-urat jiwaku. Nyatanya, terlalu lama aku kau buat menunggu. Kau buat aku jengah dengan rajutan pujanggamu yang beringsut-ingsut semakin membuatku muak. Di awal, aku demikian girang karena kau mampu mencadari residu kecewaku pada masa lalu. Tetapi, surut kecewaku kembali pasang, sebab..”

Kalimat wanita berlesung pipit itu putus. Di ujung matanya, setetes bening mengendap disekanya perlahan. Ia juga sesenggukan, tak kuasa menahan diri yang sedari tadi dilalap emosi, “wanita butuh kepastian, Ay,” Ayyub membatu sejenak, ia angkat bicara, “Karam kini kapal kertas kecilku. Demikian kalimat spontan yang langsung terlintas saat kau mengetok palukan keputusan di bibir pantai yang berpagar pepohonan kelapa beberapa waktul lampau itu. Selama ini, dugaanku tak luput. Kau tepat, kau pantas bersikap demikian. Namun layak kau ketahui, Ni, bahwa ketidaksegeraanku melilitkan kita pada simpul-simpul beraroma pelaminan punya latar belakang,” Jannah tetap sesenggukan, kali ini badannya menggigil tidak hanya meredam emosi, juga karena membendung badan bus yang mulai melonjak.

“Kau paham bukan selemah apapun pejantan, ia tetap butuh sekurang-kurang seorang hawa untuk dilindungi. Dan, setegar karang pun seorang wanita, ia juga niscaya butuh pelukan serta bahu untuk bersandar. Aku ingin kita demikian. Namun, aku terlampau lemah, sekarang pun di balik topi kusut pemberianmu ini, kanker ganas bersemayam nyaman.”
“Mungkin ia tengah mendengarkan untaian dialog kita ini, namun entah kapan, ia bisa tiba-tiba meminta pada Tuhan untuk menjadi sebab jasadku tak bernyawa lagi. Karenanya, aku tak hendak kau merasakan beban pikiran. Pilihanku ketika itu: terus bertahan atau terus membuatmu sangsi padaku. Akhirnya, seperti kini, pilihan terakhir kujamah,” cerocos Ayyub.

Singgahan bus sudah di pucuk pandangan, ramai suara pedagang asongan menggorok masing-masing angan Ayyub dan Jannah yang berkelana menuju maya dan sedikit nostalgia. Jannah lewat melintasi Ayyub, tak sepotong kata terucap dari perempuan berkerudung rapat itu. Ayyub memahaminya, lelaki yang keluar-masuk rumah sakit ini tak hendak memposisikan dirinya sebagaimana dulu. Cukuplah menginduk pada kenyataan bahwa ketulusan cinta di masing-masing hati tak berhak meniscayai akan berpagut mesra di kemudian hari.

Cukuplah kenangan bersama milik mereka menjadi bunga tidur terbaik di setiap malam keduanya. Akhirnya, Tuhan lebih tahu harus dikemanakan cinta-cinta hambanya untuk berlabuh. Bagaimana pun, ia tetap empunya semesta raya. Pun, resapilah kedigdayaan-Nya, bahkan dalam menciptakan suatu rasa pun, Tuhan juga tak lupa menyelipkan karateristik yang berseberangan dalam tiap-tiap masterpiece-Nya, tak terkecuali cinta.

Meski semata dialog dan drama dalam angan, sejatinya mereka telah terlalu paham, bahwa untuk berperkara dengan cinta tak melulu mencercap nektarnya, empedu di seberang sisi perlu ancang-ancang ditelan pula. Ayyub memilih rebah, kakinya cukup kebas selepas berdiri sepanjang perjalanan. Ia rebah di bangku bekas Jannah. Saking letihnya, ia tak cukup sadar bahwa Jannah meninggalkan secarik surat. Berwarna beludru.

Cerpen Karangan: R. Aminul Muslim
Facebook: Rhiezald Aquariuz’boy Thegunners
Santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo.

Cerpen Dua Muka Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menunggumu

Oleh:
Pantai geloda menyajikan suasana sore yang indah, pemandangan matahari tenggelam berwarna kuning keemasan menambah syahdu hari ini. Angin bertiup sepoi menyanyikan lagu rindu yang bergolak di hati Niha. Kerinduan

Kyori (Jarak)

Oleh:
Mentari hadir di sela-sela indahnya pohon sakura yang berjejer di setiap jalan. Udara di pagi hari menambah semangat Youko Ayumu seorang gadis yang anggun dan rambut lurus panjang terurai

Dilema Menikah Muda

Oleh:
Semilir sepoi-sepoi angin malam itu, menerpa setiap sudut wajahku, wajah sendu yang sedang bimbang di tengah hiruk pikuk di malam itu, kuperhatikan beberapa anak muda mungkin beberapa tahun dibawahku

Illusions

Oleh:
Malam ini angin berhembus tidak biasa. Terlalu liar untuk hanya disebut sebagai angin semilir. Entah apakah aku tengah mengambil keputusan yang tepat dengan duduk di serambi depan, sementara cuaca

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *