Fate Of Two Sorcerer (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 11 June 2013

Keesokan harinya semenjak pagi Adora sudah berada di ruangan Ayahnya berkerja, ia merasa bingung apa yang harus ia kerjakan di ruangan yang penuh dengan buku-buku dan dokumen-dokumen penting untuk kerajaan. Untuk apa aku disini, Ayah begitu sibuk dengan pekerjaannya sampai-sampai ia lupa dengan keberadaanku didekatnya gerutu Adora.
“Adora… Bukakan pintu itu? suruh Ayah, ketika pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang”.
“Baik… Ayah, jawab Adora lalu ia melangkahkan kakinya kearah pintu”.
Tampak seorang pengawal kerajaan membawa setumpuk gulungan kertas di atas nampan, lalu ia memberikannya kepada Adora. Hufh… Apa-apaan ini banyak sekali kertas yang di berikan olehnya kata Adora dalam hati.
“Ayah… mau diapakan semua kertas ini Tanya Adora sambil menatap Ayahnya”.
“Coba kamu Sortir dokumen itu satu persatu, jika ada dokumen yang penting baru kamu beritahuku… Dan Ooh..ho… kerjakan semua itu pakai akal sehatmu sebagai manusia normal? Jangan memakai ilmu sihir lagi jelas Ayah sambil menunjukan jarinya”.
Ya… ya… ya… sebagai manusia normal, puaskah engkau Ayah? Gerutu Adora dalam hatinya.

Adora meletakan gulungan-gulungan kertas itu di meja, lalu ia memulai perkerjaan yang di perintahkan oleh Ayahnya. Yaa… Tuhan aku sangat bosan dengan pekerjaan ini kata Adora sambil membaca dokumen-dokumen tersebut. Hmmm… Dokumen apakah ini, kertasnya sangat bagus dan berbeda batin Adora. Dengan Ragu Adora membuka gulungan kertas itu. Wow sebuah pernikahan dari kerajaan utara. Adora membaca undangan itu, Raja Alexis akan menikahkan Putri Ellen dengan seorang penyihir muda dari wilayah timur yang bernama Dareen. Apa… DAREEN…? Teriak Adora dengan keras karena terkejut.
“Adora… Kamu mengejutkanku, jangan berteriak? kata Ayah”.
“I… iyah… Ayah jawab Adora sambil meneteskan airmatanya”.
Dareen… apakah itu benar-benar kamu yang akan menikah denga Putri Ellen, kenapa kamu tega menyakiti dan mengkhianati aku. Yaa… Tuhan aku tidak bisa berpikir, aku tidak mau kehilangannya. Hanya Dareen satu-satunya orang yang sangat mengerti diri ini. Hanya dia yang aku miliki di dunia ini Tuhan, aku mohon jangan sampai pernikahan itu terjadi kata Adora sambil mengusap airmatanya. Adora tidak bisa menahan kesedihannya. Lalu diam-diam tampak sepengetahuan Ayahnya ia mengayunkan jemarinya sambil membaca sebuah mantra dan dalam sekejap ia pun menghilang dari ruangan kerja itu.

Tiba-tiba Adora berada dan duduk ditengah-tengah padang rumput yang biasa ia datangi bersama dengan Dareen. Ia menangis tersedu-sedu, Secepat itukah kamu melupakan aku Dareen, kamu sudah berjanji akan menghubungiku dan menyuruh aku untuk menunggu kedatanganmu. Tapi sekarang apa yang telah kamu lakukan kepadaku isak Adora. Haruskah aku mencari dan menjemputmu Dareen, aku tahu pasti ada sesutu yang terjadi denganmu saat ini. Ini sepertinya bukan dirimu yang sebenarnya. Aku harus menemuimu dan berbicara tentang janji kita berdua. Adora terus menerus menangis sepanjang hari di padang rumput.

Malam harinya Adora mengurung diri di kamar, ia berjalan mondar-mandir sambil menggenggam kedua tangannya. Aku harus pergi menemui Dareen, aku ingin mengetahui kebenaran ini. Adora lalu nekat membuat sebuah surat untuk Ayahnya, ia meminta ijin untuk pergi dari rumah sementara waktu. Maafkan aku Ayah, aku berjanji akan pulang secepat mungkin kata Adora sambil mengenakan jubah hitamnya. Tepat di tengah malam, diam-diam Adora meninggalkan rumah dengan menunggangi kuda kesayangannya ia pun pergi melawan dinginnya malam menuju utara.

Setelah melakukan perjalanan yang sangat panjang, akhirnya Adora sampai di perbatasan wilayah kerajaan Alexis yang berada di utara. Adora mampir di sebuah rumah makan dekat pasar untuk mengisi perutnya. Ternyata berita pernikahan Putri Ellen sudah menjadi buah bibir di desa, tidak jarang orang-orang banyak yang membahas tentang perhelatan besar itu. Dengan rasa penasaran Adora menegur dan bertanya tentang acara pernikahan Putri Ellen dengan seorang pelayan.
“Tuan… apakah benar Raja Alexis akan menikahi putrinya dengan Seorang penyihir muda Tanya Adora”.
“Benar… dua minggu lagi acara itu akan di laksanakan jawab pelayan itu”.
“Mengapa Raja memilih seorang penyihir, bukan seorang pangeran dari kerajaan lain Tanya Adora lagi penasaran”.
“Beritanya karena penyihir muda yang sangat tampan itu sudah berhasil menyembuhkan penyakit yang di derita oleh Putri Ellen, akibat terkena kutukan seorang penyihir yang jahat jelas Pelayan”.
“Ohh… Terima kasih Tuan kata Adora sambil tersenyum”.

Adora melanjutkan kembali perjalanannya setelah beristirahat, ia terlihat bingung hendak pergi kemana lagi untuk mencari Dareen. Adora menghentikan kudanya di pinggir sungai lalu ia memandang ke atas langit, Adora melihat seekor burung elang sedang terbang berputar-putar. Adora tersenyum lalu ia mengayunkan jemarinya sambil membaca sebuah mantra, tiba-tiba burung elang itu terbang menghampirinya dan berdiri di tangan kanannya. “Wahai elang yang baik hati, maukah kamu memandu perjalananku ini untuk mencari sahabat sejatiku yang bernama Dareen kata Adora sambil menatap mata elang itu”. Burung itu mengangguk lalu ia mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi di ikuti oleh Adora yang menunggangi kudanya dari bawah.

Dareen termenung di dalam kamarnya yang megah, saat ini ia sedang teringat dengan Adora. Apa yang harus aku lakukan, apakah aku tidak mempunyai pilihan lain dan harus menikahi Putri Ellen? Bagaimana dengan Adora yaa Tuhan aku merasa bersalah padanya saat ini. Aku tidak bisa melupakan Adora, dia adalah belahan jiwaku. Seseorang yang telah menemani dan mengisi dikehidupanku sejak kecil. Wanita yang telah membuatku bahagia sekaligus gemas dengan kenakalan serta kejahilannya. Aku sangat merindukan dia? Dareen lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Aku seperti burung emas di Istana ini, aku rindu kebebasan, aku rindu hujan yang membasahi tubuh ini, aku rindu hembusan angin yang menerpa wajah ini sewaktu menunggang kuda bersama dengan Adora di padang rumput, batin Dareen.

Tidak lama kemudian seorang dayang datang menghampiri Dareen di kamarnya. Dayang itu memberitahukan Darren jika Putri Ellen telah menunggunya di sebuah tebing di belakang Istana. Dareen lalu pergi menunggangi kudanya menemui Putri Ellen. Setiba di sana Dareen melihat Putri Ellen sedang menikmati pemandangan laut yang luas dari atas tebing.
“Apakah Tuan Putri memanggil hamba kata Dareen”.
Putri Ellen membalikan badannya lalu ia menganggukan kepala serta tersenyum pada Dareen.
“Aku belum sempat mengucapkan terima kasih secara pribadi padamu atas kesembuhanku ini kata Putri Ellen”.
“Hamba hanya berusaha sesuai dengan kemampuan hamba Tuan Putri jawab Dareen”.
“Panggil saja aku Ellen, kamu tidak perlu sungkan padaku ucap Putri Ellen”.
Dareen menganggukan kepalanya.
“Apakah kamu setuju dengan rencana Ayahku yang menginginkan kita untuk bersatu Dareen. Aku belum mengenal kamu lebih jauh, Apakah kamu mempunyai seseorang yang kamu rindukan disana Tanya Putri Ellen”.
“Aku mempunyai sahabat sejati yang sangat aku rindukan sekarang ini, Ellen jawab Dareen ragu-ragu”.
“Bawalah ia kesini dan pertemukan aku dengannya kata Putri Ellen”.
“Untuk apa Ellen, Tanya Dareen bingung”.
“Aku ingin mengenalnya, dan menjelaskan tentang pernikahan kita nanti ucap Putri Ellen”.
Dareen menundukan kepalanya. Sungguh sekarang aku sama sekali tidak mempunyai pilihan kata Darren dalam hatinya. Tiba-tiba terdengar suara pekikan kuda, lalu Dareen melihat Adora turun dari kudanya dan ia berlari mendekati Dareen.
“A… Adora… kata Dareen terkejut ketika melihat Adora tepat di hadapannya”.
Adora menundukan kepala lalu ia tersenyum memberi hormat kepada Putri Ellen.
“Maaf… Tuan Putri, keberadaan hamba disini telah menggangu. Hamba Adora teman Dareen semenjak kecil, ijinkan hamba untuk terakhir kalinya bertemu dan berbicara dengan Darren mohon Adora yang masih menundukan kepalanya”.
“Ohhh…kamukah yang telah menjadi sahabat sejatinya itu? Hmm Aku ijinkan kamu untuk menemuinya kata Putri Ellen sambil tersenyum”.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada Putri Ellen, kemudian Adora melangkahkan kakinya menuju bibir tebing di ikuti oleh Darren. Sementara itu Putri Ellen memandangi mereka berdua dari kejauhan.
“Benarkah… kamu mau menikahi seorang Putri yang cantik itu Dareen? Tanya Adora lirih”.
Dareen terdiam lalu ia memandang wajah Adora yang sangat ia rindukan itu.
“Bagaimana dengan aku Dareen, aku tidak bisa hidup tanpa kamu bisik Adora sambil meneteskan airmatanya”.
“Maafkan aku Adora… aku tidak punya pilihan, aku harus mengikuti perintah Raja jawab Dareen pelan”.
“Ikutlah… bersama denganku Dareen, kita kabur berdua dari sini. Aku sangat merindukanmu kata Adora”.
Dareen masih saja terdiam dan memandang Adora.
“Kamu punya pilihan Dareen, pilihan kamu ada dua. Putri yang cantik itu atau aku jelas Adora”.
Adora memandang tajam wajah Darren yang terdiam seribu bahasa.
“Ikutlah pulang bersama denganku, aku selalu ingin berada di sampingmu Dareen bisik Adora berharap”.
Dareen masih terdiam, lalu ia menundukan kepalanya.
“Ternyata kamu lebih memilih Putri itu kan? Kamu lupa dengan janji-janjimu itu. Hmm… Baiklah jika keputusanmu untuk tetap berada disini, aku akan mengalah demi kebahagiaanmu itu. Tidak ada pilihan lain yang aku pilih, selain menghilang dari dunia ini dan tidak melihatmu lagi kata Adora pelan”.
“Apa maksudmu Adora Tanya Dareen panik”.
Adora berjalan mundur mendekati bibir tebing.
“Jangan kamu lakukan itu Adora teriak Dareen”.
Adora tersenyum pada Dareen, “Selamat tinggal belahan jiwaku bisik Adora kemudian Adora melompat dari tebing yang curam itu kedalam lautan lepas yang berada di bawahnya.
ADORA… teriak Dareen panik, lalu Dareen terjun dari tebing itu juga ke dalam lautan untuk menolong Adora. Sementara Putri Ellen yang melihat kejadian itu langsung panik ketakutan dan memerintahkan kepada para pengawal untuk menyelamatkan Dareen. Dareen mencari-cari Adora di dalam laut yang berombak besar. Adora tidak terlihat dari pandangannya, Adora menghilang dalam sekejap di dalam lautan itu. Para pengawal istana langsung menyelamatkan Dareen yang sedang mencari-cari Adora. Adora… maafkan aku… maafkan aku kata Dareen sambil meneteskan airmatanya.

Adora membiarkan tubuhnya tenggelam ke dalam lautan, ia sudah pasrah dengan hidupnya. Aku telah kehilangan semuanya, untuk apa aku hidup di dunia ini lagi tanpa kamu Darren kata Adora dalam hatinya. Tubuh Adora terbawa arus kedalaman laut, ia pun sudah tidak sadarkan diri. Tiba-tiba ada seekor lumba-lumba datang menghampiri Adora, tampaknya lumba-lumba itu menaruh belah kasihan padanya. Lalu ikan itu menyelamatkan Adora dan membawa tubuh Adora kembali ke permukaan laut kembali.

Putri Ellen memandangi Dareen yang sedang terbaring di ranjangnya. Semenjak kejadian itu tubuh Dareen menjadi lunglai tidak bertenaga, wajahnya pucat. Ia sepertinya tidak mempunyai semangat untuk hidup. Putri Ellen sangat prihatin melihatnya, diam-diam ia pun merasa bersalah pada Dareen. Adora telah memutuskan kontak batinnya padaku, aku tidak bisa merasakan kehadirannya di hati ini lagi kata Dareen dalam hatinya.
“Dareen… kamu harus makan supaya tubuh kamu bertenaga kata Putri Ellen sambil tersenyum”.
Darren terkejut melihat kehadiran Putri Ellen yang baru saja ia sadari telah berada di dekatnya. Dareen menganggukan kepalanya, lalu ia segera bangkit dari ranjang dan memberi hormat kepada Putri Ellen.
“Bagaimanakah perasaan hati kamu sekarang Dareen? aku yakin wanita itu bukan hanya sekedar teman kecilmu, kan? kata Putri Ellen”.
Dareen tidak bisa menjawab, ia hanya diam menundukan kepalanya.
“Apakah hatimu sudah yakin untuk menikah denganku? Tanya Putri Ellen”.
“Aku tidak tahu Ellen, beban yang ku rasa ini terasa sangat berat jawab Dareen pelan”.
“Aku tidak mau kamu terpaksa menikahi aku karena perintah Ayah, Dareen? Ambilah keputusan secepatnya dan ikuti apa kata hatimu itu Jelas Putri Ellen”.
“Apakah kamu yakin dengan perkataan kamu itu, Ellen Tanya Dareen ragu”.
“Iyah… aku yakin hatimu hanyalah untuk gadis yang nekat menerjunkan dirinya ke lautan itu, sepertinya dia begitu mencintai kamu sampai-sampai ia rela mengorbankan perasaannya untuk melihatmu bahagia, kamu jangan memikirkan aku? Kejarlah cinta sejatimu kata Putri Ellen”.
“Aku merasa bersalah padanya dan padamu Ellen, aku sangat bingung sekali perbuatannya sangat bodoh. Aku tidak tahu apakah ia bisa selamat dari lautan itu kata Dareen”.
“Kamu kan penyihir, bukannya kamu bisa berbuat apa saja untuk mengetahui keberadaannya Tanya Putri Ellen”.
“Aku tidak bisa menembus dan melacak keberadaannya karena ia telah memutuskan ikatan batin kami berdua dan dia mencoba menghapus jejaknya jawab Dareen sambil tersenyum”.
“Sayang sekali, aku turut sedih Dareen. Aku berharap dia selamat dan baik-baik saja kata Putri Ellen yang berusaha untuk menghibur”.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang, kata Dareen pelan”.
“Bicaralah dengan Ayahku dan jujurlah padanya, jawab Putri Ellen sambil tersenyum”.
“Lalu kamu, bagaimana dengan perasaan kamu saat ini? Tanya Dareen”.
“Aku bersyukur telah ada seseorang yang hadir untuk menyembuhkanku. Aku sangat berterima kasih padamu Darren, tanpamu belum tentu aku sembuh seperti sedia kala. Aku tidak mau menahanmu pergilah dan kejarlah impianmu. Aku yakin setelah kejadian ini kita bisa menjadi sahabat. Urusan rencana pernikahan kita serahkan saja padaku. Aku akan berusaha untuk menyakinkan Raja jelas Putri Ellen”.
“Terima kasih Tuan Putri kata Darren sambil menundukan kepalanya”.

Ikan pintar itu membawa tubuh Adora menuju selatan. Sesampai di pantai lumba-lumba itu mengguling-gulingkan tubuh Adora ke pinggir pantai. Adora masih tidak sadarkan diri, tubuhnya tergeletak diatas butiran pasir basah yang di sapu oleh deburan ombak-ombak kecil menuju bibir pantai. Sekejap kemudian lumba-lumba itu berenang kembali dan menghilang di tengah lautan. Adora meruncingkan matanya ketika ia mulai tersadar karena sinar matahari yang menyilaukannya, tidak lama kemudian ia pun terbatuk-batuk, dahaganya terasa amat kering karena kebanyakan meminum air laut yang amat asin. Di mana sekarang aku berada tanyanya dalam hati, aku masih hidup dan selamat dari lautan. Kenapa aku tidak mati saja dan tenggelam di lautan luas itu. Takdir ini mempermainkanku. Perlahan-lahan Adora mencoba untuk berdiri dari atas pasir, lalu ia berjalan tak tahu arah masuk ke dalam hutan untuk mencari air. Setelah berjalan kira-kira dua kilo meter lamanya akhirnya Adora menemukan sungai yang berair jernih. Ia memimum air itu sepuasnya dan membersihkan dirinya yang sangat kotor.

Mengapa aku terlahir di kehidupan yang seperti ini, semenjak kecil diri ini tidak bisa merasakan sebuah kebahagiaan yang aku inginkan. Tapi semenjak bertemu denganmu Dareen aku menemukan kenyamanan di dekatnya, mengapa kamu tega meninggalkan dan membiarkan aku hidup sendirian. Aku rela meninggalkan keluargaku demi kamu. Ini sangat tidak adil, saat ini aku tidak mempunyai keinginan yang lain selain diri kamu. Adora meneteskan airmatanya kembali, maafkan aku jika aku telah memutuskan ikatan batin kita dan aku menghapus jejak keberadaanku. Aku tidak mau pikiran ini di penuhi oleh bayang-bayangmu lagi. Aku sadar apa yang aku perbuat kemarin adalah perbuatan yang sangat bodoh. Aku berjanji mulai sekarang aku akan menata kehidupan aku kembali di tempat asing ini. Dan menyembuhkan hatiku yang remuk redam ini. Adora menyihir bajunya yang sudah terkoyak itu dengan yang baru. Lalu ia memintai ijin pada tikus hutan untuk menyihirnya menjadi seekor kuda yang gagah yang akan membawanya ke tempat yang ia inginkan.

Adora menunggai kudanya melewati lembah-lembah dataran tinggi menjauhi pantai. Puluhan kilo meter ia jalani, Adora menarik tali kekang kudanya agar berhenti lalu ia turun dan berjalan sambil menuntun kuda itu. Adora menatap ke setiap sudut perkampungan yang di lewatinya. Ia begitu bingung mengapa perkampungan itu begitu sepi, kering dan tandus. Bukannya daerah ini seharusnya subur? Mengapa menjadi seperti ini Tanya Adora dalam hatinya.
“Maaf…Tuan kata Adora menyapa seorang pria tua yang sedang membelah kayu bakar dengan kampaknya”.
“Ada apa Nona… jawab Pria itu”.
“Saya orang baru di sini, mengapa perkampungan ini begitu sepi? Dimana kah orang-orang Tanya Adora penasaran”.
“Untuk apa Nona datang kemari, lebih baik Nona pergi dari desa ini kata Pria itu sambil menundukan kepalanya”.
“Memangnya ada apa dengan desa ini Tanya Adora lagi”.
Pria itu menarik napas panjangnya, matanya memerah dan berkaca-kaca. Adora menatap tajam pria itu. Ia merasakan sesuatu kasedihan yang mendalam pada pria itu.
“Desa ini telah mati sejak bertahun-tahun lamanya. Penduduk di desa ini juga telah mati satu persatu karena bencana yang kami alami kata pria itu”.
“Bencana apa Tuan, hmmm bolehkah aku masuk ke dalam rumahmu untuk beristirahat sejenak dan aku ingin mendengarkan cerita Tuan tentang desa ini Tanya Adora sambil memegang pundak pria yang berada di hadapannya”.
Pria itu menatap Adora lalu ia menganggukan kepalanya dan mengajak Adora masuk ke dalam rumah yang sudah reot itu.

“Perkenalkan nama saya Adora, kata Adora sambil tersenyum”.
“Saya Lucas katanya sambil menyalami Adora”.
“Apa yang terjadi dengan desa ini Tuan Tanya Adora lagi”.
“Dulu desa kami adalah desa yang sangat subur, indah dan tentram tetapi beberapa tahun belakangan ini desa kami menjadi kekeriangan, kami kesulitan air. Akibatnya kami kelaparan dan penduduk di desa ini juga terjangkit penyakit aneh yang susah untuk di sembuhkan, binatang peliharaan kami juga banyak yang mati kelaparan, semua ini karena akibat sisa-sisa perang antara dua orang penyihir yang kejam waktu itu jelas Tuan Lucas”.
Adora memejamkan matanya sejenak. Hmmm… perang antar penyihir? siapakah penyihir-penyihir yang tega membuat perkampungan ini menjadi berantakan, sudah saatnya aku menggunakan apa yang di ajarkan oleh Tuan Brigit untuk membantu orang-orang yang sangat menderita di desa ini. Aku berjanji akan menjadi orang yang berguna dan menyerahkan hidupku ini untuk mereka sepenuhnya kata Adora dalam hatinya.
“Aku akan membantu mengembalikan tanah yang subur di desa ini Tuan kata Adora sambil tersenyum”.
“Bi… bisa kah? Tanya Tuan Lucas yang kurang mempercayainya”.
“Mudah-mudahan… Aku berjanji akan membantu kalian semua yang ada di desa ini Jelas Adora”.

Raja Alexis menatap tajam mata Dareen yang berada tepat di hadapannya. Wajahnya tampak memerah, sepertinya ia sangat marah mendengar perkataan Dareen yang menjelaskan bahwa dirinya tidak bersedia untuk menikahi Putri kesayangannya Ellen. Tiba-tiba Raja Alexis memukul meja dengan tangannya. Dareen berusaha untuk tetap tenang melihat sikap Raja yang tidak terkontrol emosinya.
“Apakah kamu bisa mencabut perkataanmu lagi, dan nikahilah Purti ku teriak Raja Alexis”.
“Ampun… kan hamba Tuan, hamba tidak bisa menikahi Putri Ellen. Masih banyak perkerjaan yang harus hamba lakukan, hamba ingin melayani hidup hamba untuk orang-orang yang kesulitan di luar sana. Hamba yakin Tuan Putri pasti juga tidak keberatan dengan keputusan hamba ini jelas Dareen memberikan alasannya”.
“Kamu telah mengecewakan saya anak muda? teriak Raja Alexis dengan murkanya”.
Dareen menundukan kepala, jantungnya pun berdetak sangat cepat.
“Kamu tahu, perbuatan kamu ini sudah mengecewakan dan mengkhianatiku. Kamu telah melanggar peraturan kerajaan dan mempermalukan Putri Ellen? Tidak kah kamu sadar kamu bisa mendapat masalah dan hukuman berat bagi orang-orang yang telah mengkhianati ku kata Raja Alexis”.
“Hamba mengerti Tuan! Maafkan… hamba tetap pada pendirian hamba ini jawab Dareen”.
Raja Alexis melototkan matanya mendengar perkataan Darren, lalu ia memanggil perdana Mentri dan para pengawal.
“Dengarkan kalian semua, bawa anak muda yang telah mengkhianatiku ini. Penjara dia sampai seumur hidupnya. Perlakukan dia seperti orang-orang lainnya yang telah mengkhianati Kerajaan. Dan untukmu Perdana Mentri, tulislah pengumuman pembatalan pernikahan Putri ku ini perintah Raja Alexis”.

Para pengawal lalu membawa Darren ke penjara yang berada di ruang bawah. Ruangan itu sangat gelap dan pengap, hanya ada satu dipan untuk tidur dan jendela kecil bertralis besi yang sangat kuat. Dareen menarik napas panjang lalu ia menghampiri jendela yang berada di depannya. Ia melihat pemandangan di luar sana, hanya ada lautan luas yang jaraknya sangat dekat dan suara deburan ombak yang terdengar dari dalam penjara itu. Aku tidak akan pernah menyesali keputusan ini, mungkin ini adalah takdirku karena telah menyakiti wanita yang aku sayangi. Biarlah hidupku terpuruk disini kata Dareen dalam hatinya.

Pagi hari itu Dareen terbangun dari tidurnya karena seorang pengawal kerajaan memanggil-manggil namanya.
“Tuan Putri Ellen mau berbicara denganmu Dareen bisik pengawal yang berbadan tegap itu”.
Dareen tersenyum ketika melihat Putri Ellen yang penuh rasa kasihan memandangnya.
“Ada apa Ellen, udara di ruangan ini sangat tidak bagus untukmu kata Dareen”.
“Maafkan aku Dareen, aku tidak menyangka kalau akhirnya akan menjadi seperti ini kata Putri Ellen dengan menyesal”.
“Tidak apa-apa Ellen, ini semua memang sudah keputusan dan takdirku jelas Dareen”.
“Dareen, pagi ini aku telah mendengar berita dari pengawal kepercayaanku. Kemarin telah di temukan seorang wanita telah tewas tersangkut di sebuah karang yang berjarak empat kilo meter dari sini. Dia berambut ikal dan pirang, memakai jubah hitam dan kemungkinan besar ciri-ciri wanita itu sama seperti Adora bisik Putri Ellen sambil menatap Dareen”.
Seluruh tubuh Dareen lemas ketika mendengar perkataan Putri Ellen. Kau kah itu Adora? apakah kamu tidak selamat dari lautan itu kata Dareen dalam hatinya dengan penuh penyesalan.
“Dareen… Kamu ini seorang penyihir, bisa kah kamu menghilang dari sini dan pergi melarikan diri sejauh mungkin. Selamatkanlah diri kamu Dareen. Tidak ada yang bisa kamu perbuat di sini. Dari kemarin aku telah berusaha keras membujuk Ayah, tetapi dia tetap pada keputusannya. Aku sedih melihat keadaan kamu seperti ini jelas Putri Elle”.
“Biarlah… aku seperti ini Ellen, Aku merasa tidak punya gairah lagi untuk hidup. Belahan jiwa ku telah tiada. Aku pantas di hukum jawab Dareen”.
“Dareen apakah kamu sudah gila, pikirkan masa depanmu bisik Putri Ellen”.
“Aku tidak bisa hidup tampak Adora… Ellen kata Dareen”.
“Kamu sangat keras kepala, aku tidak bisa lama-lama berada disini Dareen. Aku takut ada yang mengadukan pertemuan kita. Menghilanglah… selamatkan dirimu, dan jalanilah hidupmu jelas Putri Ellen”.
Putri Ellen lalu pergi meninggalkan Darren yang sedang merenungi dirinya. Apa yang harus aku lakukan saat ini, aku merasa bersalah padamu Adora. Harus kah aku mati agar dapat bertemu kembali denganmu kata Dareen sambil meneteskan airmatanya.

Hari-hari terus berganti menjadi bulan. Adora dan Dareen menjalani kehidupannya masing-masing, sayangnya Dareen masih terpuruk dalam kesedihannya yang sangat mendalam. Sepertinya menjadi seorang penyihir tidak lagi berguna dalam hidupnya saat ini. Dalam penjara ia sering menumpahkan kesedihannya melalui sebuah tulisan, untungnya Putri Ellen sangat baik hati kepadanya. Kadang Putri Ellen diam-diam mengunjungi Dareen dan meminjamkan beberapa buku ilmu pengetahuan serta memberikan buku kosong untuk dijadikan curahan hati sahabatnya yang malang itu.

Sementara itu Adora tersenyum puas melihat hasil kerjanya selama ini yang menampakan kemajuan yang sangat berarti. Perkampungan yang dulunya menjadi desa mati kini menjadi asri dan subur kembali. Adora berkerja keras untuk menghilangkan kutukan-kutukan yang selama ini menyelimuti desa itu. Ia mengajak para penduduk setempat untuk membuka lahan pertanian lagi dan membangun waduk untuk dijadikan perairannya. Anak-anak di desa kini tumbuh menjadi sehat kembali. Pada musin semi ini bunga-bunga pun bermekaran seolah-olah ikut menyemarakan hidupnya kembali desa itu. Sekarang nama Adora di kenal oleh para penduduk di desa. Mereka memanggil Adora dengan sebutan Nona Bernice yang berarti gadis pembawa kemenangan. Nama Adora pun lama kelamaan tenggelam dan ia lebih di kenal dengan sebutan Nona Bernice.

“Benarkah Nona Bernice akan membuat rumah di dalam hutan” Tanya Lucas terkejut ketika Adora meminta bantuannya untuk membangun rumah di dalam hutan.
Adora tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
“Mengapa di dalam hutan Nona? Tanya Lucas lagi”.
“Aku ingin hidup di dalam kesunyian yang tenang. Dan aku rasa di dalam hutan adalah tempat yang terbaik jawab Adora”.
“Tetapi di dalam hutan itu sangat berbahaya Nona kata Lucas”.
“Hai… Tuan, aku ini seorang penyihir… aku pasti bisa mengatasinya jawab Adora sembil mengedipkan matanya”.
Tuan Lucas tertawa melihat tingkah laku Adora yang seperti anak kecil, lalu ia pun berjanji akan mengajak para penduduk lainnya membantu Adora membuat rumah baru untuknya.

Beberapa minggu kemudian rumah yang di idam-idamkan Adora akhirnya terwujud berkat bantuan Tuan Lucas dan teman-temannya. Adora membuat rumah yang sama persis dengan rumah yang di tinggalkan oleh Tuan Brigit gurunya. Aku ingin kenangan waktu aku kecil dulu di rumah Tuan Brigit aku rasakan kembali disini kata Adora sambil menatap rumah yang disekelilingnya ditanami tumbuhan obat-obatan. Nama Nona Bernice yang tidak lain adalah Adora pun bertambah terkenal ketika ia berhasil menyembuhkan orang-orang dari penyakit-penyakit misterius yang mereka derita. Namanya pun terdengar hingga keluar kota. Adora sekarang merasa menjadi orang yang berguna, diam-diam ia pun bangga dengan dirinya sendiri.

Seperti di malam ini, sambil meneguk susu hangat Adora duduk di depan perapian, angin malam yang sangat dingin membuatnya nyaman untuk berlama-lama berada di tempat yang hangat itu. Seandainya Ayah dan Tuan Brigit tahu keadaan aku sekarang seperti ini, pasti mereka sangat bangga melihatku sekarang. Aku bukan Adora si anak manja dan nakal lagi. Sekarang aku telah menjelma sebagai wanita dewasa dengan sebutan Nona Bernice. Seorang wanita yang terkenal sebagai penolong dan pembawa kemenangan. Tiba-tiba Adora teringat dengan Dareen, airmatanya pun kembali membasahi pipinya. Aku adalah seorang wanita yang tidak beruntung dengan cinta kasih seorang pria. Pasti Dareen saat ini sangat bahagia hidup bersama Putri yang cantik itu di istana kata Adora dalam hatinya. Yaa… Tuhan hapuslah pikiran yang selalu mengganggu ini di dalam otakku, Adora lalu menarik napas panjangnya kembali.

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang[-at-]yahoo.com

Cerpen Fate Of Two Sorcerer (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Tanpa Nama

Oleh:
Kusapa engkau dari ribuan juta mil jarak “Assalamualaikum engkau pemilik hati.” Tanyakan kabar pada angin samudera yang menyejukan dan mengenyahkan gundah hatimu. Ia mengatakan kau akan selalu bahagia dan

Aku dan Kamu

Oleh:
Sore ini terasa sepi. Bagaimana tidak orangtuaku pergi ke bandung, biasa tugas pekerjaan. Aku masih santai duduk di teras depan ditemani kucing anggora lucu pemberian om vian setahun yang

Aku Bukan Orang Lain

Oleh:
Namaku Aisyah, anak SMA yang dikenal sebagai cewek sombong. Aku menyukai kakak kelas namanya kak Andre. Dia sangat tampan dan perhatian. Aku sudah dekat dengannya selama setahun. Aku selalu

I Do, Nata!

Oleh:
Aku tersadar dari kegelapan yang entah berapa lama mengedap di mataku. Dan saat itu ketika pusing menyerangku, tiba-tiba jemari seseorang membuka kelopak mataku, dan memeriksannya dengan sebuah senter kecil

10 Tahun Lalu (Part 3)

Oleh:
Aku mulai merapikan berkas-berkas di meja kerjaku, hari ini aku pulang cepat. Aku ada janji dengan Willy untuk bertemu di suatu cafe sore ini, katanya ada yang ingin dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *