Empat Kata Terindah (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 June 2014

Hari ini adalah pengumumam hasil casting. Karena Bu Natasya sedang sibuk dengan cafenya, beliau meminta Naura untuk menemani Anisa. Lagi pula hari ini tak ada jadwal syuting untuk Naura.
Terlihat seorang gadis yang sedang berdiri dengan gelisah. Sesekali ia menoleh ke arah pintu yang berada pojok ruangan tersebut.

“Udah, gak usah gugup gitu”
“Aku takut gagal, Kak. Karena kalau aku gagal pasti Mamah marah-marah lagi”
“Kamu tenang ya. Kamu pasti dapat peran itu! percaya deh sama Kakak. Sekarang mendingan kamu duduk. Terus tarik nafas kamu perlahan dan keluarin juga dengan perlahan”. Gadis itu mengikuti saran kakaknya.
“Gimana? Udah gak gugup lagi kan?” Gadis itu menggeleng.
“Okey everybody.. sekarang saatnya pengumuman untuk pemenang casting, silahkan ambil amplop yang ada di meja sebelah eike sesuai dengan nama yey yey dan yey yey semua baca sendiri. Capcus, Cynnnn”. Semua orang yang mengitu casting tersebut segera mengambil dan menbaca isi amplop tersebut.
“Gimana?” Gadis itu menggeleng.
“Ya udah, gak papa kok. Masih banyak kesempatan”
“Ihhh.. aku belum ngomong Kakak”
“Ya sudah, ayo teruskan?”
“Aku dapat peran itu, Kak”
“Wah.. yang benar?”
“Apakah Anisa terlihat berbohong?” Naura menggeleng kuat.
“Selamat ya!!” Ucap Naura memeluk Anisa.
“Iya, Kakak” Jawab Anisa membalas pelukan Naura.
“Jadi kapan mulai syuting?” Anisa melepaskan pelukannya.
“Kata sutradaranya minggu depan”
“Oke, pokoknya kamu harus lakukan yang terbaik” Anisa mengangguk.
“Sekarang kita pulang”
“Kakak duluan yah, Anisa mau ke taman dulu”
“Perlu Kakak temani?”
“Tidak usah, Kak. Anisa pengen sendiri”
“Ya udah, tapi jangan sampai sore”
“Pasti”

Kini Anisa sedang berada di sebuah taman, memandangi seekor induk burung yang sedang memberi makan anaknya.

“Anak burung yang beruntung. Memiliki induk yang sangat sayang dengan dia”
“Apakah Mamah akan melakukan hal yang sama ya, kalau aku kelaparan?”
“Pasti” Anisa menoleh.
“Kamu!”
“Iya, aku. Kenapa kamu kaget?”
“Tidak! Aku tidak kaget. Kenapa kamu selalu mengikutiku?”
“Mengikutimu? Hahaha”
“Kenapa kamu tertawa? Emang ada yang lucu?”
“Kau lucu sekali. Siapa yang mengikutimu”
“Lalu kenapa kamu ada dimana saja aku berada?”
“Mungkin kita jodoh”
“Terserah kamu sajalah” Balas Anisa dan meninggalkan laki-laki tersebut.
“Tunggu dulu Anisa” Anisa menghentikan langkahnya, lalu menoleh.
“Ada apa?”
“Aku hanya ingin mengembalikan kanvas mu”
“Aku sudah tidak memerlukan kanvas itu. Kalau kamu mau, ambilah” Anisa kembali melangkahkan kakinya.
“Gadis yang misterius. Gue suka” Gumam Bisma.

“Kenapa sih?! Selalu ada dia?” Gerutu Anisa sambil duduk di sebelah kakaknya yang sedang asik menonton tv.
“Kenapa, Nis? Baru dateng kok udah ngomel-ngomel”
“Tadi aku ketemu sama cowok yang kemarin di bukit itu loh, Kak”
“Terus kenapa kamu bisa kesel?”
“Ya, aku kesel aja sama dia! Dia selalu menganggu aku”
“Oh ya, besok Kakak mau daftarin kamu ke SMA Mars Evolution”
“Hah! Aku gak mau sekolah di sana”
“Kenapa?”
“Aku gak suka sekolah di tempat sepeti itu. Pasti anaknya sombong-sombong”
“Tapi kamu belum mencobanya”
“Anisa gak suka Kakak! Anisa lebh suka sekolah di tempat yang biasa-biasa aja”
“Terus kamu mau di mana?”
“Anisa pengen di SMA Mardika Cipta”
“Ya udah kalau itu mau kamu. Besok kamu persiapin diri kamu”
“Oke, Kak. Oh ya, Kakak udah bilang sama mamah?”
“Udah kok, kamu tenang aja”
“Hmmm.. ya udah, aku mandi dulu ya Kak. Gerah banget nih”
“Pantes dari tadi bau asem. Keringet kamu toh”
“Yeee.. enak aja. Keringet aku itu wangi tau”
“Wangi, kalau yang nyium orang gila”
“Aih, enak aja. Ya udah mandi dulu ya Kak Naura” Ucap Anisa sambil mencium pipi Naura.
“Anisa jorok! Kamu kan belum mandi”
“Biarin wleee”
“Huh.. Anisa Anisa”

Keesokan harinya, Naura dan Anisa bersiap-siap menuju SMA Mardika Cipta, calon sekolah Anisa. Anisa mengenakan seragam putih abu-abu yang dibeilkan Naura kemarin. Selama di dalam mobil Anisa hanya berdiam diri, tak ada kata-kata yang terucap dari bibir mungilnya.

“Nisa, udah sampai” Ucap Naura.
“Udah sampai ya” Balas Anisa tak bersemangat.
“Loh, kok gak semangat gitu sih? Ayo dong semangat!
“Iya, aku semangat kok, Kak”
“Ya udah, yuk keluar. Kita temuin Kepala Sekolah kamu yang baru” Anisa mengangguk.
“Eits tunggu dulu, Kak” Cegah Anisa.
“Kenapa?”
“Kakak mau keluar dengan gaya seperti ini?”
“Loh memang kenapa? Ini kan formal-formal aja”
“Bukan. Maksud aku kalau kakak gayanya kaya gini, bisa-bisa seluruh sekolahan ngenalin Kakak”
“Oh iya, Kakak lupa. Tunggu dulu ya” Naura segera berganti pakaiannya. Ia menggunakan kaca mata hitam, dengan rambut yang dikuncir kuda dan dan memakai topi.
“Kalau kaya gini gimana?”
“Lumayan”
“Ya udah, turun yuk”

Sepanjang lorong yang dilewati Anisa dan Naura. Semua siswa memeperhatikan mereka. Banyak dari mereka yang takjub akan kecantikan Anisa. Ada juga yang curiga dengan Naura. Anisa dan Naura pun mempercepat langkah mereka. Hingga akhirnya, mereka sampai di depan pintu sebuah ruangan yang bertuliskan “Kepala Sekolah”. Naura segera mengetuk pintu tersebut. Hingga terdengar suara lembut dari dalam ruangan. Naura segera melepas topi dan kacamatanya, lalu membuka pintu dengan perlahan. Setelah masuk, Anisa segera menutup pintu itu kembali.

“Permisi, Bu”
“Silahkan duduk”
“Terima kasih, Bu”
“Ada keperluan apa ya?”
“Perkenalkan nama saya Naura dan ini adik saya, Anisa. Jadi begini, Bu. Saya ingin mendaftarkan Anisa di sekolah ini”
“Boleh, tapi Anisa harus mengikuti beberapa tes”
“Baik, Bu. Anisa pasti akan mengikuti tes-tes tersebut”
“Kalau begitu, tes akan dilaksanakan hari ini juga. Jika lolos, besok Anisa sudah boleh mengikuti pelajaran di sekolah ini”
“Terima kasih, Bu” Ucap Naura.

Setelah keluar dari rungan kepala sekolah, Anisa segera mengukuti beberapa tes. Anisa tampak tenang mengisi semua soal-soal yang diberikan.

“Gimana soal-soalnya?” Tanya Naura ketika Anisa telah keluar dari ruangan tes. Anisa hanya membalas dengan mengacungkan jempol.
“Berarti kamu lolos?”
“Lolos dong”
“Wah.. selamat ya, Nis”
“Makasih, Kakak”
“Ya udah, sekarang kita pulang. Kamu juga kan harus siapin keperluan kamu untuk besok”
“Oke deh. Lets Go!”

Ketika sampai di parkiran, Anisa tidak sengaja bertabrakan dengan seorang laki-laki.

“Sorry gue gak sengaja” Ucap laki-laki tersebut.
“Gak papa kok” Balas Anisa membersihkan roknya yang terkena debu. Namun, ketika Anisa menoleh.
“Kamu!” Pekik Anisa.
“Eh, ada Peri jutek”
“Peri Jutek? Kamu tuh Pangeran Aneh!”
“Pangeran? Wah.. baru kali ini loh ada yang ngatain aku pangeran”
“Huh.. terserah kamu aja deh”
“Nis.. Anisa” Panggil Naura.
“Eh iya, Kak” Anisa segera menghampiri kakaknya yang sudah berada di dalam mobil.
“Dadah.. peri jutek” Teriak Bisma.

“Siapa, Nis?”
“Cowok gak jelas, rese, aneh, idup lagi”
“Hahaha.. biar Kakak tebak. Pasti cowok yang kemarin di bukit itu kan?”
“Tepat! Udah ah Kak, malas ngomongin dia. Mending sekarang kita pulang”

Malam harinya, terlihat seorang gadis sedang memandangi ribuan bintang yang bertaburan di angkasa. Ingatannya kembali saat umurnya masih menginjak 8 tahun.

“Pah, kalau misalnya warna merah dan warna hijau ini dicampur bagus gak?”
“Kamu coba dulu aja” Jawab Papahnya yang masih sibuk dengan lukisannya.
“Emm.. Papah lagi ngelukis apa sih?”
“Papah lagi ngelukis kamu dan kakak mu”
“Aku sama Kak Naura?” Papahnya mengangguk. Gadis cilik itu segera menghampiri papahnya.
“Wah.. bagus banget, Pah. Anisa pengen deh kalau udah gede nanti, jadi pelukis seperti Papah”
“Hahaha.. kalau kamu mau jadi pelukis seperti Papah, kamu harus rajin belajar ngelukis. Jangan cuma ngelukis pegunungan aja”
“Lihat aja besok! Anisa bakal ngelukis dunia dan yang pasti lukisan Anisa besok akan mengalahkan lukisan punya Papah”
“Oke.. Papah tunggu!”

“Anisa kangen Papah” Ucap Anisa. Tak terasa butiran bening mengalir dari pelupuk matanya.
“Besok Anisa akan masuk sekolah, Pah. Dan Anisa bakal ketemu sama orang-orang yang baru. Anisa takut. Anisa takut kalau mereka gak mau nerima Anisa. Anisa takut kalau kejadian itu terulang lagi, Pah. Apalagi sekarang Papah udah gak ada. Gak ada yang belain Anisa lagi, gak ada yang marahin, kalau temen-temen Anisa ngejek-ngejek Anisa”
“Bulan, Bintang. Tolong bilang sama Papah! kalau aku kangeenn banget sama Papah” Ujar Anisa sedikit berteriak.
“Huh.. udah malam aku harus tidur! Selamat malam, Pah”

Hari ini, hari pertama Anisa bersekolah di SMA Mardika Cipta. Anisa melangkahkan kakinya menelusuri sudut-sudut sekolah barunya. Kali ini sekolahnya sangat sepi, jelas saja, bel pelajaran pertama sudah berdering 10 menit yang lalu. Anisa segera memasuki ruang Kepala Sekolah, untuk diantar ke kelas barunya.

“Permisi, Bu” Ucap Kepala Sekolah.
“Mari, Bu. Silahkan masuk” Jawab seorang guru perempuan yang sedang mengajar.
“Saya minta waktunya sebentar” Guru tersebut mengangguk.
“Anak-anak, hari ini kalian akan kedatangan teman baru. Silahkan masuk” Anisa segera masuk sesuai dengan perintah Kepala Sekolah. Pandangan semua murid di kelas itu, tertuju pada Anisa.
“Wow.. ada bidadari” Celetuk salah satu murid.
“Itu kan peri jutek, wah.. ternyata dia sekolah di sini. Bener kata pepatah, jodoh gak akan lari kemana” Batin Bisma.
“Silahkan perkenalkan diri kamu” Perintah Kepala Sekolah.
“Perkenalkan nama saya Anisa Hendrawan. Mohon bantuannya ya”
“Baik Anisa, silahkan kamu duduk di bangku yang kosong sebelah sana” Tunjuk guru tersebut pada bangku yang kosong.
“Terima kasih, Bu”
“Hai peri jutek” Sapa Bisma. Anisa membulatkan matanya.
“Cowok nyebelin ini juga sekolah di sini. Oh God! Penderitaan apa lagi ini” Batinnya.
“Hai kenalin aku Fani” Ucap Fani memperkenalkan dirinya.
“Anisa” Balas Anisa dengan senyuman.

Selama pelajaran berlangsung, Anisa merasa risih, karena sedari tadi Bisma terus memandangi dirinya. Sesekali Anisa menoleh, dan ketika Anisa menoleh Bisma mengedipkan sebelah matanya. Anisa hanya bergidik geli melihat tingkah Bisma. Jam pelajaran pertama pun telah berakhir, semua siswa berhamburan keluar. Namun, tidak untuk Anisa. Ia masih belum mengenal seluk beluk sekolah ini.

“Ke kantin yuk, Nis” Ajak Fani.
“Boleh”
“Gue ikut ya”
“Aelah loe Bis. Gak! Gak boleh, nanti loe malah ngerecokin lagi”
“Aih, Fani pesek. Boleh yah? Yah”
“Apa loe bilang pesek? Idung mancung gini loe bilang pesek! Enak aja loe”
“Eh eh eh, aduh.. maksud gue bukan pesek tapi mancung”
“Mancung ke dalam” Lanjutnya dengan suara lirih.
“Ngomong apa loe?”
“Gak kok! Gue gak ngomong apa-apa”
“Ya udah deh loe boleh ikut, tapi traktirin kita ya”
“Fan, kok dibolehin sih?” Tanya Anisa.
“Gak papa lah, Nis. Lagian kan dia mau nraktir kita. Lumayan loh gratis”
“Hmm ya udah deh. Lagian aku laper, tadi belum sempat makan”
“Gratis? Apanya yang gratis? Gue mau dong”
“Elo Dik, kalau soal gratisan aja nomor satu”
“ihh.. Bisma, jangan kaya gitu dong sama Ayang gue”
“Iya nih yang, masa aku digituin sama Bisma” Manja Dika.
“Dasar pasangan alay” Cetus Bisma.
“Biarin. Ya udah, yuk sekarang kita ke kantin” Balas Fani.

Mereka berempat pun pergi menuju kantin.

“Mau pesen apa, Nis?” Tanya Fani.
“Samain aja kaya kamu”
“Kalau kamu, Yang?”
“Samain aja deh kaya kamu”
“Ya udah, Soto sama es jeruk nya 3 ya, Bis”
“Lah kok gue?”
“Kan loe yang mau nraktir, jadi loe juga dong yang harus pesen”
“Masa gue yang nraktir, gue juga yang pesen”
“Ya udah, biar aku aja yang pesen” Ucap Anisa.
“Gak usah” Cegah Bisma.
“Iya-iya, gue aja yang pesen” Bisma berjalan menuju ibu kantin.
“Oh ya, Nis loe kenal yah sama Bisma?”
“Hah?! Kenapa kamu tanya kaya gitu?”
“Soalnya kalian itu aneh, kaya saling kenal gitu”
“Gak kok, Cuma pernah ketemu aja”
“Bukan Cuma pernah, tapi sering”
“Yeee.. loe, Bis. Main samber-samber aja. Gue kan tanyanya sama Anisa bukan sama loe”
“Tapi kan emang bener. Ya gak, Peri Jutek?”
“Stop manggil aku dengan sebutan itu. Namaku Anisa bukan Peri Jutek”
“Habisnya kamu itu jutek banget sama aku”
“Bis? Loe lagi gak sakit kan?” Tanya Dika sambil menempelkan tangannya di kening Bisma.
“Apaan sih loe, Dik”
“Yah tumben aja loe pake Aku-Kamu biasanya kan Loe-Gue”
“Salamah?”
“Ya gak sih”

“Ini mas pesanannya” Ucap seorang pelayan kantin.
“Iya. makasih ya, Mbak”
“Eh, gue denger adiknya si Naura sekolah di sini lho” Ucap Dika.
“Uhuk uhuk”
“Anisa, makannya yang makan pelan-pelan dong” Tegur Fani.
“Ngomong-ngomong tentang Naura, nama belakang loe kok sama kaya Naura?” Selidik Dika.
“Mungkin cuma kebetulan” Elak Anisa.
“Aku ke toilet dulu ya” Tambah Anisa.
“Kenapa yah sama Anisa? Kenapa dia gak bilang kalau Naura itu kakaknya?” Batin Bisma.
“Woy, Bis. Malah ngelamun”
“Eh iya. Tau dari mana loe, Dik?” Tanya Bisma pura-pura tidak tahu apa-apa.
“Gosip”
“Dasar loe kaya ibu-ibu aja, kerjaannya ngegosip mulu”
“Bodo”

Terlihat seorang gadis sedang berdiri di gerbang sekolahnya. Sesekali gadis ini menengok ke sebelah kanan dan kiri.
“Mang Yudi mana sih?”
“Lagi nunggu jemputan?” Tanya seorang laki-laki dengan motor ninja merahnya.
“Menurut kamu?”
“Hadeh, masih jutek aja”
“Mang! Mang Yudi” Panggil gadis itu. Lalu melangkahkan kakinya menuju mobil BMW berwarna silver tersebut, tanpa memperdulikan laki-laki yang berada di sampingnya.

Cerpen Karangan: Syarah Wardayanti
Facebook: Syarah Twibi-InsomNisa FromBruno
Nama saya Syarah Wardayanti. saya duduk di kelas XII SMA Negeri 4 Purworejo. hobi saya menuli dan ini salah satu karya saya. semoga kalian suka dengan cerpen buatan saya.. ^_^ Terima Kasih

Cerpen Empat Kata Terindah (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Si Anak Yatim Memiliki Ayah

Oleh:
Bel istirahat berbunyi. Setiap penghuni kelas pergi keluar untuk melakukan kegiatan mereka; membeli makanan, memakan bekal atau hanya sekedar berjalan-jalan keliling sekolah mencari angin segar. “ke WC yuk!” ajak

Ojek Payung Merah

Oleh:
Di sebuah Desa tinggallah seorang Anak yang bernama Alia. Dia anak yatim piatu. Ayah meninggal karena kecelakaan dan Ibunya meninggal karena sakit-sakitan. Dulu, Alia tinggal bersama neneknya. Tiba-tiba neneknya

Kado Cinta di Sweet Seventeen

Oleh:
Malam ini sepi, aku berdiam di teras sambil menemani bintang-bintang terang di langit yang menjulang. “Malam minggu lagi ya?” gumamku. “Assalamu’alaikum” ucap sesorang, aku melihatnya, “Eh kamu Vin, aku

Kado Untuk Ibu

Oleh:
Aisyah Az-Zahra, biasa dipanggil Aisyah adalah seorang anak berumur 8 tahun yang sudah bekerja mencari penghasilan bagi keluarga kecilnya. Ayahnya meninggal 5 tahun lalu, karena penyakit jantung yang menyerangnya.

Aku Menyayangimu Kak (Part 1)

Oleh:
Kak Nico mendengus kesal ketika mendengar perkataan mama yang mengatakan bahwa dirinya kini harus berangkat sekolah bersamaku. Mama tidak bisa lagi mengantarku ke sekolah karena harus menemani ayah yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *