Dunia Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 26 December 2017

“Di mana aku?!”
Senyap dan Hening yang aku rasakan..
Sekarang Yang aku dengar hanya suara detakan jarum jam. Tak beberapa lama suara itu menghilang. Bagai di tengah malam yang kelabu tanpa seorang pun di sana. Kaki ini bergetar, Dinginnya angin sangat menusuk kulit.

Aku melihat seberkas cahaya yang sangat menyilaukan. Sinar itu sangat terang, sampai aku tak sanggup melihatnya dan menggunakan kedua tanganku untuk menutupi mata.
Aku berpikir “Apa ini yang dinamakan sepinya kehidupan?”
Sinar itu kemudian mulai meredup dan mulai menjauh. Aku mencoba mengejarnya sekuat tenaga, sekuat yang aku bisa.
Aku terus berlari…
“Aku ingin keluar dari kesepian ini.”
Kukerahkan seluruh tenagaku untuk berlari. Aku terjatuh. Aku tak sanggup, kakiku terasa berat. sekarang Air mataku menetes. Sinar redup itu pun telah menghilang..

Aku kembali bangkit, aku bejalan kesana kemari tanpa arah berharap bisa berjumpa dengan cahaya yang menghangatkan itu. Kakiku terasa sangat letih. Aku ingin menyerah tapi semangatku muncul kembali. Aku melihat sebuah pohon yang becahaya, dedaunannya dihiasi oleh kelopak bunga berwarna pink seperti bunga sakura.
Mataku tertuju pada pohon itu. Aku paksakan kakiku yang sudah letih menuju ke pohon itu.
Tepat di bawahnya, aku merasakan kehangatan, sangat hangat dan kemudian ingatanku pergi ke masa lalu.
“Aku kenal kehangatan ini, ini seperti kehangatan yang diberikan mereka disaat aku dilahirkan, kasih sayang yang mereka berikan. Iya aku tak sendirian, aku masih mempunyai mereka. Ayah, ibu, keluarga dan mereka yang menyayangiku. Sekarang yang harus aku lakukan adalah BANGKIT dari dunia yang sangat sepi ini.”

Sehelai daun bercahaya jatuh tepat di atas kepalaku dan menghilangkan sekelebat masa lalu itu sejenak. Aku tersadar dan segera akan menggambil daun itu. Namun dari arah belakang aku merasakan ada seseorang yang membantuku untuk mengambil daun itu. Aku menoleh ke belakang, orang itu bersinar bak cahaya yang kutemui tadi, Cahaya yang sangat menyilaukan. Tak beberapa lama, cahayanya memudar dan aku tampak sangat familiar dengan orang itu. Saat aku mencoba mengingatnya, kepala ini semakin terasa sakit. Rasanya seperti menginggat seseorang yang sama sekali tidah pernah aku temui. Di dunia mimpi ini semua memori ingatanku terasa terformat secara otomatis.
Aku tak bisa mengingatnya.

“Hai!” Serunya. “Apa yang kau lakukan di sini” tambahnya.
Aku terdiam sesaat.
“Aku tak tau. Saat tersadar aku sudah berada di dunia ini. Aku sendirian kemudian aku melihat sebuah cahaya. Dan cahaya itu, cahaya itu yang menuntunku ke sini” tuturku.
Pemuda itu terdiam. “Aku juga mengalami hal yang sama sepertimu” sahutnya.
Aku sangat kaget “Benarkah? Lalu untuk apa cahaya itu membawa kita ke sini?” tanyaku.
“Untuk mempertemukan kita. Apa kau tidak mengingatku Rei-Chan?” tanya pemuda itu dengan yakin seolah kita memang sudah saling kenal.
Aku tertunduk lesu.
“Gomen. Aku benar-benar tidak mengingatnya” jawabku dengan penuh rasa penyesalan.
“Tak apa. Jangan renungi apa yang memang tidak kamu ingat” kata pemuda itu memberiku sedikit semangat.
“lalu apa yang akan kita lakukan di sini?” tanyaku.
“Menjalani kisah kita” pemuda itu tersenyum.

Kelopak bunga berjatuhan seperti salju yang menyejukkan. Pemuda itu mendekat ke arahku. Kemudian dia memelukku dari arah belakang.
“Rei-Chan apa engkau tidak mengingat pelukan ini” bisiknya.
Pelukan ini sangat menenangkan dan penuh kehangatan. Membuatku tak ingin terlepas darinya. Aku merasa sangat dekat dengannya. Seolah dia adalah orang yang selalu menjadi penyemangatku.
“Jika kau tak mengingatnya, tak mengapa. Aku tak menginginkan semua waktuku tersita hanya untuk mengulang semuanya karena WaktuKu tak lama. Aku akan segera pergi dan melanjutkan semuanya” ucapnya.
“Ha? Apa maksudmu? Apa engkau akan meninggalkanku di dalam kehidupan tak berarti ini?” jawabku.
Kemudian dia menggengam tanganku.
“Tidak, percayalah. Walau engkau tak mengenalku tapi diriku akan selalu ada di dalam hatimu” ucap pemuda itu dengan penuh keyakinan.
“Mengapa? Mengapa engkau begitu yakin dengan itu?”
“Karena kita saling mencintai!” tegas pemuda itu.
Pemuda itu memelukku dengan erat. Pelukannya sangat menenangkan dan penuh kehangatan cinta. Aku tak ingin terlepas darinya, semuanya sangat nyaman Aku tak ingin semua ini berakhir. aku kenal dengan semua ini. “Hikari-san” teriakku.
“Syukurlah engkau mengingatku. Tapi waktuku telah habis. Semoga bahagia selalu” jawabnya.

Aku mengingat semuanya. Tapi dia tiba-tiba melepaskan pelukannya. Dia menjauh dariku. Dia tampak bercahaya. Sinarnya menenggelamkannya, itu tampak sangat jelas. Dia menjauh bersama sinar yeng memudar.
“Hei, ke mana kamu akan pergi?” Sepontan aku berteriak. “Apa kamu akan meninggalkanku? Aku akan sendirian. Kumohon jangan pergi” aku terus berteriak sambil meneteskan air mataku.
Dan semuanya lenyap.

Sudah hampir 1 jam aku berputus asa, Aku tak akan hanya tinggal diam di sini, akan kukerahkan seluruh tenagaku untuk berlari mencari jalan keluar dari semua mimpi buruk ini. Aku terus berlari dan …… Aku teratuh dalam sebuah lubang yang gelap dan sangat dalam, lubang itu seperti tak mempunyai titik dangkal, aku seperti melayang pada hamparan kosong di lubang yang tak berujung itu. Kemudian mataku menjadi sangat berat yang membuatku tak sanggup terjaga.

“M-Mama…” Ucapan ini yang pertama kusahutkan, saat kucoba buka bola mataku, aku tak bisa melakukannya. Semua masih sama, terlihat gelap.
Tapi Kemudian ada sahutan dari arah samping kananku “Terimakasih Yaa Rabku” ucapnya pertamakali “akhirnya kamu sadar juga nak” sahutnya lagi.
“Ma apakah itu engkau?” tanyaku.
“Iya Oshi sayang” ucap Mama sambil menggenggam tanganku.
“Sekarang kita ada di mana Ma? Kenapa semuanya gelap?”
“Kita ada di rumah sakit sayang, dan kamu abis ngalamin koma seminggu terakhir ini. Apa kamu enggak inget kecelakaan itu?” tanya mama membuatku heran.
“Ummm”
Aku berpikir sejenak.

“iyaa, aku sekarang menggingatnya. Ma, apa aku mengalami kebutaan?” tanyaku
“Enggak kok sayang, ini semua akan baik-baik saja. Ada pemuda yang mau mendonorkan kedua bola matanya untukmu”
“Dia adalah orang yang kamu sayang tapi dia juga orang yang udah kamu sakiti, sayang”
“Hah? Apa dia hikari?” tanyaku.
“Iya sayang, kamu benar.”
“Ma.. bisakah aku menemuinya sesegera mungkin? Aku ingin meminta maaf”
“Baiklah sayang, mama akan segera bertemu dengannya dan memintanya untuk bertemu denganmu” jawab mama sambil tersenyum.

“Hei gadis brengsek!! Apa yang kamu lakukan dengan kekasihku? Apa kamu akan berusaha merebutnya” Seluruh pikiranku diselimuti oleh kebencian terhadapnya. Teman terbaikku, yang aku percayai ternyata menusukku dari belakang. Aku melihatnya berpelukan dengan kekasihku, dan wajah temanku itu tampak sangat bahagia.
“Apa maksud kamu Rei?.”
“gak usah pura-pura gak tau dehh. Tadi siang aku melihatmu sedang memeluknya di lorong sekolah? Jawab dengan jujur, Apa kamu menyukainya?.”
“Jika iya memangnya mengapa?.”
“Aku gak nyangka ya kalau kamu nusuk aku dari belakang! Sekarang aku percaya kalau Pembunuh paling berbahaya itu adalah sahabatmu sendiri.”
“Aku sering curhat dengan dia, begitupun sebaliknya. Dia cerita kalau kamu itu sekarang berubah, kamu kasar, posesif dan egois!”
“Kamu Jangan asal gomong dong! Dia gak mungkin bilang gitu, karena kita udah saling bilang kalau ada masalah bakal kita selesaiin baik-baik”

Kemudian hikari datang dari arah belakangku
“Tunggu dulu akira, aku gak pernah curhat sama kamu! Tadi siang kamu sendiri yang minta dipeluk. karena kamu lagi sedih”
“Ya ampun.. kamu tega ya, akira. Aku gak nyangka banget. Kamu juga kenapa mau aja dipeluk sama dia. Atau kamu juga suka sama dia.
Yaudah lah sekarang terserah kalian aja. Aku gak peduli lagi. Hikari-san yang terhormat, aku minta putus” aku segera berlari meninggalkan mereka sambil menagis.
“Tunggu dulu rei.. rei..” teriak hikari
Aku sangat marah, aku meluapkan kemarahanku di sepanjang perjalanan pulang. Pikiranku dibutakan oleh cinta dan kebencian.
“Brakkkkkk”
kecelakaan tak terhindarkan terjadi, aku tak sadarkan diri dan kemudian berada dimasa koma.

Senja sore ini tampak begitu indah. Aku menunggu seseorang di bawah sebuah pohon yang berdahan rimbun berwarna hijau. Langit orange mewarnai birunya langit yang membuat suasana menjadi sedikit menjadi tenang. kemudian seseorang yang kutunggu datang, dia datang sendirian menggunakan tongkat peraba.
Sungguh melihatnya seperti itu membuatku sanggat bersalah, aku sungguh bodoh dan memang egois. Aku dulu terlalu cepat mengambil kesimpulan. Dan hanya kerena masalah kecil aku bisa menghancurkan kepercayaanku terhadapnya. Melupakan ketulusan hatinya.

“Rei-chan apa kamu telah ada di sana?” Tanya hikari membuyarkan setumpuk penyesalan itu.
“Eh iya, aku di sini.”
“kamu mau ngomong apa sama aku?” tanya hikari.
“Mungkin memang sudah tidak bisa diubah. Namun jika kamu memberi kesempatan untukku, aku akan berubah jadi lebih baik. Maafkan aku karena aku lupa bahwa cintamu sanggat besar dan sekarang aku telah menghancurkannya. Maaf kan aku, hanya kata maaf yang bisa akukatakan”.
“Rei kamu gak usah minta maaf. Kamu gak salah kok, kamu cemburu sama aku, ya itu wajar aja karena kamu cinta sama aku. Dan aku bahagia bisa ngerasain kamu bahagia karena kamu gak akan terjebak talam gelapnya dunia”.
“Tapi sekarang kamu yang terjebak di dalamnya”.
“Tak apa sebentar lagi aku pasti juga akan mendapatkan pendonor untukku. Dan sekarang. Aku harap kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari pada aku”.
“Tapi Aku ingin mengulang semua nya dan memperbaikanya, bolehkah jika melanjutkan hubungan kita? Kita akan saling melengkapi”.
“aku tidak mau menjadi kekasihmu” Jawab hikari dengan tegas.
“Apakah aku seburuk itu di matamu? Sangat bersalahkah diriku?”.
“Rei-chan atau anak kesayangan yang sering dipanggil oshi-chan aku tidak mau menjadi kekasihmu tapi aku mau menjadi pendamping hidupmu. Dari semua yang pernah datang. Aku belajar bagaimana caranya menggenggam tangan. sedang dari semua yang memilih pergi, aku ingin belajar untuk bisa mencintai lagi. Dihari ini aku bersamamu. Bolehkah aku mencintaimu dan menjagamu, untuk seumur hidupku. Aku ingin benar-benar memilikimu.”
“Aku tidaklah lebih baik dari semua wanita yang pernah mencoba masuk dalam kehidupanmu. Banyak hal salah dan yang buruk yang telah aku lakukan dimasa lalu. Namun entahlah, tiap kali aku ada di sampingmu. Selalu aku merasa ingin menjadi seseorang yang lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi. Terimakasih dan aku mau menjadi pendamping hidupmu”.

Cerpen Karangan: Nerinda Ayu Sekar Arum
Facebook: Neerinda Ayu Sekar Arum

Cerpen Dunia Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kodok Jelek

Oleh:
Suatu hari dipagi yang cerah, terlihat seorang gadis cantik. Dia bernama natasya yang biasa disapa dengan tasya. Gadis ini terlihat sedang mengamati beberapa pasang burung yang sedang berada di

Pesan Cinta Angin

Oleh:
Udara musim gugur masih menyelimuti kota London saat itu. Masih terbilang hangat. Tepatnya di kota Bradford, bagian utara Negara Inggris. Gadis berusia 17 tahun itu berjalan di setapak menuju

Short Love

Oleh:
“ann… buka pintu lo ann!” teriak mira dan nam sembari menggedor-gedor pintu kamar ann. Sebenarnya ann malas membukakan pintu untuk kedua sahabat anehnya itu, habisnya mereka pasti akan mengacak-acak

Your Secret Admirer

Oleh:
2011 “Kenapa? ada apa dengan tahun 2011 Re?” tanya seseorang dari arah belakang. “Gak apa-apa Vit” senyum Realga pada sahabat terbaiknya. “Seriusan? ekspresi kamu itu gak ngeyakinin” tebak Vitsha

Sajak Senja (Part 2)

Oleh:
Pagi ini kuawali dengan semangat baru, hari ini aku akan ke pesta pernikahan Ima, aku bersiap memakai kemeja batik dan celana jinsku kurapikan ramputku, hari ini aku harus terlihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *