Eksperimen Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 4 September 2017

“Sejak kapan dia jadi kayak gitu?”.
“Udah dua tahun Yan.”
“Sabar yah, nanti aku nanya-nanya dia. Tapi kok kamu gak kasih tahu aku dari dulu?”.
“Aku takut repotin kamu”.
“Ya sudahlah, nanti aku yang coba nanya ke dia. Kalo hubungan kamu ma dia bermasalah kasih tahu aku. Bagaimanapun aku yang udah ciptakan hubungan kalian aku juga harus bertanggung jawab”.
“Hahaha iya Yan, makasih yah”.

Gadis itu terus saja sibuk dengan urusan percintaan orang lain, tak jarang sebutan “Dokter Cinta” memang cocok untuknya namun sayangnya Dokter Cinta ini pun tak pernah merasakan kisah kasih dunia berpacaran tapi ia justru menjadi Dokter Cinta yang handal. Sudah banyak hubungan percintaan yang ia ciptakan tapi tetap saja ia tidak punya niat untuk berkencan dengan pria manapun dan menciptakan sebuah ikatan yang disebut “Pacaran”.

“Orang pacaran kok ribet banget yah?” keluh Dian pada sahabatnya, Rani.
“Emang kenapa? Udah mau nyerah jadi dokter Cinta?” tanya Rani mulai menggoda Dian.
“Gak, cuman kadang aneh aja, baru juga pacaran tapi ngaturnya itu loh.. Wow lebih parah”.
“Gak semuanya gitu juga kali Yan”.
“Masa sih? Dari semua yang gua bantu pasti ceweknya ngeluh kalo si cowok kurang perhatian, gak pernah nanya “Udah makan apa belum?”, romantisnya pas di awal aja…” jelasnya dengan sedikit kesal.
“Itu memang namanya Pacaran, mereka butuhin perhatian apalagi cewek. Tapi kamu sering dengar curhatan cowok gak?” tanya Rani sambil menatap sahabatnya yang mulai berpikir.
“Pernah, tapi mereka santai aja”.
“Begitulah cowok, mereka itu kelihatan cuek tapi sebenarnya peduli. Pas si cewek terlalu protektif kadang si cowok capek deh.. haha kayak kita pernah pacaran aja Yan”.
“Hmm.. iya, kita aja gak pernah pacaran tapi ngurus masalah orang yang pacaran. Ini yang namanya GU”.
“Apaan tuh?” Rani mengerutkan keningnya.
“Gila Urusan hahahahha”.

Di taman kampus seorang gadis sedang duduk sendirian. Tampak dari raut wajahnya dimana kebingungan sedang menggerogotinya, kerutan tiap kerutan kebingungan tergambar jelas bahwa ia sedang berpikir keras. Sepertinya ia mendapatkan masalah karena sebutan “Dokter Cinta”nya. Tentu saja menjadi tempat penyambung hubungan dua orang manusia atau bisa dikatakan sebagai makcomblang tentu saja menghadapi banyak masalah pula. Dan itulah yang dihadapi Dian sekarang…

“Huftt… kenapa jadi begini, siapa juga yang mau jadi orang ketiga? Niat bantuin malah dikira nikung parah.. parah” keluhnya.
Dian merogoh kantong almamaternya dan mengambil kotak kecil berwarna hijau, dengan cepat ia mengetik beberapa kata yang ingin ia sampaikan pada sahabatnya.

Dian: Kamu di mana Ran?
Rani: lagi di rumah gak enak badan.
Dian; oh iya, GWS yah
Rani: insha allah

Ia kembali pada kebimbangannya, niat untuk curhat pada sahabat terbaiknya ia urungkan. Dian tidak mau temannya semakin sakit dengan masalahnya ini, Rani memang sudah pernah berkata bahwa menjadi seorang Dokter Cinta memang kadang senang dan membahagiakan tapi tetap punya banyak resiko, bisa disebut “orang ketiga” disaat hubungan kliennya bermasalah atau bisa saja disebut “sok jadi malaikat” yah begitulah…
“Mungkin ini karena aku tidak pernah pacaran” pikirnya “Apa aku harus melakukan eksperimen? Haha sudah gila”.

Dua hari sudah Rani absen, dan dua hari juga Dian dirundung kebimbangan juga gangguan. Benar saja, ketidakhadiran Rani di sampingnya mengundang banyak pria mengganggunya. Wajahnya yang manis tentu saja mengundang banyak kumbang tuk mendekatinya namun tetap saja niat Dian untuk tidak berpacaran masih tetap kokoh hingga pikiran gila beberapa hari lalu terlintas di pikirannya.

“Yan, ini ada surat” ucap seorang mahasiswi yang memberikan surat berwarna merah hati padanya.
“Dari siapa?”.
“Dari senior kita, baca aja dulu”.
Dian mengambil surat tersebut dengan wajah bingung dan membacanya dalam perasaan bimbang.
“Jawaban kamu apa? Yes or No?” tanya temannya itu mulai penasaran.
“Senior yang mana sih?” Dian mengalihkan.
“Ck.. pokoknya nanti kamu datang ke taman aja, senior kita nunggu kamu di sana jam 2 sore oke?” ucap gadis itu lalu pergi meninggalkan Dian yang masih bimbang.

Dengan gelisah Dian terus saja menatap jam tangannya, “13:58” waktu sudah menunjukkan menit-menit terakhir pertemuannya dengan seorang senior yang menunggunya. Dengan langkah berat Dian berjalan menuju taman tempat yang paling ia sukai di area kampus ini namun kali ini itu menjadi tempat tersulit yang harus ia datangi.

Ia sampai di taman kampus, dari kejauhan ia dapat melihat seorang pria tinggi menggunakan sweater berwana hijau gelap dan celana jeans berwarna hitam ditambah kulitnya yang tampak bersih sedang menunggu dengan gelisah.
“OMAIGAT!” bisik Dian frustasi dan tak sadar memukul jidatnya sendiri. “Kenapa harus Prseiden Mahasiswa Kampus?” keluhnya.
Tanpa sadar ternyata pria itu sedang menatap Dian yang bersembunyi, dengan ramah ia tersenyum pada Dian namun respon dari gadis itu hanya senyum kikuk yang tergambar jelas. Pria itu mendekati Dian…

“Hai, kamu dari tadi di situ?” tanyanya.
“Hmm.. gak kak, barusan. Maaf kak agak lama”.
“Haha enggak kok, ke sana yuk nanti kita dikira tikus nyari makan” canda pria itu.
“Hehe iya” dengan kikuk Dian berjalan di belakang pria itu tentu saja dengan sejuta kebimbangan.
“Kamu gak nyaman yah?” tanya pria itu menyadari keresahan Dian.
“Eh? Eng.. enggak kok kak”.
“Udah santai aja, aku cuman mau ngomong santai ma kamu, oh iya kamu sudah tahu namaku?”.
“Hehe siapa yang tidak kenal presiden Mahasiswa Mohammad Fadhel Gunawan” ujar Dian masih dengan senyum kikuknya.
“Haha baguslah, siapa juga yang tidak kenal si Dokter Cinta handal Tri Rahmatia Diani” ujar pria itu dengan senyum yang membuat wajahnya semakin rupawan.

“Emm.. ngomong-ngomong kenapa yah kak?” tanya Dian Ragu.
“Enggak, cuman mau ngobrol sama kamu aja. Sebagai Dokter Cinta kamu pasti ngerti maksud aku”.
“Oh kakak mau nanya tentang masalah percintaanya yah?”.
“Iya, aku punya gebetan tapi aku bingung mau nembaknya gimana?”.
“Kalo ditembak matilah kak”.
“Haha bukan bukan, kamu taulah maksudnya”.
“Trus? Apa kakak mau aku urusin?”.
“Begitulah”.
“Orangnya siapa? Jangan senior yah kak”.
“Haha emang kenapa? Takut?”.
“Enggak.. cuman agak grogi hehe”.
“Enggak kok orangnya dekat”.
“Siapa?”.
“Di sampingku.”
“Mampus” batin Dian, ”Eh? Saya? Lah Kok?”.
“Kamu mau?”.
“Emm…”
“Sudah.. kamu pertimbangin aja dulu, tapi please beri seniormu ini kesempatan, aku sudah merhatiin kamu satu tahun ini.”
“Hah?” Dian semakin kaget “sudah satu tahun?” Ia semakin frustasi dan tak tahu harus berkata apa.
“Kita pulang yuk, udah sore” ujar pria itu dan mengantarkan Dian tuk pulang.

“Eottoke?” teriak Dian di kamarnya, dia tampak frustasi melihat berbagai pesan singkat yang ada di smartphonenya.
Kak Fadhel: Kamu udah makan?
Kak Fadhel: Besok aku jemput kamu ke kampus.
Kak Fadhel: Besok kita ketemuan di taman yah ^-^
“3 panggilan tak terjawab “Kak Fadhel””

Dengan cepat ia mengetikkan sesuatu…
To: Rani
Ran, gimana nih ada senior yang nembak gua, eottoke?
Rani: Hah? Siapa? Kapan? Kenapa baru kasih tahu sekarang?
Dian: Kak Mohammad Fadhel Gunawan.. tadi sore. Aku harus gimana?
Rani: haha mampus loe
Dian: RANI!!!
Rani: haha udah terima aja dulu, kita liat sampai mana kamu bisa bertahan dengan status Pacaran, sama presiden kampus lagi hahah
Dian hanya bisa mengehembuskan nafas berat, dan menatap kembali pesan dari calon pacarnya *hahaha author jahat*.
“Huft… jalani aja dulu itung-itung eksperimen cinta”. *JENG JENG*

13 Desember 2016
“Wah udah setahun nih kamu pacaran” goda Rani pada sahabatnya yang sedang duduk manis dengan memainkan smartphonenya.
“Haha iya.. kamu ingat aja”.
“Gak ada party nih?”.
“Tuk apa, ini baru pacaran bukan nikah” ujar Dian santai tanpa memalingkan pandangannya dari game yang ia mainkan.
“Ck.. dasar gamer sejati. Kamu udah ngasih kabar ke kak Fadhel belum?” tanya Rani mulai kesal dengan tingkah sahabatnya.
“Ah iya lupa.. tunggu”.
Dengan cepat ia mengetikkan suatu pesan singkat yang amat singkat.
“Kak Fadhel udah makan?”.
“Wat? Cuman itu?” heboh Rani.
“Terus apa?”.
“Tunggu deh pasti dia cuman balas “Sudah””.
“Wah kamu betul haha emang dokter cinta kamu Ran”.
“Ck.. kamu ini, lama-lama Kak Fadhel bosan sama kamu”.
“Yah.. kalau bosan putus lah”.
“Ckck.. gila kamu Yan”.

Drttt…
Kak Fadhel: Yan, kita ketemu bentar di taman.
Dian: Oke.
“Kamu mau ke mana?” tanya Rani melihat Dian yang hendak meninggalkannya.
“Ke Taman, si Do i ngajak ketemuan”.
“Jangan cuek, arra?”.
“Nde nde, arraseo Hyungnim” Dian pun meninggalkan Rani dan berjalan ke arah taman menemui pria yang sudah setahun ini menjadi pacarnya.

“Kita putus.” Kata-kata itu ternyata menyakitkan, Dian yang tadinya menganggap bahwa kata “Putus” itu hanya sekedar kata kini mengetahui bahwa kata itu seperti hantu yang terus gentayangan.

“Yaelah lu tadi yang bilang *kalo bosan putuslah* masih ingat loe?” ujar Rani sambil menenangkan sahabatnya.
“Ck.. lu mah gitu orang galau malah diejek” Dian kesal.
“Haha galau juga kan lu, makanya jangan cuek jadi cewek. Dimana-mana orang pacaran cowok yang cuek lah ini malah cewek cuman gara-gara game lagi ckckck.. dunia yang keras”.
“Terus gimana? Aku rasa bersalah sama Kak Fadhel. Denger penjelasannya bikin aku kayak orang paling jahat”.
“Kak Fadhel ngejelasin panjang lebar ke kamu, berarti dia masih ngasih kesempatan buat kamu berubah”.
“Beneran?”.
“Iya, coba kamu sms dia, chat kek, apa kek”.
“Ih gengsi..”.
“Yaelah.. sini Hp lu” titah Rani dan lansung menarik smartphone Dian. Rani mengetik sesuatu tanpa memperlihatkannya pada Dian.
“Ini!” Rani mengembalikan smartphone Dian, dengan cepat Dian melihat pesan apa yang Rani kirimkan.
“Udah aku hapus.” Ujar Rani singkat dengan wajah juteknya.
“Hua… jahat luh Ran”.

Drrttt..
Kak Fadhel: Besok kita ketemuan di Taman, aku mau ngomong sesuatu.
“Eh? Kok dia mau ketemu?”.
“Ya udah ketemu gih”.

Dian tampak diam saja mendengar kata-kata Fadhel, dia membiarkan Fadhel untuk mengatakan setiap kesalahan yang Dian lakukan karena seluruh penjalasan yang Fadhel katakan memang benar..
Dian terlalu cuek.
Dian tidak memikirkan orang yang selalu khawatir tentang kebaikan Dian.
Dian masih sibuk dengan kesenangannya sendiri.
Ternyata, hobi menjadi Dokter Cinta Dian buat Dian gak peduli sama percintaan Dian sendiri.
Yah itu semua yang Fadhel katakan dan memang benar, ternyata pengalaman Dian menjadi Dokter Cinta tak sama jika ia menjadi seorang klien, tentu saja itu karena bukan ia yang mengalami. Ia hanya tempat curhatan mereka bukan solusi dari masalah. Ternyata seperti itu rasanya Cinta.

Cinta bukan sebuah ikatan yang mengekang seseorang, tapi Cinta adalah cara orang lain memberikan perhatian pada orang yang ia Cintai. Cinta bukan sebuah permainan tapi rasa sayang yang harus dihargai.
-Tri Rahmatia Diani-

END

Cerpen Karangan: Adhawati
Facebook: Adhawati

Cerpen Eksperimen Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cukup Cintamu

Oleh:
Hari terus berganti, aku masih saja terjebak dalam statusku dengannya, entah mengapa hubunganku dengannya hanya bertahan empat bulan saja. Padahal aku sangat sayang dan mencintainya, apapun akan aku lakukan

Tunggu Aku di Batas Senja

Oleh:
Pagi itu Ara berlari menuju kolam ikan di samping rumahnya. Seperti yang biasa ia lakukan ketika pagi bertemunya, ia menemui ikan mas yang ada di kolam ikan samping rumahnya.

Tresno Story

Oleh:
Kira-kira 1 tahun yg lalu awal mula dari cerita cinta yg indah itu bermula,pertemuan pertamaku dgn sosok wanita yg begitu mengagumkan dan mungkin tak akan tergantikan dalam hatiku. .

Nostalgia

Oleh:
Langit kuning kemerah-merahan, di ujung sana tampak setengah lingkaran matahari, cahayanya mulai meredup, teduh, terbias di permukaan danau yang terbentang luas. Angin nan dingin menyelimuti daerah puncak. Di dekat

My Angel

Oleh:
3 Juli 2014, pukul 23.30 di taman kota, terlihat seorang gadis dengan kuncir kuda yang rapi sedang berlari mengejar anak anjing yang sedang berlari di depannya. Gadis itu berusaha

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *