Fatah Hakiki Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 21 August 2016

“Lo kenapa, Fel? Kayak nggak konsen begitu dari tadi?,” tanya Bram.
“Heh? Enggak kok, gue nggak papa.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Ok, biar gue aja deh yang jelasin kenapa Felly kayak begitu,” sahut Billy.
“Huffft, iya-iya gue ngaku deh!”
“Hahahaha, pinter juga lo Bil nekan tuh anak!,” tawa Riska yang tengah melihat tingkah temannya itu.
“Kalian tuh, suka banget sih jahilin gue? Lagian, kalian denger dari siapa sih tentang beginian? Dasar!,” oceh Felly kepada teman-temannya. Namun, teman-temannya hanya dapat tertawa mendengar ocehan Felly.

Yah itulah mereka, personil band Pro Techno yang tengah tenar di kalangan sekolahnya dan juga sekitarnya. Band yang dapat menggeret segudang kejuaraan serta kemampuan individual mereka yang mengagumkan telah membawa mereka ke depan pintu gerbang yang entah itu apa namanya? Namun, mereka mengetahuinya saat Felly memberikan cahaya bagi mereka.
Billy sang pemegang bazz, Bram sang drummer, dan Riska sang pianis. Mereka bisa bermain kembali karena Felly. Setelah, peristiwa menghancurkan mereka. Namun, rasa bangga terhadap Felly membuat mereka terinspirasi untuk kembali dan mencoba untuk berjalan di samping Felly untuk kemenangan.
Felly yang kerap disapa “congok” oleh teman-temannya, kini telah hilang karena satu alasan. Ia tetap tersenyum ceria dengan binar matanya. Tertawa lepas dengan segenap hatinya. Namun, ada satu yang hilang dalam dirinya. Itulah alasannya, dirinya terasa ganjil di mata orang lain.

“Fel, not angka milik lo udah jadi kan?,” tanya Billy saat semua personil band asik makan di tengah kegiatan latihan mereka untuk mempersiapkan turnamennya dalam perebutan piala nasional tingkat pelajar untuk band terbaik.
“Udah sih, tapi cuma setengah.”
“Emmmh, nggak papa deh, kita coba gabungin aja dengan yang lainnya.”
Felly pun memberikan buku yang berisi not angka yang telah dikarangnya. Dan, Billy pun mulai menyatukan dengan not angka milik Riska, dan Bram. Di sana, Billy menemukan keganjalan di salah satu baris not angkanya.
Dan, hal tersebut bersimpangan dengan lirik lagu yang telah ditulis. Billy mulai mengoreksi kembali not angka yang telah ia tulis di halaman-halaman sebelumnya. Disanalah kesalahan terbesarnya. Billy hanya bisa terdiam dan terus berpikir untuk mengubahnya. Namun, ia tidak kuasa karena dia bukan masternya. Billy pun berhenti melakukan aktivitas itu dan mencoba berjalan ke arah teman-temannya yang asik makan siang setelah jam makan siang mereka disita oleh Felly.
“Bray, gue ke kamar mandi dulu ya,” ijin Felly kepada teman-temannya.
Mereka pun menyetujui dengan anggukan kepala.

Felly pun keluar studio musik dan berjalan ke arah kamar mandi. Menaiki anak tangga dan berjalan ke arah utara. Bangunan yang dipenuhi dengan alat-alat olahraga. Yah… Basecamp. Ia pun melangkahkan kakinya dan mulai memasuki ruangan itu. Ia berjalan ke arah lemari itu. Membuka pintu lemari itu dan memegang benda itu.
“Apa yang kamu lakukan di sini?,” tanya seseorang setelah melihat Felly memegang benda itu.
“Maaf,” ucap Felly dengan gugup.
“Fel, ini sudah bukan menjadi tempat kamu untukku! Ngapain sih masih pegang-pegang benda itu?”
“Apakah semuanya sudah selesai?”
“Yah… selesai! Seluruhnya!”
“Lalu, kenapa kamu menyimpan benda ini di sini, hah? Ini adalah lemari khusus yang di gunakan siswa untuk menyimpan benda berharga bagi mereka. Benda yang dapat membuat mereka termotivasi?!”
“Bukan urusan kamu!,” kata orang itu berjalan ke arah Felly dengan kaki yang pincang dan mengambil benda itu dari tangan Felly. Lalu, meninggalkan Felly yang masih berdiri termangu dan membeku di tempat itu.
Felly hanya dapat terdiam. Lututnya mulai bergetar, lemas, lunglai dan berengkuh dengan sandaran meja. Badannya mulai mengigil walau tertutupi jacket keren dan tebal itu. Poni rambutnya mulai menutupi matanya. Tangannya mulai basah karena cucuran air dari tempat yang tertutupi poninya. Dan, giginya mulai menggigit bibirnya sendiri.

Beberapa menit kemudian, ia kembali berjalan ke studio dengan langkah kakinya yang menyeret. Pipinya yang basah, perlahan mulai mengering karena terpaan angin. Hingga akhirnya, ia sampai di depan pintu studio. Menghembuskan nafas beratnya, itulah yang dilakukan olehnya. Barulah ia memasuki studio dan siap untuk bertemu dengan teman-temannya.
“Lama banget, Fel?,” tanya Bram.
“Hehehe, sorry ya. Tadi, gue ketemu sama guru. Jadi, gosip dulu deh. Hehehehe,” jawabnya dengan senyum yang manis dan penuh kebohongan. Namun, kemanisan tersebut tidak dapat menutupi kepahitan hatinya. Mengingat, Bram, Billy dan Riska sudah lama mengenal Felly dan tahu kebiasaan Felly. Terlebih, mereka menganggap Felly sebagai kakaknya.
Riska dan Bram mulai mendekat ke arah Felly. Mereka bertiga memegang tangan Felly yang masih dingin seperti es. Mereka menatap mata Felly dengan tatapan sendu. Berusaha menjelajahi hatinya dan menaruh sebongkah coklat manis di hatinya mengingat kepahitan hatinya sekarang.

“Kenapa lo menutupi terus Fel, kalau lo usai sama Arka? Lo habis nangis kan di Basecam tadi? Gue sengaja ngikutin lo! Dan ini, semua karena Arka kan? Lo menciptakan lagu bukan untuk siapa-siapa kan Fel, selain Arka? Kenapa masih diam di sini dan memikirkan Arka kalau lo cinta sama dia! Apakah karena lo mempertahankan harga diri lo? Keegoisan lo ke kita semua dengan nyita jam makan kita nggak ada gunanya dibandingkan lo berada di sisi Arka sekarang!,” jelas Billy.
“Fel, ada kalanya kita egois untul suatu hal. Apa lo yakin akan melepas Arka setelah kepergiannya tiga tahun yang lalu? Apa lo masih yakin akan menyentuh gitar itu dan bernyanyi di atas panggung tanpa kehadiran Arka di hati lo? Fel, lo adalah tombak bagi kita semua. Jika tobak itu patah, bagaimana bisa menjadi sandaran seseorang?,” lanjut Riska.
Seketika air mata Felly turun dengan derasnya. Sesak hatinya membawa dalam suara tangis sendu seda yang mengelilingi studio saat itu.
“Senyum lo itu nggak ada gunanya untuk kita. Sekarang, lo pergi ke Basecamp. Di sana, Arka sendiri menunggu lo. Jangan takut dengan campakannya. Gue tahu kok gimana Arka orangnya, dia masih sayang dan cinta sama lo. Tinggal lunya aja yang mencari tahu kebenarannya tentang dia. Kenapa dia bisa sampai kayak gini!,” ujar Bram dengan menjitak kening Felly.

Felly pun beranjak dari tempat duduknya. Meninggalkan teman-temannya, dan berlari ke arah Basecamp. Dengan rasa takut, gemetar, sesak bercampur dengan rindu akan suara Arka. Mengingat banyak peristiwa yang terjadi di antara mereka berdua di Basecam. Iapun memasuki ruangan itu.
Di sana, ia menemui sosok Arka yang tengah termangu memandang benda itu. Yah… bola basket. Hadiah ulang tahun yang pernah diberikan Felly kepada Arka saat pertandingan Buldock di gelar. Felly memberikan hadiah itu karena, ia sangat menyukai aksi Arka saat memasukkan bola ke dalam ring. Baik itu dengan three point, maupun dengan Alley-oop.
Felly pernah berfikir bahwa, ia mencintai Arka karena permainan basketnya di lapangan. Bagaimana tidak? Hampir setiap kali Arka bermain di lapangan, Arka selalu mencetak rekor individual kompetence terbanyak. Di sisi lain, Arka adalah seorang kapten basket. Tidak hanya itu juga. Bentuk fisik Arka yang menggiurkan membuat Felly selalu menelan ludah saat melihat Arka melepas bajunya saat Renang. Serta, melihat otot kakinya saat Arka berlari keliling lapangan untuk melakukan pemanasan. Bagi kaum hawa, itu adalah perfect human. Ditambah, Arka adalah murid berprestasi di sekolah itu.

“Ngapain kamu di sini?,” tanya Arka saat melihat Felly berdiri di depannya.
“Kenapa kamu pergi?”
“Apaan sih?!”
“Ka, please jawab aku!,” bentak Felly dengan gelinangnya air mata.
“Felly!,” ucap Arka dengan suara melemah.
“Jawab aku Arka!!!,” pinta Felly dengan berengkuh di depan Arka.
Seketika Arka mengangkat tubuh Felly dan mendudukannya di sampingnya. Menggenggam tangannya, dan menjelaskan kepergiannya.
“Aku hanya tidak ingin kamu terebani dengan kecacatanku sekarang. Lagipula, letak posisi kita sudah berbeda Fel. Bahagialah dengan kehidupanmu! Kamu juga pernah bilang, kalau hal yang paling kamu sukai dari aku adalah saat bermain basket. Semuanya udah nggak ada Fel. Aku nggak bisa bikin kamu suka lagi.”
“Ka, aku akui kalau aku menyukaimu karena basket. Tapi, tidak untuk cinta. Awalnya, aku berfikir sama denganmu. Namun, aku tersiksa dengan kepergianmu. Disanalah aku mulai tidak memperdulikan posisi kita dan keadaanmu yang sekarang. Dan, di situlah aku menemukan titik dimana aku mulai mengerti makna sebuah cinta. Masihkah kamu ingin pergi?,” tanya Felly dengan tatapan matanya yang penuh dengan kerinduan.
Arka tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Hanya mampu menggelengkan kepalanya.

Cinta adalah sebuah anugerah dari-Nya juga titipan dari-Nya. Saat kita mendapatkan titipan itu, sudah searusnya kita menjaganya. Cinta adalah rasa apa adanya. Sebesar apapun hambatan cinta, jika kita benar-benar mencintai. Maka, kita akan berani melewatinya bersama. Merelakan kenikmatan yang pernah kita rasakan sebelumnya. Dan, cinta juga dapat merubah segalanya. Termasuk jati diri seseorang.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen Fatah Hakiki Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akhir Cerita Sabtu Senja (Part 3)

Oleh:
Penampilan tak kalah mengesankan dari peserta lomba tari lain, namun penentuan kemenangan ada di tangan para juri yang duduk di urutan kursi paling depan. Semua rombongan menangis saat tidak

Cinta Di UKS Sekolah

Oleh:
Di rumah. Jam menunjukkan pukul 06.40 pagi, aku segera berlari menuju kamar mandi. Setelah mandi aku segera memakai seragam putih biru yang sudah lama aku idam-idamkan. Hari ini merupakan

Antara Cinta dan Benci

Oleh:
Suatu hari aku tamat sekolah dan ingin masuk ke jenjang yang lebih tinggi, aku memilih sekolah lain yang lebih unggul dan tak satu pun dari siswa di sana yang

See You Soon

Oleh:
Dengan senyum yang tidak mau hilang dari semalam, aku dengan semangat sudah berada di sini. Sekalipun matahari belum muncul, itu tetap tidak menghalangi niatku untuk datang ke sini. Stasiun

Cinta Untuk Sahabat

Oleh:
Namaku Firga Jeslyn, sering di panggil Firga. Aku siswa di SMU Melati Jaya. Aku siswa kelas X IPA 1. Aku tinggal di Jakarta. Aku anak kedua yang dilahirkan oleh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *