Equity Tower I’m In Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 February 2016

Setahun bagiku seperti seribu tahun ku menunggumu di sini, andai kau tahu perasaanku saat ini… semua berawal dari tempat ini SCBD SUDIRMAN tepatnya di gedung equity tower. Namaku Nisa, aku asli perantau dari jawa tengah yang sudah di jakarta sejak kecil. Hari itu bulan april 2013, setelah ujian akhir SMK ku mencoba untuk melamar pekerjaan yang infonya ku dapat dari mading. Aku ingin bekerja dan menjadi mandiri karena selama sekolah aku selalu tergantung pada orangtua.

“Wil, gimana kamu mau ngelamar di SCBD gak? lumayan bisa ngasih duit ke orangtua. Walau sedikit daripada di rumah terus bosen.” tanyaku pada Willy teman sekelasku.
“Emm… ya udah kita coba aja deh sambil nunggu ijazah keluar. Yuk jadi kapan ngelamarnya?” jawab Willy.
Ketika sedang asyik mengobrol muncul temanku yang lain si David dan Diah yang kepo.
“Apaan sih? lagi ngomongin apa? kayaknya serius amat?” tanya Diah padaku dan Willy.
“Oh, itu ya pengumuman cap jempol ijazah ya?” sahut David.

“Huuh, salah David. Makanya jangan sok tahu.” jawabku dan Willy.
“Terus apaan?” Tanya David.
“Nih, kalian baca aja dulu.” kataku.
“Oh itu rupanya, kalian mau ngelamar ke SCBD?” tanya mereka berdua.
“Ya, kalian mau ikut kita ngelamar tidak lumayan daripada di rumah terus, lebih baik kita cari pengalaman kerja siapa tahu diterima.” ujarku dan Willy dengan penuh semangat.

“Oke, kita mau ikut. Janjian di mana kita?” tanya lagi si Diah.
“Kita naik angkot saja dari blok M.” jawab David.
“Ku naik motor Vid, jadi gak ikut ya hehe.” sahut Willy dengan cengengesan.
“Ah kamu gimana gak friend banget sih, ya sudah kita bertiga naik angkot saja tapi pas sampai jangan masuk dulu ya tungguin kita.” sahutku dengan jengkel.
“Iya Nu Nisa.. hehehe,” gurau Willy.

Esoknya Willy sudah berangkat naik motor, sementara Diah dan David bersiap-siap. Tak sadar aku kesiangan karena membuat surat lamaran sampai malam.
“Halo.. Nis, kamu di mana? aku dan David lagi menunggu angkot di blok M.” tanya Diah.
“Eh, sorry ya ku kesiangan nih baru mandi, kalau lama kalian duluan aja,” jawabku dengan malu.
“Huuh.. kamu yang ajak kok malah kesiangan. Ya udah deh awas jangan sampai lewat jam delapan.” sahut Diah dengan ancaman. “Iyee Diah, slow aja hehehe.” jawabku dengan ringan.

Tepat pukul delapan pagi, aku pun sampai di SCBD diantar ayahku. Aku langsung menuju Equity Tower dan bertemu dengan teman-temanku yang sudah menunggu sedikit lama. Ya walaupun mereka agak kesal sama aku tapi kita itu friend jadi gak boleh marah. Setelah itu, kami berempat menuju ke lantai 27. Sesampainya di lobby kami bilang mau melamar kerja dan kami disuruh memberikan lamaran kami, lalu kami dipanggil satu per satu. Ini perusahaan termasuk besar, kelihatan dari lobbynya yang mewah. Dan kami beruntung bisa langsung interview tanpa menunggu lama. Satu jam kemudian, kami dipanggil satu per satu dan setelah itu kami diarahkan ke sebuah ruangan untuk isi biodata. Lalu tiba-tiba muncul seseorang yang datang terlambat untuk interview.

“Permisi, maaf saya terlambat Pak. Saya Hasan yang dapat panggilan interview dari Bu Ratna.” kata Hasan yang tampan itu. Sekilas ku memandangnya, ku teringat dengan seseorang tapi siapa? aku pun mendadak lupa ketika aku lihat wajahnya yang rupawan.
“Duh, itu cowok sepertinya ku pernah lihat di mana ya?” pikirku sambil memandanginya.
“Woy melamun saja, sudah rapi belum mengisi biodatanya?” tegur David yang menghilangkan semua lamunanku tentang dia. “Udah Vid, kamu ngomongnya jangan keras-keras malu sama Bapak Andi tahu!” bisikku pelan sambil tersenyum ke Pak Andi yang menginterview kami.

Tepat jam sepuluh pagi, semua interview dan tes kami lewati. Untuk info diterima atau tidak Pak Andi akan memberitahukan Bu Ratna lewat sms atau telepon.
“Huuh, lelah banget ya guys interviewnya sampai sejam padahal cuma 5 orang.” keluhku sambil duduk di taman depan equity tower.
“Baru segitu saja sudah lelah apalagi sudah kerja Nis, kamu gak boleh lemas. SEMANGAT!!” sahut Willy berapi-api.
“Iya Nis,” ucap David dan Diah ikut memberikan semangat.
“Makasih, kalian memang teman yang baik.” jawabku sambil tersenyum penuh semangat.

Sehabis melepas lelah karena interview, kami berempat berpisah untuk pulang ke rumah. Willy pulang terlebih dulu, kita bertiga naik angkot menuju ke rumah kami. Baru di tengah jalan aku, Diah, dan David dikabari Bu Ratna lewat sms yaitu nama-nama yang lolos dan langsung kerja pada hari senin depan. Aku dan temanku senang membacanya akhirnya kami bisa kerja dan ku baca selain namaku, Willy, Diah, dan David ada nama Hasan juga. OMG! aku jadi tambah semangat akhirnya aku bertemu lagi dengannya. Aku masih penasaran dengan wajah dia yang mirip seseorang.

Sesampainya di rumah ku coba ingat-ingat lagi siapa sih Hasan itu. Dan ternyata setelah ku buka foto di galeri handphone, baruku tahu rupanya aku belum pernah bertemu dengannya, tapi wajahnya mirip aktor favoritku Robert Pattinson pemeran Edward di film “TWILIGHT”. Duh sepertinya mimpiku menjadi kenyataan senangnya ada Edward kw. Namun, hal ini aku tak mau ceritakan ke teman-temanku nanti mereka mengejek aku. Hari senin pun tiba, aku dan teman-temanku berangkat karena rumah kami ada yang jauh jadi tidak mungkin janjian seperti kemarin melamar kerja, kami tahu kalau jalan sudirman pasti macet jadi harus pagi dari rumah.

“Akhirnya sampai juga, loh kalian sudah pada datang,” sapaku pada Willy, David dan Diah.
“Iyalah kita kan anak rajin, tumben kamu tidak telat Nis,” jawab mereka dengan kompaknya.
“Hehehe iya lagi semangat ini kan hari pertama kerja.” balasku dengan semangat.
Tiba-tiba Hasan si Edward kw datang, duh jadi grogi sendiri aku.
“Hai, namaku Hasan salam kenal,” Hasan mengulurkan tangannya ke kami satu per satu.
“Hai juga Hasan, namaku Nisa,” sahutku. Aku pun gemetar, tak bisa berkata apa-apa selain namaku saja, sampai tanganku lupa ku lepas darinya.
“Ehh, udah salamannya lebaran masih lama. Tuh Bu Ratna sudah datang.” ucap Diah yang membuyarkan lamunanku.

Setelah mendapat penjelasan tentang sistem kerja di perusahaan tersebut. Kami gak terlalu paham tapi kami coba aja dulu biar gak penasaran. Hari pertama kerja pun tak lama dari jam 8 pagi sampai 3 sore. Mungkin karena kami baru jadi dipulangkan lebih cepat. Di hari berikutnya, seperti biasa kami datang dan menunggu Bu Ratna untuk tugas yang diberikan kepada kami. Tugasnya adalah belajar menelepon nasabah yang ada di data yang diberikan dan menawarkan investasi emas gitu intinya.

Oalah, ini kerja apa namanya? ini telemarketing yang suka menipu. Satu di antara kami sudah tidak lagi kerja karena dia sudah dapat bocoran dari bapaknya kalau telemarketing gak dapat nasabah gak digaji itu katanya. Akhirnya Willy dan Diah mundur dari tempat ini, dia memilih di rumah saja. Tapi aku dan David masih mau maju karena penasaran dengan yang dibilang bapaknya Willy dan kalau aku sih ikut saja soalnya Hasan masih maju.

Setelah beberapa minggu kami bertiga bekerja dan kami mulai menyerah karena belum dapat nasabah. Pada saat itu aku ingat betul, Hasan sedang sakit wajahnya pucat dan tak sengaja ku tersenggol tangannya yang hangat. Aku jadi khawatir sama dia, mudah-mudahan dia cepat sembuh. Mengetahui itu Bu Ratna meminta Hasan pulang dan istirahat di rumah. Dan saat itulah ku tahu dia tak akan pernah datang ke kantor lagi. Ku tanya David tentang keadaan Hasan, karena ia termasuk dekat dengannya.

“Vid, si Hasan ke mana sudah seminggu tidak masuk?” tanyaku cemas.
“Aku tak tahu katanya masih sakit, tapi feelingku dia resign deh dari sini.” jawabnya.

Aku pun jadi harap-harap cemas karena di satu sisi ku mau dia sembuh, di sisi lain aku tak mau Hasan resign dan pergi meninggalkanku. Aku bingung ini perasaan apa? ku tak tahu kenapa tiap malam selalu aku memikirkan hal itu. Selalu aku meminta nomor handphonenya untuk mengetahui kabarnya, tapi tak ada yang punya nomornya. Semakin ku bingung dibuatnya, kenapa di zaman modern seperti ini Hasan tidak punya handphone? orang setampan Hasan tidak punya handphone? Ku tak percaya. Sebenarnya siapakah Hasan? ku semakin penasaran dibuatnya. Hari-hari pun berlalu ku semakin tak bernafsu bekerja karena Hasan tak ada di sini. Akhirnya, aku dan David memutuskan resign dari pekerjaan ini. Karena tidak ada kemajuan dari pekerjaan ini, walaupun kami resign akhir bulan april tapi herannya tidak digaji.

“Bu Ratna, maaf kami mau resign,” ujar kami.
“Kenapa? Nisa, David, kok resign gak betah ya di sini? padahal kerja kalian bagus.” jawab Bu Ratna seakan ingin menipu kami lagi.
“Bukan Bu, kami disuruh orangtua untuk kuliah,” jawab David cari alasan biar bisa resign.
“Oh, Oke. Tapi maaf karena kalian belum menghasilkan apa-apa, jadi kami tidak memberikan gaji. Saya rasa cukup, semoga berhasil kuliahnya, selamat siang,” jawabnya tanpa rasa bersalah. Jawaban inilah yang sudah membuat kami penasaran dari awal, ternyata benar kata bapaknya Willy kalau pt.. itu cuma menipu kami. Semenjak itu, aku dan teman-teman tidak mau melamar kerja jadi telemarketing lagi. Waktu pengambilan ijazah pun tiba, aku, Willy, David, dan Diah bertemu kembali dalam perpisahan terakhir sekolah ini.

“Ya Allah, tak terasa kita sudah lulus SMK.” ucap Diah.
“Ya, kita sekarang menempuh jalan hidup masing masing, karena kita harus mencari jati diri kita agar kita tidak kekanakan.” ujarku. “Jangan lupa kita harus mandiri dan membahagiakan orangtua dengan mencari kerja yang halal dan jelas. Bukan seperti di equity tower kemarin,” sahut Willy yang mengingatkanku kembali pada Hasan. “Dan jangan lupa kita masih best friend forever,” tambah David dengan bahasa inggris yang belepotan.
“Yaelah, makan pop mie dulu vid biar lidah loe inggris dikit”ledek Willy.

Semua tertawa dan David pun hanya bisa tersenyum malu. Inilah teman yang tak akan ku lupakan sampai kapan pun sama halnya dengan Hasan. Kini aku tahu perasaan yang selama ini menghantuiku, perasaan yang selalu kuat terhadapmu. Selama ini aku cinta padamu, namun ku terlambat menyadarinya, hingga akhirnya kamu pergi dari hidupku tanpa kabar, tanpa jejak. Kini sudah setahun kita tak bertemu Hasan, aku kangen kamu, aku ingin tahu kabarmu dan aku hanya ingin kau tahu kalau ku sangat mencintaimu sampai detik ini. Jika boleh ku meminta pada Tuhan, ku hanya ingin memutar waktu agar kita bisa bertemu kembali, Hasan. Ku Tak akan pernah berhenti mencintaimu, walau kau tak pernah tahu isi hatiku. Biarlah Tuhan yang mempertemukan kita di lain waktu, seperti pertemuan singkat kita di equity tower.

Cerpen Karangan: Khairunisa Fitriani
Facebook: Niisha Vanasha Khasunny

Cerpen Equity Tower I’m In Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Belajar dari Penyesalan

Oleh:
Akhirnya gue lolos SMP juga. Hal pertama yang ada di benak gue setelah lolos dari SMP adalah bagaimana caranya bisa masuk ke salah satu SMA Negeri yang ada di

Halalkah Kita Pacaran

Oleh:
Seminggu sudah Arini mendapatkan surat dari Rangga, yang isinya gak jauh beda, so pasti ungkapan cinta. Arini males membalasnya, tapi hanya disimpan di bawah kasur. Karena dia tidak punya

Di Bawah Hujan

Oleh:
“Ana! Tunggu!” Aku menghentikan langkahku dan menengok ke belakang. Sahabatku, Tasya, berlari ke arahku. Setelah sampai dia menghembuskan nafas panjang karena kelelahan berlari. “Cepet banget sih jalanmu! Aku capek

Little Star

Oleh:
Kumasuki ruangan gelap itu dengan hati yang berdegup kencang, suasana begitu hening. Gemetar tanganku memegang gaun, kuarahkan pandangan ke depan, dan melangkah anggun ke atas panggung. Hanya satu cahaya

Cinta Dalam Tanda Kutip

Oleh:
Dia datang. Cowok itu datang lagi ke perpustakaan kota. Karina hanya bisa melihatnya dari balik buku yang berbaris rapi di rak. Berharap cowok itu melirik ke arahnya. “Hoi!” sapa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *