Elizabeth

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 4 September 2015

Wajah manis itu masih terbayang meski sudah ku coba menepisnya berulang kali. Gadis cantik dan baik hati yang ku temui tadi sore di parkiran kampus memang benar-benar membuatkuku gila. Aku sampai tak bisa tidur memikirkannya. Ku coba mengulang-ulang kejadian tadi sore dalam ingatanku. “Elizabeth”
Ku sebutkan namanya sambil tersenyum-senyum sendiri, dan agak sedikit menjulurkan tanganku mengikuti gayanya berkenalan denganku.
“Ya, Tuhan. Kenapa aku terus memikirkan dia? Apa aku jatuh cinta padanya?”
“Besok aku akan mencarinya.” Tekadku dalam hati.
Malam ini aku harus berusaha untuk tidur dulu. Besok baru ku mulai aksiku.

Krring!!!
Suara alarmku berbunyi bagai petir yang menggelegar di dalam kamar. Mungkin dia merasa senang karena selama dua tahun aku membelinya, baru kali ini dia bordering pukul enam pagi. Aku bangkit dengan malasnya. Aku memang masih mengantuk karena tadi malam kira-kira pukul setengah tiga baru bisa tidur.
“Huuaaah” Suara uapanku memaksa ke luar dari mulutku. Dengan langkah miring-lunglai dan mata setengah tertutup, kuraih handukku yang hanya kugantungkan di belakang pintu dan menuju kamar mandi.

“Tumben, cepat bangunnya. Ada kuliah pagi?” Tanya Mamaku yang sedang menyiapkan sarapan.
“Tidak ada, Ma. Huauaaah! Hanya akan ada hal besar yang akan terjadi” Jawabku asal, sambil mengeluarkan uapanku.
“Hal besar apa? Kamu mau mengubah dunia? Dunia saja tidak tahu kamu hidup di dalamnya, malah kamu mau mengubahnya.”
“Maksud Mama?” tanyaku, karena tidak mengerti dengan ucapan Mama.
“Yah, kalau mau mengubah dunia jangan malas-malasan seperti ini. Baru satu kali bangun pagi, sudah mau mengubah dunia.”
Aku makin bingung dengan ucapan Mama.
“Sudahlah Ma, Yudhis mau mandi dulu. Semuanya sudah menanti.”

Kulanjutkan mandiku sambil memikirkan rencana apa yang harus ku lancarkan untuk memburu Elizabeth.
“Yes!!! Hahaha Huhuy. Aku tahu apa yang harus ku lakukan.” Teriakku dalam kamar mandi.
“Dhis, kamu sudah gila ya?” Teriak Mama dari dapur.
“Mau mengubah dunia, tapi malah tambah gila.”
“Maaf, Ma.” Aku tersenyum sendiri dalam kamar mandi, karena malu kepada Mama.

Kupercepat mandiku, dan setelah berpakaian, aku langsung bergegas ke kampus.
“Ma, Yudhis berangkat dulu ya”
“Sarapan dulu, Dhis!”
“Aduh, Ma Semuanya akan terlambat, jika aku menghabiskan waktuku hanya untuk sarapan.”
“Memangnya kamu mau berbuat apa? Kalau kamu tidak mau sarapan, bawa ini untuk bekal kamu. Nanti kamu kelaparan di kampus.”
“Okelah kalau begitu, Mamaku tersayang”

Kuambil rantang di tangan Mamaku dan langsung bergegas ke kampus.
“Anak itu memang sudah gila. Tidak mau sarapan dan tidak mau juga diberi uang jajan, dia mau makan apa nanti? Makan pagi, tidak. Makan siang juga, tidak. Apa dia tidak kelaparan? Aneh!!!” Kata Mama, sepeninggalku.
“Kenapa, Ma? Kok, Mama bicara sendiri?” Tanya Papaku yang baru ke luar dari kamar.
“Eh, Pa. Papa sudah bangun? Bagaimana keadaan Papa?”
“Yah, Alhamdulillah, sudah agak baikan.”
“Itu, Pa. Si Yudhis. Disuruh sarapan, tidak mau. Katanya mau cepat-cepat ke kampus, ada hal besar yang akan terjadi. Dasar anak aneh.”
“Mama jangan bicara begitu, biar bagaimanapun dia kan anak kita. Mama juga dulu aneh waktu zaman kita kuliah, mungkin Yudhis mewarisi sifat anehnya dari Mama. Hehehe” kata Papa, menggoda Mama.

Sepanjang perjalanan ke kampus, aku senyum-senyum sendiri sambil memikirkan strategiku hari ini agar bertemu wanita pujaanku. Aku akan menungguinya di parkiran, aku akan menunggunya di tempat kemarin saat pertama kali aku bertemu dengannya. Lagi pula, aku ingat betul skutermatic-nya, Yamaha Mio berwarna Biru dengan nomor polisi DM 2612 BA. Aku yakin pasti hari ini dia masuk pagi. Karena menurut perkiraanku, dia adalah mahasiswa baru. Ya, paling tidak baru semester III, itu kelihatan dari caranya berbicara padaku kemarin. Dia agak sungkan dan memanggilku Kak pada saat meminta tolong untuk mengeluarkan motornya dari kerumunan motor-motor lain.

Akhirnya aku sampai juga. Ku parkir motorku tepat di tempat kemarin aku berkenalan dengan Elizabeth. Kampus pagi ini agak sepi. Mungkin aku datang terlalu pagi. Ah, biarlah, demi seorang gadis cantik bernama Elizabeth, aku rela merubah hidupku hingga seratus delapan puluh derajat.
Sepertinya keadaanpun berpihak kepadaku. Tiba-tiba datanglah seorang gadis dengan skutermatic berwarna biru bernomor persis seperti nomor motor Elizabeth. Gadis itu pun parkir di sampingku.

“Ehem” Aku menyapanya dengan pura-pura terbatuk.
Gadis itu diam saja. “Kenapa dia diam saja? Apa dia lupa padaku?” Pikirku dalam hati.
Setelah dia membuka helm, baru kuketahui ternyata dia bukanlah bidadari yang ku tunggu.

“Kamu siapa?” Tanyaku penasaran.
“Kamu yang siapa?” Gadis itu balik bertanya.
“Motor ini punya Elizabeth kan?”
“Iya, memangnya kenapa?”
“Mana Elizabeth?”
“Oh, aku tahu. Kamu tadi pasti mengira aku adalah Elizabeth. Perkenalkan, namaku Novi. Aku sepupunya Elizabeth.” Kata gadis itu sambil menjulurkan tangannya.
“Aku Yudhistira, panggil saja Yudhis Mana Elizabeth?”

Aku berulang kali menanyakan bidadari yang sudah sehari-semalam mengganggu ingatanku.
“Memangnya kamu apanya Eliz, kenapa kamu menanyakan dia terus-menerus dari tadi?”
“Tidak, aku cuma, cuma temannya Kemarin aku lihat dia yang mengendarai motor ini, tapi kenapa hari ini jadi kamu? Aku hanya khawatir terhadap dia”
“Khawatir?” Gadis itu bertanya dengan sangat memperlihatkan rasa bingung pada raut wajahnya.
“I-i… iya Aku khawatir” Aku menjawab agak gugup.
“Kenapa kamu khawatir terhadap Eliz?”
“Yah, aku khawatir saja.” Aku terkaku, tak sanggup meneruskan perkataanku.
“Tunggu dulu, agama kamu apa?”
“Agama? Kenapa kamu tanya agamaku?” Aku bertanya dengan penuh rasa heran.
“Tidak Tidak Lupakan saja. Eliz sedang sakit, makanya sepeda motornya aku pakai ke kampus. Kebetulan rumah kami berdekatan. Jadi daripada aku ke kampus naik angkutan umum, lebih baik aku pinjam motornya, kan tidak ada yang memakainya.”
“Oh” Aku hanya mengangguk.

Pikiranku melayang tanpa tahu apa yang kupikirkan. Hari ini aku merasa hampa tanpa seorang Elizabeth. Dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Tak ada kata yang terucap dari mulutku saat sampai di rumah. Bahkan salam pun tak ku ucapkan saat memasuki rumahku. Ku baringkan tubuhku di ranjang dengan perasaan berkecamuk. Ada rasa kehilangan yang sangat memilukan, ada kerinduan yang jika ku renungkan terasa indah namun hampa. Aku tidak tahu kapan Eliz menitipkan rasa ini padaku. Tapi semua yang ku rasakan ini tertuju padanya dan menunggu kapan rasa ini akan tersampaikan lagi kepadanya. Aku tidak mau menyerah.

Keesokan harinya, ku ulangi apa yang kulakukan kemarin. Ku tunggui gadis itu di parkiran.
“Syalom” Seseorang menyapaku dari belakang. Dan ku tahu itu suara perempuan.
“Salam” Ku balas sapaan itu meski aku tak tahu maksudnya.
“Kemarin Kakak mencari aku? Ada apa, Kak?”
“Eh, Eliz. Tidak, aku cuma ingin ketemu kamu saja. Novi bilang kamu sakit.”
“Oh. Cuma demam biasa. Ini sudah sembuh, Kak.”

Aku merasa bahagia bisa bertemu Eliz hari ini. Seandainya dia tahu, ada sebuah harapan besar yang ingin ku titipkan kepadanya. Ada rasa yang ingin ku kembalikan padanya. Apakah dia mau menerimanya?
“Kak, Kak Yudhis!”
“Eh, iya, iya.” Aku terbangun dari lamunanku.
“Kak, aku boleh minta tolong. Tolong temani aku ke Perpustakaan, Kak. Aku mau cari buku buat referensi tugas.”
“Iya, iya. Boleh.”

Kami berjalan menuju perpustakaan yang jaraknya kira-kira 50 m dari tempat kami. Aku sangat bahagia karena bisa bersama Eliz hari ini.
“Liz, aku mau bicara sesuatu sama kamu.”
“Bicara apa, Kak?”
“Liz, aku tahu baru kemarin kita kenalan. Kita belum banyak mengenal satu sama lain. Tapi, aku tidak bisa membohongi perasaan aku. Dari awal aku ketemu kamu, ada rasa yang berbeda yang aku rasakan. Setelah tidak ketemu kamu, aku merasa kehilangan dan rindu. Aku sayang sama kamu, Liz. Aku ingin jadi orang berharga di hati kamu.”

“Maaf, Kak. Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Kita beda, Kak.”
“Beda? Maksud kamu?”
“Iya, Kak. Kita beda. Tidak mudah untuk kita dan keluarga kita untuk terima ini, Kak.”
“Oh, karena kita beda agama? Itu yang bikin Eliz tidak bisa? Liz, aku cinta sama kamu. Dan bagi aku, cinta itu tidak memandang dari segi apapun, aku tulus sama kamu”
“Kak, ini bukan hanya masalah cinta, tapi kenyataan yang akan kita hadapi ke depan”
“Kenapa semua orang selalu mempermasalahkan hal-hal seperti ini? Kenapa perbedaan selalu jadi penghalang?”
“Kak, Eliz minta maaf, kalau mungkin apa yang Eliz katakan sudah buat Kak Yudhis kecewa, Eliz tidak mau semuanya akan menjadi rumit. Dan untuk sekarang, Eliz mau berpikir dulu. Eliz, belum bisa kasih kepastian. Eliz butuh waktu”
“Baiklah, kalau itu yang Eliz mau, aku mengerti”

Sudah seminggu aku tidak pernah bertemu dengan Elizabeth. Aku sangat rindu padanya. Aku tahu dia masih bingung dengan semua ini. Aku pun seperti itu. Tapi perasaan ini tidak mau memberi celah untuk mengelak.

“Kak, Eliz tahu ini berat. Tapi, Eliz harus katakan semuanya. Eliz sangat sayang sama Kak Yudhis. Tapi Eliz juga sayang sama keluarga Eliz. Eliz tahu perbedaan tidak seharusnya membuat kita seperti ini. Tapi kita juga harus menyadari bahwa kita tidak bisa memaksa untuk keadaan yang seperti ini. Sekali lagi Eliz minta maaf. Eliz belum siap untuk semua ini”

Itulah pesan singkat Eliz yang dikirimkannya kepadaku melalui SMS. Aku tahu ini memang berat. Dan aku juga harus mengerti, kita harus menyadari bahwa terkadang keadaan tidak berpihak dengan harapan-harapan kita. Aku hanya memaksa diriku berpikir untuk menerima keadaan ini. Dan mungkin inilah jalan yang terbaik untuk aku, Elizabeth, keluargaku, dan keluarganya. Aku yakin Tuhan punya rencana yang lebih baik dari semua ini.

Cerpen Karangan: Gunawan Diasa
Blog: diasagun.wordpress.com

Cerpen Elizabeth merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saat Cinta Tiba

Oleh:
Sinar matahari telah menembus cela-cela ventilasi kamar, tapi adi masih tertidur lelap. Terdengar dering jam weker yang telah disetting jam 6. Dengan kaget adi pun terbangun dari mimpi indahnya.

Bukan Sebelah Mata (Part 1)

Oleh:
Dedaunan kering berjatuhan tertiup semilir angin di tepi danau, orang-orang sedang asyik memancing, ditambah birunya langit yang membentang. Aryn, perempuan yang tengah duduk di bangku di bawah pohon dekat

Too Late

Oleh:
Ia masih diam tanpa banyak bicara. Aku juga masih dengan bisuku sendiri. Ini kesekian kalinya kami bertemu namun pertama kalinya sejak satu minggu yang lalu. Sejak ia salama hampir

Timeless Love

Oleh:
Siang itu, aku duduk termenung sambil menikmati cuaca yang agak mendung dan daun-daun kering yang berjatuhan karena ditiup angin yang lembut di bangku panjang tempat biasa aku menunggu angkutan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Elizabeth”

  1. Ray says:

    menyedihkan sekali, kisah ini mirip dengan kejadianku 3 bulan yg lalu. Dia pria yang keren jago main voli tapi pendiam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *