Empat Kata Terindah (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 June 2014

Ketika sampai di depan pintu rumahnya, gadis itu menghentikan langkahnya. Matanya memanas. Dengan air mata yang terus mengalir gadis itu berlari tanpa arah. Hingga akhirnya, ia sampai di sebuah taman. Disana ia menangis sekencang-kencangnya. Maklum saja taman sedang sepi, jadi ia bebas mengekspresikan kesedihannya.

“Kenapa sih selalu kak Naura! Kenapa selalu kak Naura yang benar?! Kenapa Kak Naura selalu mamah bangga-banggakan? Anisa juga pengen mamah banggain. Hiks hiks hiks”
“Ternyata Peri Jutek bisa nangis juga yah”
“Kamu! Kenapa sih kamu selalu ngikutin aku”
“Siapa yang ngikutin kamu, aku tuh tadi gak sengaja lewat sini, terus aku lihat kamu ada di sini. Ya udah, aku ke sini aja”
“Oh ya, nih sapu tangan. Buat ngapus air mata kamu” Bisma memberikan sapu tangannya pada Anisa.
“Makasih” Anisa menerima sapu tangan Bisma dan menyeka air matanya.
“Kamu kenapa nangis?” Tanya Bisma yang kini sudah duduk di sebelah Anisa.
“Kalau aku iri sama kakak aku sendiri salah gak?”
“Ya enggak lah, aku juga sering iri sama abang aku. Emang kamu kenapa?”
“Kakak aku itu Naura, Naura Hendrawan” Bisma mengangguk.
“Kok kamu biasa aja?”
“Aku udah tahu kalau kamu adiknya Naura”
“Tahu dari mana?”
“Cantik cantik kok pikun, kemarin waktu di bukit kan kamu manggil Naura dengan sebutan kakak”
“Terus, kenapa kamu gak bilang sama Dika kamu kalau aku adiknya Naura?”
“Karena aku tahu, kamu gak mau orang-orang tahu kamu adiknya Naura”
“Aku takut, kalau anak-anak di sekolah mau temenan sama aku Cuma karena aku adiknya seorang artis terkenal”
“Tapi, aku mau temenan sama kamu, bukan karena kakak kamu”
“Iya itu kamu, tapi kalau yang lain?”
“Memang apa yang membuat kamu iri sama kakak kamu?”
“Aku iri sama kak Naura, dia bisa punya banyak teman, dia selalu dibangga-banggain sama mamah. Dan banyak yang sayang sama dia. Sedangkan aku? Aku gak punya teman, aku selalu salah di mata mamah, aku merasa sendirian di dunia ini”
“Anisa, kamu gak perlu iri sama kakak kamu. Kamu juga bisa seperti kakak kamu, Cuma semua itu butuh waktu. Lagipula Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihannya masing-masing”
“Dari kecil aku deket sama Papah, aku memiliki hobi yang sama kaya Papah, melukis. Tapi mamah ngelarang aku menjadi seorang pelukis seperti papah. Mamah mau aku menjadi seorang artis seperti kak Naura”
“Kenapa mamah kamu ngelarang kamu menjadi seorang pelukis? Toh artis dan pelukis itu sama-sama seorang seniman”
“Aku juga gak tahu, setiap aku tanya kenapa? Mamah selalu jawab kalau jadi seorang pelukis tidak menjamin kehidupan kita”
“Tapi bukannya artis juga gak akan menjamin kehidupan kita”
“Entahlah”
“Pantes aja, aku perhatiin setiap habis ngelukis kamu selalu ninggalin alat-alat lukis dan lukisannya”
“Kamu suka memperhatikan aku?”
“Hehehe.. iya. Soalnya aku kagum sama lukisan kamu. Lukisan kamu itu bagus banget”
“Makasih”
“Aku masih nyimpen semua lukisan dan alat-alat lukis kamu itu loh”
“Oh ya?”
“Iya, aku paling suka sama lukisan kamu yang gambarnya anak kecil sama ayahnya lagi pegangan tangan”
“Hah?! Seinget aku, Itu kan lukisan yang aku lukis 2 tahun yang lalu”
“Iya, sebenarnya aku udah sering lihat kamu di bukit dan di taman semenjak 2 tahun yang lalu. Tapi, aku malu untuk nyapa kamu. Dan aku baru berani akhir-akhir ini”
“Jadi ceritanya, kamu penggemar rahasia aku nih”
“Ya bisa dibilang seperti itu”
“Makasih ya”
“Untuk?”
“Untuk hari ini, untuk traktirannya tadi sekolah, untuk sapu tangannya dan yang terakhir terima kasih karena udah mau nyimpan semua lukisan dan alat-alat lukis aku itu”
“Hahaha.. woles kali, Nis”
“Udah sore, aku pulang dulu ya, Bis. Sekali lagi makasih”
“Aku antar ya?”
“Gak usah, Bis. Rumah aku gak jauh kok dari sini”
“Oh.. ya udah, hati-hati ya”
“Iya”

Anisa melangkahkan kakinya meninggalkan taman. Senyumannya terus mengembang, entah kenapa hatinya terasa sangat senang. Kesedihannya pun seakan hilang diterpa angin sore.

“Anisa dari mana kamu? Seharusnya kalau jam sekolah selesai kamu langsung pulang! Ingat! Seminggu lagi syuting akan dimulai”
“Iya, Mah. Anisa ngerti. Lagian tadi Anisa Cuma ke taman aja kok”
“Kamu ngelukis lagi?”
“Enggak, Mah. Anisa udah gak pernah ngelukis lagi”
“Bagus. Tapi, kalau sampai Mamah tahu kamu ngelukis lagi, kamu gak akan Mamah izinin keluar rumah kecuali untuk syuting” Anisa mengangguk.
“Ya sudah, sekarang kamu mandi terus makan. Mamah tunggu di ruang makan”
“Iya, Mah”

Dengan langkah gontai Anisa menaiki satu persatu anak tangga yang menghubungkan antara lantai bawah dan lantai atas. Setelah sampai di kamarnya, Anisa menghempaskan tubuhnya di kasur. Melepaskan segala penat yang terasa. Ia memandang langit-langit rumahnya yang berwarna merah, warna kesukaannya. Tiba-tiba, ia teringat wajah Bisma.

“Ah! Kok Bisma sih. Jangan-jangan…? Gak! Gak boleh! Aku baru kenal Bisma. Anisa, stop mikirin dia!!”
“Mending mandi aja deh”

Sebulan telah berlalu. Anisa mulai mengambil beberapa scene untuk sinetron perdananya. Hubungannya dengan Bisma pun semakin dekat. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa mereka telah menjadi sepasang kekasih. Hari ini, Bisma berencana akan menyatakan perasaannya pada Anisa. Bisma mengajak Anisa ke sebuah taman.

“Anisa” Panggil Bisma dengan ragu.
“Ya, kenapa?”
“Aku cinta sama kamu. Apakah kamu mau jadi pacarku?”
“Apa ini gak terlalu cepat”
“Kalau kamu gak mau gak papa kok”
“Aku.. aku gak bisa”
“Ya udah, gak papa kok”
“Aku belum selesai ngomong”
“Aku gak bisa buat sakitin hati kamu, aku cinta sama kamu”
“Jadi…?” Anisa mengangguk.
“Aaaaa… Yeeee!!!” Teriak Bisma yang membuat semua pasang mata tertuju padanya.
“Bisma!! Malu ah” Bisma hanya terkekeh pelan, ia tak menyadari bahwa semua pengunjung melihat ke arahnya.
“Bis, aku pulang dulu ya, aku ada syuting hari ini”
“Syuting? Bukannya baru kemarin kamu syuting? Sampai pagi lagi? Nanti kalau kamu sakit gimana?”
“Aku gak mau ngecewain mamah”
“Aku antar”
“Gak usah, aku bisa naik taksi. Bye”

Anisa segera meninggalkan taman tersebut, lalu menyetop taksi. Sepanjang perjalanan ia terus memperhatikan jam tangan yang dikenakannya. Setelah sampai, Anisa langsung berlari menuju lokasi syuting. Terlihat beberapa crew yang sudah stay sedari tadi. Seorang wanita paruh baya menghampirinya.

“Dari mana saja kamu?!” Tanya wanita itu dengan nada tinggi.
“Maaf, tadi Anisa ada urusan sebentar di sekolah”
“Ya sudah, cepat kamu ganti! Semua crew sudah menunggu mu dari tadi” Anisa mengangguk dan segera berganti pakaian.

Berkali-kali Anisa melakukan kesalahan. Puluhan kata “Cut” telah dilontarkan oleh sang sutradara. Hingga malam tiba, tapi syuting belum selesai. Masih ada 10 scene yang belum Anisa lakukan. Sesekali Anisa mendesah kecil. Ia memegangi perutnya yang kosong. Karena semenjak ia pulang sekolah tak ada satu suap nasi pun yang masuk ke perutnya. Tak ada yang memperhatikan wajah lesu Anisa. Semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, termasuk Bu Natasya yang sibuk dengan produser membicarakan honor Anisa.

Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Sutradara menghentikan syuting pada hari ini. “Akhirnya penderitaanku selesai” Gumam Anisa. Anisa segera membangunkan Bu Natasya yang tertidur di dalam mobil. Setelah terbangun, Bu Natasya menjalankan mobilnya menuju rumah. Tak butuh waktu lama, kini Anisa dan Bu Natasya telah sampai di rumahnya. Tanpa aba-aba Anisa langsung menuju kamarnya, menghempaskan tubuhnya di kasur. Beberapa saat kemudian, Anisa telah berada di alam mimpinya.

Pagi ini, Anisa terlihat lesu. Dengan wajah yang agak pucat, ia melewati setiap lorong sekolahnya. Saat sampai di tempat duduknya, Anisa segera melepaskan tasnya dan menenggelamkan kepalanya di antara kedua tangannya. Kepalanya terasa sangat pusing, perutnya seperti ditusuk ribuan jarum.

“Kamu gak papa?” Tanya seorang gadis pada Anisa. Anisa tak menjawab ia malah meremas perutnya dengan keras.
“Anisa, jawab dong, Nis. Kamu gak papa kan?” Tanya gadis itu sekali lagi. Dengan wajah pucat Anisa menggeleng. Kini terlihat jelas wajah Anisa yang pucat, bibirnya memutih. Tangannya sangat dingin, kantung matanya menghitam. Dengan sigap gadis itu memegang kening Anisa.
“Ya ampun, badan kamu panas banget, kita ke UKS sekarang ya”
“Gak papa kok, Fan”
“Gak papa gimana! Lihat muka kamu! Pucat banget, Nis!” Marah Fani.
“Pokoknya sekarang kita harus ke UKS, gak ada tapi-tapian”

Fani memapah Anisa menuju ruang UKS. Baru saja selangkah Anisa berjalan, tapi dia sudah pingsan. Bisma yang melihat kejadian itu, langsung mengangkat tubuh Anisa dan membawanya ke UKS. Perawat yang berjaga di UKS langsung memeriksa Anisa.

“Gimana, Bu?”
“Gak papa kok. Dia hanya kecapean, dan sepertinya semenjak kemarin perutnya tak diisi nasi sedikit pun. Apakah dia ada masalah?”
“Tidak, Bu”
“Baiklah, kalau begitu Ibu keluar dulu”
“Terima kasih, Bu”

Beberapa saat kemudian Anisa terbangun. Bisma membantu Anisa untuk duduk.

“Aku dimana?”
“Kamu ada di UKS. Ini minum teh dulu” Anisa meminum teh hangat tersebut.
“Apa benar dari kemarin kamu belum makan” Anisa terdiam.
“Ya udah, kalau kamu gak mau jawab. Yang penting, sekarang kamu makan, biar aku yang suapin” Bisma mulai menyuapi Anisa.
“Akan ada lomba lukis tingkat nasional. Kamu ikut ya, Nis” Ucap Bisma, di sela-sela aktivitasnya menyuapi Anisa.
“Aku gak mau”
“Kenapa? Bukankah itu impian kamu? Menjadi seorang pelukis terkenal?”
“Iya sih, tapi aku takut mamah marah”
“Kamu bisa ikut lomba tanpa sepengetahuan mamah kamu. Aku yakin, kalau mamah kamu tahu kamu menang pasti dia bangga sama kamu dan otomatis mamah kamu akan ngizinin kamu menjadi seorang pelukis seperti Papah kamu”
“Tapi, kalau aku gak menang?”
“Optimis dong! Masa peri jutek pesimis sih?”
“Oke deh, aku coba”

Tanpa sepengetahuan Bu Natasya, Anisa mengikuti lomba lukis tingkat nasional yang akan dilaksanakan dua minggu lagi. Anisa mulai giat melatih tangannya dalam melukis. Setiap waktu luang Anisa selalu menyempatkan dirinya untuk berlatih di bukit. Sampai akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu datang. Naura meminta izin pada Bu Natasya untuk ke rumah managementnya dengan Anisa. Karena jika Naura mengatakan yang sebenarnya, Bu Natasya tak akan mengizinkan Anisa dan dia pergi. Dari awal, Naura memang sudah tahu, kalau Anisa akan mengikuti lomba ini. Sebelum ke tempat perlombaan Anisa dan Naura mampir ke toko lukis, untuk membeli beberapa alat-alat lukis yang dibutuhkan Anisa nanti.

Saat sampai di tempat perlombaan, Anisa mulai pesimis. Semua yang berada di sini adalah orang-orang yang sangat mahir dalam seni lukis. Naura memegang pundak adiknya dan mengepalkan tangannya, bermaksud untuk menyemangati Anisa.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, menandakan perlombaan segera dimulai. Semua peserta telah siap di posisinya masing-masing termasuk Anisa. Sementara Naura, Bisma, Fani dan Dika menunggunya di luar gedung. Karena yang diperbolehkan masuk gedung hanyalah peserta dan juri. Dua jam berlalu, banyak peserta yang mulai selesai. Hanya tersisa beberapa orang saja di dalam gedung. Namun, itu tak mempengaruhi Anisa, ia masih tetap tenang dan tetap konsentrasi pada lukisannya. Lagi pula waktu yang tersisa masih satu jam.

Bel berbunyi, menggema ke seluruh sudut gedung tersebut. Semua peserta menghentikan aktivitasnya dan mulai berhamburan keluar. Anisa berjalan menuju Naura, Bisma, Fani dan Dika yang menunggunya di depan gedung.

“Bagaimana?” Tanya Naura.
“Ya gitu deh”
“Anisa, kok loe gak bilang sih, kalau loe adiknya Naura” Ucap Dicky.
“Hust! Jangan keras-keras, nanti kalau semuanya tahu aku ada di sini, penyamaran aku bisa gagal”
“Hehehe, maaf”
“Oh ya, kapan pengumumannya, Nis?” Tanya Fani.
“Sebentar lagi kok”

Ini adalah saat yang mendebar-debarkan bagi peserta lomba lukis. Begitu juga dengan Anisa, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Keringat dingin keluar dari kening dan tangannya. Naura yang menyadari adiknya bergetar hebat, segera memberikan semangat.

“Baik, pemenang dalam Kompetisi Lukis Tingkat Nasional jatuh kepada…” Jantung Anisa semakin berdetak kencang.
“Anisa Hendrawan” Teriak pembawa acara tersebut.
“Anisa kamu menang, Nis” Ucap Naura.
“Selamat ya, Peri Jutek”
“Selamat ya, Anisa” Ucap Fani dan Dika bersamaan.
“Nah gitu dong” Balas Naura.
“Ya udah kita pulang yuk” Ajak Fani.
“Oh ya, aku sama Dika gak ikut nganter ya, ada latihan basket untuk perlombaan besok”
“Gak papa kok” Jawab Anisa.
“Ya udah, Bye” Ucap Dika.

Naura segera menjalankan mobilnya ke rumah. Sepanjang perjalanan Anisa, Fani dan Naura bercanda. Kini mereka telah sampai di rumah Anisa dan Naura. Saat sampai di ruang tamu, terlihat Bu Natasya sedang menunggu mereka. Dengan tatapan tajam, Bu Natasya menghampiri mereka.

“Mah, Anisa menang!” Teriak Anisa. Bukannya sebuah pelukan yang didapat Anisa. Malah sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Anisa.
“Mamah, kenapa Mamah tampar, Anisa?”
“Sudah berapa kali Mamah katakan, jangan sekali-kali kamu melukis! Kamu ini anak yang gak tau diri! Gak pernah buat Mamah bangga!”
“Ya! Anisa memang anak yang gak tau diri! Anisa gak pernah bisa buat Mamah bangga! Semua yang Anisa lakukan selalu salah di mata Mamah. Sedangkan Kak Naura? Kak Naura selalu Mamah bangga-banggakan di depan teman-teman Mamah, selalu benar di mata Mamah! Anisa juga pengen Mamah banggakan. Izinkan Anisa Memilih Jalan Hidup Anisa sendiri, Mah. Izinkan Anisa buat Mamah bangga dengan cara Anisa sendiri” Ucap Anisa mengeluarkan semua uneg-unegnya, dengan air mata yang terus mengalir.
“Anisa! Sekarang kamu masuk ke kamar kamu! Kamu Mamah hukum, gak boleh keluar rumah kecuali untuk syuting! Dan kamu temannya Anisa, jangan pernah datang ke sini lagi!”
“Mamah jahat! Mamah gak pernah ngertiin perasaan Anisa!” Anisa berlari menuju kamarnya dan Fani keluar dari rumah Anisa.
“Anisa! Sekarang Mamah puas, lihat Anisa kaya gini?”
“Kamu mau Mamah hukum kaya Anisa”
“Apa Mamah tahu? Setiap hari Anisa rela panas-panasan, kedinginan Cuma untuk syuting! Bahkan dia rela gak makan sebelum syuting selesai! Apa mamah juga tahu! Kalau Anisa rela buang semua alat lukisnya! Itu semua Anisa lakukan, sepaya Mamah mau menyayangi dia, supaya Mamah bangga sama dia! Tapi apa? Mamah selalu marah-marah sama Anisa, Mamah selalu menjadiakan Anisa seperti boneka!. Sekarang terserah Mamah, Naura udah kehabisan akal, supaya Mamah bisa ngerti!”

lidah Bu Natasya terasa kaku. Hatinya sakit seperti tertusuk pedang yang sangat tajam. Matanya terasa sangat panas, dan tangannya bergetar tak karuan. Bu Natasya terduduk lemas di sofa, kata-kata Naura dan Anisa masih terus terngiang di telinga dan fikirannya.

Tok tok tok
“Anisa, ini Mamah. Mamah mau bicara sama kamu”
“Mamah mau ngapain lagi, Mamah belum puas tampat Anisa? Mamah belum puas Maki Anisa?”
“Gak sayang! Mamah mau minta atas perlakuan Mamah tadi. Izikan Mamah untuk masuk”

Akhirnya setelah di bujuk, Anisa membukakan pintu untuk Mamahnya. Anisa duduk di bibir tempat tidurnya, sedangkan Bu Natasya duduk di sampingnya.

“Maafkan Mamah, Mamah udah buat kamu benci sama Mamah. Mamah selalu memaksakan kehendak Mamah sama kamu. Mamah baru sadar, bahwa kamu tertekan dengan ini semua. Mamah ngelarang kamu menjadi seorang pelukis, bukan tanpa alasan. Papah kamu meninggal dengan hutang yang tidak sedikit. Awalnya, Papah memang seorang pelukis yang terkenal, banyak yang menyanjungnya. Tapi, setelah para pelukis muda bermunculan. Papah mulai tergeser. Semenjak itu, ekonomi keluarga kita sulit. Papah banyak berhutang di mana-mana dan akhirnya Papah meninggal karena serangan jantung. Mamah gak mau kamu seperti Papah”
“Kenapa Mamah gak pernah cerita ini sama Anisa?”
“Mamah gak mau buat kamu kecewa”
“Maafin Anisa, Mah. Anisa benar-benar gak tahu. Anisa janji, mulai sekarang Anisa akan berhenti melukis”
“Gak sayang! Kamu gak perlu berhenti melukis. Bukankah itu cita-cita kamu?”
“Tapi, buat apa Anisa jadi pelukis, kalau Cuma buat Mamah sedih”
“Mamah gak sedih kok! Mamah malah bangga kalau kamu bisa raih cita-cita kamu”
“Oh ya, selamat ya kamu menang. Mamah bangga sama kamu”
“Apa?! Anisa gak salah denger kan? Mamah bangga sama Anisa“
“Enggak, Sayang. Mamah bangga sama kamu”
“Makasih, Mah. Ini adalah Empat Kata Terindah yang Anisa pernah dengar dari Mamah” Anisa memeluk erat tubuh Mamahnya.
“Ya Tuhan, sebegitu kejamkah aku, sampai-sampai anakku sangat senang mendengar kata-kata yang seharusnya sangat mudah aku katakan” Tanpa disadari, Bu Natasya menetaskan air matanya. Anisa melepaskan pelukannya.
“Kenapa Mamah nangis?”
“Enggak kok, Mamah gak kenapa-napa”
“Jangan bohong sama Anisa”
“Gak kok, Mamah gak bohong, Anisa”
“Boleh ikutan gak ya?”
“Gak boleh! Yang bernama Naura gak boleh ikutan!”
“Ih, Anisa jahat banget sih”
“Biarin, wle”
“Anisa! Awas ya kamu”

Naura berlari ke arah Anisa. Lalu, menggelitiki pinggang ramping Anisa. “Hahaha” tawa itu menggema di setiap sudut kamar Anisa. Sore itu, menjadi sore terindah bagi Anisa.

Begitu banyak kata yang mudah kita ucapkan untuk seseorang yang kita sayangi. Dan terkadang kita tak menyadari bahwa kata itu sangat berarti untuknya. Seperti kata “Mamah bangga sama kamu”, empat kata yang sangat berarti bagi Anisa. Bukan hanya Anisa, tapi bagi setiap anak yang ada di dunia. Kata yang simple tapi berarti besar untuk mereka.

TAMAT

Cerpen Karangan: Syarah Wardayanti
Facebook: Syarah Twibi-InsomNisa FromBruno
Nama saya Syarah Wardayanti. saya duduk di kelas XII SMA Negeri 4 Purworejo. hobi saya menuli dan ini salah satu karya saya. semoga kalian suka dengan cerpen buatan saya.. ^_^ Terima Kasih

Cerpen Empat Kata Terindah (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Alpha Centaury B

Oleh:
“Namanya Sirius, dialah yang selalu menemaniku di saat tahun baru dengan sinarnya yang paling terang,” “Kau tahu, letak bintang itu di sebelah mana?” “Kau mengujiku? Sirius ada di rasi

Loves Bloom in Their Heart (Part 2)

Oleh:
“Gimana soalnya?” tanya Fiane. Rizkia dan Fiane sedang berada di kantin karena sekarang jam istirahat. “Gila, beuh! Susahnya minta ampun, deh, Ne! gue akhirnya cuma ngerjain 4 soal kecuali

Luna, Si Anak Pemalu

Oleh:
“Luna!! buku kamu ketinggalan!!” Aku berteriak sambil melambaikan buku catatan bahasa indonesia miliknya. Dia tampak ragu untuk melangkah, tapi akhirnya dia menghampiriku juga. “Terima kasih…” ucapnya sambil menunduk, setelah

Kertas dan Pena

Oleh:
Waktu begitu kejam tak pernah mempedulikan siapa pun, ia terus berjalan tanpa beristirahat barang sedetik saja. Meninggalkan mereka yang lalai. Dan berjalan beriringan dengan mereka yang sangat menghargainya. Tanpa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Empat Kata Terindah (Part 3)”

  1. yeni says:

    gak kuat membendung air mata baca cerpenx sampai nangis . bagussss pkokx

  2. Ani sitompul says:

    Baguuuuuus banget.sampe terharu baca nya.:)

  3. husniatiningsih says:

    Waaaahhhh….. Keren banget ceritanya
    , ngena banget di hati sampe” aiair mata mengalir deras sampe aair mata membentuk anak sungai dan membanjiri kamar, #lebay_tingkat_dewa gkgkgkgk

  4. Dian Kalila sumbogo says:

    It’s very good. Aku suka sama ceritanya. Mengandung amanat baik. Oya, aku Lila kak. Aku juga suka nulis. Dan aku juga dari Purworejo

  5. kairyou says:

    gak kuat bacanya sumpah….meluncur deras airmata ini tanpa diminta . btw ceritanya keren banget kak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *