Duniaku Setengah Komik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 31 July 2018

Ketika aku masih muda, orang-orang dewasa bilang “jika kau berharap sesuatu, tunggu sampai bintang jatuh” dan harapan itu akan menjadi nyata, menurutku itu bohong, penipu! Bagaimana bisa harapan menjadi kenyataan begitu mudahnya?
Beribu-ribu bintang di langit namun tak ada yang berubah, tapi jika itu benar dan harapanku terkabulkan ah, betapa indahnya.
Malam ini aku berharap bintang jatuh yang menurutku itu bohong
“Aaaahhhhh bintang jatuh” mengepal tangan lalu aku berharap

Toktoktok (mengetuk pintu)
“Tuan putri” berteriak
“Tuan putri apakah anda sudah bangun? Raja sedang menunggumu, cepat bangun”
Aku mendengar teriakan seseorang, tetapi suara itu berbeda dari biasanya, biasanya nenekku itu logat dan suaranya bukan seperti teriakan tadi dan kenapa kepalaku sangat pusing sekali. Apakah aku ketiduran, bangun dulu mungkin teriakan tadi aku salah dengar atau sedang bermimpi lalu aku perlahan buka mata, aaahhh di mana ini tiba-tiba saja rumahku disulap jadi rumah mewah begini, apa aku masih mimpi tetapi ini seperti nyata, plaaaakkk (gamparpipi) awww sakit

Aku baru sadar di kamar gede nan mewah ini banyak orang yang sedang memperhatikan tingkahku, mereka memakai seragam pelayan seperti kerajaan, kenapa tatapan mereka seperti orang kaget dan heran begitu? Lalu ada yang masuk dari pintu berwarna emas menjulang begitu tinggi, wanita itu mendekatiku lalu dia bertanya “Tuan putri kenapa?”
Aku kaget aku tak mengerti apa maksud wanita itu, aku tak mengerti maksudnya memanggilku tuan putri
“Nggg…. Aaaaaku mau tanya siapa kamu?”
Aku benar-benar syok apa yang terjadi, dan aku masih belum tahu ada di mana
“Hahahhaha tuan putri apa maksudmu”
Heran kenapa banyak sekali orang aneh di sini, akan aku pastikan otakku tidak gila.
Bukan aku yang akan kupastikan tetapi pelayan cantik yang sebelah kiriku ini wanita ini aneh, tidak aku harus tetap santai

“ada apa?”
“Hhmmm, raja menunggumu di bawah”
Astaga, dia gila apa stres siapa raja, menungguku, ahhh ya tuhan hampir saja aku mati di dunia aneh ini jantungku berdetak lebih kencang, disaat genting seperti ini wanita gila itu mengapa begitu santai, aku bertanya dalam hatiku, siapa wanita ini dan ada di mana aku Kakiku menuju kamar mandi, diikuti para pelayan masing-masing pelayan membawa alat-alat mandi semua berwarna perak bercampur emas, ya tuhan aku baru sadar tubuhku begitu langsing dan rupaku begitu cantik bagaikan putri raja kulitku mulus, mata indah berwarna biru merah di pinggir bola mataku, hidung mancung mungil, bibir merah delima seakan tidak pernah kering atau pecah-pecah, aku masih heran siapa aku? Apa aku tetap Imelda kartia? Apa mungkin ini masih bermimpi? “Ahhh lupakan” mungkin otakku sedang gila, mandi dulu akan aku pikirkan aku di mana.

Setelah mandi, pelayan-pelayan menyiapkan gaun berwarna biru muda, perhiasan berwarna biru muda dilapisi permata putih. Hampir saja aku pingsan melihat semua yang dilakukan pelayan-pelayan, ketika pelayan sedang mendandaniku aku dikagetkan seseorang, bahkan dia berteriak langkah kakinya terburu-buru
“Tuan putri Imelinda Pratiwi Agraris, raja sedang menunggumu cepat turun”
Aku kaget dan menjatuhkan kaca dari meja perias, nama yang dia sebut, apa mungkin namaku?
“Tuan putriiii”
“Ya aku turun”

Setelah itu turun melewati tangga yang begitu panjang, ah ini hal yang aku benci turun lewat tangga pake gaun, sepatu kaca, bak seperti putri raja, hmm andai aku punya sayap bisa terbang atau punya kekuatan seperti “teleportasi”
“Aaaaaahhhh” apa yang terjadi tiba-tiba berada di depan lelaki, kedua tangan lelaki itu sedang menahan badanku yang hampir jatuh. Diperhatikan banyak orang yang sedang menunduk ketika aku datang, pelan aku mendorong lelaki mesum itu.
“dasar kurang ajar” dia tetap menatapku dingin
“Hahahahaha Imelinda Pratiwi Agraris istriku, kau begitu lambat seperti siput, aku menunggumu tuan putri” Apa maksudnya, aku istrinya, lelaki itu sudah gila bahkan aku tak tahu siapa dia, ya tuhan cobaan apa lagi ini.

Pelayan-pelayan langsung pergi setelah si lelaki gila menyuruh mereka meninggalkan kami berdua, ya lelaki mesum dan aku, lalu dia turun dari mimbarnya, aku tersentak dia sudah berada di depanku berjarak 2 jari dari wajahku, langsung saja aku mendorongnya
“Apa yang kau lakukan lelaki mesum” sudah pasti wajahku memerah karena kaget
“Kau kan istriku, jadi apa masalahnya sedekat tadi?”
Aku bahkan belum mengenal orang segila dia, dia menjabat tangan lalu mengatakan
“Perkenalkan, aku suamimu Ertama Pramudja Bilandia Mahesa”
Lelaki tak waras itu menatapku tajam bahkan aku tak berani menatap wajahnya, kau tahu wajahnya begitu tampan seperti aktor terkenal di korea selatan, wajar dia sedikit angkuh
“aku raja Bilandia putra dari raja Mahesa, dia ayahku” dia meneruskan kata-katanya, namun aku tetap diam, otakku di penuhi pertanyaan konyol, dia meneruskan kata-katanya lagi
“Ayolah jangan gugup, aku tahu siapa kau tuan putri”

Aku mulai bicara “Siapa aku? Di mana aku? Dan siapa kau?”
Dia menatapku sengit kali ini, tersenyum tipis penuh heran
“Kau istriku, kau berada di istana, aku suamimu”
Ya tuhan apa lagi ini dia cukup ngeri untuk aku tanyakan, mending mati dari pada nanya ke orang gila.
“Kau Imelda Kartia, di dunia yang kau inginkan, aku adalah pemeran yang kau harapkan”
Jujur saja aku ingin ketawa, dia meneruskan kata-kata yang seperti orang dewasa, heran apa yang aku harapkan

Katanya aku adalah pengganti putri dari kerajaan Agraris, aku adalah salah satu orang bumi yang dikabulkan oleh dewa bintang. ketika berharap sesuatu, baru kusadari benar aku memang berharap ketika bintang jatuh, namun harapanku bukanlah menjadi putri raja atau menjadi istri dari lelaki gila seperti ertama, aku hanya berharap ingin menjadi pemeran cantik dan berpasangan dengan sosok tampan seperti di dunia komik.

Langit berwarna pink muda di dunia Bilandia, sulit kupercaya ada dunia kerajaan yang begitu mewah, ketika aku sedang duduk di bawah pohon Cemara, Ertama datang menghampiriku
“Sedang apa?”
“Tidak sedang apa-apa” aku masih canggung
“Jalan-jalan mau?” sebenarnya aku ingin jalan-jalan karena ingin tahu Bilandia seperti apa, dan kenapa langit tidak berubah tetap berwarna pink, namun aku menolak jalan-jalan
“Jika penasaran kenapa kau tidak menanyakan kepada suamimu ini hahahhaha” aku ngeri mendengar dia bicara suamiku, istriku bukankah itu sangat ngeri.
“Untuk apa?” dasar lelaki gila pandai membuat mukaku memerah seperti jambu, untung dia ganteng aku gak sanggup marah sama lelaki seganteng Ertama, tapi kenapa dia bisa tahu apa yang aku katakan di dalam hati, apa dia punya kekuatan membaca pikiran orang ahh, entahlah aku tak mau tahu.
“Kau pasti naksir jika terus mengatakan aku ganteng, ayo jalan-jalan, ya aku memang bisa baca pikiran orang lewat mata orang itu” astaga, pasti mukaku seperti cepot, apa maksud ertama aku akan naksir orang gila seperti dia hahahahha
“Sudahlah ayo jalan-jalan” dan akhirnya aku menyerah, memilih untuk jalan-jalan, kau tahu apa yang dia lakukan? Dia memperkenalkan aku kepada warga Bilandia bahwa aku sedang mengandung anaknya ke 3 bulan, dia gila sudah pasti gila kapan aku dan orang gila itu membuat anaknya, bahkan aku baru tahu di dunia bilandia aku seorang istri dari raja Bilandia, ya tuhan aku hanya mengangguk ketika dia meminta persetujuan bilang iya bahwa aku sedang mengandung anaknya, dia seakan puas membuat mukaku malu sudah pasti semakin merah, hanya saja aku bisa tahu dia tidak segila itu pada akhirnya dia meminta maaf, aku mengatakan percuma orang Bilandia sudah terpikat kebohongan Ertama, tapi katanya dia sudah menggunakan kekuatan untuk menghilangkan ingatan warga Bilandia tentang kejadian yang tadi, akhirnya aku menyerah untuk memaafkannya, entah sampai kapan aku berada di sini, aku ingin menanyakan kepada Ertama tentang semuanya

“Mau menanyakan apa lagi istriku?” dia hadir setelah aku menyebutkan namanya, lagi-lagi memakai kekuatan teteleportasi ahh lelaki itu selalu saja membuatku kaget
“Ada apa? Mau menanyakan apa lagi istriku?”
“Hey coba kau jangan lakukan hal gila lagi, datang tak diundang, pergi tanpa pamit apa-apaan” aku benar-benar muak dan marah sekali bagai mana jika jantungku copot lalu mati aku di sini sia-sia
“ya, maafkan aku, lalu apa yang akan kau tanyakan?” keadaan mukanya sangat tak meyakinkan untuk aku bertanya
“apa aku di sini akan lama?” aku bertanya dan menunggu jawabannya
Kau di sini hanya sebentar karena 1 menit di bumi sama dengan 2 hari di Bilandia, hanya saja Bilandia tempat orang-orang pilihan dewa untuk melatih kekuatan dalam yang diberikan oleh gaia, mungkin menurut manusia biasa ini enak, tetapi ketahuilah semakin kuat seseorang, maka semakin banyak yang ingin menghancurkan orang itu, apa kamu mengerti?
“Ya aku mengerti” dia menatapku penuh ke hampaan raut wajah orang yang akan kehilangan tetapi aku mencoba biasa saja, mungkin hanya perasaan aku saja, karena aku tidak bisa membaca pikiran seseorang.

“Dewa bintang mengabulkan keinginan manusia hanya beberapa, bahkan setelah 1199 tahun, dewa bintang mengabulkan keinginan manusia biasa sepertimu, namun harapanmu hanya terbatas” tiba-tiba aku teringat usahaku, gigihnya aku ingin ada seseorang yang mengabulkan keinginanku.

Bilandia, langit berwarna pink muda, tempat orang-orang pilihan kadang aku heran mengapa dewa bintang mengabulkan keinginanku, aku sedang berpikir di tempat tidur menatap jendela tiba-tiba pintu terbuka seseorang masuk ke dalam kamarku ternyata Ertama, heran kenapa jalan kaki biasanya selalu teleportasi atau tidak terbang

“Kenapa jalan kaki, padahal cape menaiki tangga lantai ke 5, hahaha” aku merasa puas karena bisa melihat wajah yang kelelahan, dia raja Ertama bisa lelah juga ternyata
“Hosh hosh bukannya kau yang meminta jangan membuat kaget lagi, kenapa menertawakanku?”
“Tidak, ada apa kemari?” Aku tutup mata karena, takut dia membaca pikiranku lagi
“Jalan-jalan aku ingin menunjukan sesuatu” dia mengajakku jalan-jalan dan aku langsung setuju untuk ikut
“yuk, aku ingin tahu lebih jauh lagi Bilandia” sebenarnya aku hanya penasaran apa yang akan ditunjukan oleh Ertama, karena wajahnya nampak begitu serius meskipun aku takut dipermalukan lagi
“Kita jalan kaki saja, jangan pakai kekuatan karena menghabiskan banyak energi”
“Ya tak masalah, tetapi aku mau pake gaun biasa”
“Jangan yang keliatan aurat, pamali kata orang sunda”
“Hahaha kau tahu dari mana aurat?” geli liat muka dia yang angkuh dan mata sinis
“Sudahlah ayo jalan”

Aku dan Ertama berjalan-jalan dia menunjukan banyak tempat ekspresimen untuk memperoleh kekuatan dan dia membawaku ke tempat taman sakura dan ada anak sungai airnya warna putih persis seperti susu, tentu airnya pun manis lebih manis dari susu rasanya unik, dan katanya dia yang membuat taman itu mengahabiskan 3 tahun membuat taman sakura, yah memang tidak diragukan dia kan bukan orang biasa, namun orang pilihan yang tentu sudah di perjelaskan oleh dewa untuk menjadi seseorang, selama di taman sakura dia hanya membisu, aku pun hanya diam mengagumi taman sakura yang begitu indah. Dulu aku ingin ke jepang hanya untuk bertemu dengan komikus jepang dan bunga sakura, ini sangat indah benar-benar indah.

Saat itu Ertama tetap diam aku pun sama, segera aku cairkan suasana bertanya kepada Ertama
“kau beruntung punya kekuatan untuk membuat taman sakura, taman sakura ini begitu cantik” padahal itu bukan pertanyaan yang penting untuk di pertanyakan
“tentu, tetapi aku lebih beruntung bisa membuatmu senang” dia menjawab dengan senyuman manis, senyuman yang tak pernah aku lihat sebelumnya, kau tahu jantungku berdetak lebih kencang, untungnya aku bisa menyembunyikan rasa tak karuan ini
“hehehe, kenapa begitu?” ahh pasti muka ku memerah lagi
“karena mau” kali ini dia menjawab dingin, dengan menutup bibir memakai tangannya. Aku memang tidak bisa membaca pikiran orang tetapi kali ini aku lihat muka Ertama memerah, mungkin karena malu
“aku senang sekali, aku ingin selamanya ada di sini, di Bilandia”
“semoga saja, aku akan lebih sering membawamu ke tempat ini” ahh kalian harus tahu, aku senang mendengar Ertama mengatakan itu, karena dia terlihat begitu tampan seperti pemeran tokyo ghoul, Kaneki Ken tentu dia salah satu lelaki yang aku impikan di dunia nyata, setelah itu dia mengajakku pulang katanya aku harus istirahat.

Entah mengapa di Bilandia, lapar jarang aku temukan bahkan beberapa hari ini aku hanya memakan bunga Begonia karena warga Bilandia lebih sering memakan bunga dibanding nasi, makanan pokok Bilandia ialah bunga. Asalnya aku tak percaya soal makanan pokok Bilandia namun, kata Agrindri Bunga memberi banyak energi dibanding nasi atau jagung selain itu bunga akan menambah awet muda, pantas saja orang bilandia seperti masih umur 12 tahunan padahal umur aslinya ratusan tahun, ini memang tidak adil sih bagi orang bumi. setelah Agrindri Mahesa menyuruhku turun karena katanya aku di panggil Ertama, aku belum ngasih tahu Agrindri siapa dia adalah adik dari Ertama tentu ayahnya yang bernama Mahesa. Aku turun, dan duduk di dekat mimbar raja, langsung menanyakan kenapa aku dipanggil

“Ada apa? Kenapa aku dipanggil?”
“Di sini temani aku istriku” dia menjawab dengan senyuman mengancam agar aku tidak menertawakannya, aku tahu dia menjawab dengan sebutan istriku karena di depan pelayan-pelayannya di tambah lagi ada adik perempuannya yaitu, Emiris Reyscha Mahesa, tentu dia sangat cantik karena putri satu-satunya dari raja Mahesa, yang akan dinikahkan dengan kerajaan bangsawan berdarah Ningrat.

Ertama menyuruh pelayan dan yang lainnya pergi meninggalkan ruangan, di ruangan hanya ada aku dan ertama tetapi setelah yang lain pergi, malah ruangan sangat sepi tidak ada yang memulai bicara, aku tentu kesal dan mulai menanyakan perihal apa yang membuat aku dipanggil
“Ada apa tuan?” dengan nada sinis ditambah sedikit tinggi
“Bilandia akan diserang, besok atau hari ini aku tidak akan bisa menjagamu. Maka hati-hatilah, mudah mudahan kau bisa langsung kembali ke Bumi, semoga” dia mengatakan itu dengan mimik wajah yang membuat hatiku tercabik-cabik rasa kesedihan, tanpa aku sadari air mataku jatuh dan aku langsung berdiri di depan Ertama menyisipkan kata-kata penuh kesal
“Apa? Kembali ke bumi? Terserah kau mesum aku tidak ingin meninggalkan Bilandia, meskipun aku harus kehilangan nyawa aku akan siap”
“Keras kepala” dia mengatakan itu, lalu pergi menggunakan teleportasi, aku diam tak menggubris

Pohon cemara, langit berwarna pink, udara dingin saat ini aku sedang memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa tetap tinggal di Bilandia, Ertama beri tahu aku, dalam hatiku aku memang tipe orang yang putus asa.
Baru aku sadari Ertama sedang menatapku, entah sejak kapan dia berada di depanku, sudah pasti dia mendengar suara hatiku yang memanggil namanya, tetapi dia hanya menatapku penuh risau tidak mengatakan apa-apa, aku yang mulai bicara
“Beri tahu aku, agar tetap tinggal di sini bersamamu, aku ingin tetap di sini” aku mengatakannya sembari menumpahkan air mata di pipiku, dengan mata yang memohon kepada Ertama
“Jika itu maumu, kau harus kembali ke bumi dan tinggalkan sesuatu yang berharga di Bumi sebagai bayarannya, maka akan hidup abadi di Bilandia, namun waktu hanya terbatas jangan lebih dari 1 minggu berada di bumi, kau mengerti?”
Aku senang bisa menemukan jawaban yang pas, tetapi hal yang berharga seperti apa, mungkin aku harus meninggalkan bunda.

Setelah dari pohon cemara Ertama menyuruhku diam di Istana, entah apa alasannya, tiba-tiba prajurit melaporkan bahwa Bilandia akan di serang sekarang juga, aku turun mencari Ertama karena ingin tahu apa rencananya untuk mengalahkan raja iblis Mammon, tetapi tak kutemui dia, aku lari keluar di sana sedang terjadi perkelahian mataku tak menatap itu aku hanya mencari Ertama, tiba-tiba Ertama berteriak
“Lariiiii imelinda” aku kaget karena raja Mammon berada di depanku, mataku berpadu dengan dia mata yang penuh dendam, Ertama mendorong raja iblis itu dan mengatakan
“Mau apa kau dengan istriku” dia bertanya dengan matanya berubah menjadi merah, aku baru melihat dia semarah itu
Dia menatapku dan membawaku ke tempat bunga sakura berada.
Aku heran kenapa dia membawaku ke tempat ini, sedangkan Bilandia sedang diserang

“Apa-apaan bilandia sedang diserang, ayo kembali” aku bertanya karena patut dipertanyakan
“Aku tak suka kau keluar dari istana, menampakkan diri kepada orang-orang bajingan seperti si Mammon” dia sangat marah mengatakan itu dengan nada tinggi.
Namun aku kelu tak bisa berkata-kata apa pun, badan lemas, dan kepalaku pusing, mataku perih aku menggisik mataku dan setelah aku buka, ahhh aku kaget aku sudah berada di kamarku ini mimpi atau halusinasi, apa yang terjadi dengan Ertama, apa dia akan baik-baik saja.

2 hari setelah aku di bumi rasanya sepi aku kehilangan sosok yang menyebalkan seperti Ertama, aku telah merencanakan akan meninggalkan bumi dan bunda, aku menulis surat untuk bunda karena ini hari terakhir aku berada di bumi
Bunda, maaf Imel gak bisa jaga bunda lagi, Imel seneng jadi anak bunda, Imel seneng bunda sudah sehat, Imel mau pergi dari bunda Imel gak mau lihat bunda sedih jadi bunda harus senyum terus
Terimakasih bunda Imel sayang bunda
Aku sangat sedih tetapi aku memang harus memilih untuk mimpiku

Saat ini aku sedang berada di kamar, aku menggantungkan tali tambang di depan pintu kamar mandi, memang aku ragu tetapi aku lakukan untuk mimpiku bertemu dengan Ertama aku menggatung diri dengan tali mencekik leherku

“Ahhhhhhh di mana ini” aku berada di taman sakura, mataku berkeliling mencari Ertama dan di sana Ertama sedang melihatku
Dia tersenyum manis dan melambaikan tangan, dia langsung memelukku padahal tadi berjarak 1 meter dari hadapanku tiba-tiba dia memelukku aku tahu dia menggunakan teleportasi untuk menjangkauku
“Aku rindu, aku sudah tahu kau akan kembali”
“Aku kembali, karena aku rindu Bilandia dan dirimu”

Cerpen Karangan: Siti Nurmega
Blog / Facebook: Mega
Nama: Siti Nurmega
Hoby ku membuat puisi dan membuat cerpen, aku baru keluar SMA
Guys jangan lupa dibaca yah

Cerpen Duniaku Setengah Komik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebohonganku

Oleh:
Sudah berapa banyak kebohongan yang Roy perbuat sampai-sampai Pemuda 17 tahun itu harus memasang topeng kebahagiaan. Ia bisa menunjukan wajah bahagia, tapi tidak untuk hati kecilnya. Sungguh, Itulah yang

Sepotong Senja dari Pantai

Oleh:
Pesan singkat itulah yang membawanya berdiri di sini. Tidak seperti biasanya meski setiap hari ia keluar masuk pantai ini. Hamparan pasir nan putih menyapanya. Sepoi angin membelai kerudung tipisnya

Bayu Dan Penyerangan Robot

Oleh:
Terlihat halaman kafe yang luas dan banyak orang di sana. Kafe tersebut sebagai tempat untuk bertemu atau hanya tempat nongkrong. Dari kumpulan orang di sana terlihat tiga pemuda asyik

Pandangan Cinta

Oleh:
Suasana ramai riuh di sebuah taman. Banyak kerumunan di sekitarnya. Orang-orang berlalu-lalang melintasi jalanan dengan langkah santai. Seolah menikmati malam di taman kota. Ada yang berbicara pada ponsel yang

Anehnya…

Oleh:
Satu, dua, tiga. Ah ya, tepat tiga tahun lalu namamu menjadi peran utama dalam drama cintaku. Juga tiga tahun sebelum tiga tahun lalu kau satu-satunya makhluk pencipta tawaku atau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Duniaku Setengah Komik”

  1. khairiah says:

    keren banget cerpennya…
    berasa kebawa di cerita …
    (y)

  2. Dinbel says:

    Kerenssssss sekali cerita. Good job untuk pengarang. Di tunggu karangan selanjut nya ya, min, klo bisa yg lebih seru lagi ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *