Entah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 February 2017

Sesaat, aku keluar dari kelasku yang suntuk dan bengap serta lembap. Disambut oleh pucat kelum senyumnya, depan kelasku yang gersang. Dua setengah detik, mataku berpapasan dengan punyanya. Aku tertegun padam, dia keras berpikir, mencoba mengingat namaku, begitulah kelihatannya. Seketika itu pula, “Halo!”, tiba-tiba sekata sapaan itu terucap dari bibirnya. Gak bisa lagi aku berbuat, setelah dia langsung melenggang sambil menggandeng teman terbaik seplanetnya. Begitu dengan rok putih panjangku yang terkembang diterjang angin siang buta. Kerudungku juga menganyun lembut mengikuti semangat angin pagi. Guru belum datang, aku pergi ke belakang sekolah yang ada tamannya. Sambil sesekali melihat langit. Sekolah, pagi-pagi begini, memang adalah suatu tempat selalu sibuk. Koridor, dipenuhi pancaran sinar matahari, itu membuatku agak tenang melihatnya. Entah, aku ingin jadi koridor yang disinari oleh sinar matahari itu…

Mungkin, kakiku ini sedang ingin mencari suasana angin pagi. Tapi, kakiku malah membawaku ke tempat dimana aku melihat cewek itu tadi. Bodoh memang, aku berputar mengelilingi isi sekolah, dan pada akhirnya aku kembali lagi ke tempat ini. Mungkin inilah gambaran hidup. Apa hidup akan selalu begini?. Berputar-putar seperti ini?.

“Kecepatan bunga sakura yang gugur, 5 centimeter per sekon…”, satu kalimat dari anime 5 Centimeter per Second yang selalu kuingat. Ya, mungkin dengan endingnya yang menggantung, itu telah sukses membuatku gak tidur semalaman buat mengulang-ulang film itu dan berharap akan ada kisah yang manis di hilir aliran ceritanya. Film itu rasanya seperti ironi, buat kita yang selalu tak tepat waktu. Berulang-ulang, dan selalu berulang-ulang, itu hidup. Selalu ada kesempatan buat memperbaiki masalah. Tapi entah, bagaimana bisa aku hidup dalam ke-“berulang-ulang”-an ini tanpa menyelesaikan masalahku.

Lihat, hari telah berulang. Matahari kembali mengulang sinarnya yang tak kalah terik dari kemarin. Dia bagai menghukumku yang selalu tertarik jatuh dalam lubang yang sama. Satu lagi yang terulang, gadis itu kembali menyapaku. Dengan tatapan, dan aura wajah yang sama seperti kemarin. Dan tentunya dengan ucapan yang sama, “Halo!”, dan orang yang di sampingnya juga sama pula. Siapakah dia ini?. Aku mengetahui namanya. Tapi gak pernah tahu sisi bagian terdalam darinya. Rambutnya yang panjang, hitam terurai, lurus dengan sedikit ikal tertata. Mata sipit, hidung mancung serta kulit wajah dan tubuhnya yang kemerahan, serta suaranya yang agak terdengar cempreng dibuat-buat. Selalu lima detik dan hanya lima detik yang dia butuhkan buat menyapaku. Aku juga heran, dia selalu menyapaku, aku juga tentu masih sempat membalasnya pada “5 detik itu”. Tapi entah, sejauh ini, aku belum pernah ngobrol 5 menit pun dengan dia. Hanya bertegur sapa, dengan membawa orang yang sama di hadapanku. Cewek itu, kelasnya tepat di sebelah kelasku. Kami berjurusan yang sama, IPA, yang sekarang jadi Matematika dan IPA, sejak penerapan kurikulum baru. Aku sering melihatnya menari-nari mengelilingi pohon yang ada di pertengahan kelas kami. Ah, sambil bermain biola juga, aku selalu melihatnya. Tapi sekali lagi, dalam waktu 5 detik.

Dia pergi melenggang ringan sambil menggandeng temannya. Mereka tampak merencanakan ingin pergi ke suatu tempat. Si temannya memegang perutnya dengan muka yang agak meringis memohon sambil tertawa. Kantin yang ramai itu, pasti tujuan mereka. Mungkin kebersamaan merekalah yang bikin aku selalu tertarik dengan cewek itu dan juga sekaligus ingin seperti dia, punya orang yang selalu ada di sampingnya. Di belakang, aku terus menatapi ke-lenggang ringan-an mereka yang mulai jauh disana. Samar-samar suara tawa mereka masih kudengar menggema di telingaku, tanda mereka sungguh bahagia. Melihat langit biru yang ditemani pancaran putih sinar mentari ini, aku mengangkat tangan kananku ke udara. Menggapai daun-daun jambu yang bertaburan mengelilingi badanku. Aku rasakan hawa pagi yang sunyi, tanpa seorang teman di sisi. Dengan zona nyaman yang tercipta, ini sudah membawaku pada kebahagiaan masa sekolah. “Biarkan aku menikmatinya, 5 menit yang pendek saja…”, begitu hati ini memohon, berbisik.

Menutup mata, merasakan angin membelai, merasakan sinar matahari yang menyinari, irama langit dan bumi yang berdentang beriringan. Oh, kenikamatanku terganggu, mata tajam itu, badan yang terasa dingin dan beku itu. Dia menatap dengan misterius, itu sebuah ancaman buatku?. Apa bukan?. Apa dia iri?. Apa bukan?. Pertanyaan-pertanyaan yang bodoh ini mengucur deras saat aku menyadari dia ada di sana. Siapa?. Tunggu, lambang itu!. Murid SMA lain, di negeri ini, gak ada seragam begitu. Seragam blazer hitam dan celana panjang kotak-kotak biru itu, dan dasi yang tentu saja sewarna dan sepola dengan celananya, memperbeku dirinya, kurasa. Matanya merah membara, tapi aku gak bisa merasakan aura yang harusnya panas layaknya api di sini. Hanya es, kebekuan dalam sorot matanya. Hiii.. aku mulai bergeming. Takut. Gelisah. Langsung kuturunkan tanganku, seseketika itu saja. Krkrkrkrkrrk… Tatapan itu seketika membuat suasana hangat matahari jadi berubah, jadi membeku. Dan dia?. Siapa?. Akan datang 5 detik lagi?.

“Hm, you (baca: yo-o), aku Oyuji. Pindahan, murid baru. Tidak ada teman. Fliz (freeze), itu julukan teraneh yang kudapat selama hidup.”, Shhh.. “es”-nya perlahan meleleh, membaur dengan udara. Hei, Fliz?. Apa itu?. Julukan apa itu?. Darimana mereka bisa menamakannya begitu?. Ah, yang penting, “es”-nya sudah meleleh dan melebur, setidaknya, aku bisa merasakan aku dapat “membaur” dengan orang ini.
“Hi, aku Retari. Re-ta-ri. Semua orang mengira aku Jepang. Tidak, jangan percaya itu, aku orang sini, orang Indonesia tulen. Kelas XII IPA 2, di sini.” Sambil menunjuk kelas dengan ibu jariku. Dengan sekelumat senyum, kuharap, “manusia es” ini bisa melelehkan dan meleburkan suasana. Dari ujung rambut sampai kakinya, ternyata masih beku. Kosongnya tatapan itu, gak ada makna. Harus sedingin ini kah saat kita jadi murid baru?. Aku gak tahu, karena gak pernah merasa hal itu.
“Hm, you, omong-omong juga, aku dipindahkan di kelasmu. Aku di sini sampai lulus nanti. Oh you, aku Jepang, Tokyo kota lahirku. Sou, dozo (Jadi, mohon bantuannya)”. Hah?, seketika terperangahlah aku. Dia betulan Jepang, ternyata!. Eh iya, ya, tadi namanya Oyuji. O… yuuu.. jiii, aku tahu itu kata Jepang. Apa arti namanya, ya?. Aku sendiri gak tahu arti namaku yang ke-Jepang-an ini. Dan, aku gak tau arti dari “Sou, dozo” yang dia bilang tadi. Tambahan kata “you” dalam setiap ucapannya juga aneh. Serta pelafalan bahasa Indonesianya juga kurang jelas, namun bagus untuk seorang Jepang seperti dia. Hrrrr…, orang ini. Perlahan dua lutut kakiku merapat, tanganku menggenggam depan dada, bergetar-getar. Apa lagi ini?.
“Ha, you. Kamu kenapa?”, memiringkan kepala ke kiri, dia mengentengkan ucapannya. Seenteng apapun itu, matanya berat dan bervolume tetap, hawa merah matanya tetap dingin. Kilatan api yang ada di sorot matanya, berhasil dibekukan oleh kedinginan sikapnya. Dia membuka kepalan tangannya dan mengarahkan padaku. Tangannya memanjang tiap detik, dia mengarah badanku. Memincingkan matanya, apa yang harus aku lakukan?. Aku masih bergetar, takut jelas adanya. Aku kaget saat aku gak merasakan sentuhan. Tapi, aku merasa ujung kerudungku terasa ditarik. Yep, dia menarik ujung kerudungku yang tergerai sampai pinggang. Perlahan, dia mengusap-usapnya dengan jari telunjuk dan ibu jari kanannya. Aku berpaling ke kanan tersipu malu. Orang iniii… Kenapa sih?. Begitu suasananya, berlangsung 5 detik. Tepat perkiraanku.

“Sou (jadi), you, aku belum lihat penutup kepala yang ‘setipis’dan sepanjang ini. Di negeriku sana, gak ada yang seperti ini. Apa namanya?.” Haaaa.. benar juga, ya. Negaranya banyak orang-orang sinkreatisme, membenarkan segala agama. Orang muslim sedikit di sana. Wajarlah dia gak tau. Tapi, dia terus-terusan menarik ujung kerudungku dan menghadapkannya di depan kedua matanya. Aku harus maju langkah demi langkah, supaya kerudungku gak kusut dan rusak. Sesekali menunjuknya dengan jari kecil si telunjuk tangan kiriku.
“Namanya kerudung, tanda seorang muslim perempuan..”, Senyum lagi, aku gak lihat wajahnya berubah sedikitpun setelah aku senyum. Dia gak senyum padaku memang, tapi setidaknya, sekarang aku merasa tenang, ada orang “di sisiku” walaupun cuma 5 menit seminggu “bersama”. Pipinya agak merona, sedikit merah. “Es”-nya hampir meleleh, tapi dia tetap tahan. Dia gak mau kalah dengan susana hangat ini. Mempertahankan dinginnya. Langsung secara spontan dan perlahan dia jatuhkan tangan kanannya yang tadi memegang ujung kerudungku. Aku memiringkan kepala ke kiri, bingung meluap. Apa jangan-jangan dia pernah membaca buku agama, ya?. Apa dia heran?. Atau apa?. Mengalir lagi, pertanyaan tentang orang ini, sama seperti saat aku bertemu cewek itu.
“Hm, ah.. you.. Ayo ke kelas, bantu aku memperkenalkan diri, ya!”. Ya, setipis senyumnya, secepat aku mengirinya berjalan beberapa meter untuk ke kelas. Secepat kilat itu pula, orang-orang yang melihat kami sama-sama, kaget. Kenapa?. Karena wajah orang yang di sebelahku ini asing, bagi mereka. Dan secepat itu pula, salah satu temanku, Muri, mendekatiku saat kami bersama. Aku cuma mengkode dia bahwa dia yang ada di sampingku ini, murid baru, dan untuk kelas kami sampai lulus nanti. Dengan sedikit anggukan. Sekilat itu pula, Muri melangkahkan kakinya, langsung melesat ke kelas dengan rok yang bergoyang, dan rambutnya yang naik turun. Kaget. Pasti dia melaporkan ke anak-anak di kelas. Hhhh, aku gak pusing. Hari ini, aku punya tanggung jawab sebagai tour guide buat seorang “wisatawan” Jepang ini. Dan siap, mengenalkan dia pada kondisi dalam sekolah ini, lebih jauh…

“Waahh, murid baru!. Murid baru!. Bola matanya warna merah!!!. MURID BARU!!”. Ricuhnya kelaskuuu.. Kelas ini diisi oleh 46 ekor anak “kecil”, dan 92 pasang mata norak sekaligus bahagia yang menyorot. Mata merah anak ini jadi perhatian. Ah, aku tahu apa yang mereka syukurkan saat ini. Semengejutkan itu buat mereka, ya, aku juga sih. Bicara dengan orang bermata biru murni saja belum pernah. Terlebih sorot mata merah membara yang seperti ini. Pertama kali seumur hidupku, loh. Rambut Jepangnya yang berwarna kecoklatan dibawa semilir angin semangat pagi ini. Wajahnya tetap dingin dan “es”-nya juga belum mencair, yang penting, dia berhasil melangkah sedikit maju untuk melewati hari pertamanya di sini, sekarang. Semuanya tampak riang dan senang, apa harus kukenalkan dia pada semua?. Atau membiarkan dia perkenalkan dirinya sendiri. Tatapan matanya, meyakinkan kalo mungkiinn… Aku harus memperkenalkannya.

Perlahan, kubuka kebahagiaan kelas kami yang sederhana ini, dengan kehadirannya. Yang pasti setahun kedepan, dia akan memperamai suasana dalam bilik kelas sederhana ini.
“Jadiii.. Namanya Oyuji. Dia dari Jepang, baru pindah di sekolah ini tadi.”, Semua orang di kelas kami tampaknya begitu bahagia saat mengetahui kalo Oyuji ini Jepang. Ya ampun, lihat, satu per satu ekor dari mereka langsung mengerubungi kami, ah, lebih tepatnya Oyuji sih. Lontaran pertanyaan memenuhi atmosfer kelas. Sesak, dari sini bisa aku rasa jelas. Tanganku mengepal di depan dada untuk berlindung. Mata-mata yang norak (entah juga kalau kagum) menyatukan pandangan ke Oyuji yang cuma menunduk ke bawah. Hei, bukannya tadi dia tersenyum tipis?. Lima detik lagi, yang dibutuhkan mereka buat menyadari. Mereka merasa bersalah, karena sudah melakukan hal yang bisa dibilang bodoh itu. Atau apa?.

“Hm, you. Anoo.. Aku kurang suka dikerubungi. Aku suka comfort zone.”, Kleeerrkk.. “es”-nya mulai menjalar menjamah seluruh permukaan di kelas ini. Merambat di dinding dan lantai, menjamahi setiap permukaan benda kelas, dan menusuk dalam kulit kami. Tatapan merahnya harusnya membara, tapi lagi-lagi tertimbun oleh bekunya sikapnya. “Api” dalam dirinya telah mati, tapi tak sepenuhnya aku tahu. Ah iya, dia bilang “comfort zone”, apakah itu?. Nama makanankah?. Benda kah?. Ah, tidaklah sepertinya begitu. Berkaitan dengan ruang dan zona, yaa.. Zona kenyamanan, kamus di handphoneku membantuku menerjemahkan seperti itu rupanya.

Yang lainnya ternganga-nganga. Entah mereka tahu itu atau tidak. Tapi lihat Sonia, dengan cepat menginstruksikan si Jepang untuk duduk di bangku sebelahku yang masih kosong. Tanpa musyawarah mufakat, yang lain langsung meng-iya-kan mau si ketua kelas yang tegas. Guru kami perlahan membuka pintu. Kami berhamburan menggapai bangku kami sendiri.

Hari terulang kembali, tetap sama seperti hari-hari sebelumnya. Gak terasa, setahun telah berlalu begitu cepat. Hari ini, hari terakhir kami berada di sekolah ini, rupanya. Langit biru masih memandangku sama ketika aku baru masuk sekolah. Awan pun tetap seputih kapas, sama seperti saat aku masuk sekolah ini pertama kalinya. Selalu berulang lagi, cewek itu datang menyapaku. Kali ini bukan kata “halo”, Tapi kata “selamat” yang diucapkannya. Kenapa lagi orang ini?. Mungkin dia baru tahu kami kedatangan murid baru. Temannya pun juga sama, dia juga mengatakan “selamat” sambil menjabat tanganku. Aku hanya bisa tersenyum sambil menjawab “ya”. Tapi ternyata lagi-lagi aku terlambat rupanya. Mereka sudah menuju ketengah lapangan untuk mengambil gulungan ijazah yang dimasukkan dalam silinder berwarna biru laut. Sekolah kami menyebutnya “silinzah”, singkatan dari ‘silinder ijazah’. Aku juga ikut senang melihat mereka yang kegirangan saat membaca hasil ujian akhirnya. Langit tampaknya tahu, dan angin juga merasakannya, hari ini kami semua berbahagia sekaligus sedih. Hari esok dan seterusnya, kami sudah menyongsong masa depan masing-masing. Sebentar lagi, nyanyian selamat tinggal akan berdengung keras memenuhi sekolah kami. Dari jauh, kulihat juga adik kelas yang sangat antusias mengitari teman-temanku yang sudah ada di lapangan sembari mengucap salam perpisahan.

Aku mengangkat tangan lagi, zona nyaman yang tercipta berbeda dengan yang kemarin, apalagi setahun yang lalu. Perasaan yang tak rela dan sedihku tercermin di langit biru keabuan dan matahari yang meringkuk bersembunyi di atas sana. Daun-daun jambu menari-nari mengelilingiku sambil menari-nari mengajak bermain sekaligus mengucap perpisahan di hari terakhir (entah benar-benar yang terakhir atau bukan) buat kami ini. Aku tersenyum terharu menyambut mereka yang sempat mengusap kepalaku dengan lembut tadi. Suasana nyamanku terganggu, aku merasakan ada seseorang yang mengawasiku. Dia di dekat sini pasti. Kepalaku refleks balik ke belakang, lalu ke kiri. Siapapun, aku gak melihatnya. Uhhhh… Apakah ini?. Aura aneh lagi?. Ancaman buatku kah?. Atau bukan?. Kebahagiaan buatku kah?. Atau apa?.

“Dor!!. You, aku ada di sini. Koko (di sini). Kamu kok gak lihat sih?…”, Setahun yang lalu, matanya yang merah menyala membara, selalu kalah dengan aura dinginnya. Sikapnya sungguh dingin, gelap, mencekam, dan kelam. “Es”-nya susah untuk membeku, selalu membeku setelah “mencair” sedikit saja. Logat campuran Jepang-Indonesianya pun terdengar aneh. Sekarang tidak lagi, Oyuji sudah bisa mencairkan bahkan melenyapkan “es”-nya sendiri tanpa bantuanku. Mata merahnya sekarang senada dengan hangat sikapnya. Hangat senyum lebarnya sekarang makin terasa. Hangatnya menyatu dengan angin yang juga memelukku erat.

“Ooohh… Kamu… Kamu gak kesana?. Teman-teman sudah menunggu tuh…”. “Es”-nya gak pernah kurasa lagi. Benar-benar hilang. Semua benda di sini terlihat bersinar setelah ada dia. Cahaya, merambat kemana-mana. Matahari muncul lagi, tak jadi sembunyi. Lagi, tampak membiru cerah lagi, keabuan warnanya sudah hilang. Hebat sekali Oyuji ini..
“You. Iyaaa… Aku mau kesana, tapi ayo kita ambil topi kita dulu..”, Aku ‘menguap’, keringat dingin aku rasakan. Jantungku berlari di tempat dengan cepat. Tubuhku telah “dididihkan” 100 derajat celsius panasnya. Rasanya mendidih memang setelah dia mengusap lembut kepalaku. Tangannya yang besar mengusap kepalaku, merebus semua badanku, terutama pipiku yang seketika warnanya berubah jadi merah ala kepiting rebus. Tepat 5 detik lagi, sebelum aku bisa menjawabnya, dia langsung menarikku ke tempat kami untuk mengambil topi kami masing-masing. Dia benar-benar menggenggam tanganku sekuat yang dia bisa. Dia bahkan tak tahu, semua pasang mata yang ada di sekitar sini memperhatikan kami. Semuanya tampak senyum-senyum dan berbisik pada orang di sekitarnya. Tak jarang juga kata-kata ejekan manis muncul mengiringi kami yang melintasi barisan dari mereka yang ingin berkumpul di lapangan. Aku gak sanggup menatap ke depan lagi, ke bawahlah aku bisa. Aku benar-benar mendidih saat ini. Panik, deg-degan bercampur dalam suasana hati ini. Apa dia juga rasa yang sama, ya?. Jantungku berlari di tempat, gugup juga, aku rasa “dia” mungkin mulai “gerah” dengan hangatnya Oyuji yang seolah merasuk menyelami permukaan kulitku. Kemudian, menembus semua isi organ-organ dalamku sampai ke atomnya.

Setelah upacara kelulusan selesai dilaksanakan, Oyuji menapku dalam-dalam saat kami sedang duduk di taman sekolah, aku pastinya gugup dengan perasaaan yang masih tak kunjung pasti. Oyuji lalu tersenyum tanpa arti, kilapan api merah di matanya telah kembali. Oyuji telah menjadi dirinya yang baru, menjadi si naga api.

“Nee, aku begini berkat kamu. Sekarang aku sudah bisa jadi orang yang hangat bagi semua. Arigatouna. Beberapa waktu lagi aku akan kembali ke Jepang. Aku punya ini untukmu”, Dia menyodorkan sebuah amplop kuning terang yang tertuliskan kanji dengan cantik, aku tak bisa membacanya, namun aku tetap membuka dengan gemetar. Aku ingin tahu benda apa di dalam, dan juga ingin tahu reaksi Oyuji setelah aku melihatnya.

Sebuah kertas yang juga bertuliskan kaligrafi kanji berwarna-warni yang aku juga tak mengerti apa artinya. Aku tersenyum karena tak mengerti apa dari tulisan-tulisan tersebut. Pipi Oyuji malah memerah ketika aku tersenyum. Lalu dia tertawa keras sekali sambil memegangi perutnya. Kini, pipikulah yang memerah. Dia mungkin menertawakanku karena tak mengerti tulisan kaligrafi kanji yang begitu cantik itu.

“You, sekarang kamu sudah mengerti?”, Oyuji menanyakannya dengan serius sekali. Ah, aku jadi salah tingkah.
“Hmmm… anooo.. aku gak mengerti sama sekali artinya”, Aku sudah ketularan logat Jepang Oyuji setelah sering mendengarnyan setahun terakhir. Entah, mungkin pipiku semakin memerah kali ini.
“Hehehe.. Suatu saat juga kamu akan mengerti artinya. Aku janji akan terus kembali ke Indonesia. Untukmu..”, Ehhh… Dia lalu mengusap-usap kepalaku lembut tengan telapak tangannya yang besar, lalu tersenyum manis lagi. Bola matanya yang merah, menyejukkan sekali. Bunga-bunga jambu berjatuhan, menghiasi suasana kelulusan yang menyenangkan sekaligus mengharukan. Ah, masa Sekolah Menengah Atas telah selesai…

Aku memang tak mengerti apa yang dituliskan oleh Oyuji di kertas itu. Aku masih tak bisa membacanya dengan baik. Aku kewalahan. Namun, entah, aku begitu gugup saat dia mengusap kepalaku tadi. Tangannya yang hangat membungkus tanganku sepanjang jalan pulang. Pipi kami semakin merah jambu saat tangan kami berpelukan.
Entah, apa yang Oyuji tulis, tapi aku tak peduli. Aku ingin tetap terus ada di negeri ini, dan tak ingin kemana-mana, supaya Oyuji dapat terus menemukanku. Entah Oyuji tahu apa tidak, jantungku berdebar dengan cepat saat berada di sampingnya. Entah perasaan apa ini. Dan juga entah aku akan jatuh ke lubang yang sama di masa depan atau tidak. Sekali lagi, entahlah, aku tak begitu paham dengan semuanya…

Cerpen Karangan: Risti Fauziyah Habibie
Blog: tishaxandria.blogspot.com
Hi, aku Risti Fauziyah Habibie. Ini adalah cerpen pertamak yang menggunakan nama pena. Aku masih akan menulis banyak cerita. Lebih banyak tentang diriku:
E-mail: tshxandria[-at-]gmail.com
Facebook: Risti Fauziyah Habibie
Twitter: @tshxandria
Instagram: @tshxandria
Wattpad: @tshxandria

Cerpen Entah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jendela Kaca Kelas ini

Oleh:
Duduk di pojok bangku deretan belakang tepat di samping jendela kaca yang tembus pandang langsung menuju kelasnya. Dari sana pula aku mulai mengenal paras cantiknya dari balik jendela kaca

Impossible is Nothing

Oleh:
Jam yang melingkar di pergelanganku menunjukan pukul ‘12.12’, mentari sedang semangat-semangatnya menyinari dunia. Sampai-sampai panasnya yang menyengat membuat kepalaku ingin meledak. Hari ini, aku pulang berdua bersama teman seperjuanganku,

Long Distance Relationship

Oleh:
Perkenalkan namaku Zeezee. Disini aku akan menceritakan pengalamanku saat aku bertemu dengan Rangga yang saat ini beliau sudah menjadi suamiku. Awalnya aku berkuliah di sebuah universitas yang terkenal di

Sarwono Sang Pemandu

Oleh:
Kini telah tiba masa masa menegangkan, masa dimana sering kali menjadi pertaubatan manusia kelas 3 SMA yaitu semester akhir pembelajaran. Di ruang kelas F bu Sri selaku wali kelas

Antara Cinta dan Kebohongan

Oleh:
Cinta adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Cinta pulalah yang melengkapi hidup manusia. Dengan cinta kita bisa merasakan rasa sakit dan juga rasa senang. Aku adalah Eni Saraswati,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *