Faith (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 16 August 2016

Ayu tertegun mendapati Oscar yang berdiri tegap bersama Monica di depannya dan Dimas. Ayu berusaha setegar mungkin, menyunggingkan senyum manis kepada Oscar dan Monica yang terlihat mesra di depannya.
“Ay” ucap Oscar yang menatap Ayu lirih.
“Itu pacar baru kamu ya, Ay?” tanya Monica tersenyum sinis pada Ayu.
“Perkenalkan, aku Dimas. Pacarnya Ayu” kata Dimas menyodorkan tangan kanannya pada Monica.
Monica menerima jabatan tangan Dimas. “Monica” sahut Monica tersenyum manis pada Dimas. “Wah. Ternyata cepat juga kamu move on dari MANTAN KEKASIHMU ini” kata Monica pada Ayu dengan melirik Oscar disampingnya.

Dimas mengerutkan keningnya. Melirik Ayu yang saling bertatapan dengan Oscar, gadis itu hanya diam membisu seperti patung. Dimas sangat paham dengan situasi ini. Situasi yang pernah dia alami beberapa minggu yang lalu dengan Naomi, hanya saja situasinya yang berbeda. Dimas hanya bertemu Naomi saja sedangkan, Ayu bertemu dengan mantan kekasihnya sedang bersama pacar barunya.
“Oh ya. Aku dan Ayu akan makan siang. Apakah kalian mau ikut?” ujar Dimas berusaha mencairkan suasana yang mencekam bagi Ayu dan mantan kekasihnya. “Tapi, kami bukan mau makan di restoran melainkan di tepi jalan taman ini. Di pinggir jalan” tutur Dimas yang tak berniat mengajak mereka.
“Oh. Aku dan KEKASIHKU akan berjalan di sekeliling taman ini” sahut Monica menggenggam tangan kiri Oscar yang masih tak berkedip menatap Ayu di hadapannya.

Dua anak manusia yang dulu pernah menjalin kasih dan putus karena suatu perjodohan yang tidak masuk akal. Perjodohan yang terjadi di zaman globalisasi sangatlah tidak etis jika terjadi di zaman sekarang.
“Kalau begitu sampai jumpa” ucap Dimas, kemudian menggandeng Ayu yang terlihat seperti idiot. Menarik tangannya, menggiringnya ke sebuah tempat makan tak jauh dari taman.

Ayu dan Dimas duduk di tempat makan outdoor. Dimas melirik Ayu yang masih seperti idiot tak berkutik. Mematung. Dimas meraih tangan Ayu yang terpangku di pahanya. Menggenggamnya dengan lembut. Kehangatan mengambang di punggung kedua tangan Ayu yang membuat Ayu tersadar dari lamunan tanpa alur dan tanpa ujung.
Ayu menatap Dimas yang sedang menatapnya lirih. Terambang air mata di bola mata Ayu, merasakan sesak di dadanya. Sekuat mungkin menahan air matanya tapi, air mata itu tetap saja jatuh mengalir membasahi pipinya. Ayu tertunduk, menyandarkan keningnya di pinggir meja. Menangis tersedu-sedu di samping Dimas.
Dimas masih menggenggam tangan gadis yang sedang menangis tersedu-sedu disampingnya, yang menundukkan kepalanya di meja. Genggaman cowok itu semakin erat. Genggaman itu yang berhasil menenangkan Ayu, menepiskan kepedihannya, dan menghentikan isakan tangisnya.

“Jika kau mau, ceritakan saja” ujar Dimas mencoba menenangkan Ayu.
Ayu tertegun menatap cowok di sampingnya yang memberikan ketenangan lewat genggaman tanganya yang hangat. “Dia adalah mantap kekasihku” kata Ayu menguatkan hatinya.
“Oscar mantan kekasihku yang telah dijodohkan dengan Monica” ujar Ayu menahan sakitnya.
“Kalian putus karena perjodohan yang dilakukan orangtua Oscar” kata Dimas heran dengan tingkah orangtua Oscar.
Ayu mengangguk pelan.
“Kalian masih saling mencintai” tutur Dimas pada Ayu yang mulai tenang.
Ayu melirik Dimas. “Hubungan kami sudah kandas satu tahun yang lalu. Jadi, cinta antara kami pun telah menghilang” sahut Ayu menerawang masa pahit itu.
“Aku bisa melihatnya dari mata kalian. Cinta itu masih ada, bukan?” ujar Dimas tersenyum simpul pada Ayu.
“Bukan cinta, melainkan kesakitan dan kesesakan” protes Ayu.
“Kesakitan dan kesesakan karena tak bisa bersama?” kata Dimas menatap Ayu penuh arti.
Ayu tersenyum pedih pada Dimas. “Itu juga yang kau rasakan, bukan?” sahut Ayu melirik Dimas yang memiliki persamaan dengannya.
Persamaan karena ditinggalkam cintanya karena sebuah alasan yang konyol dan tak masuk akal. Ayu ditinggalkan Oscar karena perjodohan yang dilakukan kedua orangtua Oscar dengan alasan menjalin silahturahmi dengan pemilik perusahaan yang dipimpin oleh Ayah Monica untuk bisnis. Sedangkan Dimas, ditinggalkan Naomi karena gadis itu lebih memilih popularitas dibandingkan cintanya, mengkhianati cintanya hanya demi ketenaran yang dimiliki kekasih barunya sekarang.
“Ya. Kau benar” ujar Dimas ikut larut dalam kesedihan. Menatap Ayu lekat. “Tapi…” ucap Dimas tertunduk. “Anata ga koko ni iru node, watashi wa kare o wasureru koto ga dekimashita” sambung Dimas menatap Ayu lekat. (semenjak dirimu ada disini, ku mampu melupakan dirinya)
Ayu tersenyum manis pada Dimas. “Aku beruntung memiliki pacar sepertimu” sahut Ayu. “Terima kasih telah menghiburku, pacarku” sambung Ayu bertepak dagu menatap Dimas dengan manja.
Dimas tersenyum renyah. “Aku juga beruntung memiliki pacar sementara sepertimu” tutur Dimas.
Ayu mendelik, mendengus kesal pada Dimas yang menyebutnya pacar sementara.
Dimas terkikik melihat ekspresi Ayu yang merajuk seperti anak kecil. “Ah. Pacarku ini mudah sekali ngambek” goda Dimas pada Ayu. “Baiklah. Aku akan membelikan pacarku ini balon” ledek Dimas lagi.
Ayu melirik Dimas dengan kesal, mencubit lengan kanan Dimas.
“Aww!” rintih Dimas kesakitan.
Ayu tersenyum menatap Dimas yang mulai meledeknya. “Ternyata kutub utara bisa meledekku” ledek Ayu, membalas ledekan pacarnya.
“Aku ini dulunya mantan stand up comedy loh” tutur Dimas.
“Percaya deh” sahut Ayu terkikik pada Dimas yang juga terkikik.

Canda tawa membuncah di langit bersama udara yang berhembus sore itu. Tawa yang tulus sedikit meringankan beban yang dipikul di hati mereka. Beban yang selalu terbawa hingga merusak sistem hati.

“Ay, aku dan Eru ada perlu sebentar di dalam. Aku mau meluruskan sesuatu” ujar Dimas yang pergi meninggalkan Ayu di parkiran mobil bawah tanah mall.
“Okey” sahut Ayu tersenyum simpul pada Dimas yang menyunggingkan senyum manis padanya.

Ayu menunggu Dimas dan Eru kembali dari dalam mall. Entah apa yang mereka lakukan hingga larut malam begini. Ayu menunggu dengan sabar di parkiran mobil bawah tanah mall tersebut.
“Ay” panggil seseorang dari balik Avanza silver.

Ayu menoleh ke sumber suara. Mendapati Oscar di belakangnya. Ayu membalikkan tubuhnya, menatap Oscar yang berjalan mendekatinya. Hatinya bahagia bisa melihat orang yang kini, menjadi mantan terindah baginya. Mantan yang selalu ia kenang dalam hati juga otaknya.
Oscar berdiri tepat di hadapan Ayu, menatap gadis yang dulu pernah menjadi bagian dalam hidupnya dan yang terindah. “Apa kabar?” tanya Oscar pada Ayu yang menatapnya lirih.
Ayu tersenyum tipis. “Aku rasa itu bukan urusanmu” sahut Ayu ketus.
“Ya, aku tahu itu” ujar Oscar menatap Ayu dengan senyum tipis.
Ayu memalingkan pandangannya, hanya tertunduk ke bawah. Hatinya terasa perih begitu mengingat bahwa Oscar bukan lagi miliknya serta kenyataan bahwa dia telah memilih hati yang lain untuk disinggahi dan hati itu bukan milik Ayu.
Tanpa sadar, Ayu meneteskan air matanya. Jatuh tak tertahankan dari balik pelupuk matanya. Betapa pedih hatinya karena statusnya bukan lagi pacar tapi, seorang mantan.

Oscar yang hanya berdiri dengan diamnya. Menatap Ayu yang sedang menangisi dirinya. Tangannya tak bisa lagi untuk sekedar mengusap air mata gadis itu. Karena mereka bukan sepasang kekasih lagi melainkan mantan kekasih. Oscar berusaha menghargai cinta Monica untuk tidak lagi peduli pada perasaan Ayu terhadapnya. Sekuat tenaga ia menahan untuk tak memperdulikan tangisan Ayu yang selalu berhasil memahkan hatinya.

Oscar tertunduk, menatap lantai parkir. Mata cowok itu menatap gadis yang tertunduk dengan ambangan air mata. Oscar melangkah ke arah Ayu, menarik lengan kanan gadis itu hingga membuat gadis itu tersandar dalam pelukannya. Pelukan yang dulu pernah menjadi miliknya. Pelukan yang selalu Ayu rindukan.
“Kumohon hentikan air matamu” ujar Oscar yang tak mampu menepiskan bahwa ia juga terluka dalam hal ini.
Ayu menangis dalam pelukan yang penuh dengan kehangatan. “Tidak usah sok peduli padaku” sahut Ayu dalam pelukan Oscar. “Lepaskan pelukanmu!” seru Ayu, berusaha melepaskan dekapan Oscar.
Oscar tidak merespon kata-kata Ayu. Dirinya masih memeluk Ayu dengan sangat erat.
“Untuk apa kau memelukku seperti ini, jika setelah itu kau pergi meninggalkanku tanpa perasaan” tutur Ayu dengan isak tangis. Ayu mencoba tegar, mencoba menghentikan laju air matanya.
“Aku terlalu lemah untuk sekedar melihat air matamu” ujar Oscar. “Kumohon jangan pernah menangisi orang seperti aku karena aku sekarang bukanlah kekasihmu lagi” sambung Oscar, melepaskan pelukannya.
Ayu menatap Oscar dengan ambangan air mata. Oscar menatap Ayu dengan tatapan datar.
“Lupakan aku karena aku telah melupakanmu” ujar Oscar, berlalu pergi meninggalkan Ayu dengan Avanza silvernya.
Ayu semakin tak kuasa menahan air matanya. Air mata yang jatuh membasahi pipi juga hatinya. Ayu hanya tertunduk dengan tangisannya yang begitu lirih.

Dimas dan Eru terpaku setelah melihat adegan yang terpampang di cctv bagian parkiran mall. Terlihat jelas Ayu yang sedang menangis tersedu-sedu.
Dimas beranjak meninggalkan ruang keamanan mall, berlari sekuat tenaga menuju pakiran mobil bawah tanah untuk menghampiri Ayu. Dimas terhenti ketika menemukan Ayu yang masih tertunduk dengan tangisannya. Dimas melangkahkan kakinya dengan cepat. Tangannya meraih lengan kiri Ayu, membuat tubuh Ayu berputar kearahnya, jatuh dalam pelukannya.
“Aku ada disini untukmu” ujar Dimas mencoba menenangkan Ayu.
Ayu membalas pelukan Dimas dengan erat. Pelukan yang sangat menenangkannya.
“Menangislah jika itu membuat hatimu tenang” tutur Dimas.
“Jangan khawatir, aku baik-baik saja” ujar Ayu berusaha tegar di depan Dimas.
“Aku bukan mengkhawatirkanmu, tapi aku mengkhawatirkan hatimu” sahut Dimas. “Aku tahu, hatimu sedang terluka parah” sambung Dimas, melepaskan pelukannya karena tidak lagi terdengar isakan tangis Ayu.
Ayu menatap Dimas yang ada di hadapannya. Tidak pernah menyangka bahwa cowok itu akan berlari menghampirinya dan memeluknya seperti tadi. Selama ini Ayu mengira bahwa cowok yang selalu bersikap dingin itu sangat egois dan tak berperasaan. Tapi, ternyata di balik sikap kutub utaranya itu, cowok itu mempunyai sisi yang hangat.
“Apa kau melihat semuanya?” tanya Ayu pada Dimas yang menatapnya penuh perhatian.
“Ya. Aku melihatnya dengan sangat jelas” jawab Dimas.
Eru datang dari balik tiang beton parkiran mobil bawah tanah. “Kau cepat sekali larinya, membuatku tertinggal jauh” ujar Eru yang berjalan terengah mendekat ke arah Ayu dan Dimas.
“Sepertinya urusan kalian sudah selesai. Ayo kita pulang” ajak Ayu yang mengalihkan pembicaraan. Berjalan mendekat Avanza hitam milik Dimas.
Dimas menghentikan langkah Ayu dengan menarik tangan kanan Ayu. “Bagaimana dengan hatimu?” tanya Dimas pada Ayu.
“Okage samade genki desu” sahut Ayu tegas (aku baik-baik saja), tersenyum manis pada Dimas yang masih menggenggam tangan kanannya.
Dimas mengangguk pelan, melepaskan genggamannya dari tangan Ayu. “Ayo kita pulang” kata Dimas berjalan menuju mobilnya.
Dimas duduk di belakang kemudi, Eru duduk disampingnya dan Ayu duduk di jok belakang. Tak ada kata yang tetucap dari bibir ketiga anak SMA itu, suasana hening menyelimuti hati mereka masing-masing.

“Hai pacarku” sapa Ayu pada Dimas yang sedang mengunyah baksonya di kantin sekolah hanya sendiri.
Dimas tersenyum geli pada Ayu yang duduk di depannya. “Sok manis” ujar Dimas disela kunyahannya.
“Aku kan memang manis” sahut Ayu menatap Dimas dengan manja.
Bertepak dagu menatap Dimas dengan manis. Menatapnya tanpa henti. Tidak pernah terbayangkan akan memiliki seorang kekasih seperti Dimas. Kekasih sementara yang begitu indah dalam hidupnya, kekasih yang selalu bisa ia pandangi seperti ini tanpa henti dan kekasih yang berbeda keyakinan dengannya.
Hanya Dimas yang bisa mengerti jalan fikirannya yang rumit, hanya Dimas yang mampu mengimbangi jalannya dan langkah kakinya yang penuh dengan tanda tanya.

“Dim” ucap Ayu.
“Em” gumam Dimas, yang telah selesai menyantap baksonya.
“Semalam, kamu sama Eru ngapain masuk lagi ke mall?” tanya Ayu menatap Dimas penuh tanda tanya.
“Naomi dituduh mencuri sesuatu di mall” ujar Dimas santai.
Ayu mengerutkan keningnya. “Mencuri?” tanya Ayu bingung.
“Ya. Dia dituduh mencuri” jawab Dimas.
“Oh” sahut Ayu yang merasa sedikit kecewa. Ternyata Dimas masih peduli pada Naomi yang jelas-jelas sudah melukai hatinya.
“Tapi, untungnya Naomi tidak terbukti bersalah, setelah kami melihat rekaman cctvnya” kata Dimas sangat santai menceritakan semuanya. “Dia dijebak” tambah Dimas.
“Siapa?” tanya Ayu yang sok penasaran, padahal ia sangat tidak ingin membahas tentang Naomi.
“Aku tidak bisa menyebutkan namanya, yang pasti dia adalah musuh Naomi dari SMP” jawab Dimas dengan wajah serius.
“Oh” sahut Ayu tak bergairah.
“Kenapa?” tanya Dimas yang menangkap sinyal aneh dari ekspresi waja Ayu yang tak lagi menatapnya dengan senyum manis.
“Em?” gumam Ayu tak mengerti.
Dimas menatap Ayu dengan tatapan datar tanpa ekspresi, menatapnya degan lekat tanpa berkedip.
“Ya. Aku tahu, aku hanya pacar sementaramu” ujar Ayu yang mulai menangkap maksud dari tatapan Dimas padanya.
Dimas tersenyum tipis menatap Ayu yang kesal dengan tatapannya. Ayu beranjak pergi dari kantin, pergi meninggalkan Dimas dengan senyum tipisnya.

“Tuhan memang satu, tapi… kita yang tak sama” tutur Dimas setelah Ayu menghilang dari kantin. “Andai perbedaan ini tak pernah ada, mungkin aku bisa selalu melihatmu memandangiku dengan senyum manismu itu” ucap Dimas yang terasa pilu.
“Aku mencintaimu tapi, biarkan rasa ini hanya hidup dalam sudut terkecil hatiku dan kusimpan sebagai arsip terindah yang selalu aku kenang…”

Sebulan bukan waktu yang lama bagi Ayu untuk bisa berada di samping Dimas yang penuh dengan kedinginan. Ayu perlu sedikit waktu untuk bisa berada lebih lama bersama Dimas yang telah masuk perlahan dalam hatinya. Sosok yang mampu memberinya semangat untuk terus melupakan Oscar dan sosok yang selalu ada untuknya dan bertahan dengannya.

Entah apa arti dirinya di mata Dimas?, yang pasti sekarang ia telah terjebak dalam cinta yang penuh dengan pebedaan. Cinta yang tak seharusnya ia tanamkan dalam hatinya dan cinta yang tak seharusnya ada dalam benaknya. Akankah cinta itu akan tetap ada atau akan hilang bersama sang waktu. Ayu hanya berharap bahwa cinta itu bisa menepiskan segala perbedaan yang begitu besar, perbedaan yang tak akan bisa dipersatukan meski, pemilik hati terluka parah.
Cinta tidak akan pernah salah, karena cinta itu tumbuh dengan sendirinya dari dalam hati manusia. Tanpa tahu apa yang akan terjadi nanti karena satu hal yang pasti, bahwa cinta hanya bisa memberikan salah satu dari sejuta rasa cinta.

Mungkin cinta ini akan berakhir sampai disini saja. Sebelum cinta itu tumbuh lebih besar dari dalam hati Ayu dan juga Dimas. Cinta yang tak ada ujungnya, entah apakah cinta ini berakhir atau tidak?.
Perbedaan yang tak bisa dihindari dan disatukan adalah ketika kita mempunyai perbedaan keyakinan. Perbedaan yang ditentang oleh dunia, perbedaan yang indah namun tidak bisa untuk bersama. Akan kah cinta bisa menghilangkan perbedaan itu dan mempersatukan dua insan yang memiliki perbedaan itu?.

“Terima kasih telah membantuku selama ini” ucap Dimas pada Ayu yang duduk menghadap danau buatan di hadapannya.
Ayu melirik Dimas yang berdiri tepat di sampingnya, cowok itu terlihat tersenyum memandang ke arah danau buatan di hadapannya. Ayu menyunggingkan senyum manis yang mungkin ini senyum terakhir untuk pacarnya itu. “Terima kasih juga telah memilihku untuk menjadi kekasih sementaramu” sahut Ayu, menahan tangis.
“Setelah hari ini, status kita hanyalah teman” tutur Dimas melirik Ayu yang sedang memandanginya. “Tapi, kita masih bisa saling sapa seperti kemarin kan?” tanya Dimas penuh arti.
Ayu tersenyum tipis. “Ya” sahut Ayu. “Suatu saat nanti aku akan sangat merindukan kebersamaan kita satu bulan ini” ujar Ayu melanjutkan kata-katanya.
“Aku pun begitu” sahut Dimas, menatap Ayu lekat. Hati cowok itu sangat sulit melepaskan senyum yang selalu tersungging manja untuknya, senyum yang satu bulan ini selalu memberinya semangat dan senyum yang mampu mencairkannya.

Hubungan itu berakhir tanpa tahu apa akhirnya. Berakhir tanpa tahu perasaan masing-masing. Perasaan yang disimpan dalam sudut terkecil hati mereka, yang tak terjamah oleh siapapun kecuali mereka sendiri.

The End

Cerpen Karangan: Lisa Indah Sari
Blog / Facebook: Lisa Setiawan / Lisa Indah Sari

Cerpen Faith (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ada Apa Dengan Perpustakaan?

Oleh:
“Kiran, temenin gue ke perpustakaan yuk..” Aku hanya bisa mendengus bosan mendengar permintaan Shallom. Shallom, cewek yang paling nggak bisa aku mengerti jalan pikirannya, cewek yang agak labil, cewek

Jaket

Oleh:
Sabtu, 6 Desember 2014 “Selamat pagi dan selamat ulang tahun anak mamah yang paling ganteng, udah gede yaa sekarang sudah 18 tahun. Semoga menjadi anak yang soleh, berbakti dan

Bertempur (Part 2)

Oleh:
Pagi hari telah menjelang, sepeda yang tadi kukayuh telah terparkir, dengan segera kulangkahkan kaki menuju kelas. Duh apa yang terjadi? Gak biasanya ada perasaan deg-degan gini pas berangkat sekolah…

Penyesalan

Oleh:
kamu tidak akan tau kalau kamu membutuhkannya sampai dia meninggalkanmu. ******************* Aku ingin bertemu denganmu sekali saja. Kamu tau, mungkin mulutku mengingkari namun sebenarnya aku benar2 rindu padamu. Dan

Kupilih Dia

Oleh:
Aku adalah seorang siswa di Sekolah Menengah Atas. Namaku Davi. Lengkapnya Davi Adrian. Aku berasal dari keluarga yang cukup kaya. Kata teman-temanku kekayaanku bukan cukup lagi tapi lebih. Namun,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *