Ego

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 February 2016

Seorang gadis berjalan tergesa menyusuri koridor sekolah. Suara genderang perang seolah mengiring derap langkah. Terlihat otot-otot pada tubuh gadis itu menegang. Ada aura hitam bercampur merah yang menyelimuti jiwanya. Mata gadis cantik ini jelalatan mencari sesosok mahluk yang telah mempermainkan dirinya, dan ia akan memberikan ‘hadiah’ pada mahluk itu. Ketemu! Sorot netranya terkunci pada lelaki tinggi, tampan, putih berseri pula. Kebetulan laki-laki itu berjalan ke arahnya. Gadis ini berhenti tepat di hadapan lelaki itu. Dengan kepala tertunduk dan kedua tangannya terkepal seolah sedang menahan sesuatu.

Dengan wajah berseri-walau agak bingung, lelaki berwajah sedikit nyerempet orang Jepang ini menyapa gadis di hadapannya, “Hai, Ayu, ada apa?”
Ayu mendongak, ia menatap tajam pada dua bola mata sipit itu. “Ada apa?!” Bukannya menjawab, ia malah mempertanyakan kembali ucapan si lelaki, “Tampang ‘innocent-mu, Saiful! Aku muak! Apa kau tak bisa membaca bahasa tubuhku?” sambungnya dengan suara meledak. Seketika mereka menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang ada di koridor. Saifullah -siswa nomor satu di SMAN 2- tak mau harga dirinya anjlok di hadapan rakyatnya gara-gara umpatan yang dilontarkan Ayu, ia pun bertanya lagi, “Ayu, aku sungguh tak mengerti. Kau bisa jel–”

BUG!

Sebuah pukulan mendarat di wajah Saifullah. “Satu pukulan tak cukup untuk lelaki penghancur hati perempuaaan!” Kembali Ayu menyerang Saifullah. Serangan Ayu yang bertubi-tubi membuat Saifullah terdesak. Siapa yang tak kenal Ayu si Jawara Karate? Namanya sudah masyhur di dojo-dojo yang ada di kota itu. Yang dilakukan Saifullah hanya menangkis, kadang tubuhnya harus pasrah menerima hadiah Ayu, tak mungkin ia menyerang balik … terlebih kepada seorang perempuan.

“BERHENTI!!”

Ayu mengabaikan suara paling ditakuti se-antero sekolah, entah karena ia terlalu kalap atau hatinya benar-benar telah terkuasai ego? Entahlah… Ia berhenti setelah tendangan andalannya -mawashi- membuat Saifullah terhuyung, sekali pun lelaki tampan itu mampu menahannya. “AYU, SAIFULLAH, ikut saya ke ruang BP!” Teriakan guru BP itu menggelegar. Di ruang BP, Ayu memilih mengunci mulutnya ketika diinterogasi. Sedang Saifullah mengatakan dengan jujur bahwa ia sendiri bingung dengan sikap Ayu yang tiba-tiba menyerang. Atas tindakan Ayu itu, ia di-skors selama tiga hari, dan Saifullah terbebas dari hukuman, karena Saifullah tidak bersalah.

Dengan langkah gontai ia memasuki rumah bercat biru, seorang wanita yang sedang duduk di sofa menautkan kedua alis melihat kedatangan gadisnya. “Sudah pulang, Nak?” tanya wanita itu heran. Yang ditanya malah membuang napas, lantas beringsut menuju kamar, meninggalkan tanda tanya besar di kepala wanita tadi. Kemarahan masih menyelimuti hatinya, ditambah hukuman dari guru BP benar-benar membuat pikiran kalut. Ayu membuang tas sekolah dengan sembarang. Ia lalu merebahkan diri di atas ranjang.

Pikiran Ayu memutar scene-scene tentang lelaki yang tadi ia hajar saat istirahat -Saifullah. Lelaki ramah dengan senyum menawan yang selalu membuat hatinya kembang kempis saat berjumpa, oh … perasaan suka yang bercokol selama bertahun-tahun itu menguap begitu saja, setelah beredar kabar bahwa Saifullah punya hubungan khusus dengan Rose. Lantas apa maksud Saifullah memberinya setangkai bunga di koridor ketika pulang sekolah beberapa hari yang lalu, kalau bukan sebuah ungkapan perasaan suka? Sungguh, perasaan terluka membaur dengan kebencian menyeret ia pada tindakan bodoh dan membabibuta. Ah, kini Ayu hanya ingin tidur untuk menenangkan hati dan pikirannya.

“Ayu, bangun, sudah pagi! Dari tadi alarm berteriak-teriak, si empunya malah tidak mendengar.”
“Hmm … sekolah libur, Bu,” timpal Ayu seraya menarik selimutnya lagi.
“Libur atau di-skors?” sergah Ibu Ayu.
Mata Ayu membelalak di balik selimut, ‘Ibu mengetahuinyakah?’ pikir Ayu.
“Ibu mendapat laporan dari pihak sekolah, dan Ibu juga pergi menemui orangtua Saifullah,” kata wanita berwajah baby face seperti membaca pikiran anaknya, lalu ia duduk di tepi ranjang.
“Benarkah, Bu?” Ayu bangkit dari tidurnya, “Kapan? Lalu, apa yang Ibu katakan pada mereka?” lanjutnya penasaran.
Si Ibu memutar bola matanya malas, “Kemarin, Ayu tidak tahu karena tidur dari kemarin siang sampai pagi,” ucapan Ibu membuat Ayu cemberut. “Ibu minta maaf kepada mereka karena anak Ibu masih remaja labil, dan mereka memakluminya,” tutur Ibu sambil terkikik.

Gadis atlet Karate ini membuang muka. Sungguh, lelucon ini tidak lucu baginya. Ibu berhenti terkikik menyadari perubahan air muka anaknya. Hening. Ia menarik napas, lantas membuangnya perlahan. “Nak,Ibu mengerti apa yang kau rasakan karena Ibu pernah muda juga, pernah mengalami konflik. Entah itu karena cinta dan persahabatan yang melahirkan kebencian, kekecewaan, serta harapan palsu. Tapi, semua itu tidak akan terselesaikan atau terobati dengan kekerasan.” Ayu menoleh, memandang wajah ibunya dengan serius.

“Apalagi kau yang belajar Karate -salah satu aliran bela diri. Belajar bela diri berarti belajar rendah hati. Ingatlah, tak ada serangan pertama dalam bela diri, karena bela diri itu pertahanan, bukan untuk menyerang. Apa kau tahu hakikat ilmu bela diri?” tanya Ibu. Ayu menggeleng, tak sedikit pun bantahan keluar dari mulutnya. Kata-kata Ibu meluluhkan ego dan amarah yang bersemayam di hati. Seulas senyum Ibu menyelusup mendamaikan hati yang kalut layaknya tanah kering kerontang dijatuhi tetesan embun, menyejukkan.

“Nak, hakikat ilmu bela diri ialah mengontrol dirimu sebelum mengontrol orang lain. Maka dalam Shorinji Kempo, para kenshi didoktrin ‘Perangilah dirimu sendiri yaitu egomu, sebelum memerangi orang lain’. Nah, Ibu yakin kamu paham…”
“Aku memang labil, Bu,” ucap Ayu seraya memeluk sang ibu. “Maafkan aku …,” gumamnya di tengah isak tangis. Ayu menyadari bahwa ia salah, karena telah menggunakan ilmu bela diri untuk memuaskan egonya.

“Dan jangan lupa minta maaf sama Saifullah. Dia pasti memaafkan. Kau tahu, Ibu Saifullah bilang, kalau anaknya juga belajar silat …”
‘Pantas, kemarin dia mampu menangkis seranganku. Tapi, kenapa tidak menyerang balik?’ pikir Ayu.
“… Bukan lelaki namanya kalau berani melukai perempuan.” Ah, lagi-lagi ibu seolah membaca apa yang ada di benak Ayu. Ayu bersyukur terlahir dari rahim seorang ibu yang memahami apa yang dirasa anaknya, ‘Terima kasih, Bu.’ batin Ayu.

Sore hari, teman sebangku Ayu mengunjunginya. Setelah berbincang ‘ngalor-ngidul’, teman yang bernama Anna itu terfokus pada sebuah benda di kamar Ayu.

“Ada apa, Anna?”
“Tidak, kau dapat bunga rose dari Saifullah, ya?” tanya Anna.
DEG! “Tahu dari mana? Bunga rose?” Perasaan kecewa itu sedikit muncul lagi.
“Hahaha … kau tidak tahu ya? Itu bunga rose. Semua orang yang berpapasan dengan Saifullah beberapa hari yang lalu mendapatkannya. Katanya, dia ingin berbagi kebahagiaan karena Rose menerimanya,” papar Anna.
‘Oh, hatiku begitu bodoh! Dengan mudahnya menerjemahkan sebuah sikap tanpa mengklarifikasi lebih lanjut. Aku perempuan yang terlampau peka, bahkan ‘kegeeran’.’ Ayu menyesal dalam hati.

Beberapa hari kemudian … Di sebuah kelas, seorang lelaki sedikit gusar karena kedatangan gadis yang beberapa hari ke belakang menghajarnya. Lengkung kurva menyembul menghias wajah gadis cantik, tapi sikap garang dia tak seperti namanya, Ayu. “Tenanglah, Saiful, kedatanganku bukan untuk menyambung perseteruan yang lalu. Aku hanya ingin minta maaf, aku salah,” ucapnya dengan mimik tenang, “kalau kau tidak memaafkanku, aku siap menabuh genderang perang lagi…” Lalu ia melangkah pergi tanpa menunggu jawaban Saifullah.

Lelaki bermata bak orang dari negeri sakura ini sweatdrop mendengar ungkapan maaf yang … katakanlah aneh. Namun, langkah Ayu terhenti, lantas menoleh dengan senyum simpul, “Aku bercanda, hahaha…” Akhirnya perempuan itu benar-benar lenyap dari pandangan Saifullah. Ya, sikap manusia terkadang membingungkan. Namun, Saifullah tak ambil pusing, ia berpikir positif saja.

Beberapa belas tahun silam di SMA 2. Seorang gadis menghajar lelaki, ia begitu lihai melayangkan serangan pada lelaki itu. Siapa sangka, kejadian serupa dialami oleh anak perempuannya dengan tempat dan penyebab yang sama pula. Haha … kehidupan dan manusia memang sulit diterka dan penuh kejutan.

Tasikmalaya, 16-05-2015

Dojo: Sama hal padepokan, tempat latihan bela diri
Kenshi: Pemain Kempo, yang belajar kempo

Cerpen Karangan: Sharmay H. A
Facebook: https://mobile.facebook.com/sharmay.humay?
Seseorang yang menyukai puisi sederhana. 🙂

Cerpen Ego merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Tengah Hujan

Oleh:
Kenalin aku Aya duduk di bangku kelas 3 SMP, aku punya teman namanya Dana dia sama kaya aku kelas 3 SMP juga. Aku berteman dengannya sudah lama. Sejak kami

Letter, Untukku 10 Tahun Yang Akan Datang

Oleh:
Ciit… ciit… ciit… Suara decitan sepidol terdengar sangat menyakitkan. Rumus rumus yang membuatku mulas. Dan atmosfer yang berat dari kelas. Kapankah hal ini akan berakhir? “Sekarang bapak akan membagikan

Langit Bumi

Oleh:
Hari ini tampak cerah. Deburan ombak yang terdengar gemuruh di tambah kicauan burung-burung yang seperti sedang bernyanyi. Suara bel sepeda pun terdengar dari luar. Riani segera membuka pintu dan

Dari Senyum Itu

Oleh:
Pertemuanku pertama kali dengan seorang peri, begitu aku menyebutnya hingga detik ini, adalah ketika hari pertama perkenalan masuk SMA atau biasa disebut MOS. Ketika para siswa baru merasakan berbagai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *