End of Love Story (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 28 August 2015

Cinta adalah anugerah dari Tuhan. Kita berhak untuk dicintai dan mencintai seseorang. Tapi apakah orang yang kita cintai dan mencintai kita adalah orang yang tepat dan datang di saat yang tepat? Ataukah cinta datang di saat yang tidak tepat?

Aku adalah tipe cewek yang jatuh hati pada pandangan pertama atau kesan pertama. Entah saat perkenalan pertama maupun obrolan pertama. Awal yang lucu dan menyenangkan saat kesan itu hadir dalam hatiku. Saat itu aku sedang mencari komputer yang bisa kugunakan agar dapat bekerja berdekatan dengan teman kantorku karena sedang membuat laporan kegiatan. Komputer teman kantor yang kugunakan rasanya lambat sekali. Akhirnya aku pun menelpon IT perusahaan -helpdesk- untuk mengecek komputer tersebut.

“Mas, komputer ini lambat sekali loadingnya ya? Keberatan file atau gimana sih, tolong dicek dong.” ujarku dengan gaya ceplas-ceplos.
“Oh iyakah Mbak, mana sini saya cek” sahut helpdesk. Sambil komputer diremote obrolan demi obrolan pun terjadi. Kami tertawa-tawa entah apa saja yang kami bicarakan.
“Mbak, mas Iwan mana?” seorang tamu mencari pemilik ruangan.
“Oh lagi keluar mas, saya juga kurang tahu ke mana karena tidak meninggalkan pesan” jawabku.

Pembicaraan di telpon pun berlanjut. Entah mengapa, ada perasaan senang sekali berbicara dengannya dan enggan untuk menutup telpon tersebut. Selang berapa lama, komputer tetap dicek, tiba-tiba tamu tadi nongol lagi di ruangan untuk mengecek apakah mas Iwan sudah kembali ke meja kerjanya atau belum. Langsung saja saya bilang.
“Belum balik juga nih mas Iwannya, coba telpon ke HPnya aja mas.” Mas Aril pun berlalu dan mengatakan,
“oke deh Mbak gak apa-apa.”

Karena teman kerja di sebelah ruangan mendengarku ketawa-ketiwi sambil telpon, dia pun menanyakan sesuatu tentang laporan tersebut dari ruangannya. Ku bilang saja, iya lagi dikerjakan Mbak tapi sambil dicek nih komputernya. Dengan perasaan sedikit kesal dan gak enak akhirnya kuakhiri telpon dengannya. Terbesit dalam hati, wah suaranya lembut sekali dan tenang pasti orangnya baik dan sabar. Timbul juga tanda tanya, tadi waktu di telpon kok dia tidak memutuskan telpon ya padahal kan seorang helpdesk bisa tetap mengerjakan komputer kita tanpa harus ditunggui di telpon. Hemmm, apakah dia memiliki perasaan yang sama ya? Sama-sama senang ngobrol bareng dan asyik aja rasanya.

Hari kerja telah berlalu, aku sudah kembali ke kamar tidurku. Karena itu hari minggu -tepatnya tanggal 29 September- dan aku belum pernah ikut Gereja di lingkunganku sejak ku pindah kerja di lokasi. Aku ingin masuk gereja, kebetulan Deniz rajin masuk Gereja bersama temannya. Bagaimana aku janjiannya sedangkan aku gak punya nomor HP-nya. Hemm, tidak kehabisan akal aku berusaha mencari tahu nomornya lewat teman kantor yang aku punya nomor HP-nya dan berharap dia punya nomor HP Deniz.

“Selamat malam Pak, saya mau tanya. Bapak punya nomor HP Deniz gak ya?” tanyaku dengan sopan.
“Wah saya gak punya nomor HP-nya. Memangnya ada apa? Nanti coba saya carikan kalau dapat saya hubungi balik” lanjut Pak Lexi. Akhirnya saya menyampaikan, kalau saya mau janjian ke Gereja dan saya pun mengucapkan terima kasih untuk mengakhiri pembicaraan telpon tersebut.

Hari itu sebenarnya aku sedang tidak enak badan alias flu berat dan rasanya sedikit demam. Aku pun istirahat saja di kamar. Dan tiba-tiba HP-ku berbunyi dan ketika aku melihat nomor HP tersebut, aku tahu itu adalah nomor Jawa Tengah. Siapa ya pikirku, namun tidak pikir lama aku pun menjawabnya. Tak kuduga ternyata yang menelpon si Deniz, dia menceritakan kalau tadi pas makan malam ketemu dengan pak Lexi dan pak Lexi bilang kalau aku mencari nomor HP-nya.

Dia bertanya “Ada apa Mbak cari saya?” begitu sapaannya padaku karena kebiasaan di kantor memanggil dengan sebutan Mbak atau Mas.
“Mas Deniz, ke Gereja malam ini?” tanyaku dan dia pun menjawab.
“Iya Mbak ke Gereja, Mbak mau ke Gereja juga kah?” Aku terdiam sejenak.
“Mau sih tapi kok gak enak badannya. Lagi pilek berat, takutnya ntar malah bersin-bersin lagi di Gereja. Hehehe.” Lalu dia bertanya, apakah aku sudah makan malam atau belum. Bagaimana mau cari makan, badan lemes males keluar kamar rasanya.
“Loh, Mbak belum maem ya? Mau aku belikan maem? Biasa Mbak pesen di mana maemnya?” Wouw, rasanya seneng banget, baru kenal belum dekat tapi dia sudah perhatian ke aku.

Ya tanpa basa-basi langsung saja ku minta tolong belikan nasi goreng di kafe tempatku biasa beli makan. Dan dia janji akan mengantarnya ke kosku. So aku menunggu saja. “Kok lama sekali ya padahal kan kafe makan tersebut gak jauh dan gak mungkin makan waktu lama deh tapi kenapa lama ya?” Tanyaku dalam hati.

“Mbak, aku sudah di depan kos ya,” akhirnya datang juga karena memang aku sudah lapar dan pengen cepet istirahat, gak enak rasanya kalau lagi sakit. Aku pun bergegas turun menemuinya.
“Terima kasih ya udah mau beliin makan.” Ucapku dan disambung olehnya.
“Iya Mbak sama-sama. Sekarang Mbak maem dan istirahat ya. Cepat sembuh ya Mbak. Aku langsung ke Gereja ya karena sudah jam mulai nih,” karena aku minta tolong belikan otomatis aku menyiapkan uang untuk mengganti uangnya yang terpakai. Dia menolak menerimanya karena mungkin tidak seberapa baginya. Tapi bagiku kalau nitip ya harus ganti dong. Ku paksa aja supaya dia terima. Dan mau gak mau dia terima juga deh uangku dengan jawaban, “ku pakai buat persembahan aja ya Mbak, Oke makasih ya” mengakhiri pembicaan malam itu.

Kesan hari ini menyenangkan sekali rasanya. Untuk kesekian kalinya aku melihat jam hp-ku, mengira-ngira jam pulang gereja dan berharap bisa telponan lagi dengannya. Hihihi tawaku dalam hati, kira-kira pukul 21.30 malam itu aku pun mengirim pesan, menanyakan apakah dia sudah sampai atau belum. Beberapa kali sms-an akhirnya dia telpon, alasannya sih cape ketak-ketik di hp mending langsung telpon jadi bisa ngobrol. Itu adalah malam pertama kita telponan dan berlanjut beberapa hari berturut-turut dan seneng banget deh bisa ngobrol lama.

Malam pertama ngobrol 1-2 jam, lanjut ketiga jam di hari berikutnya dan yang paling heboh hampir 5 jam sampai jam 3 atau 4 subuh kita telponan. Gak nyangka waktunya cepet banget dan obrolan kita benar-benar bermutu tidak hanya ngalur-ngidul gak jelas gitu. Dan dari percakapan itu aku bisa menilai bahwa dia tipe cowok yang tenang, sabar, rendah hati, pengertian dan perhatian juga smart, enak buat jadi teman sharing. Waktu berlalu dengan sangat cepat secepat hubungan kami yang semakin dekat.

Entah kenapa hari itu, 1 Okt aku tiba-tiba merasa sedih karena sesuatu. Kalau jam kerja kami pun masih suka chattingan sambil kerja jadinya hari pun gak terasa. Deniz bisa membuatku tertawa di kala ku sedih saat itu, dia pun bertanya:
“Mbak kenapa? are you ok?”
“no,” jawabku.
“do you mind to share with me?”
“ini aku lagi share dengan kakakku” dan akhirnya kebawa emosi jadi gak sadar nangis beneran.
“be strong ya Mbak.. I know you can. Jangan lupa dibawa dalam doa yah jangan nangis. Sayang air matanya, Mbak yang penting tenangkan pikiran dulu ya Deniz telpon ya”

Karena malu dan tidak enak buat curhat karena itu masih jam kerja juga, ku bilang aja suaraku lagi bindeng. Malam itu pertama kalinya kita keluar bareng naik motor, kita cari makan bareng dan dia mencoba menenangkanku karena masih terbawa perasaan sedih siang itu. Aku pun memberanikan diri untuk sharing tentang apa yang membuatku sedih. Luar biasa, dia sangat tenang, perhatian dan mengerti yang kurasakan meskipun dia belum mengalaminya.
Hubungan pertemanan kami makin intens, ya gimana enggak jam kantor kita kerja sambil chattingan terus kalau malem telponan juga berjam-jam. Pastinya banyak obrolan seru dan mengalir begitu saja seperti siang itu.

“aku lagi seneng nih.. bisa ketemu, jalan dan telponan bareng Deniz.”
“iya Mbak, aku juga seneng bisa dekat sama Mbak. Hehe”
“lucu juga ya kita ini?” sambungku sambil tersenyum.
“lucu apanya coba? Karena bisa akrab gini? Entahlah.. Yang jelas Mbak orangnya enak untuk bisa diajak share limited edition. Serius itu ungkap hati..”
“iya aku suka karena kamu orangnya tenang, lembut, penyayang dan enak buat jadi teman sharing. Dan yang paling ku suka dari hubungan pertemanan kita itu bahwa kita sudah tahu status masing-masing tapi masih bisa mesra -TTM- tanpa embel-embel dan mengerti bahwa gak ada udang di balik batu -pure friendship- tanpa melibatkan hati.”

Rasanya sesuatu deh setelah mengatakannya. Tapi entah kenapa, sejak dekat dengan dia kok aku ngerasa komunikasiku lebih baik, aku jadi bisa lebih terbuka dan jujur untuk semua yang kurasakan jadinya bisa kita omongin deh. Gak biasanya yang susah untuk mengungkapkan sesuatu.

Awalnya komitmen kita hanya berteman saja, ya teman tapi mesra untuk saling menjaga dan menyayangi. Ya ya ya.. itu awalnya tapi benar kata orang. “Witing tresno jalaran soko kulino” awalnya jadi teman, tempat curhat, jalan bareng tapi setelah itu? Apakah masih bisa bertahan seperti itu? Ternyata tidak!!! Hubungan kami semakin intens. Kami sering janjian makan siang, makan malam dan bahkan jalan-jalan bersama di kala kami libur -off duty.
Sebenarnya aku sudah menebak hatinya, masa iya sih berteman tapi kok bisa TTM dan gak mungkin kalau tidak punya perasaan apa-apa. “Ya itu sih ku simpan dalam hati dan sambil berjalan juga akan ketahuan” pikirku.

Hari libur pun tiba. Kami janjian untuk jalan bareng dan janjian ketemu.
“kita mau ke mana Mbak?” tanyanya simple.
“kita jadi nonton bioskop gak? Kan waktu itu kita janjian mau nonton bareng”
“iya boleh juga Mbak, tapi kita maem dulu yuk. Laper nih” sambil tersenyum manis.

Ternyata pilihan tempat makan kita sama, Pizza Hut. Ya sudah lama gak maem di sana. Benar-benar menyenangkan karena itu pertama kalinya kita bisa jalan seharian dari siang sih sampai malam. Habis makan kita langsung ke XXI nonton. Kita nonton berdua aja terus gak tahu kenapa tiba-tiba dia menyentuh tanganku dan dipegangnya erat. Aku hanya menatap saja sambil bertanya dalam hati loh kok gini ya? Katanya teman tapi kenapa dia menggenggam tanganku dengan penuh kasih sayang? Apakah dia memiliki perasaan lebih ya? Wow pertanyaan bertubi-tubi dalam hatiku. Tapi kubiarkan saja sambil menikmati kebersamaan itu film pun selesai dan hari masih sore.

“Kita ke mana lagi nih?” Tanyaku.
“Terserah Mbak aja. Kita jalan-jalan yuk”
“Oke, yuk kita cari tempat nongkrong buat ngobrol.” Dan aku tau satu tempat letaknya di puncak dan viewnya laut. Asyiklah buat nongkrong duaan sambil ngobrol

Setelah kami sampai di tempat itu, ternyata dia suka tempatnya karena udaranya segar dan bisa mandangi laut.
“Deniz, aku boleh tanya sesuatu gak? Sambil mencari kata-kata untuk pertanyaanku karena bingung mau ngomongnya gimana ya? Hemm, yang tadi itu di XXI maksudnya apa ya?”
“yang mana Mbak?”
“hemmm, bergumam sejenak kamu pegang tanganku? MH bukan?”
“MH?? Apa itu Mbak? Sambil mencoba menebak. Dia sebutkan tebakannya sampai akhirnya dia tau MH maksudku ‘Main Hati’. Hem, dengan berat dia pun mengungkapkannya.
“Ya, ku rasa gitu Mbak. Maaf ya Mbak, Mbak gak suka ya?”
“Gak bukan gitu, aku hanya bertanya dan pengen memastikan aja.. apa benar kamu MH. Jujur, aku suka dan senang kita bisa jalan bareng hari ini dan aku juga gak tahu tapi ku rasa perasaanku juga sama.” Obrolan hati ke hati mengalir begitu saja. Dan aku tahu kalau dia tulus mengasihiku.

Tanganku yang terkulai di atas pahaku dipegangnya sambil dia mendekatkan diriku ke pundaknya. Sementara tangannya yang lain memegang kepalaku lalu membelai pipiku. Wajahnya didekatkannya ke wajahku hingga kurasakan bibirnya menyentuh bibirku. Kami berciuman. Aku tak bergerak sama sekali karena shock dengan sikapnya yang tiba-tiba itu. Namun aku menikmatinya. Dan terulang untuk kedua kalinya.

Kami pun terdiam sejenak namun pelukannya tak lepas tetap merangkulku. Kami saling menatap dan tidak tahu harus ngomong apa karena malu dan bingung kok secepat itu. Kami tidak sadar kalau ngobrol sampai malam dan harus pulang. Lucu, pas aku antar dia pulang ke rumahnya. Orangtuanya sudah menunggu di depan rumah sambil ngobrol gitu. Ya aku tahu tata kramalah ya ku sapa orangtuanya.

“Malam om, malam tante” OMG jawab Bapaknya.
“Iya memang ini sudah malam” Kaget dan lucu juga baru kali ini, biasanya juga cowok yang antar cewek pulang tapi ini kebalikannya.
“Saya pamit pulang Om, Tante. Selamat malam.” Aku sih berharap dapat kecupan di kening darinya tapi mana mungkin. Haha ada-ada saja pikiranku.

Besoknya kita janjian keluar bareng lagi. Pokoknya selama off duty itu beberapa kali kita jalan bareng. Kalau tidak bisa ya paling sms-an atau telponan aja. Gila ya kok rasanya cepet banget perasaan ini tapi ku coba untuk jalani dan ikuti kata hati saja. Dia pun begitu ya, meskipun kita sama-sama tahu harusnya kita gak boleh sedekat ini karena kita sudah punya status masing-masing.

Masih di bulan oktober, dia cuti ke luar kota untuk menghadiri wisuda adiknya. Ya karena kota yang dituju adalah kota yang ku suka yaitu jogja. Aku titip oleh-oleh untuk mengobati rinduku pada kota kenangan itu.
Hari itu, hari terakhir bulan oktober ya tanggal 31, oleh-olehku pun tiba di lokasi karena sudah on duty lagi. Seneng banget soalnya orangnya sudah datang lagi. Tapi sayang, hari itu wajahnya terlihat kusut dan cape. Wajarlah pikirku mungkin kecapean karena selama 1 minggu full jalan-jalan mulu di Jogja. Ya sudahlah, dia kembali pun aku sudah senang. Meskipun terlintas dalam pikiranku sepertinya dia habis ketemu dengan teman wanitanya di jogja dan mungkin dia sengaja jaga jarak denganku supaya tidak terlalu dekat dan menimbulkan rasa yang lebih. Ya itulah perasaanku saat itu.

Sore harinya dia sudah kembali ceria dan gak nyangka juga kita pun janjian keluar maem bareng malamnya. Wow! Sesuatu banget rasanya, yang tadinya ku pikir kita bakal jauhan tapi ternyata salah. Malam itu pun kita jalan-jalan dan saling melepas rindu karena lama gak ketemu -hihihi padahal cuma seminggu aja loh gak ketemunya.

Setelah pertemuan malam itu hubungan kami terasa semakin dekat dan melibatkan perasaan masing-masing. Percakapan demi percakapan dan pertanyaan demi pertanyaan pun terlontar dariku dan darinya juga. Sampai suatu malam, malam sebelum dia on duty ke lokasi. Rabu malam tepatnya 20 november, aku menelponnya tapi dia lagi jalan dengan adiknya. Jadi hanya sms-an aja tapi kok rasanya beda ya, aku ngerasa ada yang aneh malam itu. Gak nyangka ternyata malam itu dia bilang kalau hubungan ini tidak bisa diteruskan.

“Kak, aku minta maaf tapi ku rasa kita gak bisa begini terus. Kita harus kembali ke awal komitmen kita kalau kita hanya berteman baik saja -pure friendship- tanpa main hati. Aku gak mau merusak hubungan kakak.” Itu pesan singkatnya yang dikirim melalui sms.

Rasanya seperti disambar petir malam itu. Air mata tak terhankan lagi, OMG kenapa harus seperti ini akhirnya. “Di saat aku ngerasa ada seseorang yang bisa mengerti aku, perhatian dan mengasihiku, komunikasi kita baik tapi kenapa harus diakhiri seperti ini?” Tanyaku dalam hati.
“Den, kenapa kamu tiba-tiba ngomong gitu?” Masih sms-an. Aku tidak tau harus bilang apa karena bener-bener menyakitkan rasa itu.

Gak lama, dia telpon. Aku tahu dia pasti ingin menenangkanku karena dia tahu aku pasti shock. Ya pastilah siapa yang gak shock, lagi seneng-senengnya eh tiba-tiba dia ngomong seperti itu.
Malam itu aku hanya bisa menangis dan menangis terisak sampai mata rasanya bengkak dan lupa kalau besok harus berangkat kerja, dalam keadaan badanku yang lelah karena persiapan kegiatan di kantor juga. Besoknya aku putuskan untuk izin sakit dan hanya mengurung diri di kamar.

Hari itu dia on duty. Aku berharap dia mencariku tapi mana mungkinlah, dia pasti sibuk karena hari pertama on pasti banyak kerjaan. Aku yakin sekali. Aku mencoba untuk tidak menghubunginya tapi hatiku memaksa entah bagaimana caranya. Ya lagi-lagi ada saja alasanku untuk menghubunginya. Dengan terpaksa karena no idea untuk minta tolong belikan obat dan makan siang. Ku bilang kalau dia bawa aja langsung ke kos dan izin ke ibu kos kalau mau jenguk aku lagi sakit.

Tampangku kusut, belum mandi, mata bengkak. Malu sih sebenernya tapi buat apa toh dia juga tahu aku kenapa.
“kak, ini aku bawakan obat. Kak maem dulu ya baru minum obat. Aku tahu kak sebenernya gak sakit beneran tapi pasti karena aku kan?” dia mengelus rambutku dan menghusap punggungku supaya aku tenang.
“gak kok, aku memang sakit. Karena berapa malam ke kantor terus dan pulang malem jadi tepar deh” hatiku berkecamuk. Ingin memeluknya erat ingin marah tapi aku gak sanggup. Aku hanya bisa menahan emosiku untuk tidak memperlihatkan yang sebenarnya. Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan menangis dalam hati.
“kak, aku pulang dulu ya. Soalnya aku juga belum makan dan mau beli makan dulu terus balik kantor lagi. Kakak istirahat ya, cepat sembuh.” Hanya ucapan terima kasih yang bisa ku sampaikan padanya. Dan membiarkannya berlalu pulang.

Hari terus berjalan. Hubungan kami atur agar dapat menjaga jarak dan menetralkan perasaan masing-masing. Tapi itu sulit, gak mudah. Gimana gak, kita masih 1 lokasi yang sama dan schedule juga hampir bersamaan. Ya lagi-lagi dia membuatku tenang, pelan-pelan saja, itulah kata-katanya. Ku bilang padanya, aku gak bisa secepat itu karena aku harus membiasakan diri lagi. Dia mengerti dan mencoba membuat kesepakatan untuk kita jalani bersama agar dapat melewati hari-hari ke depan.

Cerpen Karangan: Denizia
Facebook: www.nodanz13@blogspoot.com

Cerpen End of Love Story (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mencintaimu

Oleh:
Pesta pernikahan seorang anak dari hartawan bernama Rezky Anderson dilangsungkan dengan meriah, namun terlihat pada wajah Rezky dia sangat sedih kenapa dia harus menikah dengan gadis bukan pilihan hatinya.

Selayaknya Kisah Mereka

Oleh:
Satu persatu helaian daun mulai berguguran. Angin seakan begitu bahagia menggoda daun-daun untuk lepas dari belenggu batang agar ikut menari indah sesuai lantunan iramanya. Di negeriku memang tak mengenal

Perjalanan Cinta Singkat

Oleh:
Hari ini, mungkin hari pertamaku sekolah di Jakarta setelah perpindahanku dari Bandung. Meski aku sebenarnya tak berniat untuk pindah sekolah, namun semua ini terpaksa karena urusan kerja OrangTuaku. Ya..

Melepasmu Menuju Kota Palangkaraya

Oleh:
Akhirnya kulepaskan dirimu dengan sederet luka yang menganga. Kamu abaikan aku saat khawatirku menjelma menjadi rindu. Tiba-tiba saja kamu tepis soal aku dari nyatamu. Baiklah, sejauh ini aku kalah

Viana

Oleh:
“Jedddaaarrr…” suara petir memekakkan telinga. Di luar sedang terjadi hujan besar. Langit malam yang biasanya gelap kini mengeluarkan amarahnya, memuntahkan beribu kubik air ke Bumi dan membuat alunan simfoni

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *