Empat Kata Terindah (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 June 2014

“Hari ini, kamu akan ikut casting di Plaza Mall” Ucap Bu Natasya pada sang anak
“Dan ingat! Kali ini kamu harus dapat peran itu!” Lanjutnya.
“Ya, Mah”
“Pagi, Mah. Pagi, Nisa” Sapa sang kakak, Naura.
“Pagi juga, Kak” Balas sang adik lesu.
“Pagi juga, Sayang”
“Oh ya, Mah. Hari ini, Naura pulang malam ya. Soalnya, bagian Naura hari ini banyak”
“Iya, tapi jangan lupa makan”
“Oke, Mah. Ya udah, Naura berangkat dulu ya” Balas dan pamit Naura.
“Loh, nggak sarapan dulu?” Tanya Bu Natasya.
“Enggak, Mah. Takut kesiangan” Jawab Naura sambil mengambil selapis roti selai.
“Adikku tersayang, Kakak berangkat dulu ya” Ucap Naura sambil mencubit pipi sang adik.
“Iihhh.. Kakak sakit” Dengus sang adik.
“Sekarang kamu siap-siap, karena casting dimulai jam 8”
“Iya, Anisa ngerti kok” Ucapnya langsung berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai 2.

Nama gadis itu Anisa, Anisa Hendrawan. Anak dari seorang pelukis ternama bernama Jaya Widodo. Namun, sayang ayahnya telah meninggal karena serangan jantung tiga tahun yang lalu. Anisa adalah anak terakhir dari dua bersaudara. Anisa tinggal bersama ibu dan kakaknya, Naura Hendrawan. Naura Hendarwan adalah seorang artis sinetron dan model.

Ibunya menginginkan Anisa menjadi seorang artis seperti Naura, Kakaknya. Setiap ada casting, Anisa tak pernah absen untuk mengikutinya. Sebenarnya, ia tak suka dunia akting, ia lebih suka menjadi pelukis, seperti Ayahnya. Tapi, Ibunya selalu melarang. Ibunya selalu berkata bahwa menjadi seorang pelukis, tak menjamin kehidupan di masa depan. “Padahal menjadi seorang artis juga tak menjamin kehidupan” Pikir Anisa.

Cerpen Empat Kata Terindah

“Papah, Anisa kangen Papah” Anisa memeluk foto alm. ayahnya. Tak terasa butiran air mengalir di pipi halusnya.
“Anisa, Cepat!!” Teriak Bu Natasya dari lantai bawah.
“Iya, sebentar” Balas Anisa sedikit keras, agar terdengar sampai bawah.

Anisa meletakkan kembali foto ayahnya dan segera menghapus air matanya. Anisa mengambil tas garfield dan memakai sepatu cats kesukaannya.

“Ayo, Mah” Ucap Anisa saat berada di dekat mamah.
“Loh! Kamu kok pakai baju ini? Baju yang Mamah belikan kemarin mana?”
“Ada kok, Mah. Di kamar”
“Sekarang kamu ganti baju yang kemarin Mamah belikan, kalau kamu penampilannya seperti ini, mana ada sutradara yang akan memilih kamu”
“Tapi, Mah…” Ucap Anisa terpotong.
“Tidak ada tapi-tapian, sekarang kamu ganti. Mamah tunggu kamu di mobil”
“Iya”

Anisa kembali ke dalam kamarnya dan mengganti pakaianya.

“Nah, Begitu kan lebih bagus” Ucap Bu Natasya setelah Anisa selesai mengganti pakaiannya. Anisa hanya mendesah kecil.
“Ya udah, ayo berangkat”

Anisa dan Bu Natasya pun berangkat ke tempat casting yang berada di sebuah mall di Jakarta. Jalanan Ibukota tidak terlalu macet, jelas saja, pada jam segini orang-orang sedang sibuk beraktifitas di dalam ruangan. Tak butuh waktu lama, kini Anisa dan Bu Natasya telah sampai di tempat casting. Terlihat barisan remaja yang sedang mengantri untuk mendaftar. Bu Natasya segera mendaftarkan Anisa. Sedangkan Anisa mulai melatih aktingnya. Terkadang dia marah, menangis dan juga tertawa. Hingga akhirnya Bu Natasya menghampirinya dan memberikan dia nomor antrian.

“Kamu giliran nomor 124” Ucap Bu Natasya.
“Huh, lama sekali. Seharusnya kita datang lebih awal” Desah Anisa.
“Ya sudah lah, lagian ini juga salah kamu, kalau saja tadi kamu lebih cepat yang siap-siap, pasti kita bisa datang lebih awal”
“Iya-iya. Anisa ngerti”
“Mah, Anisa ke toilet dulu, ya”
“Ya! Tapi jangan lama-lama”

Sebenarnya ia tidak benar-benar ke toilet, ia melangkahkan kakinya menuju sebuah toko yang menjual peralatan lukis. Anisa memilah-milah alat-alat lukis yang berada di sana. Dilihatnya sebuah kanvas yang di ujungnya terdapat gambar sebuah tokoh kartun kesukaannya, garfield. Anisa pun berniat untuk membelinya. Setelah selesai membayar kanvas itu, Anisa segera memasukkan kanvas tersebut ke dalam tasnya dan bergegas menuju tempat mama nya menunggu.

“Maaf Mah, lama” Ucap Anisa.
“Kamu ini ke mana saja, sebentar lagi giliran kamu!”
“Maaf Mah, tadi ada insiden kecil” Dusta Anisa.
“Alasan saja, atau jangan-jangan kamu membeli alat lukis lagi?”
“Enggak, Mah. Anisa tadi me…” Ucapan Anisa terpotong.
“Untuk nomor antrian 124 silahkan masuk” Ucap seorang laki-laki yang bergaya seperti wanita.
“Giliran Anisa, Anisa ke sana dulu, Mah” Pamit Anisa.
“Untung aku dipanggil kalau tidak? Aku pasti ketahuan” Batin Anisa.

“Gimana?” Tanya Bu Natasya setelah Anisa selesai casting.
“Belum tahu, Mah. Kata sutradaranya hari minggu baru diumumin” Jawab Anisa.
“Oh ya, kamu pulang sama Mang Yudi ya. Mamah mau langsung ke cafe”
“Mang Yudi? Masih lama dong, Mah”
“Enggak kok, bentar lagi juga sampai”
“Huem.. Ya udah deh”
“Hati-hati ya. Ingat! Langsung pulang”
“Iya, Mamah ku sayang”
“Mamah duluan ya”

Setelah lama menunggu, akhirnya Mang Yudi sampai di depan pintu Mall tersebut. Di perjalanan pulang, Anisa meminta Mang Yudi untuk berhenti di sebuah toko alat lukis, langganannya.

“Non, nanti kalau ketahuan gimana?”
“Gak akan ketahuan selagi Mang Yudi tutup mulut”
“Ya udah, Mang. Aku ke dalam dulu, Mang tunggu di sini”
“Iya, Non”

Anisa segera masuk ke dalam toko tersebut. Ia membeli cat air dengan beberapa warna, kertas untuk melukis dan tempat untuk cat air.

“Jalan, Mang” Ucap Anisa, ketika sampai di dalam mobil.
“Astaghfirulloh, Non. Ngagetin aja”
“Hehehe.. Maaf, Mang”
“Oh ya, Mang. Nanti aku mau ke bukit dulu”
“Tapi kata nyonya, Non harus langsung pulang”
“Mang Yudi tenang aja, mamah gak bakal tahu kok”
“Tapi, Non…”
“Aduh, Mang Yudi. Anisa janji deh, pulangnya sebelum mamah pulang”
“Iya udah deh”
“Nah gitu dong”

Mang Yudi segera melajukan mobilnya menuju Bukit. Anisa selalu ke Bukit itu untuk melukis, selain pemandangannya yang bagus, bukit itu juga menyimpan kenangan Anisa dengan sang ayah. Setelah sampai, Anisa meminta Mang Yudi untuk meninggalkannya. Awalnya Mang Yudi sempat menolak, tapi Anisa tetap kekeuh. Dengan terpaksa Mang Yudi mengikuti perintah Anisa. Anisa segera turun dengan membawa semua peralatan lukisnya. Ia mencari tempat yang cocok untuk melukis. Setelah menemukan tempat yang cocok, ia memulai kegiatannya melukis. Saat Anisa sedang asik melukis, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mendekatinya.

“Lukisan yang bagus” Puji laki-laki itu. Anisa menoleh, lalu menggeser posisi duduknya menjauhi laki-laki tersebut.
“Kenapa menjauh?” Tanya laki-laki itu. Anisa menggeleng.
“Apa tampangku seperti seorang penjahat yang akan membunuhmu, seperti di film-film?” Tanya laki-laki itu kembali. Anisa tetap menggeleng.
“Lalu kenapa kau takut?”
“Aku harus pulang, ini sudah sore” Ucap Anisa yang tak menjawab pertanyaan dari lelaki itu dan segera meninggalkan lelaki tersebut.
“Tunggu!! Alat lukis mu!” Teriak lelaki tersebut. Namun Anisa tetap berjalan menjauhi laki-laki tersebut.

Anisa segera menyetop taksi. Sesampainya di rumah ia sudah dihadang oleh Bu Natasya di depan pintu utama.

“Dari mana?” Selidik Bu Natasya.
“Dari bukit” Jawab Anisa dan langsung meninggalkan Bu Natasya yang masih menatapnya tajam.
“Mamah belum selesai bicara”
“Apa lagi sih, Mah?” Anisa menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Bu Natasya.
“Kamu melukis lagi?”
“Eng…eng…gak kok, Mah” Ucap Anisa gugup.
“Jangan bohong sama Mamah”
“I..i.. iya”
“Sudah berapa kali mamah bilang! Melukis itu gak ada gunanya! Cuma buang-buang waktu!!!”
“Tapi, Mah! Anisa suka melukis, Anisa mau jadi pelukis terkenal kaya papah”
“Menjadi seorang pelukis itu gak menjamin kehidupan kamu!!! Kamu lihat papah mu, dia memang pelukis terkenal! Tapi apa yang dia dapat? Kesengsaraan!”
“Jangan pernah bawa-bawa papah! Papah udah tenang di sana, Mah! Dan apakah menjadi seorang artis juga menjamin kehidupan kita!!!”
“Ya! Dengan kamu menjadi artis cafe Mamah jadi ramai! Kamu lihat kakakmu, dia menjadi seorang artis terkenal ia bisa membangun cafenya sendiri!! Seharusnya kamu contoh kakak mu”
“Kak Naura, Kak Naura terus!!! Mamah selalu membandingkan Anisa dengan kak Naura!! Anisa beda sama kak Naura, Mah! Anisa ya Anisa, kak Naura ya kak Naura!!”
“Udahlah Anisa capek, Anisa mau istirahat”
“Anisa!! Anisa!!!” Panggil Bu Natasya, namun Anisa terus saja berjalan menuju kamarnya.

Keesokan harinya,
Terlihat dua orang gadis sedang duduk di ruang keluarga. mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

“Bosan” Gumam Naura.
“Nis, ke mall yuk”
“Malas” Tolak Anisa yang masih sibuk membaca novel.
“Tumben, biasanya kamu semangat kalau Kakak ajak ke mall”
“Anisa lagi malas” Balasnya dengan pandangan yang masih fokus pada novelnya.
“Kamu marah sama Kakak?”
“Tidak”
“Jika tidak, lihat Kakak. Kakak sedang bicara denganmu”
“Iya” Anisa menoleh.
“Ada apa?” Lanjutnya.
“Matamu sembab, tadi malam kamu menangis?”
“Tidak! Anisa hanya kurang tidur” Dusta Anisa.
“Jangan berbohong”
“Tidak Kakak ku yang paling cantik. Anisa yang paling unyu ini tadi malam tidak menangis”
“Hahahaha… iya-iya Kakak percaya”
“Kita ke bukit yuk! Kakak sudah lama tidak ke sana” Ajak Naura kembali. Anisa menggeleng.
“Please”
“Baiklah, tapi traktir es krim yah”
“Tidak boleh! Kamu kan alergi es krim”
“Yah..! Kalau begitu jus alpukat saja”
“Oke, kalau perlu sama penjualnya juga boleh”
“Boleh juga tuh! Nanti penjulanya suruh nikah sama Kakak”
“Aish! Masa Kakak harus nikah sama penjual jus”
“Hahahaha… siapa tahu dia ganteng”
“Sudah lah, sekarang kamu siap-siap”
“Iya-iya” Balas Anisa sambil mencolek dagu kakaknya.
“Anisa!!!” Teriak Naura.
“Wleee”

Setelah selesai bersiap-siap Anisa dan Naura berangkat menuju bukit dengan mobil yang Naura kendarai. Sebelum mereka ke bukit, Naura memberhentikan mobilnya di depan sebuah toko yang menjual peralatan lukis.

“Untuk apa kita kesini, Kak?” Tanya Anisa.
“Bukankah kamu suka melukis?” Bukannya menjawab Naura malah balik bertanya pada Anisa. Anisa tak menjawab.
“Kenapa diam? Sudahlah kamu tenang saja mamah gak akan tahu kalau kamu melukis lagi. Percaya sama Kakak”
“Tadi jika mamah tahu, bagaimana?”
“Serahkan pada Kakak. Sekarang kamu ke dalam, lalu kamu cari alat lukis seperlumu, baru kita ke bukit”
“Beneran, Kak?”
“Iya adikku yang paling manis”
“Ya udah, aku ke dalam dulu ya, Kak” Naura mengangguk.

Naura menunggu Anisa sambil memainkan i-phone nya. Sedangkan Anisa ia tengah sibuk mencari alat-alat lukisnya. Setelah lama memilih, akhirnya Anisa menemukan alat-alat lukis yang sesuai dengannya.

“Udah, Nis?” Tanya Naura setelah Anisa masuk ke dalam mobil.
“Udah, Kak. Yuk kita jalan” Naura mengangguk lalu menghidupkan mobilnya kembali dan mulai mengendarai dengan tenang.

“Udaranya sejuk banget” Teriak Naura saat sampai di bukit yang hijau.
“Lebay deh Kakak”
“Biarin! Lagian kan Kakak jarang ke sini”
“Kakak terlalu sibuk sih, jadi tak ada waktu untuk ke sini”
“Ngomong-ngomong sejak kapan ada gubuk di sebelah sana?” Tunjuk Naura pada sebuah gubuk dekat pohon besar yang rindang dengan sungai kecil di sebelah pohon itu.
“Aku juga gak tahu, Kak. Kayanya itu baru dibuat deh”
“Kita ke sana yuk”
“Malas ah, Kak”
“Ya udah, Kakak ke sana sendiri ya” Anisa mengangguk.

Anisa segera mempersiapkan alat-alat lukisnya. Ia mulai menggoreskan tinta warna pada kertas putih itu.

“Anisa! di sini sejuk loh! Lebih sejuk dari pada di situ!” Teriak Naura. Anisa menoleh.
“Nanti Anisa ke sana kalau sudah selesai melukis!” Balas Anisa dengan suara keras pula, karena jarak antara mereka cukup jauh.
“Oh.. oke!”

Anisa melanjutkan pekerjaannya, melukis. Karena penasaran Naura menghampiri Anisa yang sedang sibuk dengan lukisannya itu.

“Lukis apa sih, Nis? Serius amat”
“Kak Naura kepo deh”
“Kakak tanya serius Anisa”
“Nanti juga Kakak tahu”
“Pasti lukisannya buat Kakak ya?”
“Ih.. Kakak GR banget sih”
“Terus buat siapa dong? Jangan-jangan kamu udah punya cowok ya?”
“Cowok? Punya temen aja enggak, masa punya cowok”
“Kamu sih! Sampai kapan sih kamu trauma terus? Lagian kejadiannya kan udah 2 tahun yang lalu”
“Aku juga gak tahu, Kak”
“Kakak pengen kamu sekolah lagi, supaya kamu bisa punya sahabat dan pacar” Ucap Naura memandang pemandangan yang telah tersaji di bukit.
“Tanpa sekolah Anisa bisa kok dapat sahabat dan pacar”
“Anisa, kamu gak bisa kaya gini terus! Kamu juga berhak menikmati masa-masa remaja kamu. Pergi ke mall bareng teman-teman, curhat-curhatan, dan pacaran. Tidak seperti sekarang! Ke mall bareng Kakak atau gak mamah, curhat cuma sama Kakak. Setiap hari kerjaan kamu cuma casting, itu pun kalau ada, kalau gak ada baca novel atau mengurung diri di kamar. Ayolah Nis, kamu harus semangat! Lupakan masa lalu kamu” Ujar Naura memandang nanar Anisa yang masih tetap sibuk menggoreskan tinta ke kertas lukis.
“Anisa gak bisa Kak, semakin Anisa melupakan semakin sering ingatan itu kembali. Anisa takut kalau Anisa sekolah lagi, kejadian itu akan terulang”
“Anisa, gak semua orang seperti mereka. Masih banyak orang baik di luar sana!” Naura masih mencoba untuk meyakinkan adiknya itu.
“Tapi Anisa takut” Anisa menghentikan aktifitasnya.
“Kamu harus berani, Nisa! Tunjukin sama semua orang bahwa kamu itu tidak lemah!”
“Oke, Anisa akan coba”
“Nah, gitu dong. Itu baru adik Kakak” Ucap Naura sambil mengacak-acak poni Anisa.
“Jangan di acak-acak dong, Kak! Jadi rusak kan” Omel Anisa sambil merapikan poninya.
“Hahaha, ya maaf”
“Oh ya, haus nih Kak” Rengek Anisa memegangi tenggorokannya.
“Ya udah, kamu tunggu sini, biar Kakak beliin minum”
“Siap Kak”

Naura segera menuruni bukit untuk membeli minuman yang tak jauh dari tempat Anisa melukis. Sementara Anisa meneruskan aktifitas melukisnya. Tiba-tiba terdengar suara kaki mendekati Anisa.

“Kakak kok ce..” Ucapan Anisa terpotong. Anisa kaget, ternyata orang itu bukan kakaknya.
“Kamu yang kemarin itu kan?” Tanya Anisa. Ia mengangguk.
“Kenapa kamu ada di sini?” Tanya Anisa kembali.
“Aku sering ke tempat ini. Kamu sendiri sedang apa di sini?”
“Kamu tidak lihat aku sedang apa?”
“Melukis”
“Lalu kenapa kamu bertanya? Sedangkan kamu tahu akau sedang melalukan apa?” Anisa kini telah melanjutkan kembali aktifitasnya.
“Kamu selalu kaya gini ya, sama orang yang baru kamu kenal?”
“Kaya gini? Gimana?”
“Cuek, judes”
“Cuek? Judes? Sok tahu kamu”
“Tuh kan! Baru aja dibicarain, judesnya udah keluar. Oh ya, kenalin aku Bisma, Bisma Sanjaya. Nama kamu siapa?”
“Penting ya, kamu tahu nama aku”
“Menurut ku sih penting”
“Tapi menurut ku gak penting”
“Anisa” Panggil Naura.
“Oh jadi nama kamu Anisa, nama yang bagus” Ucap Bisma.
“Aduh Kakak, kenapa pake manggil nama aku segala sih” Batin Anisa.
“Loh dia siapa?” Tanya Naura pada laki-laki yang ada di sebelah adiknya.
“Gak penting dia siapa, Kak. Mending sekarang kita pulang aja. Tiba-tiba Anisa gak mood ngelukis” Naura hanya mengerutkan dahinya dan tetap berdiri sambil memperhatikan Anisa yang sedang membereskan peralatan lukisnya.
“Ayo Kak, tunggu apa lagi” Ucap Anisa sambil menarik paksa tangan Naura.
“Iya-iya, tapi jangan ditarik tangan Kakak, jusnya tumpah nih” Anisa pun melepaskan tangannya dari tangan Naura.

“Dia siapa?” Tanya Naura saat mereka sudah berada di dalam mobil yang sedang melaju menuju rumah mereka berdua.
“Aku juga gak tahu siapa dia”
“Kayanya dia suka sama kamu”
“Suka? Apa aku gak salah denger? Gimana mau suka, aku aja gak kenal sama dia, dia juga gak kenal sama aku” Cetus Anisa.
“Tapi gak usah sewot juga kali, lagian kan bisa aja, cinta pada pandangan pertama”
“Iih, apa banget deh Kakak. Mending Kakak fokus aja sama nyetirnya, nanti malah nabrak”
“Iya-iya, bawel juga yah kamu”
“Biarin”
“Oh ya, alat lukisnya gimana?” Tanya Anisa.
“Eh iya, Kakak sampai lupa. Gimana ya?”
“Ahaa.. taruh aja di ruang lukis papah. Pasti gak akan ketahuan deh”
“Iya juga yah. Ya udah deh, nanti Anisa taruh di ruang lukis papah”

Cerpen Karangan: Syarah Wardayanti
Facebook: Syarah Twibi-InsomNisa FromBruno
Nama saya Syarah Wardayanti. saya duduk di kelas XII SMA Negeri 4 Purworejo. hobi saya menuli dan ini salah satu karya saya. semoga kalian suka dengan cerpen buatan saya.. ^_^ Terima Kasih

Cerpen Empat Kata Terindah (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Manusia Sebelah Mata

Oleh:
“Berhenti mengejarku!” bentakku. “Kak, aku minta maaf! Aku tidak bermaksud…” “Cukup! Jangan memanggilku dengan sebutan itu. aku muak! Jujur saja, mantra apa yang kau gunakan untuk mengambil hati orangtuaku?

Sunday Less

Oleh:
“Kringgg… Kringgg… Kringgg…”, jam weker berbunyi. “Hujan… Malasnya ane bangun…”, kata Vania sambil tetap menarik selimutnya. Hari ini hari Kamis. Sebenarnya bukan hujan yang membuat Vania malas move on

See You Again Papa, Mama

Oleh:
Mendung datang dalam kehidupanku. Sudah berhari hari sejak aku kehilangan semua orang yang kusayangi. Aku selalu didatangi mendung tanpa akhir. Kehidupanku sunyi dan kelam. Kapan aku hidup bahagia. Mungkin,

Kang Luffy

Oleh:
Langit hitam memekat sunyi dalam gelapnya cakrawala. Dengan ditemani jangkrik-jangkrik yang bersiul riang menyambut separuh malam. Pukul 00.22 WIB kulirik jam bermerekan 3ATN water resistant stainless biru polos, dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Empat Kata Terindah (Part 1)”

  1. eka d'arnadal says:

    Cerpennya sih bagus tapi terlalu singkat.tmbahin lagi dong..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *