Faris

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 7 July 2013

Aku hanya ingin menulis. Entah kenapa, menurutku aku bisa menumpahkan segala kedukaanku dengan tulisan. Padahal aku tidak memiliki darah sastrawan ataupun penulis dalam keluargaku. Walaupun kakekku keturunan darah biru, yang berakhir dalam diri ibuku, tapi aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Itu semua tidak penting untukku. Aku hanyalah aku, gadis 16 tahun yang masih mencari jati diriku, mencari arti kebahagiaan sejati di dunia ini.

Aku belum genap berumur 15 tahun ketika aku pertama kali mengenal dia. Namanya Faris, seorang anak keturunan Jawa-Dayak. Pertama kenal, ku pikir dia orangnya baik dan asyik. Dia sering mengajakku bercanda. Lama-kelamaan, karena seringnya kami bersama, akhirnya kami memutuskan untuk pacaran. Saat itu, aku bahagia. Pertama kali aku merasakan jatuh cinta dan itu dengan dia, orang yang tidak pernah ku sangka akan masuk di dalam hidupku dan meninggalkan kenangan yang indah.

Tapi, itu dulu saat aku masih tidak terlalu mengerti tentang warna-warni dunia. Sekarang, satu setengah tahun setelah hari itu, ternyata Faris tidak ada di sampingku lagi. Dia memutuskan untuk pergi setengah tahun yang lalu. Dan, ketika aku masih asyik menulis puisi tentangnya, air mataku menetes. Aku tak sadar lagi, mengingat betapa dulu aku selalu membanggakan sosoknya.

Aku masih mengantuk ketika jam wekerku berbunyi. Hari ini memang tidak ada kegiatan belajar di sekolah, karena kami telah mengikuti ujian seminggu yang lalu. Aku tinggal menunggu hasil raport yang akan di bagikan minggu depan. Walaupun begitu, sekolah kami tetap mengadakan class meeting untuk mengisi waktu luang ini.
“Aisha, tunggu!”, seorang anak perempuan seusiaku memanggilku. Dengan enggan, ku tolehkan kepalaku ke belakang. Itu Andini, batinku. Gadis berkulit kuning langsat itu tergesa-gesa berlari menuju ke arahku.
“Ada apa, Din? Pagi-pagi begini udah lari marathon 10 kilo kamu ini. Gak capek apa?” tanyaku padanya. Aku heran juga sih, dia itu paling malas kalau di suruh lari, tapi pagi ini entah kesambet jin mana, dia malah lari tanpa disuruh.
“Aku menemukan ini di bawah laci mejamu, kamu gak pernah lihat ya kalau ada surat disana. Ini, aku gak tau dari siapa. Tapi, sepertinya udah lama sih dikirimnya, eh diletakkan di mejamu.” Sambil menjulurkan surat yang amplopnya berwarna kuning, Andini menyeka keringat yang membanjiri dahinya. “Aku belum baca sih suratnya, soalnya aku pikir lebih baik kamu duluan yang baca. Kan gak etis kalau aku yang baca lebih dulu”, sambungnya.

Ini pertama kalinya dalam hidupku aku menerima surat misterius seperti ini. Kalau kiriman paket atau wesel, hal itu pernah saja aku alami karena temanku yang di Jawa sering meminta bantuanku untuk menyampaikan paket kirimannya untuk keluarganya di Kalimantan ini. Aku penasaran dengan isi surat itu, tapi aku lebih penasaran dengan pengirimnya.

Assalamualaikum Wr. Wb
Dear Aisha,
Maaf, hanya itu yang bisa aku ucapkan padamu. Aku orang yang sangat jahat. Kamu tidak perlu membenciku karena Tuhan telah mengirimkan hukuman-Nya untukku.
Aisha, di dunia ini tidak ada yang abadi. Begitu pula hatiku dan hatimu. Aku pikir, kekuatan cinta kita akan mengalahkan segalanya. Tapi, aku kalah…
Aku tergoda dengan keindahan yang lain, maafkan aku. Aisha, sudikah kiranya kau memaafkan diri ini.

Wassalam,
Seluruh kata maaf untukmu

Faris A. Rahman

Aku menangis, surat ini dari Faris. Dia meminta maaf padaku, hal yang tidak pernah aku duga. Apa yang terjadi? Aku tidak mengerti dengannya. Ia yang selama ini menghindar dariku, menjauhiku, kenapa malah mengirim surat ini padaku? Beribu pertanyaan tak bisa kumengerti dan tak mampu kujawab sendiri. Ia tak pernah menjelaskan alasan di balik kepergiannya dari hidupku. Sampai saat inipun, aku belum bisa mengikhlaskan kepergiannya. Faris, sebenarnya apa yang ada di dalam hatimu? Tak bisakah sedikit lebih jujur padaku?

Aku mencari Faris di lapangan basket. Biasanya saat ini ia akan bermain basket dengan teman-temannya. Ku langkahkan kakiku secepat mungkin agar bisa sampai disana. Setelah ku lihat kesana kemari, Akhirnya orang yang ku cari ku temukan juga. Ia sedang duduk sendiri di bangku pinggir lapangan.
“Faris, boleh kita bicara? Ada yang mau aku tanyakan sama kamu”. Ku beranikan diriku menyapanya. Setelah ia pergi kami tidak pernah bertegur sapa. Sikapnya dingin, seolah-olah aku bukanlah diriku. Semudah itu ia melupakanku, semudah ia hadir di dalam hidupku.

Ku lihat ia berdiri dan berjalan menjauh dariku. Sepertinya ia tak ingin bicara padaku. Aku kemudian berlari mengejar dia. Sambil terus berdoa di dalam hati agar ia berhenti melangkah. “Faris, tak bisakah kita bicara sebentar? Apa kamu benar-benar tidak mau bicara padaku?” Kembali aku membujuk dia. Dan kali ini aku sedikit berhasil. Ia berhenti dan memalingkan tubuhnya padaku.
“Ada apa?” Hanya itu kalimat singkat yang mengalir dari mulutnya. Singkat, tapi memancarkan sesuatu yang tak ku mengerti.
“Apa maksud kamu dengan mengirim surat itu kepadaku? Aku gak ngerti. Kamu gak perlu minta maaf begitu. Aku sudah memaafkanmu, Ris”. Aku mencoba sebisa mungkin untuk bersikap manis padanya. Ketika aku mencoba menatap matanya, ia memalingkan mukanya dariku.
“Surat apa? Aku tidak pernah mengirim surat untukmu. Kalau bicara yang jelas dong. Lagian aku kan udah minta sama kamu supaya kamu jangan menggangguku lagi. Hubungan kita sudah berakhir. Aku tidak mencintai kamu lagi dan aku tidak mengharapkanmu. Kurasa, kamu pasti ngerti kok. Aku ini gak pantes buat kamu”. Kalimat-kalimat itu meluncur deras dari bibirnya, menghantam hatiku. Aku tidak sanggup menahan airmataku. Dengan gemetar, akupun bicara padanya.
“Aku hanya ingin kamu peduli padaku, Ris. Kamu tahu sendiri kalau aku tidak bisa melupakanmu. Kamu masih menjadi seseorang yang sangat berarti bagiku. Mungkin kamu bisa melupakan aku, melupakan semua kenangan kita. Tapi, aku gak bisa, Ris. Hatiku sakit, tapi lebih sakit lagi jika aku melupakanmu. Aku masih menyayangimu. Tak perduli apapun yang dikatakan dunia terhadapku. Yang ku tahu, aku mencintaimu”. Setelah mengatakan semua itu, aku berlari meninggalkan Faris. Orang yang pernah ada di dalam hidupku.

Faris yang selalu ada untukku. Ternyata aku tidak menemukan sosok itu di dalam dirinya. Ia telah berubah, aku tak mampu menggenggam hatinya lagi. Tuhan, apakah hikmah dibalik semua ini? Apakah yang Engkau inginkan untukku. Cukup sampai disini, aku sudah tak tahan lagi. Harapan untuk dengan bersamanya telah ku buang jauh. Impian itu tidak akan menjadi nyata. Cukup, luka ini lebih dalam daripada ketika ia meninggalkanku. Faris, tak ada lagi kah arti diriku untukmu?

Dua tahun setelah hari itu, hari ketika Faris mengucapkan kalimat-kalimat tajam itu. Aku masih duduk terpaku di depan cermin. Semua yang terjadi mesih membekas di hatiku. Selama itu pula, aku berpura-pura bahagia di depan Faris. Aku pun bersikap acuh tak acuh padanya. Hingga hari ini, aku memutuskan untuk pergi ke Banjarmasin. Aku akan kuliah disana setelah kemarin aku menerima ijazah SMA ku. Hari ini, aku akan memulai kembali hidupku, tanpa bayang-bayang Faris. Walaupun sebenarnya harapan untuk bersamanya masih terlukis indah di dalam hatiku.

Tiba-tiba Ibuku memanggilku. Ibuku menyuruhku untuk menemui tamu. Aku tidak tahu siapa. Siapa yang ingin menemuiku di saat hari keperhianku ke Banjarmasin. Dengan cepat, aku pun menemui orang itu.
“Aisha, ini aku Faris. Boleh aku duduk?” Aku tidak percaya dengan penglihatanku sendiri. Faris ke rumahku, untuk apa?
“Ya, ada apa? Darimana kamu tahu rumahku? Kamu sendiri tahu kan kalau hari ini aku ingin pergi?” Tanpa berlama-lama aku langsung mencari tahu tentang keinginannya datang ke rumahku hari ini.
“Aku tahu dari Andini, aku juga tahu kalau hari ini kamu akan pergi. Tapi, sebelum itu terjadi, ada yang mau aku sampaikan sama kamu”. Faris menatapku. Ia menatap dalam-dalam ke arahku. Sepertinya ia ingin membaca hatiku lewat mataku.
“Aisha, sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan ini sama kamu. Kamu benar, Sha. Aku memang mengirim surat itu, tepat di saat hari ulang tahunmu. Tapi, aku gak tahu kalau kamu tidak menemukan surat itu. Aku minta maaf sama kamu, Aisha. Aku tidak pernah memberi penjelasan apapun padamu, sampai saat ini”. Ku biarkan ia menarik nafasnya sebentar. Aku masih mmenunggu kelanjutan kalimat yang akan disampaikannya.
“Jujur, aku tidak pernah bisa melupakan kamu, Aisha. Semua yang dulu ku katakan padamu pada hari itu, semuanya bohong. Aku ragu dengan diriku sendiri. Aku gak bisa membalas semua kebaikanmu. Itu yang selalu mengganggu hari-hariku. Kamu itu terlalu baik untukku, Sha. Aku gak pantes buat kamu.” Air mataku mulai menetes. Faris yang dulu pergi sekarang sudah kembali. Aku benar-benar tidak menyangka semua ini akan terjadi.
“Kalau kamu merasa seperti itu, kenapa kamu gak berani untuk mencintaiku? Jika kamu bisa mencintaiku lebih dari aku mencintaimu, kamu menang terhadap dirimu sendiri, Ris. Tentu kamu tidak akan pernah membiarkanku pergi”. Aku mencoba memenangkan hatinya lagi, walaupun kurasa hal itu sangat sulit.
“Aku tahu, Aisha. Maafkan aku. Ternyata setelah 2 tahun berlalu, cintamu padaku tidak pernah berubah. Aku betul-betul behagia menjadi orang yang istimewa di hatimu, Aisha. Bukankah 2 tahun sudah cukup bagi kita untuk memulai semuanya lagi? Aku ingin kita seperti dulu. Mungkin aku egois tapi aku ingin membalas semua perlakuan jahatku padamu. Aku ingin membayarnya. Bisakah kamu percaya padaku? Akupun masih mencintaimu sampai saat ini. Tidak ada yang bisa menggantikan hadirmu di hatiku. Aisha, maukah kamu kembali padaku?” Kalimat terakhirnya itu membuat aku melayang. Seperti ketika pertama kali ku dengar kata cinta darinya.
“Tapi, aku harus pergi ke Banjarmasin. Aku harus kuliah disana. Bagaimana menurutmu?” Aku bertanya padanya. Aku takut, ia akan kembali ragu padaku.
“Kali ini takkan pernah ku biarkan kamu pergi lagi. Walaupun kamu disana, aku akan menunggu kamu disini. Percayalah padaku. Kembalilah 5 tahun lagi, dan saat itu aku akan melamarmu. Tunggulah aku 5 tahun lagi, Aisha. Ketika hari itu tiba, aku akan menjadikanmu ratu di dalam hidupku. Aku janji”.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Faris ternyata sudah memikirkan segalanya, termasuk masa depanku dan dia. Tak pernah ku sangka, orang yang ku pikir telah pergi dari hidupku kini datang kembali dan mulai membimbingku lagi merajut impian itu. Faris, tak pernah sedikitpun hatiku berpaling darimu. Tak pernah aku membencimu ataupun meragukanmu. Aku percaya padamu. Aku percaya, harapan itu akan menjadi nyata. Dan saat ini, kau sudah membuktikannya padaku. Faris, aku mencintaimu.

KELUA, 24 JUNI 2012

Cerpen Karangan: Rahmi Pratiwi
Facebook: Rahmi Chelsea Ayumi Aprilia
Ini adalah cerpen kedua saya. Pertama kali tertarik untuk mengarang ketika kelas X. Penyuka cerita detektif dan komik.

Cerpen Faris merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Sahabatku Untukku

Oleh:
Namaku Dina Azizah Rasdipati. Aku akrab di panggil Dira. Ada pula yang memanggilku Dina dan ada pula memanggilku Mbak Rasti. Tapi yang memanggilku Mbak Rasti, Cuma teman-teman terdekatku doang.

Kamu Percaya Takdir?

Oleh:
Kamu percaya takdir? Aku merasa 26 tahun ini hidupku dikuasai oleh takdir. Takdir mengatur detak jantungku. Takdir memaksaku menerima kepergian orangtuaku. Takdir pula yang mengizinkanku untuk bertemu dengan orang-orang

Aku Yang Mengalah

Oleh:
Aku mengalami kisah ini dimasa putih abu-abuku yang penuh dengan suka dan duka. Perkenalkan namaku adalah putri yani ginting anak dari 3 bersaudara dan anak terakhir dari ayahku yang

Telah Kutepati

Oleh:
“Aku tidak dapat menjelaskan lagi padamu, bagaimana agar kau mengerti bahwa cintaku ini sejati.” Tidak lama dari hari jadi aku -Fiola- dan Eki, dia meminta untuk putus tanpa alasan

Penyesalanku

Oleh:
Namaku Febi. Aku dari keluarga yang kaya namun ayahku adalah orang yang tidak bertanggung jawab, ia selalu marah dan memukuli ibuku sampai ia terluka. keluargaku tidaklah harmonis, setiap hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Faris”

  1. Hari says:

    Cerpennya singkat tapi menarik,,
    hmm,, kagum,, buat penulis _Rahmi Pratiwi

  2. Tasha Adel Livania says:

    Wew keren jga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *