Fate Of Two Sorcerer (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 11 June 2013

Seorang Prajurit kerajaan berjalan sambil membawa nampan yang berisi makanan menuju sel milik Dareen. Ia meletakan nampan itu di hadapan Dareen lalu pergi begitu saja meninggalkannya yang sedang duduk termenung. Dareen menatap makanan dengan lauk pauk yang sangat sederhana itu, kemudian ia beranjak pergi meninggalkan makanannya dan berjalan menuju jendela. Dareen memandang lautan biru yang terbentang sangat luas dari dalam selnya. Tiba-tiba datang seekor burung merpati yang terbang mondar-mandir di depan selnya. Tidak lama kemudian merpati itu hinggap di pinggir jendela dan menatap tajam dirinya. Bukankah itu kamu yang meminta pertolonganku kemarin wahai pemuda. Aku telah menyampaikan pesanmu kepada wanita cantik yang berada di padang rumput itu kata Burung merpati. Terima kasih merpati yang baik kata Dareen. Lalu mengapa kamu bersedih dan terpenjara seperti ini, tidak kah engkau tahu jika wanita itu sedang menunggumu di luar sana kata merpati itu lagi. Hmmm… Dia telah tewas tenggelam di lautan sana kata Darren sambil tertunduk. Benarkah… Tetapi seminggu yang lalu aku melihat wanita itu sedang menunggangi kudanya di tengah-tengah perkampungan jelas merpati itu lagi. Benarkah… tanya Dareen tidak percaya. Merpati itu mengangguk-anggukan kepalanya kemudian ia terbang meninggalkan Dareen yang masih di selimuti rasa tidak percaya dengan apa yang telah di katakan burung baik itu.

Kali ini Dareen yang berjalan mondar-mandir di dalam selnya. Apakah benar apa yang di katakan oleh merpati itu bahwa ia melihat Adora masih hidup di luar sana. Seekor burung merpati tidak akan pernah bohong dan mengingkari janjinya. Aku akan mencari Adora? Yaa… aku harus menemukan ia kembali kata Dareen dengan matanya yang berbinar-binar. Wajah Dareen berubah menjadi gembira lalu ia mengayunkan jemari serta memejamkan matanya sambil membaca sebuah mantra, aku akan menghilang dan meninggalkan Istana ini ujarnya dalam hati.
Namun apa yang terjadi ketika Dareen membuka matanya ia masih berada di dalam selnya, sepertinya ia tidak bisa menghilang meskipun ia telah berusaha mengulang-ngulang membaca mantranya. Hmmm… Sel ini telah di pagari oleh mantra yang sangat kuat. Yaa… aku dapat merasakannya, pasti Raja Alexis menyuruh salah satu penyihirnya untuk mengurungku disini dengan kekuatan sihirnya agar aku tidak bisa menghilang dan menggunakan ilmu ku lagi. Bagaimana aku bisa keluar dari sini, kata Dareen dalam hatinya. Dareen lalu merebahkan tubuhnya di atas dipan sambil berfikir mencari jalan keluar untuk kabur dari selnya.

Dua hari sudah berlalu, Dareen masih saja berada didalam selnya. Ia sudah berusaha untuk mencoba semua ilmu yang telah dipelajarinya namun dari semua mantra itu tidak ada yang berhasil. Bagaimana ini bisa terjadi? Mantra apa yang digunakan oleh penyihir itu sehingga aku tidak bisa menggunakan ilmu ku sendiri di sini ujar Dareen dalam hatinya.
“Dareen… Bisik Putri Ellen yang diam-diam mengunjungi selnya”.
“Ellen… ternyata Adora masih hidup? kata Dareen sambil menatap Ellen”.
“Kamu tahu berita itu dari mana? Tanya Putri Ellen tidak percaya”.
“Seekor merpati yang memberitahuiku, ia melihat Adora sedang menunggangi kudanya beberapa hari yang lalu jelas Dareen dengan matanya yang berbinar-binar”.
“Cepatlah kamu menghilang dan kabur dari sini Dareen? kata Putri Ellen”.
“Aku tidak bisa menghilang dan menggunakan sihirku disini, karena sel ini telah di pagari oleh mantra yang sangat kuat jawab Dareen lesu”.
“APA?… wow ternyata benar apa yang aku dengar dari gossip para pengawal di Istana ini kata Putri Ellen sambil mengangguk-anggukan kepalanya”.
“Gossip apa yang telah beredar Ellen? Tanya Dareen penasaran”.
“Dua hari setelah kamu di penjara, Ayah bertemu dengan seorang penyihir hebat. Lalu Ayahku meminta agar penyihir itu berbuat sesuatu supaya kamu tidak bisa keluar dari sini… bahkan dari Istana ini jelas Putri Ellen”.
“Pantas saja aku tidak bisa menggunakan mantraku kata Dareen”.
“Ada cara lain, supaya kamu bisa keluar dari sini kata Putri Ellen sambil tersenyum”.
“Apa itu Ellen Tanya Dareen”.
“Nanti malam aku akan mengeluarkanmu dari sini, aku akan berusaha mengambil kunci sel ini jawab Putri Ellen mengedipkan matanya”.
Dareen tersenyum lalu ia mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada Putri yang sangat cantik itu.

Malam harinya diam-diam Putri Ellen mengendap-ngendap melangkahkan kakinya menuju ruang penjara. Ia telah berhasil mendapatkan kunci sel milik Dareen dari pengawal pribadinya. Putri Ellen berbisik memanggil-manggil Dareen yang sudah tertidur lelap.
“Cepat bangun… Aku akan mengeluarkan kamu dari sini Dareen kata Putri Ellen”.
“Kamu sudah berhasil mendapatkan kuncinya Ellen? Tanya Dareen”.
Putri Ellen tersenyum sambil menganggukan kepalanya, lalu ia berhasil membuka gembok pintu sel itu. Dareen keluar dari selnya, dan ia mengucapkan terima kasih pada Putri Ellen.
“Ini adalah peta jalan keluar dari Istana, lewati lorong rahasia ini agar kamu selamat keluar dari sini tampak sepengetahuan pengawal dan prajurit Kerajaan, dan di pintu luar nanti ada seekor kuda yang akan membawamu pergi dari sini jelas Putri Ellen sambil memberikan Dareen selembar kertas”.
Dareen tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Putri Ellen lalu memeluk tubuh Dareen dengan eratnya.
“Terima kasih kamu telah menyembuhkan dan menyelamatkan hidup aku Dareen, kamu adalah sahabat yang terbaik dalam hidupku, aku pasti akan merindukanmu kata Putri Ellen”.
“Terima kasih juga kamu telah menyelamatkan aku dari sini Ellen, setelah semuanya selesai aku akan mengabarimu dan kita bisa menjadi sahabat baik jelas Dareen”.
“Cepatlah kamu pergi dari sini sebelum ada yang melihat kita, hati-hati yaa Dareen. Sampaikan salamku untuk belahan jiwamu jika kamu bertemu dengannya nanti bisik Putri Ellen sambil tersenyum”.
Dareen menganggukan kepalanya, lalu ia berlari meninggalkan Putri Ellen.

Dalam kegelapan Dareen berjalan pelan menyelusuri lorong-lorong di bawah tanah. Ia mempelajari peta yang di berikan oleh Putri Ellen. Tetapi entah mengapa tubuhnya lama kelamaan menjadi lemas tidak bertenaga, ia pun tidak bisa menggunakan sihir untuk menolong dirinya sendiri. Mengapa tiba-tiba aku tidak berdaya. Apa yang terjadi pada diri ini, mantra apa yang dipakai oleh penyihir itu sehingga aku menjadi begini kata Dareen sambil berjalan mencari jalan keluar dari Istana yang megah itu. Dareen berhasil melewati lorong bawah tanah yang sangat panjang, lalu ia cepat-cepat menunggangi kuda yang telah menunggunya di luar halaman Istana.

Keesokan paginya seluruh penghuni di dalam Istana terkejut mendengar kepergian Dareen yang bisa melarikan diri keluar istana. Raja Alexis segera memerintahkan para prajuritnya untuk mengejar Dareen yang di perkirakan belum jauh meninggalkan wilayah istana.
“Ayah… Mengapa engkau begitu tega menyuruh para prajurit untuk menangkap Dareen kata Putri Ellen ketika ia menemui Ayahnya”.
“Karena ia adalah buronan di kerajaan ini jawab Raja Alexis sinis”.
“Tidak kah Ayah ingat bahwa dialah yang menyembuhkan penyakitku, dan mengembalikan kecantikanku seperti semula kata Putri Ellen”.
“Tapi pemuda itu telah mempermalukan Ayah dan kamu, dia telah mengingkari janjinya jawab Raja Alexis”.
“Aku merasa tidak di permalukan, aku justru berterima kasih padanya karena berkat dia aku sembuh dari kutukan itu jelas Putri Ellen sambil menatap tajam Ayahnya”.
“Dia harus mempertanggung jawabkan janjinya Ellen, janganlah kamu ikut campur, ini adalah urusanku teriak Raja Alexis”.
“Tuan harus bersabar, walaupun Dareen tidak di temukan. Hamba yakin lama kelamaan ia akan mati karena tubuhnya yang makin lama makin tidak berdaya? Tiba-tiba seorang penyihir berjubah hitam berkata dan menghampiri Raja Alexis”.
“Benarkah… Tanya Raja Alexis”.
“Aku telah mengutuknya, dia tidak bisa menggunakan ilmu sihir untuk menolong dirinya sendiri selama berada di wilayah kerajaan. Dan seandainya ia bisa melewati wilayah Tuan, lama kelamaan seluruh tubuhnya akan sakit. Tubuhnya akan menjadi tua tidak berdaya, dan tidak ada orang-orang di sekelilingnya yang akan mengenalinya”.
“Anda jahat sekali, Tuan…! teriak Putri Ellen sambil menatap sinis wajah penyihir itu”.
“Itu semua atas perintah Ayah Putri, hamba hanya melaksanakan kewajiban hamba kata penyihir itu”.
“Aku tidak suka… aku benci padamu Ayah? teriak Putri Ellen lagi sambil berlari meninggalkan ruangan singgasana Raja”.
Maafkan aku Dareen, lagi-lagi ini semua karena kesalahan dan kecerobohanku isak Putri Ellen.

Sementara itu Dareen berhasil melewati perbatasan Kerajaan Alexis yang berada di utara. Dareen menunggangi kudanya tampak lelah, berhari-hari sudah ia menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk keluar dari wilayah itu. Dareen merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya. Mengapa tubuh ini semakin lemah dan tidak berdaya, aku harus kuat. Aku harus menemukan Adora dan meminta maaf padanya. Aku harus menjelaskan seluruh kejadian ini semua kata Dareen sambil menahan rasa sakitnya. Berminggu-mingggu sudah Dareen mencari-cari Adora di setiap perkampungan yang ia singgahi. Tubuhnya yang sakit-sakitan terkalahkan oleh semangat dan niatnya yang ingin menemukan Adora yang sangat dirindukannya itu.

Tubuh Dareen menjadi kurus kering, wajahnya yang tampan menjadi menua dan hitam berkeriput, ia seperti orang lain dan tidak akan ada orang yang mengenali sosok Dareen saat ini. Sore itu cuaca sangat buruk, angin berhembus sangat kencang, awan hitam bergumpalan di atas langit, kilatan petir pun sambar menyambar. Dareen melewati sebuah perkampungan, desa itu tampak sepi mungkin karena akan adanya badai sehingga penduduk di desa itu enggan untuk beraktifitas dan lebih memilih untuk berkumpul bersama keluarganya di dalam rumah. Dimanakah aku sekarang Tanya Dareen dalam hatinya, lama-kelamaan mata Dareen terasa pedih dan penglihatannya terlihat samar-samar. Dareen menunggangi kudanya pelan-pelan. Sepertinya aku akan mati perlahan-lahan, kutukan penyihir itu sangat hebat. Tuhan… akankah aku akan bertemu dengan Adora sebelum aku mati tanyanya dalam hati.
Tuan… Tuan tampaknya tidak enak badan, apakah Tuan sakit? Sapa seseorang ketika Dareen melintasi sebuah jembatan.
“Aku memang sedang sakit Tuan jawab Dareen dengan napasnya yang terengah-engah”.
“Badai akan segera turun Tuan, sebaiknya Tuan cepat-cepat ke rumah Nona Bernice yang berada di dalam hutan sana. Mudah-mudahan Nona Bernice akan menyembuhkan penyakit anda jelas orang itu sambil menunjukan jarinya ke arah hutan”.
“Terima kasih Tuan, jawab Dareen sambil tersenyum”.

Dareen menunggai kudanya kembali ke arah hutan, siapakah Nona Bernice itu, apakah ia wanita sakti yang bisa menyembuhkanku. Haruskah aku kesana untuk meminta pertolongannya agar aku bisa sehat dan bisa mencari Adora kembali kata Dareen dalam hatinya. Badai sudah mulai turun dan hujan lebat membasahi bumi, Dareen masih saja menunggangi kudanya, tubuhnya basah kuyup ia pun menggigil karena dinginnya angin, lama-kelamaan mata Dareen tidak bisa melihat dengan jelas keadaan yang berada di sekitarnya.

Ada apa dengan mata ini kata Dareen dalam hatinya sambil mengucek-ngucek matnya. Badannya pun terasa sakit ketika rintikan hujan menghujam seluruh tubuhnya. Dareen turun dari kudanya lalu ia berjalan pelan-pelan sambil menarik kuda yang berwarna coklat itu. Aku tidak bisa menahan lagi rasa sakit ini, Yaa Tuhan tolonglah aku. Dareen meruncingkan matanya ketika ia melihat rumah tua yang berada di dalam hutan. Bukankah itu rumah Tuan Brigit, apakah aku sekarang berada di wilayah timur? Dareen mengucek-ngucek matanya kembali, pandangannya lama-kelamaan tampak tidak jelas, apakah itu rumah Tuan Brigit? Dareen bertanya kembali di dalam hatinya. Tiba-tiba napas Dareen terasa sesak… matanya berkunang-kunang, Dareen berusaha untuk melangkahkan kakinya mendekati rumah itu, tetapi ia terjatuh pingsan tidak sadarkan diri di tengah guyuran hujan.

Seusai badai reda, Adora menuntun kudanya menuju pulang ke rumahnya. Ia lalu terkejut ketika melihat seseorang yang sedang tergeletak tidak sadarkan diri tidak jauh dari rumahnya. Adora mengoncang-goncang tubuh Dareen. Tuan… bangun Tuan apakah anda sakit Tanya Adora. Hmmm kasihan sekali pria ini, sakit apakah dia? sebaiknya aku bawa ia ke rumah kata Adora dalam hatinya yang tidak mengenali Dareen. Adora memapah Tubuh Dareen sekuat tenaganya, lalu ia merebahkan Dareen di atas di dipan. Adora menyalahkan perapian untuk menghangkatkan Tubuh Dareen. Lalu ia mulai memeriksa keadaan Dareen dan berusaha untuk menyembuhkannya.

Hmm… pria ini telah di kutuk oleh seseorang, ia terkena sihir. Kasihan sekali nasibnya lama-kelamaan akan menjadi tua dan mati perlahan-lahan. Aku iba melihatnya, mengapa aku merasakan sesuatu yang lain di dekatnya. Aku akan berusaha untuk menyembuhkannya kata Adora dalam hatinya. Berhari-hari sudah Adora mengobati Dareen yang masih tidak sadarkan diri, semakin lama ia semakin terasa sangat dekat dengan pria itu. Adora masih belum mengenali Dareen yang berada sedang terbaring di depannya.

Siapakah pria ini yang sebenarnya, wajah ini sepertinya bukan wajah ia yang sebenarnya. Dengan ragu-ragu Adora memasukan tangannya ke dalam saku celana yang di pakai Dareen. Siapa tau saja aku menemukan sesuatu kata Adora sambil merogoh-rogoh kantong itu. Hmmm apakah ini Tanya Adora dalam hatinya, lalu ia mengeluarkan tangannya dari saku Darren. Yaa Tuhan, bukankan ini adalah kalung Dareen teriak Adora kaget ketika melihat sebuah kalung di dalam genggamannya. Adora lalu memandang Dareen. Dareen… Dareen apa yang telah terjadi padamu kata Adora dalam hatinya. Adora lalu memeluk Dareen dengan erat, siapakah orang yang telah tega membuatmu seperti ini Dareen, Adora meneteskan airmatanya.

Sudah dua minggu Dareen belum sadarkan diri dari komanya. Apa yang harus aku perbuat lagi kata Adora dalam hatinya sambil berjalan mondar-mandir. Lalu ia menatap Dareen sekali lagi. Dareen kamu harus kuat, kita harus membalas penyihir jahat itu atas perbuatannya kata Adora. Adora menarik napas panjangnya, aku harus keluar sebentar untuk mencari sesuatu di dalam hutan. Adora menyelimuti tubuh Dareen, lalu dengan ragu ia pergi keluar meninggalkan Dareen sendirian di dalam rumahnya.

Dimanakah aku… Tanya Dareen dalam hati yang tiba-tiba tersadar ketika Adora meninggalkannya. Berapa lamakah aku tidak sadarkan diri di sini, Yaa Tuhan bukankan ini di dalam rumah Tuan Brigit kata Dareen kaget. Dareen lalu perlahan-lahan bangkit dari atas dipan. Ia memanggil-manggil nama Tuan Brigit, tetapi tidak ada jawaban. Dareen semakin bingung dan bertanya-tanya sedang berada dimanakah ia sekarang. Lalu ia teringat ketika berjumpa dengan seseorang sewaktu ia menyeberangi sebuah jembatan. Hmmm… Mungkinkah ini rumah Nona Bernice yang di ceritakan Tuan itu Tanya Dareen dalam hatinya. Dan mungkinkah apa dia yang menyelamatkanku Tanya Dareen lagi. Aku harus mencari Adora, aku tidak bisa berlama-lama dan menunggu Nona Bernice disini. Dareen lalu menulis sepuncuk surat lalu ia meletakannya surat itu di atas meja dekat perapian. Dengan sekuat tenaga ia berjalan keluar dan segera menunggai kudanya kembali meninggalkan rumah Adora.

Beberapa jam kemudian Adora kembali pulang kerumahnya. Lalu ia terkejut karena tidak menemukan Darren di atas dipannya. Dimanakah Dareen kata Adora panik di dalam hatinya. Adora mengambil sepucuk surat yang berada di atas meja dan segera membacanya.
“Aku tidak tahu harus berkata apa selain mengucapkan terima kasih padamu yang telah menyelamatkanku, semoga engkau yang bernama Nona Bernice. Maaf aku seperti seorang pencuri yang kabur tampak sepengetahuamu, aku harus mencari seseorang yang sangat aku sayangi. Aku tidak mau kehilangan dirinya lagi untuk yang kedua kalinya, aku harus menemukan dia dan menjelaskan apa yang telah terjadi. Aku berjanji setelah menemukannya aku akan kembali kesini dan mengucapkan terima kasihku secara terhormat padamu Nona Bernice (Dareen)”.
Da… Dareen…? apakah kamu mencariku Tanya Adora sambil meneteskan airmatanya. Dimana kamu sekarang Dareen… kenapa kamu tidak sabar menungguku pulang. Sebenarnya kamu sudah berada didekatku beberapa hari ini? Aku harus mengejar dan menemukanmu kata Adora sambil cepet-cepat memakai jubah ia pun menunggai kudanya. Yaa… Tuhan Aku tidak bisa merasakan kehadirannya, dimanakah sekarang ia berada Tanya Adora. Kuda Adora berlari kencang menyelusuri perbukitan dan mengikuti hati nuraninya menuju pantai.

Sesampai di pantai Adora turun dari kudanya ketika dari kejauhan ia melihat seorang pria sedang duduk di atas pasir putih di pinggir pantai sambil melihat matahari yang akan segera terbenam. Adora perlahan-lahan melangkahkan kakinya mendekati pria itu. Airmatanya pun menetes kembali.
“Da… Dareen… kau kah itu sapa Adora sambil menatap punggung Dareen”.
Dareen menengok ke arah belakangnya, lalu ia terkejut melihat Adora yang sedang menatapnya. Dareen lalu berdiri dan menatap Adora, seakan-akan ia tidak percaya apa yang telah dilihatnya.
“Adora… Kata Dareen sambil tersenyum”.
Adora lalu mendekati dan memeluk erat tubuh Dareen.
“Jangan pernah tinggalkan aku lagi, Dareen isak Adora sambil menangis tersedu-sedu”.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi Adora, maafkan aku bisik Dareen”.
“Ayo kita pulang Dareen, kamu belum pulih. Kamu harus segera di obati lagi kata Adora”.
“Mengobati?… jadi… jadi kamu yang tinggal di rumah yang sama persis dengan rumah Tuan Brigit itu? Dan kamu kah Adora yang bernama Nona Bernice itu Tanya Dareen terkejut”.
Adora tersenyum lalu ia menganggukan kepalanya.
“Terima kasih kamu telah menyelamatiku, dan kamu bisa mengenaliku kata Dareen”.
“Tidak sengaja aku menemukan kalungmu di saku celana, aku juga terkejut kalau ternyata pria yang aku selamatkan itu adalah kamu Dareen? Mengapa kamu bisa sampai seperti ini. Penyihir mana yang tega membuatmu seperti ini kata Adora”.
“Ceritanya sangat panjang Adora, mau kah kamu mendengarkannya? Canda Dareen sambil tertawa”.
Adora tertawa memandang Dareen, tidak lama kemudian mereka meninggalkan pantai dan pulang ke rumah yang berada di dalam hutan.

Beberapa bulan kemudian Adora telah berhasil menyembuhkan Dareen. Lama-kelamaan Dareen bisa menggunakan sihirnya dan wajahnya juga kembali muda seperti dulu. Lalu Dareen membantu Adora untuk menyembuhkan orang-orang yang terkena kutukan. Nama mereka berdua semakin terkenal ke seluruh negeri sebagai penyihir hebat. Tuan Brigit dan Ayah Adora pun bangga melihat keduanya. Dan di musim semi ini Tuan Brigit akan menikahkan kedua muridnya di tengah padang rumput tempat mereka berdua bermain sedari kecil. Itulah akhirnya takdir kedua penyihir yang berakhir bahagia.

(Tamat)

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang[-at-]yahoo.com
yaaa… tamat sudah ceritanya, semoga teman2 suka dengan tulisan akyu yaa, terima kasih 🙂

Cerpen Fate Of Two Sorcerer (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Masa Lalu

Oleh:
Entah apa yang aku pikirkan… Setiap aku melihatmu… Seperti ada getaran yang menerpa dadaku. Dan ketika kau semakin mendekat, semakin aku merasa jantung ini tidak pada tempatnya dan ketika

Rencana Tuhan Itu Indah

Oleh:
Aku Ochy mempunyai teman bernama Bayu, kami berteman baik. Berawal dari hari Natal 2012 pertama kali kami bertemu ketika ia dan temannya berkunjung di rumahku, kami berbincang-bincang cukup lama.

Formulasi

Oleh:
Hari sabtu di awal bulan Januari, ku susuri sepanjang lorong lantai dua kampus satu, yang kudapati hanya suasana lengang sepi tak ada geming dan riuh celoteh mahasiswa. Maha-siswa, sebuah

Faith (Part 1)

Oleh:
Namaku Zulfahmi aku adalah mahasiswa semester akhir di universitas yang cukup ternama di jakarta, aku memiliki seorang kekasih bernama Nadya di satu kampus denganku, saat ini aku sedang menulis

My Adventure with my BFF

Oleh:
Sarah, Rain, Evellyn dan Ani adalah sepasang sahabat. Mereka gemar berpetualang dan juga pecinta alam, itulah dunia mereka. “Anak anak, Miss akan beritahu bahwa seminggu kemudian akan diadakan kemah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Fate Of Two Sorcerer (Part 3)”

  1. Anisah Kasih says:

    Waw Cerpen yang ini dah ku bc 4 kali loh kk. critanya sangat menarik dan bgus skali. aku suka banget kak. buat cerpen yg seru kaya gni lg yah kak

  2. Irza Fibrianqi Azizi says:

    Seru bngt ceritanya dan sgt mengharukan
    Bagus dan menyenangkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *