Eccedentesiast

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 18 April 2019

‘biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Ungkapkan segala apa yang kurasa dengan kata-kata, supaya tak habis kau baca jka suatu saat kita tak lagi bersama. Sebab ku tau memoriku tak cukup banyak mengingat yang telah lalu’. Aku hanya mengekspresikan rasa kehilanganku pada musim hujan Mei lalu. Dan segala rindu yang masih membekas pada Juni itu. Kehilangan sesuatu yang sebenarnya tak kubiarkan hilang. Namun apa daya? Perasaanmu tak lagi memihak. Aku memilih pergi- demi bahagiamu. Bukankah cinta tak harus memiliki? Kiranya aku tak dapat memilikimu lagi, biarkan aku mencintaimu hingga waktu yang memintaku untuk mengakhiri rasaku. – (M.A)

Ada yang belum tuntas di akir bulan ini, sementara Desember sedikit lagi ingin tampakkan dirinya. Apa yang belum tuntas? Tentu saja rinduku. Atau mungkin perasaanku terhadapmu. Aku duduk termangu di teras kelabu dalam suasana sendu sembari memandangi jilbab bercorak cantik pemberianmu Mei lalu.

Sayang sekali kisah itu kandas begitu saja. Padahal aku menobatkanmu sebagai seseorang yang sangat berarti. Aku ingat sekali ketika itu raja siang tampak menyaksikan dua sejoli sedang diam terlibat perang perasaan. Aku diam, dan kau diam. Sama-sama tiada yang ungkapkan. Sebenarnya aku tau apa yang terjadi. Berminggu-minggu merasakan perubahanmu, meyakitkan. Hubunganku kian hambar dan diambang. Sementara kamu? Hanya diam tanpa penjelasan. Dekat secara fisik, namun secara emosional kita jauh sekali. Sangat jauh.

“Masih nyaman sama aku?” tukasku berat hati menatap lekat matamu yang bening.
“Kok ngomongnya gitu?” membalas tatapanku.
“Nggak, nanya aja..”
“Masih sayang?” tanyaku lagi.
“Masih lah.. kenapa sih nanya kayak gitu?” tangan lembutmu berusaha menggenggam tanganku, sesekali tangan lembutmu menyentuh pipiku. Ya! Pada akhirnya sentuhanmu meredakan amarahku yang hampir saja meledak.

“Udah sore, pulang aja gih!” kataku tak ingin memperpanjang masalah.
“Ngusir nih?” candanya berusaha mencairkan suasana.

Motormu melaju perlahan, meninggalkan senyum manis, mungkin merupakan senyum terakhir yang masih bisa kupandangi sebelum dirimu memutuskan pergi nantinya. Kita pun berlalu. Kehadiranmu sedikit demi sedikit luput dari pandanganku. Pembicaraan singkat itu disaksiskan oleh deru kendaraan yang sliweran. Aku heran. Apa dia tidak meraskan kejanggalan dalam hubungan? Sempat-sempatnya berlaku biasa saja seperti tiada apa-apa. Sepanjang perjalanan pulang kepalaku masih terngiang tentang perempuan itu dan mataku dihiasi kristal yang akan menumpahkan segala isinya. Mungkin dia tidak tau, kalau sebenarnya aku selalu mencari tau sebab-sebab perubahan sikapnya, meskipun sebagian ada yang kurasakan sendiri. Sikapnya dingin, padahal aku selalu ingin bertukar kabar secara wajar. Satu minggu tak berkabar rasanya ada yang berbeda, hubungan kian terasa hambar. Aku selalu ingin tau keadaanya dan aktivitasnya. Tetapi aku tak lupa selalu ingatkan dia untuk beribadah. Sebab, aku sangat peduli akan hubungan dia dengan Tuhannya. Musim hujan kali ini tak berarti apa-apa. Aku tetap merasakan kemarau yang gersang. Aku haus kasih sayangnya. Aku rindu. Bukan rindu lama tidak bertemu, melainkan rindu diperlakukan hangat seperti dulu. Duhai kasih? Ingin rasanya aku memelukmu sekali lagi untuk yang terakhir kali, sebelum kau memutuskan untuk pergi.

Aku tiada bisa menyalahkan siapapun perihal rasamu yang tak lagi berpihak padaku. Entah aku yang terlalu sibuk dan tak punya waktu untukmu. Atau mungkin kau tak lagi bisa bertahan denganku, sebab aku membuatmu bosan. Atau mungkin ada dia yang lebih bisa membuatmu bahagia? Iya dia yang selalu ada untukmu sementara aku tidak. Dia yang lebih sempurna dariku, sementara aku hanya mengandalkan ketulusan untuk tetap bertahan dalam hubungan. Ketahuilah, setiap detik ingatanku selalu tertuju padamu. Sungguh! Teriris sekali ketika kutau kau lebih nyaman dengan yang lain sementara saat itu aku adalah kekasihmu.

Kekasih? Iya kekasih, tetapi seperti orang lain. Jika seseorang benar-benar mencintai, ia pasti tak punya niat di hati untuk cari pelarian. Kendati aku sibuk, kau tau apa yang selalu kupikirkan dalam kesibukanku? Mengecek handphone untuk sekedar menunggu kabarmu, ingin selalu tau segala keadaanmu. Saat jauh darimu, aku merapal do’a yang selalu kujadikan perbincanganku dengan Tuhan.

Cintaku tak sekonyol yang kau kira. Aku tak pernah main-main dengan perasaan. Tetap setia walau diabaikan mungkin suatu kebodohan. Adakalanya aku berhenti. Yang setia memang tak akan pergi begitu saja. Aku tidak pergi, namun aku membiarkanmu pergi. Kepergianku ini bukan kemauan murni dari diriku. Melainkan kepergianku ini merupakan suatu kebutuhanmu. Kebutuhanku untuk bahagia dengan yang ain, kebutuhanmu untuk mewujudkan segala keinginanmu yang sebelumnya tak pernah bisa kau wujudnkan denganku. Menyadari pula bahwa kau bisa lebih bahagia tanpaku. Walau kutau merelakanmu merupakan hal yang tak pernah kuinginkan. Ini yang kau mau bukan?

Detik kehilanganmu pun tiba. Menangis, dan berteriak pun takkan mengembalikan apa yang telah hilang. Aku yakin kau pasti ingat berapa kali sering kukatakan padamu bahwa aku benar-benar takut kehilanganmu bukan? Sungguh? Secepat inikah kisah ini menjadi kenangan, yang memang pada hakikatnya abadi hanya untuk dikenang? Kau juga pasti ingat ketika aku meronta-ronta padamu bahwa aku benar-benar takut kehilanganmu, dan terus memohon padamu untuk tetap berada di sampingku. Pada akhirnya aku lelah memaksamu untuk tetap mencintaiku, lelah untuk mengubah rasamu seperti saat pertama kita bertemu, yang menetap abadi saat ini adalah rasa sayang untukmu. Walau berkali-kali kau buat lebam perasaanku, tetap saja rasa ini takkan goyah. Dan akhirnya kisahku luntur di masa ‘Putih Abu Abu’.

Padahal kita sering bertemu. Tetapi kenapa dekat terasa jauh? Membuatku yakin mungkin itulah saat-saatku harus melepasmu. Saat aku tak lagi menjadi prioritasmu, aku merasa kecil sekali kehilangan satu hal yang benar-benar membuatku merasa paling berharga. Saat aku bukan lagi dermaga yang kau buat berlabuh, saat itu pula aku sadar; aku harus membiarkanmu berlabuh di tempat yang lain. Saatku bukan lagi rumah yang akan kau kunjungi untuk pulang, saat itu pula aku sadar bahwa aku yang harus pergi menyadari bahwa hatiku tak ingin lagi kau singgahi. Saatku bukan lagi yang kau inginkan, saat itu pula aku sadar; bahwa cinta tak bisa dipaksa. Adakalanya aku mengerti dan tahu diri, bahwa tidak seharusnya aku memaksamu untuk tetap mencintaiku seperti dulu lagi.

Memang betul adanya, melepasmu itu merupakan sesuatu yang menyakitkan. Kau tau apa yang kurasa? Perasaanku hancur lebur tak karuan. Pelangi yang tadinya menghiasi berubah menjadi gemuruh yang kubenci. Jika rasaku tak terlalu dalam untukmu, mungkin tak sesakit ini yang kurasakan. Jangan kau kira di balik sikapku yang biasa-biasa saja, bukan berarti aku tak menyimpan segudang nestapa. Awalnya, aku tidak bisa bahagia ketika melihatmu bahagia dengan yang lain. Tapi, apa lebih tidak bahagia jika bersamaku kau tidak bahagia? Bukankah cinta itu bahagia jika melihat yang dicinta bahagia? Bahagiamu itu bahagiaku, meski kebahagiaanmu tanpa diriku. Ketika aku sadar bahwa kau pun berhak bahagia. Ketika itu pula aku siap melepasmu untuk bahagia. Dan satu-satunya cara membuatmu bahagia yaitu dengan membiarkanmu – merelakanmu bahagia dengan dia.

Ketika aku melepaskan seseorang bukan berarti aku berhenti mencintai. Melainkan lebih kepada menyadari bahwa kehadiranku tiada menciptakan arti lagi, dan aku juga bukanlah satu-satunya di hati. Menyadari pula bahwa aku bukan penyebabmu bahagia. Cara mencintai paling baik ialah mengikhlaskannya bahagia. Seharusnya kita tak menuai peretemuan itu, jika pada akhirnya ada satu hati yang berat untuk menerima perpisahan.

Kini, yang kujuluki sebagai Pewujud Imajinasi itu lenyap sendiri. Kalimatmu “ingin bersamamu selamanya” kurasa sudah kedaluwarsa. Derai airmata yang mengalir tak kuasa kubendung sendirian. Andai kau mengerti betapa tersiksanya hati ketika aku harus menerima kenyataan bahwa aku benar-benar kehilanganmu, dan kau benar-benar h i l a n g.

Kehadiranku yang luput dari pandanganmu mungkin tak berarti apa-apa, kau hanya menganggapku seperti angin lalu. Sebab, sebelumnya aku memang tak pernah benar-benar ada dalam hatimu. “Pergilah sayang..”

Perasaanku bergelayut. Pada rindu yang semakin akut. Rindu pada seseorang yang pernah membuatku terpaut. Aku terlanjur mematrikan rasa di hati, sehingga namamu sampai saat ini masih bersemayam di hati. Maaf, aku terlalu dalam tenggelam sehingga aku lupa caranya harus pulang. Seandainya rindu itu debur pasir mungkin ia akan lebih mudah hilang diterpa buih ombak pinggir pesisir. Seandainya rindu itu embun pagi, mungkin matahari akan lebih mudah mengikisnya. Seandainya rindu itu senja, mungkin malam akan lebih bijak mengajaknya berpamitan. Tapi rindu tetaplah rindu, suatu hasrat yang tiba-tiba muncul saat menginginkan sesuatu yang pernah ada. Kali ini ia murni menghantui malamku.

Di awal-awal minggu kehilanganmu, rinduku memang masih menderu dan menggebu. Ketika rindu datang menghampiri, aku selalu pejamkan mata sebagai pengganti. Kepulan rindu yang ada kian tebal, sebisa mungkin aku harus menyekanya, pada akhirnya kuutarakan rindu pada angin malam yang dengan tenang membawanya hilang. Sebenarnya aku ingin sekali ungkapkan rindu ini padamu, tetapi aku tak mampu mengungkapkannya. Melihat kondisi kita yang tak lagi SATU.

Di luar, rintik hujan masih terdengar jelas. Mataku sembab lagi, tangisku bersahutan dengan hujan. Aku termangu dengan dagu yang menempel di lututku yang tertekuk, sementara pelukanmu kala itu masih membekas hangat di tubuhku malam ini. Memandangi hujan yang menurutku kini tak lagi menampakkan kesan bahagia. Dulu, melihat hujan adalah kamu. Aku hanya sanggup menggigit bibirku kuat-kuat, sesekali aku memajamkan mata atau mengerjapkannya. Aku tak boleh menangis lagi, lirihku pelan.

Salahku dulu terlalu meyakini bahwa kau benar-benar mencintai sepenuh hati. Salahku terlalu bahagia hingga tak sempat kupikirkan duka. Kenangan menghujam pikiranku untuk kembali mengingat-ingat yang telah berlalu. Karena hujan adalah, saat-saat untuk mengingatmu; mengingat semua yang telah terlewati. Tentang rintik yang membaca setiap tawa, canda dan kebersamaan yang sempat kita alami. Rintiknya menjadi saksi, bahwa kita pernah berada dalam satu cerita. Yaitu cerita bahagia. Kenangan itu masih tersimpan rapi. Kau ingat? Saat menunggu reda terlalu lama, pada akhirnya melawan hujan adalah jalan satu-satunya. Aku tak peduli berapa buku pelajaran yang basah, tak kupikir betapa dingin – menggigil yang kurasa. Malam ini aku terisak ketika aku mendengar kabar bahwa kehadiranku tegantikan begitu cepat dengan orang yang baru. Selamat atas kemenanganmu! Semoga kau lebih bahagia bersamanya.

Aku menghentikan lamunanku. Kuhapus segala Kristal yang membanjiri wajahku sejak tadi. Langkahku gontai menuju kamar. Kuraih notebookku, jariku melangkah ke salah satu folder yang di dalam folder tersebut terdapat 70 lembar cerita ukuran A5, rencananya cerita itu masih ingin kuperpanjang Lembaran itu berisikan cerita tentang ‘kita’ berdua. Tadinya, lembaran cerita itu akan ku kemas – kubukukan menjadi Novel dan kuberikan padamu tepat di hari ulang tahunmu. Namun, kini cerita itu hanya mampu kupandangi di kasur. Jemariku berhenti menari semenjak kita tak lagi berada dalam satu cerita. Pupus sudah.

Biar perih, tetap kubawa lari untuk menyongsong bahagianya hidup. Walau pilu, aku benar-benar tak menyesali pernah mengukir bahagia itu denganmu. Yang membuatku kecewa diawal adalah terlalu berharap tentang ‘kita’, sementara kamu tak mau terlibat dalam harap tersebut. Berbahagialah dengan caramu – dengan dia yang lebih baik dariku. Maaf tak pernah jadi apa yang kau mau, maaf pula tak pernah jadi penyebab bahagiamu. Maaf sekali. Aku tak tau kapan rasa ini akan berhenti. Atau bahkan nantinya aku akan tetap mencintaimu dalam diam? Diam merapal do’a dan kuperbincangkan dengan-Nya.

Terimakasih telah menjadi perantara Tuhan untuk menguji hati.

Cerpen Karangan: Mulia Azzahra
Blog / Facebook: Kiki Mulia Azzahra

Cerpen Eccedentesiast merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berawal Dari Perjodohan

Oleh:
Di sebuah kamar di rumah sakit ada 3 orang yang sedang berbincang, yaitu Arga, Andien dan Ayah Arga yang sedang sakit. “Arga, Ayah mohon kamu terima perjodohan ini nak”

Perasaan Yang Terpendam

Oleh:
Waktu itu tepatnya saat masa orientasi SMA aku mengenalmu. Namun aku tak tau kapan rasa ini ada sebab aku tak pernah menyadarinya. Sejak saat perkenalan itu pula ternyata aku

Irrational Love

Oleh:
Cinta itu buta, banyak orang yang dibuat buta karena cinta, kata orang-orang. Entah cintanya yang buta atau orangnya yang buta. Cinta bisa membuat orang jadi gila, tapi, bagaimana kalau

Dibalik Perjodohan

Oleh:
Bulan tanggal tua mengapung kesepian. Selembar awan tipis membelainya dengan penuh kasih sayang. Cahayanya yang redup tak mampu memberikan bayangan pada pucuk pohon cemara. Nampak, Irma sedang duduk ditemani

Ketenangan Jiwa

Oleh:
Hari yang cerah menyambutku, memberitahu agar aku menyambut hari yang baru, dan melupakan hari yang lalu. Namaku Izyans, atau lengkapnya Izyansa Riyanti. Seperti biasa, aku terbangun sesuai dengan kebiasaanku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *