End of Love Story (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 28 August 2015

Untuk kedua kalinya setelah putusan nyambung lagi -seperti pacaran aja, kan kami tidak ada komitmen karena status. Hanya TST (tahu sama tahu). Untuk kesekian kalinya juga kami sering janjian untuk keluar bareng entah makan siang atau makan malam.

Hari berlalu dan kenangan demi kenangan pun terukir indah, manis tak ingin dilupakan. Itulah ungkapan hatiku dan berharap hatinya juga begitu . Ya kita gak tahu sampai kapan hubungan ini berlangsung, apakah akan berakhir bahagia atau justru berantakan atau kembali ke awal hanya berteman atau sahabat baik saja. Yang pasti ikuti kata hati saja biar waktu yang menentukan. “Time will tell,” kutipan bahasa temanku.
Tak terasa sudah memasuki bulan Desember, bulan yang dinantikan umat kristiani untuk merayakan Natal dan Tahun Baru. Senangnya bisa libur panjang.

Percakapan chating sore itu:
Me: “Deniz, akhirnya aku selesai juga nonton the encounter. Good film.”
Deniz: “Natal tuker kado yuk”
Me: “ayo aja, kapan?”
Deniz: “ya natal dong. Piye toh mbaknya.”
Me: “hehehe ya kapan ketemunya maksudku?”
Deniz: “hmmm kapan ya. Hehehe setelah tahun baru aja kalau gitu”
Me: “lah tadi katamu natalan. Piye toh mas”
Deniz: “yoi. Tahun baru itu juga termasuk natal”
Me: “hehe iya juga sih. 1 paket ampe tahun baru. Boleh-boleh. Ada syaratnya gak nih?”
Deniz: “apa tuh syaratnya?”
Me: “ya ga tahu. Siapa tahu gak boleh apa gitu. Bebas kan ya?”
Deniz: “iya bebas aja, ada ide? Untuk syarat dan ketentuan”
Me: “hahahaha 1. Bukan makanan, 2. Bermanfaat dan berkesan”
Deniz: “asek. Yipi. Eh kakak natalan ke mana? Aku main ke rumah ya?”
Me: “belum tahu nih ke mana, masih bingung. Antara di rumah aja atau ke rumah orangtua.” Dalam hati sih berharapnya di rumah aja supaya dia bisa main ke rumah.

Senang deh tiap hari kalau kita sama-sama on duty bisa ngobrol dan saling menghibur bahkan suka iseng. Bulan desember jadwal kami tidak teratur terutama aku ya karena tukar-tukaran schedule biar bisa libur natal tahun baru di rumah. Sedangkan jadwalnya tetap sama hanya izin berapa hari saja pas Natalnya.
Wah, gak terasa sudah mendekati off tanggal 20 desember. Ingat rencana tukaran kado itu karena natal sampai tahun baru aku jadi ke luar kota, jadi ku beli saja kado natal untuknya di Gramedia. Aku tahu dia suka baca, dia koleksi beberapa buku karya Anthony Robbins yang berjudul “Awaken The Giant Within” dan “Ikuti Kata Hatimu” karya Andrew Matthews.

Aku penasaran tentang isinya. So ku cari tahu ke Gramedia, wah ternyata memang bagus bukunya. Sangat inspiratif dan motivator juga. Jadi bingung mau belikan buku yang mana untuknya. Setelah hunting dan baca-baca akhirnya ku putuskan untuk membeli 2 buku sekaligus. Judulnya “Trust Works” karya Ken Blanchard yang Inspirasional dan Spiritualitas dan Buku berjudul “Kalau Sakit, Bukan Cinta karya Chuck Spezzano, Ph.D.
Bukunya ku bawa saat on duty, dan rencana akan kuberikan pas mau off dengan syarat kadonya gak boleh dibuka dulu sampai natal atau tahun baru nanti. Aku tahu sih kalau dia belum membelikanku kado pasti bingung mau belikan apa.
Natal dan Tahun baru pun berlalu dengan berkesan. Saatnya tiba kembali ke kotaku dan kembali ke lokasi untuk bekerja.

Terbesit dalam hati, apakah harus mengakhiri kisahku cukup tahun itu saja. Dan aku fokus dengan hubunganku. Aku harus bisa menetralkan hatiku dan ingin rasanya benar-benar netral tanpa perasaan cinta untuknya. Ingin rasanya hanya sebagai teman, sahabat baik, adik Kakak yang tetap saling perhatian dan kasih yang tulus. Hal itu gak mudah, logika bisa berpikir demikian tapi hati dan perasaan sulit untuk dikendalikan. Meskipun selama dekat dengannya tidak selamanya aku mengikuti perasaanku saja tetapi terkadang dalam suatu hal aku tetap memikirkan segala sesuatunya, bagaimana menjaga hubungan baik ini tetap jalan tanpa merusak hubungan kami yang lain.

Terbesit begitu banyak pertanyaan dalam hati yang belum kutemukan jawabannya. Dan tak tahu apakah aku akan mendapatkan jawabannya tepat waktu ataukan sampai berlalunya hubungan ini tak kudapatkan hanya bisa bertanya dalam hati. Sehari lagi aku akan mengakhiri masa liburanku dan segera kembali ke kotaku, kami janjian by sms untuk ketemuan lagi. Kami sudah saling merindu satu sama lain dan ingin segera bertemu untuk melepas rindu. Ya, seperti biasa kami janjian di tempat biasa ketemu untuk jalan bareng. Makan bareng, ngobrol ketawa-ketiwi berdua menikmati kebersamaan bersama.

“Kakak aku kangen” kata yang terucap dengan senyum manisnya yang kusuka. Kami pun berpelukan.
“iya aku juga kangen tahu rasanya lama banget kita gak ketemu” Pelukan hangat yang kurasakan begitupun dia. Kecupan kening dan bibirnya menambah gairah pertemuan hari itu. Rasanya ingin sekali selalu berada dalam pelukannya, dibelai lembut olehnya dimanjakan. Ingin melayang tinggi bersama khayalan yang ku tahu itu tak mungkin terjadi.

Pukul menunjuKakakan pukul 4 sore, artinya harus segera pulang. Karena kalau kami jalan bareng jam pulang kami pasti jam 4 atau 5 sore.
“wah udah sore aja nih rasanya males pulang deh. Masih pengen berduaan. Bisa gak sih waktunya berhenti berdetak?” tanyaku
“iya eh kak, kok cepet banget ya rasanya. Padahal baru ketemu juga tapi ya sudah gak apa-apa, masih ada hari lain toh.” Gaya bicaranya yang kalem dan terkadang terdengar manja, penuh ketenangan dan kasih sayang.

Oh iya, dia kan belum kasih aku kado natal tahun baru ya, apa dia lupa ya. Ah gak mungkin lupa deh, paling juga belum beli karena bingung mau beliin apa. Kok jadi penasaran dan gak sabar ya. Masa liburan telah habis dan tanggung jawab pun harus segera dilaksanakan. Besok aku harus naik lokasi. Tapi seneng dengan semangat tahun baru akan ketemu orang-orang kantor lagi. Lumayan banyak bawaan nih, oleh-oleh buat teman-teman kerja.
Biasanya aku kerja sekitar 2 minggu saja tapi kali ini 3 minggu. Wow gak kebayang deh rasanya gimana tuh. Tapi ya mau gimana lagi, harus dijalani toh kemarin-kemarin kan juga sudah libur panjang juga. So enjoy working ajalah pikirku menyemangati diri sendiri.

January hampir berlalu dengan penuh kesan. Ya seperti biasa selalu saja ada hal baru dan cerita baru yang membuat hidupku lebih berwarna seperti warna pelangi sehabis hujan. Kutapaki bulan February dengan harapan lebih baik dari bulan sebelumnya. Yah meskipun ada masalah yang kuhadapi tapi aku mencoba menutupinya dan berusaha terlihat ceria selalu. Dan benar, beberapa orang di lokasi pernah menyampaikannya kalau aku terlihat ceria seperti tidak punya masalah. Tawaku terbahak-bahak, ya aku bersyukur artinya aku bisa menjadi semangat untuk orang lain.

Ketika kita bersemangat otomatis orang yang melihat kita pun akan ikut bersemangat. Bahkan anehnya lagi Bosku komentar, dia bilang “Kamu sakit kok malah ketawa-ketawa sih mbak?” Ya jawabku “ya masa aku harus nangis mas, ketawa ajalah biar gak berasa sakitnya. Nangisnya mah di kamar aja cukup, masa di kantor. Gak lucu kan” Bosku membalas dengan senyuman dan kata “iya, ya”

Bulan february ini sepertinya pertemuan kami tidak se-intens sebelumnya ya tapi sih chating, telponan gak pernah absen. Itu aja kurasa cukup, aku senang bisa cerita apa aja begitupun dia sangat terbuka denganku. Kita bisa membicarakan banyak hal dan bertukar pengalaman hidup terutama masa saat kuliah dulu. Menyenangkan sekali rasanya mengingat masa itu, seakan ingin membawa kembali ke masa itu dan mengukir kenangan lainnya.

Itulah yang selalu kurasakan tentang dirinya. Aku memang butuh teman sepertinya. Teman dimana dia bisa memberikan perhatian dan kasih sayang yang kita butuhkan terlebih pengertian akan apa yang kita alami. Aku bersyukur sekali bisa mengenal sosoknya dengan kepribadiannya yang menarik. Aku tidak melihat secara fisik saja tapi lebih kepada kepribadian, sikap dan karakternya. Dan kurasa baru kali ini aku menemukan sosok laki-laki muda yang punya motivasi dan passion terhadap dirinya untuk pengembangan dirinya dia selalu belajar dan belajar agar dapat membentuk karakter yang matang, baik dan bijaksana serta selalu rendah hati. Bagaimana denganku? Apa yang dia pikirkan tentang diriku ya? Wah senangnya besok mau day off tidak sengaja or direncanakan juga akhirnya off bareng.

Chating:
Me: “de, aku kemungkinan extend deh gak jadi pulang Rabu ini.”
Deniz: “loh kok bisa kak gak jadi pulang?”
Me: “ya bisa dong. kan nungguin kamu pulangnya. Hehehe”
Deniz: “asyik iya po? Kok bisa?”
Me: “ya bisa aja dong hehehe ya gak karena kamu juga kali, B2B-ku masih ada urusan jadi ku minta selesaikan aja dulu kalau sudah beres baru ke lokasi gak apa-apa. Tapi masalahnya transportasinya penuh buat besok. Uhhh nyebelin deh.”
Deniz: “lah kan bisa di atur tuh dipindahin yang nama lain ke jam berikutnya. Hahaha”
Me: “yeee. Kalau bisa sih mau aja gitu. Ya sudah lihat nanti deh. Tapi kalau gak bisa, kamu mundur ya pulangnya bareng aku?”
Deniz: “gak bisa, kan orang rumah tahunya selalu pulang jam segitu. Nanti kalau ditanya aku bilang apa?”
Me: “oh gitu ya. ya sudah lihat besok aja gimana?” ingin rasanya nyamber, kenapa gak bisa sih. Selama ini perasaan aku selalu bisa-bisa aja. Tiap kamu request aku bisa ngaturnya. Tapi kenapa sekarang kamu gak bisa. Tapi sudahlah pikirku. Gak berhak juga aku maksa untuk nuruti mauku.
Deniz: “iya kak, mudahan dapat seat ya besok.”

Tiba harinya, akhirnya off juga. Wah kalau mau off tuh rasanya seneng banget deh. Setelah lelah bekerja, saatnya istirahat dan refreshing. Setelah tiba di rumah masing-masing kami tetap komunikasi. Sms, telpon dan juga whatsapp. Jujur beberapa hari ini aku sempat berpikir dan berpikir entah kenapa ada yang mengganjal hatiku. Logika berbicara dan mengajakku untuk menentukan hubungan kami. Logika bertanya, sampai kapan mau seperti ini terus. Sampai kapan jalani cinta ini sedangkan ada cinta lain yang selalu setia. Logika bertanya, apa sebenarnya yang dia pikirkan tentang hubungan ini.

Apa yang sebenarnya dia inginkan dari hubungan ini. Karena menurutku setiap seseorang menjalin hubungan pasti punya tujuan. Bisa banyak alasan untuk itu. Apakah hanya untuk “Just for fun”, “Serius sampai ke pelaminan” atau “Serius menjalaninya dan biarkan waktu yang akan menjawab” ibarat cinta tak berujung. Logika terus bertanya, dan aku berpikir keras untuk mencoba menjawab pertanyaan itu. Apakah ini waktunya aku harus mengakhiri hubungan ini? Ataukah berlaku “Kau yang memulai, kau yang mengakhiri” Apakah aku siap untuk melepas hubungan ini yang kurasa nyaman di antara ketidaknyaman ini. Apakah aku yang lebih baik memutuskannya ataukah aku menunggu dia yang menyampaikannya.

Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan. Aku tahu semua ini salah. Aku hanya bisa berserah dan mohon petunjuk. Kalau pun memang harus diakhiri aku berharap aku siap dan kuat melepas perasaan ini yang terasa mendalam. Logika menegurku untuk berbuat sesuatu. Dan benar logikaku terus membuatku berpikir sampai akhirnya.

Hari ini aku ingin menghabiskan hari menghirup udara bebas di luar sana. Pengen ke pantai dan berjemur, pengen santai sejenak menghilangkan kepenatan Pengennya sih pergi sendiri aja supaya bisa sekalian merenung dan berdiam diri menyatu dengan alam. Mencari inspirasi untuk menjalani hari lebih baik. Tapi kalau aku pergi sendiri, masa iya sih aku jalan sendiri kan pantainya lumayan jauh. Senekad-nekadnya aku yang suka jalan sendiri tapi kok hari itu was-was juga. Perasaan yang aneh.

Me : “Hai hai lagi ngapain? Plan hari ini apa?.” tanyaku melalui sms.
Deniz : “di rumah aja ka, fokus dengan Project. Kakak mau ke mana?”
Me: “Aku pengen keluar sih, pengen menghirup udara segar bersantai.”
Deniz: “ke mana tuh? Pantai dong?”
Me: “yup bener banget, aku pengen ke pantai. Mau nemenin?”
Deniz: “hmm, jangan hari ini ya besok Selasa aja ku temenin”.
Me: “gitu ya? Ya sudah deh besok aja kalau gitu. Nanti kita janjian ketemu di mana?”
Deniz: “gampanglah itu kak”
Me: “oke deh see you tomorrow.”

Malam pun tiba. Tiba-tiba handphoneku berbunyi, nada whatsapp masuk. Pas ku baca ternyata dari Deniz. Dia bilang kalau dia sedih soalnya motor dipake Kakak iparnya kerja. Padahal pengen banget ketemu aku. Ya aku sih malah senang kalau emang dia gak bawa motor, jadi aku bisa jemput dia di rumahnya. “oke kalau gitu besok ku jemput di taman aja ya”
“okee kak, siippp,” jawaban singkatnya.

Pagi ini bangunku pagi dan karena masih ada urusan penting jadinya aku keluar rumah lebih awal. Kalau jalannya lebih pagi kan aku bisa berjemur matahari masih sehat, kalau udah kesiangan bukan berjemur untuk sehat tapi malah gosong dan sakit kepala deh. “Haha” tawa dalam hati.

Wah asiknya ya kita bisa ke pantai. Gila, udah lama banget aku gak ke pantai sini. Gak tahu deh udah berapa tahun pokoknya lama deh. So excited berubah banget ya pantainya sekarang. Wah keren nih, lebih bersih dan rapi. Ada pondokan dan bangku panjang dekat pantai di bawah pepohonan cemara yang menjulang tinggi membuat suasana semakin adem dan nyaman untuk bersantai. Gak pake lama, langsung keluar mobil dan mindahin bangkunya ke dekat pantai dan berjemur ria. Sayangnya sih bentuk kursinya itu gak seperti kursi di kolam renang gitu or di pantai di Bali sana yang ada sandarannya untuk bersantai.

Tapi ya sudahlah nikmati saja matahari pagi. Dia menemaniku, merangkulku dari belakang sambil sesekali membelai rambutku yang mulai panjang. So sweet kami tertawa dan terlihat bahagia. Bisa pergi berdua, menikmati indahnya alam ciptaan-Nya, menghirup udara pantai dan suasana yang nyaman.

Yang, itulah panggilan sayangku untuknya. Dengan berat ku coba ungkapkan.
“sampai kapan kita seperti ini? Sampai kapan kita bisa bersama seperti ini? menghela napas panjang.
“hemm, kita ngobrol di mobil aja yuk” ajakannya padaku. Dia menggandengku masuk mobil.

Ku tatap wajahnya dan kuulang pertanyaanku kembali.
“yang, sampai kapan kita seperti ini?” Jawabnya dengan wajah yang tidak biasa.
“menurut Kakak sampai kapan?”
“lah kan aku yang nanya, ya jawab aja. Apa sebenernya maumu yang? Apa yang kamu inginkan dari hubungan kita?” suasana hening sejenak. Dia diam sejenak.
“ya aku juga gak tahu ka sampai kapan” sambil tetap ku tatap wajahnya.

Aku ingin melihat reaksi dan mimik wajahnya atas pertanyaanku. Aku pun menjelaskan, setiap seorang menjalin hubungan pasti punya sesuatu yang diharapkan. Dan kamu masa gak punya harapan atas hubungan ini? Menurutmu kenapa aku mau sama kamu, kenapa aku mau jalan dengan kamu? Coba jawab menurutmu kenapa.

“kenapa kak? ayo bilang ke aku kenapa” karena ikuti perasaan dan hati Kakak ya?
“ya, itu juga. Sejak aku ketemu kamu, aku ngerasa nyaman dan senang karena kamu begitu perhatian dan pengertian. Aku biarkan hati dan perasaanku mengalir. Tapi kamu kan tahu statusku. Pasti ada sesuatu yang bisa membuatku mendua begini. Ya gak?”

Aku pun berusaha menjelaskan yang sebenarnya meskipun tidak semuanya juga kuceritakan. Aku merasa tertekan dan selama itu juga aku berusaha menutupinya dari siapapun meskipun mungkin keluargaku mengetahuinya. Hidup itu adalah pilihan dan kita harus konsisten untuk menjalaninya. Aku membuat hubunganku dengannya kelihatan baik-baik saja sehingga dia berpikir tidak ada masalah yang berarti. Biarlah ku pendam rasa ini dan semua berjalan saja. Time will tell.

“Kak, aku mau nanya balik ke Kakak. Merurut Kakak sampai kapan? Kakak maunya seperti apa?”
Yang ku suka darinya dia selalu terbuka dan ingin semua dikomunikasikan. Betul, komunikasi adalah kunci suatu hubungan sukses dan aku belajar darinya untuk terbuka dan jujur pada diri sendiri dan jujur pada pasangan kita.

“Aku juga gak tahu. Kau yang mulai, kau yang mengakhiri. Kamu bilang aja kapan dan aku akan siap menerimanya” Terdengar sangat tegar ketika ku ucapkan kalimat itu. Padahal dalam hati berkecamuk.
Suasana terasa menyedihkan, “Memangnya Kakak gak sedihkah? Kakak bisa terima?” suaranya yang lirih dan terdengar sedih.
“Pasti sedihlah yang, aku pasti sedih dan gak tahu deh gimana nantinya. Seperti kamu pernah bilang, cepat atau lambat ini akan berakhir. Jadi suka atau tidak, mau atau tidak harus terima. Iya kan?” Huft.

Ingin ku ungkap inginku tapi mulutku terkunci tak dapat terucap. Aku punya jawaban atas pertanyaan yang kuajukan itu. Aku pengen kita tetap seperti ini sampai bulan September nanti. Paling tidak sebelum itu kita sudah bisa jaga jarak, dan aku janji setelah bulan itu aku akan fokus dengan hubunganku. Otomatis aku akan bisa melupakanmu, bukan melupakanmu tetapi menghilangkan perasaan suka dan cinta kepadamu. Hanya ingin menyisakan kasih sayang yang tulus sebagai sahabat dan adik-Kakak saja. Karena sampai kapanpun aku gak akan bisa lupa tentang kita dan semua cerita cinta kita, semua kenangan hari-hari kebersamaan kita. Hemmm, menghela napas panjang. Seandainya aku dapat mengungkapkan semua itu. Agar dia mengerti dan menerimanya.

“Kita lihat aja nanti ya kak, sementara jalanin aja dulu Oke”
“Wah udah siang nih, udah laper. Kita cari makan yuk Kakak” tapi jangan di sini ya makanannya gak enak. Kita cari tempat lain aja.
“Oke= kita keluar aja ya. Aku pengen ke resto pantai keren tempat dan viewnya, makanannya juga ok rasanya. Tapi aku gak tahu deh masih ada gak ya restonya secara udah bertahun-tahun gak pernah ke sana lagi. Cuma sekali aja dulu bareng temen”

Makan siang telat padahal gak sarapan juga tadi pagi, tapi sudahlah gak apa-apa. Gak terasa sudah sore .
“Habis maem aku antar kamu pulang ya, biar gak kesorean juga aku pulang rumahnya”
“oke kak” jawabnya.

Cerpen Karangan: Denizia
Blog: www.nodanz13@blogspoot.com

Cerpen End of Love Story (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Yang Kini di Hatiku

Oleh:
Namaku Tanti, begitu populernya nama ini di kalangan kakak kelas dan adek kelas. Aku seorang anggota Osis dan atlet, banyak cowok yang menyatakan cintanya, namun aku ini seorang yang

Seribu Tahun

Oleh:
“Non. Non Kiran, bangun Non! Sudah jam 7, Mas Bian sudah jemput ada di bawah,” suara Bi Yuki membangunkanku pagi itu. “Iya Bi, aku bangun, bilang Bian tunggu setengah

Menanti Karel

Oleh:
Weekend.. yeay! gak ada yang spesial juga sih buat gue, mau weekend, weekday sama aja. Sabtu ini bingung gue mau ngapain dan ke mana. Berhubung kemaren gue kesel sama

Sehangat Serabi Solo

Oleh:
Pasar Klewer. Huh, kenapa siang-kerontang begini aku malah kemari? Mengendarai motor matic-ku yang seakan menderu lelah mengantarkanku kesana-kemari di bawah terik matahari? Ohya, benar. Aku kemari karena kakakku. Ia

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Aku mempunyai orang teman yang berinisial A dia adalah seorang cowok yang sangat tampan di kelas ku ya itu menurut ku tetapi entah apa menurut orang lain yang menilai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *