Dunia Dimana Kamu Tidak Pernah Ada

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 23 October 2018

Aku tidak memiliki tujuan apa pun dalam hidup ini, aku hanya memiliki naluri untuk bertahan hidup, meski sekarang hatiku diisi oleh kekosongan, tapi aku tidak pernah ingin lenyap begitu saja. Pada awalnya manusia sangat lemah, itulah mengapa manusia takut untuk sendirian. Mereka akan berusaha untuk mencapai tujuannya dan melindungi orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Manusia tidak bisa menahan lajunya waktu. Walaupun terkadang sering terbentur kenyataan, waktu akan terus berjalan. Terlepas dari seberapa banyak penderitaan yang aku dapat, waktu akan terus berlalu.

Aku tidak pernah mengerti tentang arti hidup ini. Pencarian yang tak kunjung usai membuatku teramat lelah. Suara yang memanggilku dari balik kesunyian malam, meledakkan kemarahanku. Seakan tak sanggup untuk memeluk tubuhku yang hampir membeku. Aku terperangkap dalam kesunyian. Terjerembab bersama waktu. Terhempas menuju kegelepan. Pintu-pintu mimpiku tak lagi terlihat. Memudar di antara harapan. Aku bertanya kepada bulan mengapa ada tetesan duka? Hingga aku selalu mencari alasan untuk menghilang. Seolah tak ada lagi tempat untukku di dunia ini. Menyadarkanku akan pahitnya kenyataan. Melepas kegundahaan dan keraguan hatiku.

Kehidupan merupakan suatu anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia. Tidak ada orang di dunia ini yang tidak menginginkan kehidupan, meski teramat sulit untuk menjalaninya. Tidak sedikit dari mereka berjuang melawan takdir dan menentukan pilihannya sendiri. Berusaha mengubah keadaan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Karena masa lalu terkadang sangat menyakitkan. Seakan waktu menjadi saksi bisu rangkaian tragedi manusia dan tenggelam bersama duka.

Perjalan panjang yang akan kita tempuh mungkin sangat terjal. Tapi kau tetap menatapku dengan penuh ketulusan. Hingga uluran tanganmu membuatku sangat berarti. Terkadang senyuman itu muncul hanya untuk menghiburku. Megeluarkan aku dari kegelapan hati. Mengawalku untuk keluar dari kebisingin ini. Dan kau terus menatapku. Cahaya lampu bola pijar itu menghiasi gelapnya taman. Kita duduk di sebuah bangku yang hampir tua usianya. Lalu kau bercerita dengan penuh perasaan kepadaku. Mengajarkanku tentang arti dari indahnya hidup. Dan untuk kesekian kalinya, kau meyakinkanku bahwa hidup ini sangat berharga. Aku ingin sekali melewati ruang dan waktu bersamamu. Meniadakan keraguan dalam hati demi tujuan kita. Mulai mengenal masa depan walaupun rasa sakit itu terus menyapa. Kau hadirkan kehidupan baru tanpa celah untukku mengeluh. Kau datang dengan sebuah tekad dan rasa saling percaya. Entah berapa lama lagi aku harus menulis dan bermain dengan kata-kata, untuk menjelaskan tentang dirimu.

Hingga aku menyadari dirimu yang sebenarnya. Aku teringat ketika dulu kau selalu berteriak. Kau seperti kehilangan arah, hingga tak bisa kembali pulang. Kau hanya bisa menangis meminta pertolongan. Namun air matamu tak pernah bisa tersampaikan. Tak akan kubiarkan lagi kau berkata bahwa kau sendirian dengan wajah yang menyedihkan seperti itu. Dikala hatimu terguncang, rembesan hujan kemarin malam mengalir di atas bekas lukamu bagai menghapus segala masa lalu. Setiap kali kau mengeluh kepadaku, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Harapan yang dulu kita simpan dalam perahu itu, mungkin tidak bisa berlabuh.

Kau selalu bertanya kepadaku ke mana arah jalan pulang itu. Meski berkali-kali aku memelukmu, kau tetap bertanya. Tekadmu itu hanya sekedar berlagak kuat, yang membuat permukaan air beriak. Walaupun hatimu begitu rapuh, kau tetap berusaha melawan rasa sakit itu. Aku bisa merasakan penderitaanmu, detak jantungmu begitu jelas terdengar. Meski, mereka menjulukimu pembohong belaka. Dan mencoba menyakitimu dengan olokan mereka. Meski dunia ini pun sudah tak percaya padamu. Dan mencoba untuk menusukmu dengan duri, aku akan terus berada di sisimu. Memikul kesepian dan kesendirianmu bersama. Dan segala yang membuatku sempurna, kini kupersembahkan untukmu. Janganlah menanggung beban dan rasa sakitmu sendiri! Karena akulah tempatmu kembali.

Apakah kau ingat saat kita bersama menemukan banyak hal berharga? Ketika itu kau bertanya padaku, “Apa yang bisa mengisi lubang di hatiku?”. Ketika itu kau seperti terselimuti kegelapan dan hampir tertelan keputusasaan. Lalu aku hanya menjawab, “Akulah yang akan mengisi lubang di hatimu.” Seketika kau terdiam dan menatapku dengan penuh keyakinan. Aku melihatmu menahan derai air mata. Namun kau berusaha untuk tertawa. Janganlah khawatir, kau tak sendirian. Kita masih memandangi langit yang sama. Bangkitlah sekali lagi, teruslah bangkit berulang kali. Kepalkan erat tanganmu yang terluka dan pusatkanlah pikiran dan kekuatanmu. Hingga saatnya kita bisa meraih impian itu bersama.

Dia adalah Tiara. Seorang wanita yang selama ini menemaniku. Selalu ada di sisiku. Dalam keadaan bagaimanapun. Dia selalu membuatkanku secangkir kopi hangat ketika aku sedang menulis. Dia tidak pernah bosan mendengarkan ceritaku. Dan dia selalu mendukungku, atas apa yang setiap aku lakukan. Dia adalah orang pertama yang menjadi sandaranku ketika aku bersedih. Dia adalah segalanya bagiku.

Aku ingat pembicaraan kami di tengah malam. Ketika itu aku sedang mengerjakan banyak sekali pekerjaanku. Tapi dia masih menemaniku dan mencoba menghiburku. Senyumannya membuat pikiranku tenang dan diselimuti kedamaian.

“Tiara, aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Entah seperti apa cerita hidupku akan berakhir, terkadang aku takut memikirkannya. Tapi, aku selalu yakin sesuatu yang baik akan muncul bersama kita.”

Tiara tersenyum dan memelukku erat malam itu. Seakan tak ada lagi rasa khawatir dalam hatiku. Sudah terlalu lama aku mengembara jauh mencari kehangatan ini. Berpetualang melewati semak belukar, hingga tubuhku tertusuk oleh seribu duri nestapa. Tapi, berkat kehadiran Tiara, aku mengerti mengapa aku harus tetap hidup. Karena manusia selalu berusaha untuk melindungi orang yang paling berharga dalam hidupnya. Berkorban untuknya dan berjuang untuk membahagiakannya.

Tiara pernah mengatakan kepadaku, bahwa mungkin aku terlalu lama bertarung dengan rasa kesepian, kesendirian, dan kebencian. Aku pun menyadari hal itu. Sesuatu yang buruk di masa lalu akan selalu bisa diperbaiki. Namun, kita harus bisa becermin ke masa lalu, agar kita belajar sesuatu. Tiara mengajarkanku untuk tegar menghadapi dunia yang kejam, dan cemoohan orang-orang yang meragukan mimpiku. Dan ketika itulah Tiara datang menghampiriku. Untuk memberitahukan bahwa masih ada celah harapan di depan sana.

Aku teringat suatu ketika Tiara pernah bercerita kepadaku tentang arti hidup.
“Kamu tahu, manusia itu sanget aneh. Hari ini mereka saling mengulurkan tangan dan saling melindungi, tapi keesokan harinya, mereka saling membenci dan mengkhianati. Lalu mereka akan menerima penderitaan dan rasa sakit. Manusia meneteskan air mata dan tertawa tanpa sebab yang jelas. Mereka bersusah payah mencari arti kebahagiaan hidup. Mereka lupa bahwa tugas mereka untuk hidup adalah menemukan rahasia langit, bumi, dan sesuatu yang ada dalam diri mereka. Mereka berlari terlalu jauh dari jati diri mereka. Mereka melewati masa-masa sulit dengan kesombongan. Mereka begitu naif untuk menerima pahitnya kenyataan. Kebahagiaan yang dikejar, tidak selalu tampak sempurna. Karena kesempurnaan itu adalah ketika manusia bisa saling menerima dan memahami satu sama lain.”

Aku percaya bahwa apa yang dipikirkan Tiara merupakan sebuah pemikiran yang sangat dalam dan patut untuk direnungi. Tapi, apakah itu juga sebagai peringatan untukku? Aku penasaran dengan maksud Tiara mengatakan itu. Aku ingin memastikannya.
“Tiara, maaf. Aku ingin bertanya sesuatu. Dulu… kau pernah bilang kalau masa depan manusia adalah kematian. Dan tidak perlu ada yang ditakutkan tentang masa depan. Tinggal bagaimana kita bisa melwatinya. Ngomong-ngomong…, apa maksudnya?” Tanyaku kepada Tiara.

“Itu benar. Manusia selalu memegang prinsipnya. Manusia yang hidup tanpa prinsip, hanya akan tergiling oleh zaman. Dia akan tumbang dan rapuh, tidak memiliki tempat di dunia ini. Tidak menjadi bagian dalam sebuah peristiwa. Semakin lama kamu hidup, kamu hanya akan merasakan kekosongan dan kehampaan. Kamu akan mengerti mengapa manusia selalu berakhir dengan penyesalan. Manusia selalu berusaha untuk mengutamakan orang yang dicintainya, meski harus menanggung beban ketika kehilangannya. Coba kamu pikir, segala sesuatu yang kita genggam pasti akan hilang dan pergi. Pada akhirnya kita akan ditinggalkan. Kita hanya akan mendapatkan kenangan. Dan kenangan itu sangat menyakitkan. Seberapa keras kamu mencintai seseorang, orang itu akan pergi atau kamu yang terlebih dahulu pergi. Cinta hanya akan mengajarkan kamu tentang rasa sakit dan kebencian. Banyak hal yang akan tidak pernah terduga menghampiri kita setiap detiknya. Dan… tidak sedikit dari kita yang lari… menjauh dari kenyataan itu. Seakan-akan kita sudah tahu jika kita hanya dihadapkan pada ketidakpastian. Maka dari itu, kamu harus bisa melihat ke depan. Banyak hal di dunia ini yang belum dapat dilihat oleh manusia. Karena mereka memutuskan untuk berhenti dan menyerah sebelum mereka mencapai tujuannya. Masa depan kita sebagai manusia adalah kematian, apa lagi yang harus dibanggakan? Kamu akan mengerti… kalau kamu mulai merenungi bahwa selama ini… kamu berada di bawah langit yang sama denganku. Dan kamu harus bisa melihat sekitarmu. Tidak sedikit kejadian dan peristiwa yang patut direnungi. Kamu akan belajar dari sebagian mereka, sebagai manusia seutuhnya. Karena selama ini…, aku belum pernah menemukan manusia!”

Saat aku mendengar itu, aku sangat terkejut. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Tiara kepadaku? Akhir-akhir ini dia bertingkah aneh. Aku pun belum sempat mengambil inti dari pembicaraan kami malam itu.

“Tiara, apa kamu baik-baik saja?” Tanyaku khawatir dengan keadaannya.

“Yah… aku baik-baik saja. Maaf…aku terlalu terbawa emosi. Aku… aku hanya ingin kamu mengerti. Kalau… tulisan kamu tentang kehidupan itu masih belum cukup. Untuk bisa menggambarkannya dengan sempurna, kamu harus benar-benar mengerti penderitaan orang lain. Kamu tidak bisa melihatnya dari satu sisi saja. Setiap orang terlahir dengan sudut pandang yang berbeda. Kamu harus bisa berada di posisi mereka. Karena manusia akan bisa saling memahami, apabila bisa merasakan penderitaan yang sama.”

“Begitu ya.” Aku terdiam sejenak.

Aku adalah seorang penulis novel. Entah sudah berapa lama aku tidak keluar rumah. Terkadang aku merasa pusing karena memikirkan novelku. Aku menulis tentang berbagai hal. Aku lebih suka membahas tentang kehidupan dan manusia. Menurutku itu, topik yang sangat menarik. Akhir-akhir ini hujan sering turun. Tapi aku suka suara rintik hujan. Seakan membawaku ke dunia lain. Dunia yang begitu nyaman.

“Tuuuuuuut!” Suara bel berbunyi. Tidak biasa ada tamu yang datang ke rumahku. Aku bergegas membuka pintu. Ternyata temanku Frash. Frash datang dengan membawa makanan ringan berserta bir. Sudah lama kami tidak berbicang. Aku mempersilakan Frash masuk. Kami berbica banyak hal. Frash adalah temanku yang paling tahu tentang kesibukanku menulis novel. Dia juga sangat mendukungku.

“Bagaimana novelmu?” Tanya Frash.

“Un… yah begitulah. Aku masih… menulisnya, dan menambakan bebereapa hal kecil.”

“Baguslah. Semoga kau cepat menerbitkannya.” Ucap Frash.

“Yah…, lagi pula tadi aku bara saja menerima masukan dari Tiara.”

Frash tertegun melihatku.

“Siapa Tiara?” Tanya Frash.

“Apa maksudmu Frash? Tiara, dia kekasihku. Dia selalu datang setiap malam membuatkanku makanan, dan …dan kau juga pernah bertemu dengannya. Waktu itu, kita bertiga makan malam bersama.” Ujarku kepada Frash.

“Kawan… aku tidak tahu dan kenal siapa itu Tiara? Kau selalu mengurung dirimu di rumah untuk menulis kan? Kau tidak pernah bertemu siapapun selain aku? Apa kau baik-baik saja?”

Apa ini? Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa Frash tidak mengenali Tiara?

“Frash dengar! Aku berbicara dengannya setiap malam. Dia.. dia memberitahuku tetang banyak hal. Tentang tulisanku. Tentang… semuanya! Tiara juga mengenalmu! Aku sering bercita kepadanya tentang mu, kau…” Frash memotong pembicaraanku.

“Cukup! Kawan… Tiara tidak pernah ada. Mungkin dia hanya halusinasimu saja! Kau… kau terlalu lama mengurung diri! Tiara itu tidak ada kawan! Berhentilah memikirkannya!”

“Jadi… selama ini… aku berbicara dengan siapa?” Tanyaku pada Frash.

“Mungkin kau memang benar berbicara pada Tiara, tapi Tiara yang ada dalam imajinasimu. Seorang karakter yang kau buat. Aku tidak tahu, tapi mungkin… selama ini sebenarnya kau melakukan semuanya sendirian. Dan kau… sudah terlalu nyaman dengan dunia delusimu itu.”
Keesokan malamnya, aku mendapat kiriman e-mail. Dari seseorang tanpa subjek. Lalu aku membacanya.

“Untuk seorang penulis yang tidak pernah menyerah,
Aku Tiara. Maaf baru kali ini aku memberitahumu. Sebenarnya aku tidak berasal dari duniamu. Aku datang dari dimensi lain, dari sebuah garis waktu yang berbeda. Dunia kita pada awalnya sudah berbeda. Hingga aku mendapat sebuah misi untuk datang ke duniamu untuk menutup sebuah portal yang terbuka. Itu membutuhkan waktu yang lama, sampai aku bertemu denganmu di kafe itu. Aku belum pernah menemukan orang sepertimu, dan aku mulai merasakan sesuatu yang aneh ketika itu. Tapi aku tidak boleh melupakan misiku. Aku lalu bergegas untuk menyelesaikannya. Aku tidak punya waktu lagi untuk memberitahumu. Karena aku yakin kamu tidak akan percaya. Setelah aku kembali ke duniaku, keberadaanku di duniamu akan menghilang. Orang-orang tidak akan mengingat keberadaanku. Tapi, hal itu tidak berlaku kepada seseorang yang memiliki hubungan sangat dekat denganku, yaitu kamu. Karena kita pernah terhubung dalam sebuah ikatan bernama cinta. Aku mohon, lupakan aku. Anggap saja aku tidak pernah ada. Jangan pikirkan aku lagi. Dan berhentilah mencariku. Kita memang berada di dunia yang berda, tetapi kita tetap hidup dengan memegang prinsip masing-masing. Berjuanglah! Jangan tidur terlalu larut, dan jangan terlalu banyak minum kopi. Kamu harus tetap berusaha untuk menjadi penulis terhebat. Aku selalu mendoakanmu di dunia dimana kamu tidak pernah ada. Tiara.”

Sekarang kita hidup secara terpisah. Aku tidak lagi memiliki kekuatan untuk memahami langit yang hampir menangis. Jika kau tetap tidak akan berubah, aku tidak membutuhkanmu lagi. Meskipun begitu, kalau aku kehilangan lebih dari ini, akankah aku bisa bertemu denganmu lagi? Berapa banyak lagi penderitaan harus kulalui untuk dapat bertemu denganmu sekali lagi? Aku selalu mencari sosokmu di suatu tempat. Di seberang rumah, di halaman belakang. Meski aku tahu kau tak mungkin ada di sana. Seandainya keinginanku bisa terkabul, aku ingin bergegas ke sisimu sekarang. Tak akan ada yang tak bisa aku lakukan. Akan aku pertaruhkan segalanya dan memelukmu erat.

Pada akhirnya aku selalu melihat ke suatu tempat, mencari senyumanmu. Di persimpangan jalan, saat menunggu bus lewat. Meskipun aku tahu kau tidak mungkin ada di sana. Andai hidup bisa diulang kembali, aku ingin berada di sisimu selalu. Aku tidak menginginkan apapun, karena… tak ada yang lebih penting darimu.

Untuk yang kesekian kalinya, rasa kesepian ini semakin bertambah. Aku menyukai angin yang berhembus di sini. Terdapat kilauan yang tak bermakna. Kita pernah tertawa bersama namun masa-masa ini telah hilang. Meski aku tak dapat mengatakannya dengan sempurna, aku masih berharap dapat terlihat tegar mulai sekarang. Memandang ke atas dan menatap masa depan.

Cerpen Karangan: Egi Yamada
Blog: egisensei.blogpsot.co.id
Egi Yamada adalah seorang penulis novel misteri. Ia mengawali karier menulisnya pada tahun 2012. Karya Novel pertamanya adalah Kuro Bara.

Cerpen Dunia Dimana Kamu Tidak Pernah Ada merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Taman Dian

Oleh:
Pagi yang indah di kota yang berjulukan “kota tepian” ini. Cuaca yang berawan sedikit gelap menandakan tak lama lagi turun rinai hujan. Dian tak lama lagi akan memasuki sekolah

My Soulmate

Oleh:
Kriiiing.. Namaku Angelina madison. Bel masuk sekolahku berbunyi. Tanda Kegiatan belajar dimulai. Aku berlari tergesa gesa menuju Kelas. Sudah telat beberapa menit. Di kelasku.. Berdiri pak Agus sambil menatapku

Dusta Persahabatan

Oleh:
Pagi yang tetap sama. Gelap tanpa secercah cahaya. Ini adalah hari-hari biasa yang sangatlah membosankan. Mau pagi, siang, sore, ataupun malam, semuanya gelap gulita. Sudah biasa sejak 6 bulan

Surga Di Ujung Setapak

Oleh:
Aku selalu menatapmu gadis abu-abu, ketika kau berdiri di balik jendela buram di kastil kecilmu yang dikelilingi tembok yang dingin. Aku memperhatikanmu ketika aku menyusuri jalan setapak di depan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *