Eunicorn (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 21 May 2018

Mata itu menyapu pada sehamparan luas indahnya ciptaan Tuhan. Miniatur dunia tumpuan kaki-Nya yang ada di batas cakrawala membuat semua orang yang memandangnya bersyukur kepada Pencipta. Tak Ada hal di dunia ini yang lebih membuatnya bahagia selain menikmati keindahan Pencipta dan bersyukur.

Ia duduk di salah satu kursi di balkon kamar 204. Ia meletakkan sebuah botol minuman kopi kemasan di kursi sampingnya. Ia melayangkan pandangannya ke tak terbatasnya langit biru. Sesekali ia menarik nafas panjang.

“Sudah enam tahun sejak kepergianmu.” Ucapnya dalam hati. “Tempat ini jadi saksi awal aku mencintaimu.” Dibukanya smartphone-nya. Dilihatnya foto terakhir mereka di air mancur bawah. Enam tahun lalu.
“Hai!” Sapa Gaby sambil menyisir rambut panjangnya. “Cieee. Yang lihatin fotonya Ko Connie…” Ia duduk di sampingnya.
“Dulu. Tujuh tahun lalu. Aku pertama bertemu dengannya. Sebagai anak remaja yang masih labil. Mencintai kakak pembimbingnya.”
“Nggak labil. Buktinya sampai sekarang kamu masih mencintainya kan?”

Tawa anak-anak yang beranjak remaja terdengar jelas. Mereka menarik koper mereka lalu meninggalkannya di lobby. Mereka berkerumun di meja resepsionis mengecek kamar yang akan mereka tempati. Beberapa dari mereka mengambil kunci yang bernomor sesuai dengan nomor kamar mereka.
“Mommy, Daddy?!” Kata Ariela sambil menarik kopernya. “Kalian di sini juga?” Eunike dan Filia hanya memandanginya sejenak lalu masuk ke kamar.
“Iya dong! Aku bela-belain ke sini buat kalian!” Kata Ina.
“Uuh so sweet!” Sahut Ariela dan Cintya bersamaan.
“Enggak. Kita ke sini jadi panitia.” Jawab Cornelius.
“Ohalah. Ya sudah. Aku mau taruh koper dulu. Kalau sudah kita foto-foto!” Ajak Ariela.

“Siapa itu, La?” Tanya Filia begitu Ariela masuk di kamar.
“Oh itu panitia.” Jawabnya sambil meletakkan sepatu di rak sepatu.
“Mereka pacaran?” Tanya Eunike.
“Enggak.” Katanya. Dihempaskannya tas ransel jansport di salah satu kasur lalu duduk di kasur itu. “Kenapa kok tanya gitu?”
“Kata Nike Kokonya gan…” ditutupnya segera mulut Filia.
“Ooh kamu suka?”
“Eh enggak ya! Ya ampun. Filia nyebar fitnah!” Sahut Eunike.
“Bukan fitnah tapi faktanya memang begitu!”
“Halah ngaku aja. Banyak kok yang suka…”

“Ariela?” Ina membuka pintu kamarnya yang tidak dikunci.
“Oh iya, Ce, sebentar!” Sahutnya. “Aku mau turun. Kalian mau ikut nggak?” Tanyanya. “Ada Ko Connie lho!” godanya sambil mengambil sandal jepit dari kopernya.
“Boleh. Tapi kita mau rapikan barang dulu. Nanti kita nyusul.” Kata Eunike.

Tatapannya tak berpaling darinya yang berdiri di antara teman-temannya. Berbahagia bersama dalam sesi berfoto. Mereka mengenakan baju putih bergaris biru tua. Ia hanya bisa tersenyum dalam hatinya. Ya, merasakan indahnya cinta namun tak ada rasa untuk ingin memilikinya.
“Hanya sebuah mukjizat aku diizinkan mengenalnya lebih dekat. Meski itu tak lama. Aku bersyukur bisa menemukan pria yang mau menerima aku apa adanya, memberi masukan dan memotivasiku.” Katanya.
“Kamu pasti kangen sama Ko Connie?” Diambilnya handphone Eunike.
“Jelas, Gab! Bayangkan saja enam tahun nggak ketemu.” Jawabnya.
“Ih candidnya manis banget!” Ditunjukkannya foto candid itu.
“Itu aku ambil saat pengarahan natal. Natal pertamaku bersama komunitas remajaku. Butuh perjuangan banget aku bisa ambil foto itu.” Katanya. “Saat itu Ko Connie sempat membuatku baper, tapi juga sekaligus membuatku berpikir ulang untuk mencintainya.”
“Lhah kok gitu?”
“Karena mereka pacaran.” Eunike tertunduk.
“Siapa, Ke?”
“Ko Connie Dan Ce Ina.”

Eunike berdiri di antara barisan kolektan. Bersama Mira dan Cika. Mereka membawa masing-masing sekantong. Matanya terpejam panjatkan doa. Hati mereka bersyukur atas pelayanan yang Tuhan beri. Meski kecil.

“Aduh!” Kakinya terpeleset di tangga. Langkahnya mungkin kurang pas. Hampir saja ia terjatuh. Namun ada seseorang di belakangnya menopangnya. Dipeluknyalah Eunike agar tak terjatuh. Mata mereka saling menatap. Kepala Eunike tersandar di dadanya. Terdengar detak jantung Cornelius yang berdebar di telinga Eunike.
“Hati-hati, Ke.” bisiknya lembut
“Makasih, Ko!” segera ia kembali berdiri. Namun ternyata kakinya sedikit terkilir.
“Kakimu kenapa, Ke?” Dilihatnya kaki Eunike yang agak pincang. “Koko pijat ya?” Diraihnya tangan Eunike dan dilingkarkan di bahunya. “Kita ke kamar Koko aja. Ntar Koko kasih minyak. Di kamar Koko ada minyak.”
“Janganlah, Ko. Nggak baik Ko Connie membawa cewek ke kamarmu, Ko. Mendingan di kantin atau dekat ruang youth.”
“Nggak apa, Dik. Di dekat ruang youth dipakai buat ramah tamah nanti. Jadi nggak ada tempat duduk. Masa mau di bawah?” Eunike tertawa.
“Tapi beneran nggak apa kan, Ko?”
“Iya.”

Dibukanya pintu kamar itu. Didudukkanlah Eunike di tempat tidurnya. Diambilnya sebotol minyak dari lemari di meja. Cornelius menarik sebuah kursi lalu duduk.
“Sini kakimu!” Diraihnya kaki jenjang itu. “Agak memar ini.” Dibalurkannya minyak itu.
“Augh, sakit Ko!”
“Maaf, maaf!” Cornelius tertawa kecil. “Tahan dikit ya, Dik!” Pintanya sambil meneruskan mengurut kakinya dengan perlahan.

Eunike menatapnya. Hatinya berdegub kencang. Tak ia sangka pria yang ia cintai mengkhawatirkannya. Tangannya dengan perlahan mengurut kakinya yang terkilir. Ia bisa melihat dari sorot matanya kalau Cornelius sebenarnya mencintainya.

“Gimana dah enakan?” Eunike mencoba menggerakkan pergelangan kakinya ke kanan dan ke kiri.
“Ya better lah, Ko!” Ia tersenyum. “Makasih, Ko!”
Cornelius berdiri dan mengembalikan minyak itu di tempatnya semula. Ia berjalan menghampiri Eunike lalu duduk di sampingnya.

“Kamu itu cantik, kok masih jomblo?”
“Ya ampun, Ko… aku masih SMA. Aku nggak mikir buat punya pacar dulu.” Jawabnya. “Kau sendiri kok juga masih jomblo, Ko?” ia tersenyum.
“Belum tahu ya kamu, Ke?” Eunike mengernyitkan dahi. “Aku sudah punya pacar. Dia adalah Ina.” Sejenak Eunike bengong.
“Ka… kalian pacaran?” ia mengangguk.
“Ya udah sebulan lebih sih.” Sambungnya.

“Mereka pacaran beneran pas itu?” Gaby bingung karena saat itu keduanya sangat jarang menunjukkan kedekatannya.
“Iya. Aku juga masih nggak percaya saat itu.” Katanya. “Tapi menurut adiknya yang adalah teman sekelasku yang lumayan dekat denganku… Ko Connie sejak new year eve dah nggak suka lagi dengan Ce Ina. Katanya terlalu posesif, terlalu sibuk dengan kerjaan. Maklumlah seorang notaris.” jelasnya. “Dan akhir bulan April mereka harus mengakhiri hubungan mereka padahal sudah kurng satu bulan mereka akan tunangan.”

Mulutnya masih sedikit mengaga. Ia tak percaya yang Chrisan katakan. Ia sama sekali tidak menginginkan hal itu. Eunike tak ingin dicintainya dan membuat hubungan Cornelius dan Ina berantakan. Ia sudah merasa cukup saat ia dianggap dan dijadikan sahabat atau adik olehnya.

“San, kamu bercanda kan? Mustahil kakakmu memendam rasa itu. Sedangkan statusnya adalah sebagai calon tunangan Ce Ina.”
“Aku serius, Eun. Ko Connie mencintaimu.”
“Aku nggak percaya, San!” Eunike duduk di bangkunya yang bersebelahan dengan bangku Chrisan. “Aku nggak ingin dicintai kalau aku merusak hubungan mereka.”
“Ya memang sih.. tapi siapa yang bisa ngelawan perasaan?”
“Rencana Tuhan pasti indah, Ke. Kalau emang kalian jodoh kalian pasti akan dipertemukan kembali.” Kata Gaby.
“Semua itu, jodoh, karir, hidup dan mati adalah misteri. Tak ada yang mengetahuinya.” Ucap Eunike.

“Nik!” Panggil Audrey. “Eh malah nongkrong di sini. Ayo cepetan snack, habis itu sesi lagi!”
“Hehe, iya, Mbak!” Diambilnya botol itu dan diletakkannya? di dekat kopernya. Segera ia memakai sepatu dan turun ke ruang makan.

“Ce, masih ingat dia?” Tanya Feli yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.
Eunike dan Gaby mengikuti arah telunjuk Feli menunjuk. Senyuman mulai mengembang di bibirnya. Matanya kembali berbinar. Seolah sebuah cahaya telah membangkitkan harapannya.

Cerpen Karangan: C. Agni Dareen
Connieke Agni Dareen
16 tahun
IG: @c_dareen

Cerpen Eunicorn (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesetiaan Bekaskan Luka

Oleh:
Anastasya Adila Putri, gadis manis dan santun itu tengah berada antara hati 2 laki-laki, Dista Anggara dan Aldi Tifano. Walaupun dulu, cinta Dila hanya untuk Dista, tapi kali ini

Antara Aku dan Bintang

Oleh:
Aku sudah lama kenal Bintang, lama sekali, sejak SMP. Bintang selalu ada untukku, selalu menemaniku, tempat aku mengadu, tertawa bersama, bahkan saat aku ada masalah Bintang lah yang pertama

The Word Destiny (Part 1)

Oleh:
Aku selalu mencintaimu. Bukankah kau tahu itu? Kukira, kita bisa bersama selamanya. Namun takdir berkata lain. Hey, kau, apa kau dengar aku? Aku harap begitu. Aku ingin kau selalu

Cinta Malu-Malu Kucing

Oleh:
“Ilean, kamu suka sama cowok kaya gimana?” tanya Jose pada cewek yang bernama panjang Ilean Febiola “aku suka cowok yang baik, pengertian, yang pasti smart” jawab Ilean dengan memberi

Aku Masih Menunggumu

Oleh:
Menunggu memang membosankan, apalagi menunggu sesuatu yang akhirnya hanya menyisakan puing-puing harapan dan air mata. Fatamorgana cinta, awalnya memang terasa sangat indah. Tapi pada akhirnya, semua seperti sandiwara belaka.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *