Emil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 5 August 2019

“Los, Carlos!”
Remaja mediterania itu menolehkan kepala, mendapati sobatnya berjalan terburu-buru menghampirinya, “Ada apa, Wil?”
“Bantu aku nembak adik kelas, Los,” jawaban yang amat polos diberikan. Carlos menepuk dahi kencang-kencang, lalu menyesal.
“Tunggu dulu, siapa adik kelas yang kamu maksud, heh?”
Emil menyeringai lebar, “Litany Forster, anak tahun pertama.”

Carlos dan Emil sudah bersahabat cukup lama, kira-kira sejak tahun pertama mereka. Sekarang mereka berada di tahun ketiga, tahun penentuan kelulusan. Dan entah kenapa bisa-bisanya Emil kepikiran rencana pacarin adik kelas di masa-masa sulit begini.
Namun Carlos tahu problema kehidupan MKKB Emil, alhasil ia menyetujui untuk membantu perkara cinta sang kolega.

Diajaknya kedua teman lainnya agar membantu, namanya Meiling dan Fukuro. Pasangan romantis tahun ketiga yang dipuja-puja seantero sekolah berkat backstory klise ala drama korea; si cewek biasa dan cowok tajir plus tampan.
Tidak tanggung-tanggung, berhubung adik Carlos yang bernama Miguel merupakan murid tahun pertama, digunakannya koneksi itu untuk mencari informasi lebih lanjut.
Dan Carlos terperangah melihat survei kaum pria yang telah menaruh rasa pada primadonna angkatan pertama tersebut. 28 PDKT gagal, lalu 23 pernyataan ditolak, 36 tidak dinotis, dan 0 diterima.
Akankah Emil akan masuk ke daftar lalu menggantikan angka 0 itu menjadi 1?

Mengikuti saran Carlos yang nampak pasrah, Emil memutuskan untuk melancarkan PDKT secepat-cepatnya.
Siapa yang tahu, kalau cara Emil sangat tidak masuk akal.

“Litany, aku sayang kamu. Mau nggak jadi pacarku?”
Langsung nembak di tempat. Tembak dulu baru PDKT, katanya.
Yang melakukan pendekatan duluan saja masih ditolak, apalagi ketika ia belum kenal sama sekali?

Pernyataan tanpa basa-basi itu membuat satu angkatan heboh, maksudnya angkatan Litany sendiri. Lihatlah, serasa lagi ada artis dadakan kalau masuk ke kelas 1-A, pertanyaan 5W + 1H melayang bebas di sana-sini.

“Selama ini kamu belum pernah ditembak kakak kelas, lho. Bagaimana tanggapanmu?” Tanya Wartawan 1.
“Iya, apakah kamu akan menerimanya? Kau tahu, koko Williams lumayan terkenal di angkatannya juga,” timpal Wartawan 2 antusias.
Namun narasumber nampaknya tak memusingkan itu. “Aku akan menolaknya, tidak lain.”

Emil meminta Litany menjawabnya dua hari kemudian. Pada hari pertama, Litany berencana untuk menolak sang kakak kelas hari itu. Maka ia pergi ke gedung angkatan kedua dan ketiga (dia tak tahu kalau Emil merupakan angkatan ketiga), setelah itu menanyai mereka di mana lokasi Emil Williams sekarang.

Ia bertemu dengan murid-murid tahun kedua, yang menjawab bahwa orang yang dicarinya adalah anak tahun ketiga. Baru saja Litany akan berlalu pergi ke gedung sebelah, ia berhenti karena sempat mendengar cibiran dilontarkan kepada Emil. Lantas ia bersembunyi di balik dinding dan mendengarkan lebih lanjut.

“Pfft, bisa-bisanya orang rendahan itu menyatakan cinta sama adik kelas, memangnya ia pikir bisa diterima?”
“Palingan ditolak mentah-mentah, siapa juga yang mau? Memang sih, wajahnya lumayan, cuma apa untungnya kalau pacaran sama orang penyakitan macam dia?”
“Si sialan itu bahkan vakum pada tahun keduanya karena mendekam di rumah sakit, miris. Kamu kesal juga padanya karena dia mencuri ketenaranmu, kan?”
“Iya, padahal dia hanya menang Flying Circus sekali, tapi dia dipuji-puji seperti seorang legenda.”
“Tapi kayaknya cewek itu nggak tahu, deh–”

Pertama kali dalam hidupnya, Litany menyesal telah menguping pembicaraan tadi. Cepat-cepat ia kabur dari sana, tidak ingin meneruskan.

Sampailah ia di gedung ketiga. Belum apa-apa, seorang gadis bermata sipit menghampirinya, “Kau pasti Litany, kan? Apa ada perlu?”
“… ya? Aku sedang mencari Emil Williams, apakah masih ada di dalam?”
“Ohh, Will sedang berada di ruang musik, naik saja ke lantai dua dan dengarkan sumber suaranya.”
“Baiklah, terima kasih… err..”
“Wang Meiling!”
Belum selesai berterima kasih, kakak kelas itu sudah kabur duluan sambil melambaikan tangan.

Alunan biola menyambutnya begitu menginjakkan kaki di lantai dua. Sangat indah didengar, refleks kakinya bergerak membawa dirinya menuju asal suara.
Suara lembut nan merdu itu terdengar makin dekat dan dekat. Sampai Litany berdiri membatu di depan pintu ruang musik dengan perasaan bingung.
Alunan yang indah, namun sendu pada saat yang sama.

Meiling mengerjap pelan, pemuda di sampingnya menghela napas, “Rekor itu bisa saja terpecahkan, atau bahkan tidak sama sekali. Yang jadi masalah adalah bagaimana Litany Forster menyikapi ini.”

Mereka berdua bercengkrama, tidak mengindahkan matahari yang mulai terbenam dan angkasa jingga yang sebentar lagi berubah menjadi gelap.

“Tapi, Fukuro, apakah ia setega itu menolaknya seperti yang lain?”
“Justru kalau diterima malah akan membuat masalah yang lebih besar. Ia tega menolak lebih dari dua puluh lelaki namun mengecualikan Emil, itu benar-benar tak adil, Mei.”

Diam sejenak, Fukuro merogoh ponselnya dan memanggil suatu nomor.
“Halo, Carlos?”
“Fukuro! Kebetulan, aku memang ingin menghubungimu tadi–”
“Ada apa?”
“Emil kambuh lagi, aku menemukannya di ruang musik.”

Litany melirik jam dinding, dilihatnya sudah pukul sebelas malam. Tumben kakaknya belum pulang dari kerja, padahal ia bilang tidak ada shift malam.

“Lia, buka pintunya,” suara kakaknya terdengar dari luar, Litany berjalan ke arah pintu dan membukanya, “Selamat datang, Vel. Ada kerjaan mendadak?”
Velinne menghela napas lelah, “Begitulah. Baru saja aku mau pulang, tiba-tiba ada pasien. Suka duka jadi dokter, kau tahu.”
“Oh…”

“Ngomong-ngomong, kenapa menunggu? Biasanya jam segini sudah tidur di kamar.”
Sebagai sesama perempuan, tentu Velinne sadar.

“Vel, kenapa kamu pacaran dengan Ludwig?”
Velinne menyembur tawa, untungnya dia tidak sedang minum. Sedangkan Litany terdiam heran, tidak mengerti mengapa dokter wanita itu tertawa.
“Memangnya aku perlu alasan memacarinya?”
Malah ditanya balik.
Dengan senyum menyeringai sang kakak melaju ke arah kamar mandi, “Sudah, sudah, masuk saja sana, aku mau mandi.”

Keesokan harinya Emil tak kunjung memperlihatkan diri di sekolah.
Litany memutuskan pergi ke gedung ketiga lagi, mencari-cari pemuda tersebut. Namun bukannya bertemu Emil, ia malah bertemu dengan seorang lelaki berkulit tan yang -tentu saja- tidak dikenalnya.

“Permisi, apa senior mengenal senior Williams?”
“Kau Forster, bukan? Maaf, Emil tidak datang hari ini, kau bisa mencarinya lain hari.”
Sepasang mata Litany sempat melihat rasa frustasi tersirat di manik emerald milik si lawan bicara. Takut mengganggu, gadis bersurai hitam itu beranjak dan meninggalkannya sendiri.

Ketika perjalanan pulang, Litany mendapat telepon dari sang kakak di rumah sakit, menyuruhnya mengantarkan pakaian ganti karena ia akan bermalam di sana. Jadi ia mempercepat langkah dan melakukan apa yang disuruh, mengambilkan baju dari rumah dan mengantarkannya.

“Dokter Forster masih melakukan operasi, mohon tunggu sebentar.”
Oke, Litany menepis rasa bosannya atas menunggu dan berjalan-jalan menelusuri koridor, entah kemana. Mengintip dari tiap kaca pintu, melihat puluhan orang terbaring lemah di ranjang dengan alat-alat medis di tubuh mereka.

“… Senior Williams?”

Sampai ia tak sengaja menangkap sosoknya dari luar. Sosoknya yang tengah berkutat dengan lembaran-lembaran teks notasi, Litany berani bertaruh itu adalah Emil.

“Lia!” Membuat buyar konsentrasi, ternyata Velinne menghampirinya duluan. “Lia, maaf lama. Bajunya sudah ka–?”
Telunjuk terarah menuju figur di dalam ruang rawat, “Apakah namanya Emil Williams?” Ia meminta kepastian.
Velinne menengok sebentar, melihat arah yang diindikasikan, kembali menghadap adiknya lagi, kemudian mengangguk. “Ya, dia Emil Williams, pasien yang membuatku terlambat pulang kemarin. Kau mengenalnya?”
“Apa yang terjadi padanya?” Bukannya menjawab malah bertanya lagi.
“Kemarin sore, dia ditemukan pingsan di sekolah oleh temannya, lalu dibawa ke sini. Beruntungnya ia hanya pingsan akibat kelelahan -faktor anemia ringan-. Tetapi saat siuman ternyata kakinya mengalami kelumpuhan temporer, ada kelainan pada saraf motoriknya.”
“…” Litany terdiam di tempat. Velinne tak habis pikir menyaksikannya.

“Lia, kamu suka padanya, ya?”
Pertanyaan ajaib dilontarkan.

Didorongnya pintu tersebut perlahan, hingga sang pemuda menoleh ke arahnya dan mengulas senyuman hangat, “Hai, Litany,” sapaan diberikan. Litany menenggak ludah, mempersiapkan batin untuk mengutarakan jawaban.
“Duduk sini,” ia menepuk-nepuk sebuah kursi kosong di sebelah ranjang, memintanya duduk. Sesuai permintaannya, Litany duduk dan memandang raut mukanya dengan gugup.

“Senior Williams, soal pernyataan dua hari lalu, jawabanku…–”
Emil tidak menatapnya penuh harap, Litany yakin akan hal itu. Seakan-akan sudah tahu bahwa ia akan ditolak.
“–Maaf, aku tidak bisa menerimanya.”
Litany mencoba menatap matanya, tidak ada kekecewaan yang tersirat, tidak ada sama sekali.
“Aku sudah mengira kau akan menjawab begitu,” senyuman belum luntur dari wajah, Emil meletakkan salah satu telapak tangannya di ubun-ubun kepala si gadis dan mengacak pelan rambutnya, “Tidak apa-apa,” lanjutnya.

Di balik kata-kata itu, ada tangisan pilu yang membekas.

Beberapa hari kemudian, Carlos Hernandez terkejut melihat daftar survei yang berubah.

28 PDKT gagal.
23 pernyataan ditolak.
36 tidak dinotis.
0 diterima.
1 berhasil.

Nama Emil Williams tertera di kolom ‘Berhasil’.

Cerpen Karangan: Litanisa

Cerpen Emil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Memilihnya

Oleh:
Di suatu SMP kelas 2E, hiduplah seorang siswi bernama Berlin. Dia adalah gadis yang cantik dan baik hati. Dia mempunyai banyak teman karena dia ramah kepada siapapun. salah satu

Akhir Cerita Sabtu Senja (Part 2)

Oleh:
Malam harinya, usai belajar Yuris memasukkan buku, tiba-tiba Yuris teringat tas kecilnya. Saat akan menanyakan pada Hermin, Yuris teringat bahwa tas kecilnya pasti tertinggal di bawah pohon dekat jembatan.

Cinta jadi Sahabat

Oleh:
Dulu ku punya seseorang yang aku kagumi tanpa ku sadari dia juga mengagumiku, aku memang mengaguminya sjak prtama kali datang di depan kelasku utk berkenalan. Seiring brjalannya waktu, aku

Perasaan Di Teras Gereja

Oleh:
Saat ini aku ingin sekali duduk di sebelahmu, menatap indah mata hitammu, menceritakan tentang kisah kita menurut sudut pandangku. Jika kau mengatakan ini adalah pembenaran diriku atau kebohongan, aku

Wait Me

Oleh:
Tuhan sangat baik, Tuhan masih mengizinkanku untuk jatuh cinta lagi, setelah beberapa kali aku gagal. Aku menyukai seseorang, yang tidak lain dan tidak bukan adalah kakak kelasku. Namanya Daris.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Emil”

  1. Mahogany says:

    Saya gak nangkep maksudnya berhasil apa :’D tp ini bagus
    Setiap tokoh dapat perannya masing-masing dan alurnya terasa ngalir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *