Embun di Hati Arya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 28 March 2013

Siapa yang tidak mengenal “Arya” cowok ganteng, pintar, tajir, baik plus tenar pula. Perfect! Nggak ada satu cewekpun yang tidak tertarik bila melihatnya, terlebih jika mengenalnya, dijamin bakalan klepek-klepek dech..! Ya, termasuk juga aku “Sahabatnya” yang selalu mengaguminya.
Kami bersahabat sejak SMP dan sampai kami duduk dibangku SMA pun kami masih sering bersama. Satu hal yang selalu aku suka darinya, yaitu kebiasaannya yang selalu memberikan senyum indahnya kapanpun itu. Senyum yang selalu membuat hatiku bergetar dan menjadi kekuatan baru bagi hidupku.

“Astaga bun, ini kamu? ini beneran kamu kan? kamu terlihat cantik sekali mengenakan kerudung itu, sangat cantik malah! Ada angin apa? kog tiba-tiba kamu mendadak jadi alim gini?” Komentar pertama Arya ketika melihatku memakai kerudung saat menjemputku untuk berangkat sekolah bareng tiga bulan yang lalu.
Itu terakhir kalinya Arya menjemput aku untuk berangkat sekolah bareng. Itu semua bukan karena Arya nggak mau menjemputku lagi. Tapi karna aku yang memintanya. Dan semenjak itulah kami jarang menghabiskan waktu berdua, dan akupun mulai jarang masuk sekolah.

“Pagi bun, kenapa kamu baru masuk sekolah? Kemana aja seminggu ini?” Sambut Arya yang berdiri tepat diambang pintu kelasku, sambil tersenyum manis.
“Nggak kemana-mana kog!” Jawab embun seadanya dengan wajah yang tampak pucat.
“Tapi kenapa kamu pucat bun? Apa kamu sakit?” Tanya Arya dengan nada kawatir sambil menyentuh kening Embun.
Tidak ada jawaban yang dapat dilontarkan Embun. Embun hanya termenung menuju tempat duduknya sambil membatin.” Andai kamu tau yang sebenarnya terjadi Arya, pasti kamu akan lebih kawatir dari ini, karna itulah aku tidak memberi tahu kamu, karna aku nggak mau lihat kamu bersedih. Aku nggak mau lihat senyuman kamu hilang, karna dengan senyuman kamu membuat aku bersemangat untuk menjalani hidup. Bahkan sampai seribu tahun lagi.”

Cerpen Embun di Hati Arya

Setelah pertemuan Embun dan Arya pagi itu, lagi-lagi Embun tidak masuk sekolah. Tanpa ada kabar yang jelas, seperti ditelan bumi. Tidak biasanya Embun nggak ada kabar seperti itu. Hal itu membuat Arya kebingungan dengan semua sikap Embun yang seperti semakin menjaga jarak darinya. Sudah beberapa hari Arya mencoba menelfon Embun, tapi tidak pernah tersambung. Bahkane-mail dan BBM Aryapun tidak pernah dibalas. Sampai akhirnya Arya memutuskan untuk mendatangi rumah Embun, dan hanya mendapatkan informasi dari penjaga rumah embun bahwa keluarga Embun go to Singapore.
Setelah lewat seminggu dari kedatangan Arya kerumah Embun, barulah Embun kembali masuk sekolah. Tapi masih tetap dalam keadaan pucat seperti sebelumnya, bahkan lebih pucat dan agak kurusan. Tanpa banyak pikir Aryapun menghampiri Embun dan bertanya.
“Embun, kamu kemana aja? Kog ke Singapore nggak bilang-bilang aku? Kenapa beberapa bulan ini kamu selalu menjaga jarak dari aku?”
“Aku… ak.. uuu” Tiba-tiba saja Embun terasa sangat pusing dan kepalanya terasa sangat sakit seperti terkena lemparan ribuan batu. Dan akhirnya pingsan dihadapan Arya.

Sore harinya di Rumah sakit tepat pukul 16.24
“Uhhff… aku dimana?” Tanya Embun ketika tersadar dari pingsannya sambil memegang kepalanya dan melihat sekelilingnya.
“Kamu ada dirumah sakit bun, udah jangan banyak bergerak dulu. Kamu istirahat aja” Jawab Arya sambil membantu Embun untuk berbaring kembali dan menyelimuti Embun yang tampak kedinginan.
“Tapi aku capek tiduran terus. Aku pengen jalan-jalan ketaman, ngelihat bunga-bunga yang sedang bermekaran.”
“Tapi diluar hujan Embuunn…”
“Nggak papa, aku udah lama nggak ngelihat hujan, aku takut nggak bisa ngelihat hujan lagi dalam hidupku”
Tidak ada yang bisa dilakukan Arya selain mengikuti permintaan Embun. Karna Arya tau, dia nggak bakalan bisa menolak permintaan Embun.

Sesampainya mereka ditaman, hujan baru saja reda. Dan mereka duduk dikursi kayu panjang berwarna putih yang berada ditengah taman. Embun terlihat begitu senang, tidak pernah Arya melihat senyuman indah Embun seperti ini dalam beberapa bulan terakhir.
“Arya, lihat! Bunganya indah-indahkan tampak begitu segar dengan sisa-sisa tetesan air hujan. Seperti terkena butiran embun pagi. Waaahhh… lihat itu Arya, ada pelangi disore ini.. cantik sekali bukan?” Ucap Embun dengan senyum merona sambil menunjuk kearah pelangi.
“Iya” jawab Arya sambil meneteskan butiran bening dari mata indahnya.
“Loh, kamu kenapa sedih ya? Tanya Embun sambil mengusap air mata Arya agar tidak menetes lagi. Dan Aryapun menggenggam sebelah tangan Embun sambil barkata “Kamu kenapa nggak cerita kalo selama ini kamu terkena Leukimia?
“Karna aku nggak mau lihat kamu sedih. Udah, kamu jangan sedih lagi. O ya.. kamu punya impian nggak ya?” Tanya Embun.
“Kenapa?” Tanya Arya bingung.
“Karna kata orang, kalo kita berdo’a tentang yang kita impikan dibawah indahnya pelangi, impian kita akan terkabul”
“Benarkah? Apa kamu punya impian?” Tanya Arya ingin tau.
“Tentu, aku ingin bila aku pergi nanti, aku berada dalam pelukan orang yang aku sayang”
Mendengar ucapan Embun, hati Arya terasa sesak dan Aryapun menangis sambil memeluk Embun. Tidak ada kata-kata yang sanggup diucapkan Arya detik itu. Selain hanya menangis dan terus menangis.

“Arya, aku capek sekali… Boleh aku berbaring dipangkuanmu?” Tanya Embun dengan wajah yang sangat letih.
“Kenapa tidak?” Jawab Arya yakin sambil membantu Embun berbaring dipangkuannya. Dan mengusap-usap rambut Embun yang halus dan panjang.
“Arya, kamu harus janji sama aku, kalau aku udah nggak ada lagi disamping kamu, kamu nggak boleh sedih ya!”
“Nggak… kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, aku akan selalu ada disamping kamu sampai kapanpun.” jawab Arya sambil terus mengusap rambut Embun hingga Embun tertidur dan terus bercerita “Embun, kamu tau nggak?Semenjak kamu menjauh dari aku dan jarang berada disampingku, aku merasa sangat kehilangan kamu. Aku kesepian! Dan saat itulah aku menyadari kalo aku telah jatuh cinta padamu. Kamu nggak marahkan bun?” Tanya Arya.
Tetapi tidak ada sedikitpun jawaban dari Embun selain terbaring dipelukan Arya dengan wajah tersenyum tanpa beban.Berkali-kali Arya membangunkan Embun, tetapi tidak berhasil.
“Emmmbuuunnn…” Sorak Arya sambil terus menangis dan memeluk Embun.

***

Tiga hari setelah kejadian itu, kakak Embun memberikan secarik kertas berwarna pink yang bermotifkan bunga kepada Arya. Surat itu sengaja ditulis Embun untuk Arya beberapa minggu sebelum kematiannya. Dan Embunpun berpesan pada kakaknya bahwa surat itu harus diberikan kepada Arya setelah ia tiada. Setelah Arya menerima surat itu, Arya segera membacanya.

Dear: Sahabatku tercinta Refan Arya Aditya

Maaf!
Hanya satu kata itu yang bisa aku ucapkan. Disaat kamu baca surat ini, mungkin aku udah nggak ada lagi disamping kamu.
Makasih!
Buat semua perhatian kamu ke aku. Aku bertahan hidup selama ini karna senyummu yang selalu dapat menghilangkan rasa sakit yang aku rasa.
Satu hal yang tak bisa kubantah, ” Aku selslu betah didekatmu, memasung jejakku setia berdiam dalam nafasmu” ..
Aku akan selalu menjadi Embun dalam hidupmu, cintamu, dan relung hatimu bahkan hari-harimu…
Orangyangmenyayangimu.
Embun Pricilya Amanda

Cerpen Karangan: Reny Rahma Yani
Facebook: Rayhaa Cii Jaiil

Nama: Reny Rahma Yani
Lahir: Duri, 4 februari 1995
Agama: Islam
Alamat: Jl.Jend.Sudirman Duri,Riau
Hoby: Nulis cerpen/Novel,Nyanyi
Sekolah: SMAN 1 MANDAU

Cerpen Embun di Hati Arya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Dibalik Jendela Kelasku

Oleh:
Kawan namaku Vania Amaira Putri. Aku sih biasa dipanggil sama teman-teman Vani. Temen-temenku bilang aku tuh orangnya bawel, ribet, suka heboh sendiri, tapi baik kok, katanya sih aku tuh

Fatah Hakiki Cinta

Oleh:
“Lo kenapa, Fel? Kayak nggak konsen begitu dari tadi?,” tanya Bram. “Heh? Enggak kok, gue nggak papa.” “Yakin?” “Yakin.” “Ok, biar gue aja deh yang jelasin kenapa Felly kayak

Kamu Cantik, Tapi….

Oleh:
“Aneh deh sama status teman kamu.” Kata Faiz sambil merengut mendekati kursi Naya. “Teman aku yang mana Iz ? Emang statusnya bagaimana sampai bikin kamu bête ?” Naya balik

Dalam Hening Malam

Oleh:
Di bawah sinar rembulan aku berbaring di rerumputan yang hijau, hembusan angin malam dan heningnya suasana malam itu mengingatkan aku kejadian 1 tahun silam. Di saat aku harus kehilangan

Lelaki Sejati

Oleh:
Namaku Doni (27), aku mempunyai seorang istri bernama vina (25). Aku sudah 5 tahun menikah dengan vina namun belum mempunyai anak. Itu semua karena aku memang belum siap memiliki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Embun di Hati Arya”

  1. emma says:

    ceritanya bgs bgs dan bikin baper

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *