Dunia Kita Berbeda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 24 May 2016

Namaku Vesya. Aku adalah seorang gadis berkacamata yang duduk di bangku kelas X SMA Nusa Bangsa, selain gadis yang berkacamata aku juga seseorang yang pendiam dan tidak terlalu akrab dengan teman-temanku di kelas. Selain itu aku juga memiliki kelebihan pada diriku yang jarang dimiliki orang lain yaitu sebuah penglihatan dunia lain atau biasa disebut indera keenam. Aku memiliki penglihatan seperti itu sejak aku masih kecil dan sampai saat ini aku masih sering berkomunikasi dengan ‘mereka’, apalagi saat ini aku bersekolah di SMA yang terkenal angker.

Teman-temanku bilang aku sering berbicara sendiri di kelas padahal aku sedang berbicara dengan salah satu dari ‘mereka’, mungkin itu sebabnya aku sering dibilang anak aneh atau anak misterius oleh teman-temanku. Bagiku melihat ‘mereka’ sudah bukan hal yang aneh lagi, bahkan aku sudah mengenal semua penghuni kelasku yang tak kasatmata itu. Suatu hari aku sedang berjalan mengelilingi koridor sekolah, tetapi tiba-tiba saja angin berhembus kencang di sisi kiri tubuhku aku tahu ada yang sedang memperhatikanku, tetapi aku terus saja berjalan dan sayup-sayup aku mendengar seseorang memanggilku.

“Siapa di sana?” tanyaku dengan melihat sekeliling. Tiba-tiba saja ada yang memegang pundakku, lalu aku berbalik arah dan ternyata seseorang dengan wajahnya yang pucat sedang menatap ke arahku, aku tahu itu salah satu dari ‘mereka’ sontak saja aku terkejut melihatnya, lalu dia tersenyum kepadaku dan aku pun membalas senyumnya.

“Siapa kau? dari mana kau tahu namaku? dan ada apa kau memanggilku?” tanyaku padanya.
“Aku Leo. Aku tahu namamu karena aku sering mengikutimu. Maaf jika aku mengganggumu, aku hanya ingin menjadi temanmu,” jawabnya dengan tersenyum.
“Kau boleh menjadi temanku, tetapi jika aku boleh tahu kenapa kau ingin menjadi temanku?” tanyaku.
“Karena aku tidak mempunyai teman dalam duniaku,” jawabnya.
“Mungkin kau sama sepertiku,” balasku.
“Maksudmu, kau juga tidak mempunyai teman sepertiku?” tanyanya keheranan.
“Ya, mereka menganggapku anak misterius.” balasku lagi.

Mulai saat itu aku dan Leo bersahabat, aku selalu menceritakan keseharianku kepada Leo begitu pun dia. Sekarang aku tidak kesepian lagi, Leo selalu ada di saat aku membutuhkannya. Tetapi akhir-akhir ini aku tidak melihatnya, mungkin saja ia sedang berjalan-jalan di luar. Sebulan kemudian, aku masih belum melihatnya juga, aku telah mencarinya di setiap sudut-sudut sekolah namun tidak ku temukan dan aku juga sudah mencarinya di tempat biasa kami bertemu tetapi aku tidak merasakan kehadirannya. Kini aku merasa tidak memiliki teman lagi.

Leo yang selalu mendengarkan cerita keseharianku, yang selalu ada di saat aku membutuhkannya tetapi kini, ia telah menghilang dari kehidupanku, aku kembali merasakan kesepian, aku tidak tahu mengapa tiba-tiba ia pergi begitu saja. Suatu hari saat aku pulang sekolah sudah larut malam karena mencari ke mana perginya Leo, aku pulang dengan berjalan kaki sebab sudah tidak ada bus lagi yang lewat di atas pukul 20.00, dan saat ini jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 21.05. Aku menyusuri jalanan yang sangat sepi, angin malam berhembus menerpa dedaunan sehingga terasa dingin menusuk tulang. Samar-samar aku melihat seseorang di ujung jalan.

“Kenapa masih ada seseorang di ujung jalan saat larut malam begini, jalanan sudah sangat sepi apalagi tidak satu pun kendaraan yang lewat. Sedang apa orang itu?” tanyaku keheranan. Lalu aku menghampirinya, dan betapa terkejutnya aku bahwa seseorang di ujung jalan itu adalah Leo, aku tercengang melihatnya dan bertanya, “Leo? dari mana saja kau? sudah lama kau menghilang begitu saja, aku sudah mencarimu tetapi kau tidak ku temukan. Dan mengapa kau pergi begitu saja tanpa memberitahuku dulu?” tanyaku dengan cemas.

“Maaf, aku pergi tidak memberitahumu dulu. Vesya, bolehkah aku mengatakan suatu hal kepadamu?” balasnya.
“Iya, memang hal apa yang ingin kau katakan padaku?” tanyaku heran.

“Sebenarnya aku pergi begitu saja tanpa memberitahumu karena aku ingin menghindar darimu, aku ingin menghilangkan perasaan yang ku miliki padamu, jujur saja aku mencintaimu sejak awal kita berteman, bagiku kau berbeda dengan gadis lainnya, kau baik hati dan ramah terhadapku. Terima kasih kau mau menjadi temanku, dan maaf jika aku memiliki perasaan kepadamu. Awalnya aku merasa bahwa kita akan bersama selamanya sebagai satu cinta, tetapi aku sadar bahwa kita tak mungkin bersatu dan mulai saat itu aku menjauhimu, aku mulai mengurangi intensitas pertemuan kita dan semakin lama aku mulai menghilang dari kehidupanmu. Aku sadar dunia kita berbeda, kau tak mungkin untuk ku miliki. Selamat tinggal Ve.., aku akan tetap menjagamu walau kau tak pernah tahu itu.” balasnya.

Jika memang itu yang terbaik untuk kita, aku rela melepasmu. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu kembali. Selamat tinggal Leo, sahabat terbaikku.

Cerpen Karangan: Septian Ptr
Facebook: Renata Aprilita

Cerpen Dunia Kita Berbeda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dari Sebuah Kaca Mata

Oleh:
Mentari tak pernah berkhianat, seperti biasa ia kembali dari ufuk timur. Semburat kilaunya menyelinap ke dalam kopi pagiku. Dengan digdayanya, seakan ia mampu merubah hitam menjadi seterang cahanya. Tidak!

Janji Yang Membisu

Oleh:
Janji kebersamaan kita yang tak akan pernah pupus terlekang oleh waktu. Kini kau telah tenang disana sayang, menanti kehadiranku kembali untuk melanjutkan cerita kita dulu. Tuhan punya cara untuk

Antar Aku Dengan Senyuman

Oleh:
“iya bun.. bunda juga jaga kesehatan ya..!! daaah bunda.. assalamualikum..” ku tutup telpon dari bunda dan segera kurebahkan tubuhku diatas sebuah sofa. Hari ini matahari sangat terik, lumayan juga

Mawar Merah Ternoda

Oleh:
Kamar kosong dengan laptop menyala lagu padi -kasih tak sampai ku biarkan mengiringi kepedihan hatiku, entah apa yang ku rasakan kini, entah apa yang ku gores dengan penah di

Number One For Me

Oleh:
Minggu pagi yang cerah. Di kamar itu, kamar yang bernuansakan biru langit dan dipenuhi oleh poster-poster seorang penyanyi religi terkenal, Maher Zain. Rika, si pemilik kamar itu sepertinya adalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *