Evangelistas (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 29 August 2017

Adakah hal yang begitu kau sukai di dunia ini? Beberapa orang menjawab memasak, membaca, atau menyulam wol di musim dingin. Semua orang memiliki hobi masing-masing. Aku mencintai petualangan. Mulai dari menjelajah sekolah, hutan, lautan sampai pedalaman lembah. Beberapa ekspedisi dilakukan diam-diam. Aku hampir membuat ibuku depresi berat karena kelakuanku. Kebanyakan gadis memilih shopping dengan high heels-super-tinggi. Sementara putri bungsunya, menyukai hal-hal berbau ekstrim. Ibu mana yang tahan tetap waras melihat anak gadisnya memanjat tebing. Naluri alamiah seorang ibu berkepala tiga.

Aku tumbuh di antara tiga saudara laki-laki. Mereka mengajarkanku cara memancing menggunakan ranting pohon, membangun tenda, bermain sepeda sampai lupa waktu makan dan memaksaku mandi tanpa bikini atau apapun. Terkadang Ayahku bangga melihat kemampuanku berlari melewati palang-rintangan. Kemudian, suatu hari beliau memintaku berhenti melakukan semua itu. Alasan ayah ku: aku tak boleh jadi atlet.

Terkadang orangtua bisa begitu menjengkelkan. Melarang ini-itu-ini-itu. Awalnya aku sempat bersikap cuek bebek. Akibatnya, aku nyaris tenggelam di sungai dekat perbatasan Texas. Setelah kejadian mengerikan tersebut aku berjanji akan mendengarkan mereka. Kecuali, aku tak tertangkap basah.

“Percy bisa menemanimu, sayang.” Kata ibu penuh tuntutan. Aku melirik percy sekilas. Tatapannya terlihat tak senang. Aku menggelengkan kepala pada ibuku sebagai jawaban. Ibu melayangkan pandangan tajam ke kakakku.
“Tidak. Aubrey cuma ingin bersama diriku, sahabat terbaik sekaligus musuh terbesar dalam hidupnya. Terima kasih bu.”
“Kalian membutuhkan seorang penjaga.” sahut ibu datar. “Dunia di luar sana begitu berbahaya, sayang. Perang, penculikan, perampokan, bom nuklir dan nark*ba.”
“Aubrey sabuk hitam taekowndo. Dan percy bukan tandingan aubrey, sama sekali.” aku mengatakannya sambil menatap percy penuh kemirisan. Percy mendengus, kemudian berlalu dari pintu kamarku. Begitulah cara mengusir kakak laki-laki: permalukan dia.

Ibu memutar badanku, menatap dalam-dalam. “Kau tumbuh dewasa begitu cepat.” gumam ibu pelan. “Aku sudah melepaskan dua putraku, memulai kehidupan baru mereka. Dan aku cuma memilki kalian berdua sekarang.” tangan ibu menggengam erat lenganku. Aku memeluk erat tubuh mungil wanita di hadapanku. Bau kayu manis dan lavender. Semenjak kecil, kami empat bersaudara begitu hafal bau khas ibu. Ketika berpergian jauh dari rumah, aku selalu menemukan lavender. Begitulah cara aku mengingat ibu, merasakan kehadirannya di dekatku.
“Yang mau menikah Aubrey. Kami hanya mau menghabiskan waktu sebelum dia resmi menikah. Jangan sampai gadis itu memusuhiku.” aku mengatakannya sambil menggoyang tubuh ibu. Ibu tertawa kecil, kemudian melepaskan pelukanku. Pembicaraan selesai.

Ibu kembali sibuk membantuku mengepaki barang-barang dalam ransel. Sesekali beliau melemparkan lelucon kecil, membuatku tertawa terbahak-bahak. Sewaktu muda ibu selalu tampil di atas panggung. Artis lokal dari California. Jadi, aku cukup maklum. Aku mewarisi salah satu dari sifat kedua orangtuaku, kecuali selera humor. Aku benar-benar buruk untuk masalah tersebut.

“Kalian akan pergi ke mana? Brazil?” Tanya ibu berusaha menutup resleting ransel. Wajahnya mengkerut, pertanda ia menggerahkan segenap kekuatannya.
“Yah.. masih satu daratan dengan Brazil.” jawabku cepat. “Astaga. Aku lupa meletakkan sikat gigiku.” lirihku menepuk jidat keras. Dalam tiga langkah besar aku sudah sampai ke kamar mandi. Aku mulai berlagak mondar-mandir. Pembicaraan tentang lokasi liburan bisa menimbulkan masalah.

Ibu melonggokan kepala dari pintu kamar mandi. Sebuah benda familiar berwarna biru berada dalam genggaman ibu. Sikat gigiku.
“Di mana ibu menemukannya?”
“Kau meletakkan sikat gigimu lima detik yang lalu.” respon ibu kalem. Aku terdiam cukup lama, menyadari kebodohan yang terlalu dibuat-buat. Ibu tersenyum lebar. Akhirnya aku membocorkan juga rahasia perjalananku. “Aubrey yang mau ke sana. Ibu pasti tau sifat anak itu. Aku masih tak percaya, gadis itu mau menikah.”
“Jadi ini salah Aubrey?” goda Ibu menonjok pelan lenganku. “Aku tak melarang siapapun, anak muda. Pergi sana.” lanjutnya penuh kepasrahan. Aku bergerak maju, merentangkan kedua tanganku. Entah, sudah berapa sering kami berpelukan. Jika anak-anak lain menghentikan kebiasaan ‘Peluk-memeluk-dipeluk’. Mereka beranggapan sudah waktunya tumbuh dewasa. kenyataannya justru mereka belum cukup dewasa. Aku bertanya-tanya, bagaimana kelakuan anak-anak itu di rumah.

Patagonia adalah daerah di ujung selatan Benua Amerika Selatan, di mana Cile dan Argentina berbagi wilayah. Aubrey ingin ke sana, selalu. Anak itu mengakhiri masa lajang dengan berkunjung ke ujung dunia. Patagonia. Kami tumbuh bersama. Tiada hari tanpa petualangan. Aubrey terlahir cantik. Kulitnya coklat terang, sangat eksotis. Mata hijau zamrud, hasil warisan darah Turki. Rambut hitam legam miliknya begitu indah. Tubuhnya lebih tinggi, dan ramping. Anehnya, ia senang pergi menjelajah tempat-tempat yang tak ‘biasa’. Terkadang aku merasa bertanggung jawab. Aku menularkan virus hobi jalan pada gadis itu. Mungkin lebih baik kami berpisah. Dan doa itu terkabulkan. Aubrey menikah muda. Aku sempat mengomentari keputusan finalnya. “Jangan sirik, nona muda. Aku cuma dilamar seorang pria, bukan dijemput kematian. Mengapa kau begitu skeptis?” tuntut Aubrey.

Kami memilih jalur alternatif, murah dan menyenangkan. Berpergian lewat udara bukan pilihan menarik. Terlebih kondisi keuangan kami berdua cukup mengkhawatirkan. Kami mulai memperhitungkan apapun. Uang bukan patokan utama. Tapi siapa yang mau jadi pengemis di negara orang? setidaknya kami punya simpanan uang. Amanada Broklyn, seorang traveling asal Rusia menjadi penyelamat. Berbekal pengalaman menjelajah lautan. Kami akhirnya menaiki kapal feri. Nama perusahaan feri itu adalah Navimag. Berangkat setiap jum’at dan menghabiskan waktu empat hari perjalanan. Dari Puerto Montt ke Puerto Natales di sisi kiri Laut Pasifik yang mengarah ke selatan. Harga termurah saat musim panas Desember-April. Termasuk bed, makan tiga kali sehari dan fasilitasnya basic. Terdengar menyenangkan, bukan?

“Harusnya aku mengajak Andrew. Dia pasti menyukai perjalanan ini.” Kata Aubrey. “Aku merasa tak mau melepas masa lajang.”
Aku mendengus, “Jangan permainkan perasaan calon suamimu. Karma masih berlaku, sayang.”

Evangelistas. Kapal yang akan kami tumpangi adalah Evangelistas. Unik. Menurut legenda modern, ini adalah kapal kargo yang telah dimofikasi separuh bagian jadi kabin bagi penumpang. Panjangnya 123 meter, lebar 21 meter dan terdiri atas lima lantai. Aku tercengang melihat ruang tidur kami. Terdapat 22 bunk bed. Aku tersenyum ramah pada tetangga ranjang ku. Sepasang pasangan yang sangat serasi.

Pukul 16.00 kami wajib hadir ke peragaan keselamatan di dining room lantai 4. Dijelaskan pula rule & regulations. Aku berangkat sendiri. Aubrey mengalami sakit kepala mendadak. Ketika hendak membuka pintu, seseorang menabrakku. Aku terpental ke dinding. Sebenarnya kami saling terpelanting satu sama lain. Aku menjaga keseimbangan, takut jatuh ke bawah anak tangga. Posisiku darurat.

“Maaf! Kau tak apa-apa?” seseorang menarik lenganku. Aku memutar kepala, bersiap mendaprat manusia brengsek itu. Kalimat selanjutnya terhenti di kerogkonganku. Tak sampai melesat ke luar. Aku terperangah di tempat.
Ada yang salah. Aku kenal orang di hadapanku, yang nyaris membunuhku. Aku membuka mulut hendak bicara, lalu terhenti. Siapapun bisa saja tak mengenalinya. Tapi itu tidak berlaku bagi diriku. Aku selalu mudah mengenali tatapan hangat orang ini.
“Rue?” tanyanya kurang yakin. “Rue Evans? Kau Rue, bukan?”
“Yeah..” sahutku pelan. “Maafkan aku.. aku lupa.. siapa kau.. tidak.. aku..” kalimatku tak beraturan. Wajar nilai tata bahasaku selalu buruk. Pria itu tersenyum lembut. Aku merasa kembali ke masa lalu. Bagaikan sebuah kamera tua. Aku menyimpan gambar bersama kisahnya. Mata abu-abu kebiruan itu sangat menawan.
“Arley Rivera.”
“Aku sudah terlalu tua. Maafkan aku. Waktu berjalan begitu cepat.” Sahutku cepat. Astaga, alasan klasik lagi. Dalam hati aku memaki-maki sarkasme. Arley mengangkat bahu geli.
“Kita semakin tua.” ulang Arley bijak. “Berapa lama kita tak bertemu? tujuh.. atau sepuluh tahun?” tambahnya mencoba mengingat-ingat. Aku menggeleng pelan. Kenangan masa lalu mudah terlupakan. Menghabiskan masa-masa itu bersama Aubrey membuatku cuma mengingatnya. Dalam mimpi-mimpiku, baik atau buruk selalu ada Aubrey. Intinya, aku tak bisa hidup tenang karena dia.

Hening cukup lama. Aku mengamati penampilan Arley seksama. Ia berubah 360 derajat. Aku merasa melihat sosok lain, bukan Arley. Bukan anak muda berkacamata, jarang bicara dan selalu tidur di manapun. “Kau berubah..” kataku susah payah.
Arley mengangkat alis, memperhatikan penampilannya. “Kau juga.”
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Hmm.. bisa dibilang rehat sejenak. Aku bukan robot, kau tau? Aku butuh sedikit liburan. Sedetik saja melupakan urusan pekerjaan.” Arley berkacak pinggang. Tubuhnya tak sekurus dulu. Rambut pirang gondrong peliharaannya hilang. Arley memotong rambut bergaya cepak pendek. Aku tertawa mendengar perkatannya.
“Jadi.. Arley si pendiam tumbuh dewasa, huh?”
“Oh..” hanya itu responnya. “Ayo berkeliling. Kita harus reuni setelah lama tak jumpa.”

Aku tak benar-benar mengenal Arley. Kami jarang berbicara satu sama lain. Keluarga Arley pindah ke Arizona pada musim panas. Mereka tinggal di sebelah rumah kami. Saat itu, aku seorang gadis kecil yang cuek. Hasil dari pola asuh empat kakak laki-lakiku. Yang ku tau, ibu tak akan tinggal diam. Ibu menyambut mereka. Mencoba jadi figur wanita menyenangkan. Aku paling benci dijadikan tumbal. Aku ingat, dipaksa mengantarkan Pancake ke rumah keluarga Rivera. Rasanya hari-hari itu bagaikan bencana besar. Mrs. Rivera berperawakan sedang. Dia selalu tersenyum dan ramah pada siapapun. Katanya, pancake buatan ibu bercita rasa tinggi. Aku tak mengerti. Jika tema obrolan kami seputar bajak laut, aku pasti paham. Mrs. Rivera memiliki tiga anak, dua perempuan dan satu laki-laki. Kesimpulannya, aku dibesarkan anak laki-laki dan Arley dapat jatah berbeda.

Berbicara perkenalan…
Pertemuan kami kurang menyenangkan. Minggu pertama Arley selalu bersembunyi. Aku mengenali wajah lugu anak itu melalui foto. Waktu itu Percy, mengajakku bermain bola tangan. Lemparan kakakku terbaik. Bola tersebut melambung tinggi. Aku mengejar bola itu. Tersangkut di atas pohon.

TO BE CONTINUED

Cerpen Karangan: Nurliah Apryanti
Facebook: Nurliah Apryanti
another story for my project

Cerpen Evangelistas (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Miss Confident

Oleh:
Di dalam kelas kosong itu, aku melihat. Rambut hitam panjang bergelombang.. seperti aliran tinta yang turun dari kepala. Dan juga sepasang bola mata indah kecokelatan, layaknya sebuah karya seni

The Story Of Soul Eater

Oleh:
Pada suatu jaman hidup sebuah kerajaan dimana sang raja itu sangat rakus, ia berubah jadi rakus dan kejam karena ditinggal mati oleh ratu di dalam peperangan. Raja itu mempunyai

Kisah Kamis

Oleh:
Siang itu begitu panas, sementara Kris sedang melajukan motornya ke kantor pajak. Hari itu dia dituntut untuk menyelesaikan laporan bulanan pajak. Namun sialnya hari itu laporannya ditolak oleh kantor

Between

Oleh:
7.07 AM. Pagi itu hujan. Saat kebanyakan orang mulai melakukan kegiatan di awal hari. Pagi yang ramai karena bukan hari libur. Tidak salah lagi, jika salah satu dari puluhan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *