El De Er

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 17 November 2017

15:40, ketika ku saksikan ada yang membuat mataku kaku, mungkin lebih pas dibilang terpaku. Apakah aku harus manamai momen ini dengan sweetheart?, shyshy?, in love minus falling?, atau apa? Ah entahlah. Tiba-tiba pandanganku kucoba alihkan ketika aku tersentak dari lamunan singkat yang bisa kubilang gila itu. “Dia? Ya ampun ini bener-bener dia, dia di sampingku. Aku nyaman. Ya, itu.” Lalu dia berada pada posisiku, iya posisi yang sekarang tak kutempati lagi, dia memandangiku “Kamu senang? Akhirnya kita bisa jalan.” Yaa aku hanya tersenyum, dua detik tiga detik, kurasa begitu yang jelas senyumanku manis (aihh). Lalu dia menatapku serius “Kamu pernah merindukanku? merindukan saat-saat seperti ini? have you? kamu tahu, jika hari-hariku selalu kau datangi? hanya kamu.” sejenak ia berhenti, sebelum melanjutkan lagi. “Coba kamu lihat langit itu, aku tau bahwa senja ini adalah cara pamit teromantis dari langit kepada bumi. Iya kan? Suatu saat aku ingin melakukannya untukmu, walaupun bukan sekarang.” Aku tertawa bersamanya.

Hari ini begitu deras hujan turun, membasuh sisa-sisa debu yang melekat di kelopak daun bunga-bunga roselia yang dulu kutanam ketika umurku 16 tahun. Aku baru saja ingin menarik selimutku, selimut yang begitu melekat padaku (apalagi hujan seperti ini), kenyamanannya membuatku tak mau berpaling, (aku menyebutnya berpaling).

Telepon genggamku berbunyi, All I Ask dari Adelle menandakan ada panggilan masuk. Unknown, lalu aku mengerutkan keningku, “Hallo?”, suaraku sedikit serak karena aku baru saja bangun dari tidurku. “Pagi princessku, i know kamu pasti baru saja bangun dari tidur pulasmu. Bagaimana, adakah aku dalam mimpimu?” dia tertawa entah apa penyebabnya. “Kamu? Iya tentu saja aku selalu memimpikanmu, semalam aku bermimpi tapi mimpi ini begitu buruk. Bagaimana tidak, kamu meninggal!!” dia sentak tertawa begitu garingnya, lagi-lagi entah penyababnya apa. “Kamu mau mati? Mau ninggalin aku gitu?!” nadaku sedikit kesal. “Aku gak akan ninggalin kamu, yaa kecuali aku mati” dia tertawa lebih garing lagi. “Aku sudah di bandara.” tiba-tiba ia memotong. Aku tentu saja terdiam, air mataku sudah jatuh. “Ohh udah di bandara, hmm”. “Iyaa, kemarin aku lupa bilang. Kamu baik-baik dis ana oke, jaga diri.” aku tak bisa menjawab apa-apa lagi, selain “Hm” karena tenggorokanku begitu sesak dan sakit menahan tangis. “Kamu gak nangis kan? Ahh jangan nangis lah besok juga balik lagi”. Jawabnya kepedean, tapi benar. “Yeee siapa juga yang nangis kan, ah kamu kaya gak tau aku aja.” ledekku menahan tangis. “Hm kamu gak lama kan di sana?” aku mencoba meyakinkan diri bahwa dia tidak meninggalkanku cukup lama. “Setahun dua tahun paling” sekali lagi dia tertawa menjawab pertanyaanku, dan kali ini tertawanya bisa dikatakan benar-benar dan sangat garing. Setahun dua tahun, tapi dia tertawa, ohhh sh*itt. Kamu gak tau air mataku udah seember gini, kamu gak nyadar ada yang kangenin kamu di sini, arrgghhh. teriakku kesal dalam hati.

Aku dan temanku duduk di lobby kampus, aku membaca sebuah novel dari Ayara Weldpolly “When The Love Must be Alone” mataku menyipit membaca novel ini, belum membaca sih, baru melihat judul. Kubuka halaman 13, dengan sub judul “Aku Pergi Untuk Kembali” ohh tiba-tiba pikiranku terbang. Semoga dia pergi untuk kembali. Nalarku. Satu cuplikan dari novel ini yang membuatku yakin, bahwa aku tak harus merubah diri seseorang, dan tentu saja aku berharap suatu saat dia akan kembali lagi. Ke sini, kepadaku. “Aku tahu artinya ketulusan, ketika cinta tak lagi memandang siapa, bagaimana, mengapa, apa dan kapan. Aku pernah mencoba merubahmu menjadi apa yang aku ingin dapatkan, menjadi apa yang kurasa baik untukmu dan untukku, menjadi memori yang takkan pernah kulupakan. Tapi apa yang terjadi, semakin aku mengedepankan ego ku, semakin jauh pula jarak memisahkan kita. Aku sadar aku tak bisa mengedepankan emosiku, aku tak bisa melimpahkan semua keinginanku padamu. Aku adalah aku. Kamu adalah kamu. Tak perlu menjadi apa yang orang lain dapatkan. Karena sekarang aku tau aku tak harus menjadi mereka untuk terus bersama denganmu, dan kamu tidak pula harus menjadi mereka untuk terus bisa bersama denganku, aku akan kembali. Menemui cintaku.” Ayara sepertinya benar-benar mencurahkan isi hatinya dalam tulisan itu, pikirku. Atau mungkin dia sedang membajak otak dan pikiranku, bah entahlah.

Aku mengambil telepon genggamku “Haii, rindukah kamu kepadaku?” dengan gugup kutekan tombol send. Satu menit, dua menit, satu jam. Nothing, nihil. Mungkin dia sibuk, pikirku. Kuambil earphoneku, lagu dari Bruno Mars menemani siangku, hingga akhirnya mataku menemui posisi ternyaman dan aku ~ tidur. Lalu tiba-tiba handphoneku berbunyi. New message.
“hei, maaf aku belum bales sms kamu. Kamu apa kabar? Aku selalu merindukan kamu. Have you?”
“aku baik, aku juga rindu sama kamu, selalu. Kapan pulang?”
“hmm, iyaa pokoknya kamu sabar aja ya haha.”
“hm, ya udah aku sabar.”
“aku kengen kamu, aku kangen kamuu.”
“kalo kangen ngapain gak balik?!! Aku tau kamu boong dah.”
“idih, gak percayaan gitu.”
“kamu pernah berpikir bakalan ninggalin aku gak? aku serius niih.”
“kamu gaperlu nanya itu, ketika kamu percaya sama aku, aku pun percaya sama kamu okee. Ketika kamu yakin aku gabakal ninggalin kamu, maka aku yakin aku ga bakal ninggalin kamu. So jaga diri di sana”
“makasih banyak ya. Boleh nyayiin sesuatu gak buat aku?”
“i will always love you kekasihku. Selamanya takkan pernah terganti ~”
(mewek).

Cerpen Karangan: Novia Syahri
Blog / Facebook: noviasyahri.wordpress.com / Novia Syahri
Saya Novia Syahri, mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Negeri Padang 🙂

Cerpen El De Er merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Tulus Shelly Untuk Rashky

Oleh:
Ketulusan cinta kadang membuat hati yang mudah terluka menjadi sekeras baja. Meski disakiti berulang kali, namun cinta itu selalu tumbuh berkembang menjadi kasih sayang. Pengorbanan demi pengorbanan dilakukan untuk

Move On? Gak bisa

Oleh:
“Neisya ” Deg, hati gue serasa ada yang mukul setelah baca PM nya Arya. “heh, kenapa lo? Galau?” Seru Bella yang tiba tiba nyamperin gue. “Apaan sih, engga lah.

Perantara

Oleh:
27 Desember 2016 “Ga mau ah. Kenapa sih kita harus pindah-pindah rumaaaaah terus?” Hahhhhh, aku menghembuskan nafas keras. Memang sudah menjadi kewajiban ayahku memenuhi tugas dari atasannya, jadi ini

Dia Dan Mimpi

Oleh:
“Hei kamu ngelanjut SMA mana? Kuliah?” Tiba-tiba kamu menanyakan itu padaku. Dengan semangat aku langsung menjawab dengan menyebutkan SMA dan Universitas terbaik dunia. “jangan kebanyakan mimpi, itu yang kamu

Kenangan Hidup

Oleh:
Tangan yang biasa menggenggam erat tanganku serasa masih hinggap dan siap untuk memelukku , kata kata lembutmu masih terdengar oleh telingaku , bahkan wajah amarahmu katakata itu yang membuat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *