Fajar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 13 February 2018

Seseorang tidak mengerti seperti apa aku ingin dicintai. Karena ia tak pernah melihatku dengan waktu yang lama, juga tak pernah melihat hanya ke arahku. Ia bertingkah seolah ia mengerti diriku sepenuhnya, seakan telah melalui berabad-abad hidup denganku. Pria itu menjengkelkan, ia hanya memberiku tiga pilihan yang tak terbantahkan. Cinta, persahabatan atau tidak keduanya. Aku selalu ingin menambahkan beberapa opsi, namun pria keras kepala itu benar-benar sukar dibantah.

Fajar Giantara, lelaki sehangat fajar di pagi hari. Teman yang sialnya hanya sebatas teman. Kami sudah berteman sejak taman kanak-kanak, hingga sebelas tahun berikutnya gelar teman masih melekat kekal dalam diriku. Suatu waktu ketika matahari masih berdiri dengan angkuh dan tahun masih berpijak di angka ke-13 setelah tahun kelahiranku, pria itu menawarkan pilihan yang sesungguhnya menggiurkan. Sepertinya otakku masih berfungsi dengan baik, aku tetap bertahan di zona pertemanan yang memuakkan. Aku tak ingin persahabatanku berakhir jika cinta pada akhirnya harus berakhir. Aku ingin menjadi teman yang dicintainya, atau menjadi cinta yang selalu menemaninya, namun Sepertinya Fajar tak mengizinkanku menciptakan pilihan seperti itu.

Sepertinya aku harus sedikit menyesal, Fajar telah merangkak tidak dalam jangkauan indera penglihatanku. Aku terbelenggu dalam malam yang tanpa bintang. Jarum kompas enggan mengarahkanku pada dimana sang Fajar berada, itu sungguh membuatku ingin mencekik leherku sendiri. Fajar telah memijaki dunia pesantren di Tasik sana, hingga jarak tak mampu kutempuh hanya bermodalkan embel-embel “teman”. Aku bukan cintanya.

Sakitku telah terkumpul begitu banyak, peluhku telah membanjiri hingga sebatas ubun-ubun. Aku sakit dan lelah dengan pria satu itu. Dulu ia memacari teman dekatku, padahal ia tau aku temannya ini suka pada lelaki brengsek itu. Tetapi kesakitan itu masih bisa reda dengan tangisan. Sedangkan hadirnya tergantikan oleh angin membuatku tersiksa sampai ingin mati rasanya.
Aku merindukan Fajar yang tersenyum setiap paginya.

“Senja!” wanita yang kupanggil ibu itu berseru. Aku tidak menyahut, namun tetap menyeret tungkaiku menuju pijakannya.

“Ibu dengar dari Bu Siska temanmu menikah, benar?” aku mengernyit dalam.
“Temanku? Teman yang mana?” aku bertanya dengan acuh.
“Teman TK-mu, yang anaknya Bu Lesi.” Aku kaget, tentu saja. Aku seperti menemui malaikat maut, diam tak berkutik.

“Fajar?” aku bertanya dengan lirih.
“Ah.. Iya Fajar itu yang badannya tinggi. Ibu dengar-gengar sih bocah itu menghamili anak orang.” Ibu menggelengkan kepalanya “Anak jaman sekarang.”
“Udahlah Bu, lagian kan itu hanya kabar angin, belum tentu benar. Dan yang aku tau Fajar kan di pesantren.” aku menghibur diriku sendiri. Ibu hanya mengedikkan bahu.

Belum puaskah pria itu menghancurkanku?
Kakiku lemas mendengar kabar serupa dari teman-temanku. Sulit untuk percaya bahwa Fajar bukan laki-laki bejat, entah siapa yang harus aku percaya saat ini, orang lain atau hatiku sendiri. Aku tidak bisa percaya Fajar, karena Fajaku sama sekali tak memberi penjelasan, bahkan kabar.
Takdir apa lagi yang ingin bermain-main denganku?

Tahun telah berlalu, rindu sudah ingin meledak dari wadahnya. Kenyataan membuatku ciut untuk berekspresi dengan kerinduan, hingga aku membelenggu diriku dalam malam.
Satu getaran di Telephone genggamku merubah segalanya. Entah senang atau marah yang harus kutunjukan. Nama pria itu tercetak di layar persegi dalam genggamanku.

“Halo!” suara di sebrang sana masih seperti sebelumnya, suara yanng selalu telinga ini candui.
“Hh…” Untuk menyahutpun aku tak punya kekuatan.

“Senja.. Kamu masih di sana kan?” bahkan dia ingat namaku, ada perasaan nyaman menjalar begitu saja.
“Hmm.. Iya Jar.” suaraku tetap lirih.
“Aku rindu Senja.”
“Tapi aku tak rindu Fajar yang brengsek!” dadaku sesak, tangisku pecah begitu saja. Bagaimana bisa ada makhluk sejahat itu?

“Maafkan aku, tapi aku tak melakukan semua itu, itu bukan anak aku…”
“Stop, jangan bahas itu. Setelah satu tahun kamu gak menghubungiku, dan tiba-tiba kamu bahas masalah kebrengsekan kamu!” aku memotong pertanyaannya dengan pekikan.

“Aku cinta Senja!” ujarnya dengan mantap.
“Kamu sakit jiwa! Kamu udah punya istri bahkan anak Jar! Dan kenapa gak dari dulu kamu bilang!”
“Aku udah coba kasih kamu pilihan Senja, kamu lebih milih kita berteman. Jangan pernah kamu lupakan pilihan kamu!” tegasnya.
“Kamu egois, kamu kasih pilihan tanpa ada yang bisa aku pilih.”

“Aku cinta Senja!”
“Kamu udah dengan orang lain Fajar.”
“Aku cinta Senja!” ia tetap berujar kata yang sama membuatku jengkel setengah mati.
“Kamu udah jadi Ayah Jar, kamu jangan ingkari itu!” suaraku parau.

“Itu bukan anak aku, Irine bohong pada semua orang. Aku hanya Cinta Senja, dimana hanya Senja tempat Fajar berpulang. Seperti takdir tuhan yang digoreskan.”

Aku menutup sambungan Telephone darinya. Kebimbangan menuntutku untuk terdiam dalam kerapuhanku. Aku mencintainya, sebanyak aku membencinya. Bagaimana caraku untuk hidup dengan baik?

Aku tetap berdiri dalam diamku, dalam dilema beratku, dalam air mata yang entah berapa banyak. Namun hakikat hidupku hanya untuk tempatnya berpulang, seperti yang dikatakannya sepekan yang lalu. Aku tetap membencinya, membeci dan mencintainya seumur hidup.

Lantas apa yang harus aku lakukan?

Fin

Cerpen Karangan: Siti Nurjannah
Blog: sitialvian21.blogspot.com

Cerpen Fajar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hilangnya Cinta Puput

Oleh:
Udara sore begitu nyaman, pepohonan bergoyang lembut bak seorang penari, yang sedang menari dengan lemah gemulai, aku tersadar tak kala mama memanggil ku “puput… Puput, mandi dah sore!”, “ya

Sang Pujaan Hati

Oleh:
Dimulai dari sebuah pertemuan singkat yang terjadi pada hari minggu di taman rindang terlihat seorang gadis yang sedang berjalan dengan kekasihnya. Mereka terlihat sangat bahagia, bercanda dan saling terbuai

Sahabatku Kekuatanku

Oleh:
Pertemuan awal yang indah, Yang membuat aku merasakan dua hal yaitu kebahagiaan dan kesedihan Hujan yang lebat menguyur kota Jambi yang terkenal memiliki Sungai yang terpanjang di sumatera. Di

Di Hatiku Ada Namamu

Oleh:
Cuaca hari ini panas sekali, aku, rena, dan prita. Kami mulai sibuk menghilangkan keringat yang mengucur di dahi kami, udah 1 jam kami mengantri beli tiket untuk naik turnado,

Keputusan Yang Salah

Oleh:
Hari ini aku benar-benar dikejutkan dengan keputusan orangtuaku yang mengharuskanku menerima orang yang tak pernah kusayang. Yitno dia adalah orang pilihan orangtuaku, baik memang tapi sejauh aku mengenalnya belum

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *