Eliana Masihkah Engkau Menunggu Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 20 December 2015

Ada sunyi di dalam dada gadis itu, mengingat, mengenang masa silam yang mungkin kelam berakhir tanpa harapan. Ia bicara pada malam yang selalu diam tanpa ada jawaban saat ia bertanya. Mungkin di balik jendela jiwanya terselip kisah yang belum sempat terucapkan, lalu ia meminta pada malam agar ia dapat bicara dan mengabari dia yang dulu meninggalkannya bahwa lelaki itu masih mencintainya.

Ruang-ruang rindu mendengar kisahku pada beberapa deretan kursi usang di malam yang telah tua itu tentang impian yang telah ditelan kelam bersama Eliana. Dari kesunyian mereka yang tak bermulut bertanya, “mengapa ada kebisuan dan kesunyian pada mereka yang berakal?” tapi sayang tanya itu tak terdengar sebab mereka adalah ‘sunyi’ yang kadang dipandang tak berarti di saat-saat tertentu. Mereka adalah penghuni kelas rendah bagi kita yang kadang lupa diri pada pesan perutusan kita.

Eliana, percayalah cinta itu telah mati! Penyihir dari timur telah meremukkan ingatannya yang menyebabkan ia menjadi amnesia total. Ia lupa akan dirimu. Ia lupa akan pertemuan bahkan semua kenangan indah yang pernah terjadi. Ia dijemput sesaat perpisahanmu dengannya di malam itu. Segerombolan burung hantu menghampirinya dalam jelmaan malaikat dan membawanya terbang ke negeri paling jauh dari harapanmu. Ku rasa engkau masih ingat lorong sempit dan gelap yang ia lalui di malam itu dan ia menghilang dari tatapanmu di balik tembok yang tinggi dan usang penuh coretan itu.

Eliana, engkau tak pernah menyangka lelaki itu misteri. Ia buta menghitung sebesar apa pengorbananmu kepadanya. Ia bisa dengan mudah melupakan semuanya bahkan tentang dirimu dan tentang cintamu dalam sekali selingkuhan. Ia lembut tapi terkadang ganas dan rentan amnesia. Percayalah, cintanya telah mati dan tak akan pernah bertunas kembali. Tak usah mencari dan menanti dirinya sebab jangankan bayangannya jejaknya pun sulit kau temui kembali di lorong itu.

“Masih rindukah engkau pada setangkai mawar yang jatuh di pinggir jalan, engkau ambil namun kemudian kau berikan pada yang lain? Pernahkah engkau bayangkan bagaimana nasib mawar itu di kemudian hari? Kini bayangan keindahan mawar itu akan selalu menghantuimu. Haruskah engkau lupa? Ataukah engkau akan segera mencarinya?” tanyaku pada lelaki itu.

Sore itu wajahku penuh titik-titik lumpur. Di atas kepalaku bagai mahkota terberi, hitam pekat dan tak henti bergerak. Mahkota itu terbuat dari segerombolan binatang-binatang kecil yang suka dengan keadaan rambut atau kepala yang lembab. Mereka tak henti-hentinya menari dan bernyanyi suka ria menggoda hingga aku harus membasuh tubuhku sesegera mungkin. Burung bangau putih yang seharian mencari katak di sawah dan di kubangan kerbau kini kembali terbang dari timur menuju barat mencari sangkar dan tangkai tempat kaki mereka mencengkeram dan beristirahat sambil menanti pagi menyingsing.

Binatang-binatang melata, jangkrik, cecak, tokek, burung-burung kecil, dan juga ayam di rumah dan ayam tetangga mulai berpadu dalam suara. Seperti biasa, pada senja hari setelah lelah dan letih bekerja seharian di sawah, Ibuku yang telah tua selalu menyuguhkanku segelas kopi hangat yang diraciki sedemikian rupa, ubi atau pisang bakar dan tidak menutup kemungkinan Ibu juga menyuguhkan yang telah direbus. Ada kalanya ia menyuguhkan jagung goreng tanpa minyak mengingat ekonomi pas-pasan. Kami hidup berdua sebab Ayah telah lama meninggalkan Ibu sebulan sebelum aku dilahirkan ke dunia ini.

Penerang di rumahku adalah pelita. Aku dan Ibuku hidup jauh dari pusat kota, jauh dari keramaian, rumahku sunyi dan jauh dari pengaruh arus perkembangan zaman. Rumahku beratapkan ijuk dan berlantaikan tanah. Namun sunyi, keheningan dan kesederhanaan itu adalah kegembiraan tanpa akhir. Kampungku sangat minim air bersih berbeda jika dibandingkan dengan kehidupan di pusat ibukota yang pipanya selalu diganti dan terbuang-buang untuk menyalurkan air bersih. Tidak heran di kampungku banyak yang menderita batu ginjal, gatal-gatal dan juga penyakit lainnya. Bahkan bukan hanya kampungku juga desaku seluruhnya mengalami hal yang sama. Bisa dibayangkan SDM pemerintah Desa kami bahkan perilaku Ayah kita di kursi agung di pusat ibukota sana.

Ibuku menunjuk ke arah teras belakang rumah dan di sana ada seorang muda sedang duduk menatap matahari yang sedang jatuh ke lubang paling dalam di semesta ini menurut cerita kuno di kampungku. Ia menikmatinya bahkan mengabadikan ruang demi ruang yang terlewati oleh bola emas itu. Aku mendekatinya perlahan sembari menyapanya. Ia terkejut dan bangkit memelukku tanpa mengucap sepatah kata pun dan yang ada hanyalah linangan air mata. Sulit menciptakan persahabatan dan melupakannya daripada menciptakan permusuhan.

Ia adalah sahabat lamaku semenjak SD sampai SMA. Di kampungku dahulu tidak ada TK. Kami memulai studi dari tingkat SD. Dalam pertemuan yang tak pernah dipikirkan sebelumnya itu, kami bercerita tentang pengalaman getir dan gembiranya hidup yang kami jalani. Aku menceritakan pengalamanku tentang mengapa aku tidak melanjutkan pendidikanku. Bukan hanya karena Ibuku berjuang seorang diri di rumah tetapi juga biaya pendidikan yang semakin mahal.

“Aku mencintai seorang wanita!” Katanya seakan sedang berbisik penuh haru. “Kota itu abadi dalam ingatanku kawan, meski kelam menghapus jejak pertemuan itu. Riuh, penuh dengan ‘pengemis’ seakan menunjukkan negeri kita ini sangat miskin. Penodong di mana-mana, kumuh, banjir, penyakit, kelaparan, peperangan, demonstrasi perebutan kekuasaan, manipulasi, penambangan, illegaloging, kebakaran hutan, pembunuhan terhadap pejuang kemanusiaan, perdagangan manusia, pembunuhan terhadap aktivis, privatisasi ruang publik, masalah keagamaan, tragedi penerbangan, bercokolnya para mafia, kemunafikkan para pemimpin terjadi di berbagai bidang.”

“Aku menyusuri kota itu dalam derasnya air hujan yang menghantam beribu-ribu kali tubuhku bagai peluru yang tak menancap di dalam dagingku sebelum gadis seusiaku itu memanggilku untuk berada bersama di bawah payungnya melewati garis-garis jalan dan batas-batas kota itu. Ia memberikan jaketnya untukku karena ia melihat aku sangat kedinginan. Sebelumnya aku menolak untuk menerimanya namun karena hawa dingin yang tak tertahankan itu aku pun menerimanya. Ia mengarahkanku pada sebuah rumah untuk berhenti sejenak melepas bajuku yang basah dan menggunakan jaketnya. Aku pun melakukan semuanya sesuai dengan permintaannya dan juga mungkin perintahnya.” Kali ini anak sungai di pipinya mulai mengalir dari sumber yang suci ke luar dari kedalaman kelenjar air matanya. Pertemuan itu adalah awal segala deritanya.

“Kawan, itulah awal perjumpaan yang indah dalam hidupku!” Isak tangis mulai terdengar dari sudut yang kian menghitam itu. Sementara aku yang mendengarkan dia, juga tak kuasa menahan air mataku.

“Dirinya adalah jejak yang tak pernah terlupakan dalam hidupku. Ia menghiasi bingkai lukisan hidupku dengan racikan warna yang paling indah dan tak akan pernah bisa terhapus oleh waktu. Aku selalu merindukan jemarinya menggenggam jemariku dalam derasnya air hujan seperti saat itu. Dan dalam gelapnya malam seperti perpisahan saat itu. Aku tak pernah memejamkan mataku meski telah mati sebelum jemarinya menutup perlahan mataku dan sebaliknya aku mendambakan kehidupan seribu tahun lagi jika pertemuan itu kelak terjadi!” Suasana antara aku dan dia di saat yang semakin gelap itu di bawah cahaya remang-remang pelita semakin mengharukan. Titik-titik lembut jatuh berhamburan tak beraturan di atas meja tua peninggalan Ayahku yang telah tua dan usang itu.

Pertemuan itu manis namun terkadang menyakitkan jika harus berpisah. Perpisahan itu juga manis jika memang oleh karena pertemuan itu kita disakiti. Lalu mengapa engkau tinggalkan dia? “Aku pernah membayangkan sucinya jalan yang aku lalui. Aku menghendaki kehidupan yang saleh tanpa ada kemunafikan, keangkuhan, kikir, iri hati, dendam, amarah, percekcokan, tanpa ada kesombongan tak berkeluarga dalam arti suami istri, dan lain-lain namun kenyataan yang aku terima dan hadapi jauh dari apa yang pernah ku bayangkan.”
“Aku ingin bahagia oleh karena iman yang menyelamatkaku. Namun keadaan yang menjengkelkan membuat aku tak bertahan melewati jalan ini. Kawan, aku mencintai dia yang pernah ku tinggalkan dahulu beberapa tahun yang silam. Aku ingin mencari jejaknya namun aku malu, aku tak berani, dan aku tak kuasa melihat luka yang pernah ku gores di hatinya!”

Lalu, engkau kembali hanya untuk menyatakan sekali lagi bahwa engkau kini sungguh-sungguh ingin meninggalkannya?
“Tidak, aku sungguh mencintainya, tapi cintaku terhalang oleh ketakberdayaanku. Jika dalam beberapa waktu mendatang aku tak bisa mengunjungi rumahnya itu berarti aku telah memutuskan untuk meninggalkannya. Aku akan meninggalkan Eliana!”
“Eliana?”
“Ya, Eliana!”

“Bukankah engkau pernah menolaknya saat ia menyatakan cintanya dahulu dan menganggapnya sebagai teman biasa?”
“Aku pernah menolaknya tapi kemudian kami menjalankannya secara sembunyi namun kemudian renggang dan hilang tanpa kabar oleh karena jarak dan waktu. Aku sungguh menyesali hal itu terjadi!”
“Apakah engkau masih ingat alamat rumahnya di kota itu?”
Ia lalu memberikan alamat rumahnya. Dan ia selalu berharap gadis itu tetap menunggunya seperti yang pernah ia janjikan dahulu bahwa akan selalu menunggu dirinya sebelum ada kabar ruang hatinya tertutup oleh jalan yang dipilihnya.

“Eliana, apakah engkau masih mencintainya?” tanyaku di sela keseriusan perbincangan kami di malam itu.
“Ya, aku mencintainya dan selalu menunggu kabar tentang dirinya!”

Di balkon rumah orangtuanya yang mewah itu aku dan Eliana berkisah tentang Richo yang dulu meninggalkannya. Malam itu sangat dingin, berhembus angin perlahan membawa Eliana larut dalam indahnya kenangan pertemuan di masa silam itu. Ia terhanyut dalam cerita yang ku bawakan untuknya, kisah pertemuanku dengan Richo lelaki yang pernah meninggalkannya dahulu sekaligus kabar tentang Richo yang kini masih mencintainya. Aku merekam semua cerita tentang Richo dari pertemuanku yang pernah terjadi sebelumnya sampai pada malam di mana aku mengisahkan semuanya pada Eliana untuk meyakininya bahwa Richo masih mencintainya.

Pandangan kami jauh ke pusat kota menyaksikan kabut asap yang membumbung tinggi serta bisingan yang tanpa henti.
“Apakah engkau mengharapkan ia kembali pada pelukanmu?”
“Ya, selalu dan selalu!”

Malam itu aku dan Eliana menghabiskan waktu untuk bercerita. Bercerita tentang pertemuan mereka sekaligus perpisahan yang mengharukan hati. Richo beberapa tahun terakhir setelah perpisahan itu hidup dalam sebuah biara. Bagi orang Katolik jalan itu adalah jalan sempit yang tidak semua orang ingin melewatinya. Ia kembali beberapa hari yang lalu menghabiskan waktu liburan di kampung dan juga selalu mengunjungiku untuk sekedar berbagi cerita tentang hidupnya.

Di malam pertemuanku dengan Eliana, pertama-tama aku mencoba merusakkan pikirannya, memasukkan virus yang mencoba mengaburkan seluruh file impiannya. Aku menjebaknya dengan menyuguhkan cerita-cerita palsu bahwa cinta lelaki itu telah mati bahkan ia telah terkubur dalam bangunan tua nan suci itu. Jebakan itu hanya sebuah strategi untuk memastikan apakah cintanya masih utuh ataukah telah rentan oleh banyak godaan. Setelah aku tahu bahwa cintanya masih utuh barulah aku mengisahkan kembali tentang apa yang Richo ceritakan padaku pada senja hari itu. Eliana menangis tersedu-sedu sambil bersandar di bahuku. Lalu aku menyiasati tempat pertemuan mereka berdua.

Di Tepian kisah tentang mereka ku rangkaikan sebuah lirik indah tentang masa silam yang tak pernah terlupakan dalam hidup mereka. Kataku padanya, “Eliana, sungguh janjimu bagai hikayat yang tertulis di daratan berdebu di persimpangan kota ini, indah, penuh sejarah, menggelitik, penuh haru, perjuangan, pengorbanan, penantian, air mata, pilu, resah, derita, inspiratif namun sakit untuk dikenang. Dengan ayunan lembut kau membelai, membiarkan jemarimu menari erotis bersama pena harian yang mengumpul sejuta kisah perih di hatimu secara jujur, tak berbelit yang kau sebut fakta tentang tragisnya kisah di negeri ini di negeri yang pernah engkau harapkan semenjak dahulu.”

Kini mawar itu telah kembali pada Richo yang dulunya pernah ia tinggalkan bahkan merelakannya untuk dimiliki oleh kumbang-kumbang taman di masa itu. Mereka hidup bahagia dan dikaruniai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan pintar seperti Ayah dan Ibunya. Namun di tengah kebahagiaan mereka, keduanya tidak pernah lupa mengunjungiku dan Ibuku yang telah tua itu. Ia adalah sahabatku dan Eliana adalah malaikat yang membawanya kembali.

Sahabatku itulah yang memperkenalkanku pada Eliana malaikat berpayung di bawah kaki hujan yang kini telah menjadi kekasihnya sampai maut memisahkan mereka. Richo engkau adalah deretan dari para buangan yang kembali mendapatkan mawar yang dahulu pernah kau tinggalkan. Kisah kelam di negeri percintaan mereka tetap terkubur dengan nisan emas yang membalut luka sejarah dan menghapus “jejak kelam” mereka dari rangkaian tulisan tentang fakta bahwa mereka pernah ada dan melewatinya di masa itu.

Cerpen Karangan: Rofinus Jatong
Facebook: Roy jatong

Cerpen Eliana Masihkah Engkau Menunggu Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Gadisku

Oleh:
Sebuah cerita baru mulai ku lewati dengan penuh semangat ketika dia datang dalam kehidupanku, dia gadisku,gadis yang memberi hari-hariku penuh warna dan cerita menarik yang ia rangkai untuk kisah

Chip Robot (Part 3)

Oleh:
Aku terbaring di atas sebuah kasur lantai yang sedikit koyak. Perlahan aku buka mataku. Lalu bangun dengan perlahan sambil menahan sakit di tanganku ah.. Ah.. Aw.. Dan terlihat seorang

Kembali dan Hilang

Oleh:
Hampir seminggu sudah aku berada di pedesaan yang asri ini. Desa yang sudah sepuluh tahun kutinggalkan demi mengejar impian di kota seberang itu, rupanya sudah berubah banyak termasuk sungai

Tersangka

Oleh:
Senyumnya telah memudar, tergantikan oleh lengkungan bibir ke bawah dengan muka pucat. Nafasnya terengah-engah tak teratur. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Rambutnya yang tadinya mengembang kini menjadi tipis akibat jatuhnya

Aku, Rin

Oleh:
“Aku kan sudah bilang padamu. Jangan dekati area itu! Kenapa kau tidak menurut? Ha?!” Protektif. Lelaki bawel. Hah! Dan juga, aku masih anak SMA. Tidak bisakah aku menikmati masa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *