Feel Like I Have a Pair of Wings

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 3 May 2013

Kini mendung telah menghiasi langit biruku. Kututup buku, kututup mata, kusudahi cerita untuk hari ini. Kumulai memasuki alam mimpiku. Kulihat temanku, Mars, telah menungguku di depan gerbang Surga; tempat itu menyediakan kebahagiaan yang tak muluk-muluk untuk kami, Mars dan aku. Mars mengernyitkan dahinya kepadaku. Lalu ia membelakangiku. Kupanggil dia, namun tak ada jawaban. Hanya pandangan sinis yang ia berikan. Kuputuskan untuk mendekatinya di sana. Ia lantas meninggalkanku saat pintu gerbangnya terbuka. Aku berlari mengejarnya, menerobos masuk melewati jiwa-jiwa yang juga ingin masuk. Namun tak semudah seperti biasanya aku menuju tempat tujuan Mars. Saat kupijakkan kakiku di halaman Surga, tiba-tiba ada sesuatu yang menarik kakiku dari bawah secara paksa. Aku berteriak histeris. Meronta-ronta untuk melepaskan diri.
“Temanku, Mars.. kau di mana? Tolong aku!!!” aku berteriak sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya, berhasil membuat sebuah suara membalasnya.
“Yuvita.. Yuvita, hey! Bangun!!” katanya sambil menggoncang-goncangkan tubuhku.
Aku menggeliat bangun, “Tolong aku!!” teriakku. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku.
“Mimpi buruk lagi?” Venusa mengelap keringat di dahiku dengan lembut.
“Sejak kapan kau di sini?” tanyaku.
“Aku akan hadir bilamana kau dalam bahaya!” Venusa berdiri membelakangku, memamerkan sepasang sayap cantiknya. Ia adalah seorang malaikat yang kutemui di mimpiku. Namun aku bingung, ia selalu ada di setiap aku tersadar dari mimpi burukku..
“Kau memikirkan… hmm, Mars?” tiba-tiba Venusa melontarkan pertanyaan itu. Aku lupa akan kemampuan temanku yang satu ini, ia bisa membaca pikiran. Venusa mengepak-ngepakkan sayapnya, ia hinggap di jendela kamarku.
“Bisakah sehari tanpa memikirkan Mars?” tanyanya lagi.
“Tak usah bingung bagaimana aku bisa mengenalnya!” katanya lagi.
Hanya bisa diam, mendengar, dan merasakan. Sesuatu yang janggal kusadari dalam diri Venusa.

Seberkas cahaya warna-warni mengiringiku sepanjang perjalanan bersama Mars. Ia begitu berbeda dengan kemarin. Hari ini ia mengajakku menemui seorang ahli perhiasan di Negeri Jingga, Nyonya Poofu namanya. Tuan tukang kusir menghentikan kuda yang mengendarai keretanya.
“Kita sudah sampai, kawan!” katanya bersemangat. Mars membayar uang sewa kereta, namun Tuan itu menolaknya. Ia justru memberi kami sebuah keranjang kecil lucu berisi kue pinus.
“Anda baik sekali, Tuan!” kataku. Ia tersenyum lalu menyuruh kami berhati-hati di jalan pulang nanti.
“Terima kasih, Tuan!” kataku sambil melambai-lambaikan tangan ke arah kereta yang perlahan menghilang dari hadapan kami.
“Yuvita… kemarilah! Nyonya Poofu telah menunggu kau di sini.” Panggil Mars.

Aku memasuki area tempat tinggal Nyonya Poofu. Persis seperti sebuah Istana di Negeri dongeng. Mars mengajakku menuju sebuah bangunan beratap jerami yang sangat artistik. Banyak lukisan bersejarah terpajang di dinding batu bata merah menyala itu. Di sudut-sudut ruangan di pasang obor sebagai penerangan. Aku tak melihat satu perhiasan pun di sana. Lalu seorang wanita muda sebayaku keluar dari sebuah tirai. Ia mengenakan gaun yang sangat indah.
“Permisi, kami ingin bertemu dengan Nyonya Poofu.” Kataku. Ia tertawa mendengar perkataanku, lalu menghempaskan tubuhnya di sofa.
“Duduklah, tamuku!” katanya. Aku tercengang. Tamuku? Apakah ia Nyonya Poofu yang sedang kami cari itu?
Ia tertawa lagi melihatku bingung di hadapannya.
“Aku Nyonya Poofu yang kalian cari.” Ia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil berwarna hijau lumut lalu menyerahkannya padaku.
“Ambillah, Yuvita. Ini adalah hadiah dari Pangeran Mars.” Tambahnya.
“Pangeran?”
“Apa ia tak pernah menceritakan ini padamu? Ia adalah seorang Pangeran di Negeri Raisha.”
“Tidak. Tidak sama sekali, Nyonya.” Aku semakin bingung dengan semua ini. Mungkin aku sedang berada di alam mimpi teratas.
“Panggil aku ibu. Aku adalah seorang peri yang menjaga sebuah harta karun di sebuah goa. Kau tau, kan kalau peri itu tidak menua?”
“Tapi lupakan saja. Sekarang pakailah gelang ini di tangan kananmu.” Aku menerimanya namun tak langsung memakainya. Lalu kami berpamitan pulang; aku merasakan hawa yang aneh setelah gelang itu ada padaku.

Dalam perjalanan pulang Mars diam saja, tak menanyakan pendapatku tentang hadiahnya itu.
Aku tersadar dari mimpi tingkat akutku ini, untuk ke sekian kalinya, untuk alasan yang sama; Venusa. Sepasang sayap indahnya itu menghalangi bias cahaya mentari ke kamarku.
“Kau merasakan sesuatu yang aneh?” pertanyaan yang aneh di pagi yang aneh pula ini.
“Ya, aku merasakannya. Apa begitu juga denganmu?”
“Aku tak dapat lagi membaca semua tentangmu. Seolah ada suatu penghalang.”
“Apa itu? Apa? Katakan! Aku akan menyingkirkannya! Bahkan menghancurkannya bila itu menyiksamu!” kataku geram. Kurasakan ada sesuatu yang bergejolak dalam diriku. Setelah mimpi itu; setelah aku menerima benda itu..
“Mungkinkah…?”
“Kenapa? Apa kau mengingat sedikit tentang mimpimu tadi malam?”
Aku mencari-cari sebuah benda di sekeliling kamarku. Aku tak dapat menemukannya. Bahkan radar seorang dwiwujud seperti Venusa pun tak dapat mendeteksinya. Semuanya sia-sia, melelahkan. Kuusap keringan di dahiku..

“Benda ini…” Venusa mengamati sesuatu yang melingkar dipergelangan tangan kananku. Astaga! Gelang yang diberikan ibu peri dimimpiku semalam! Aku tak pernah berkeinginan memakainya. Entah sihir apa yang digunakan ibu peri itu untuk membuatnya melingkar di tanganku!
“Boleh aku melepaskannya?”
“Aku tak pernah berniat memakainya, Venusa, sungguh!”
“Tak apa.. sihirnya hanya membuat pembatas di antara kita. Dia tak bisa mengikatmu.” Ia melepas benda itu dari tanganku, lalu sekejap benda itu musnah ditangannya.
“Mengapa?” pertanyaanku ini awal dari sebuah cerita pengakuan dari Venusa. Tentang dirinya yang adalah seorang pangeran. Tentang seseorang yang ku sebut ibu peri itu ternyata adalah seorang penyihir. Tentang Mars yang merupakan adiknya. Dan tentang sebuah perjanjian di antara mereka.
“Tentang perjanjian itu, suatu saat, jika Tuhan mengizinkan aku untuk tetap hidup, aku akan memberitahumu, aku berjanji!” ia menggenggam tanganku erat.

Ia memintaku sejenak menutup mata. Kurasakan semilir angin membelai rambutku. Sebuah suara menyapa sunyiku.
“Yuvita…. aku mencintaimu!”
“Jadi.. kau sepakat untuk ini?” tanya Mars pada seorang yang berdiri di hadapannya. Mars menuangkan minuman untuk tamunya itu.
“Ya.” Jawabnya mantap. Lalu ia menggepak-gepakkan sayapnya untuk terakhir kalinya. “Maafkan aku untuk perpisahan ini, kawan!”
“Kau sangat yakin ia akan memilihmu, Kakak. Hahahaha…”
“Tidak. Aku ragu.”
Mars memandangnya tajam.
“Aku ragu ia akan memilihmu, Pangeran!”
“Kurang ajar!!!” Mars memerintahkan pengawal-pengawalnya untuk menyeret kakaknya itu. Namun tak satupun dari mereka yang bergerak. Ini membuat Mars semakin murka.
“Mengapa kalian diam saja? Cepat seret dan penggal sayapnya! Lalu buang dia ke Bumi!”
“Sudahlah, Paman-pamanku, laksanakanlah perintah Tuanmu.”
“Tapi, kau adalah pangeran kami!”
“Terima kasih karena sudah menghormatiku sebagai pangeran kalian, tapi sekarang biarkanlah aku memilih jalanku sendiri. Aku ingin hidup dengan caraku sendiri, paman, jadi tolong… lakukanlah!” pinta Pangeran Venusa kepada pengawal-pengawalnya itu.

Dengan berat hati, mereka memenggal sayap indah Pangeran Venusa. Sayap yang dianugerahi oleh mendiang Raja, ayah angkat Pangeran Venusa. Sekarang, sayap indah itu telah tiada. Pangeran Venusa telah di buang ke Bumi.
“Venusa!!!” aku berteriak dan bangun dari mimpi burukku lagi. “Syukurlah itu hanya mimpi..” ku usap keringat di dahiku lalu beranjak dari tempat tidur, dan bersandar di jendela. Hujan lebat telah reda. Mentari sudah mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Sesuatu seperti memintaku menuju halaman belakang. Aku berjalan tanpa kendali. Aku sungguh terkejut melihat bulu-bulu putih berserakan di depanku. Terlebih melihat bercak-bercak darah di sekitarnya. Bercak darah itu mengarah ke sebuah pohon pinus. Kudapati sesosok raga sedang bersandar di sana. Diam. Pucat pasi.
“Secepat inikah?” kataku lirih mendekatinya. Bersimpuh di hadapannya, memeluknya erat. Tuhan tak mengizinkannya tetap hidup, tetap berada di sampingku saat terbangun dari mimpi burukku.
“Kau pergi bersama perjanjianmu dengan Mars. Bahkan sebelum aku membalas cintamu..”
“Aku mencintaimu, Yuvita….” suara itu sepertinya kukenal. Di tengah kehancuranku, ia datang. Bermimpi menghapus semua tentangnya di hidupku. Tidak. Itu tak akan pernah terjadi. Sekuat apapun kau, tak akan mampu mewujudkan itu. Kau hanya mimpi bagiku, tak untuk jadi nyata.
“Mars, inikah yang kau sebut persahabatan?”
“Aku mencintaimu lebih dari seorang sahabat, Yuvita..” dengan gamblangnya ia melontarkan cinta yang tak semestinya. Entah kenapa, diriku kehilangan kendali lagi. Aku berlari secepat-cepatnya, menjauhi iblis itu. Sebuah kekuatan yang entah dari mana ini membawaku menuju sebuah padang rumput yang sangat luas.
“Yuvita.. aku mencintaimu!! Venusa telah berjanji memberikanmu padaku asal ia kurubah menjadi manusia. Tapi apa daya, Tuhan tak mengkehendakinya. Jangan salahkan aku dalam hal ini..”
“Jangan salahkan Venusa kalau aku mencintainya!”
“Tidak! Kau tak berjodoh dengannya!”
“Dia menungguku di Surga, kau tahu?” aku melompat dari bibir jurang, terjun bebas seolah aku punya sayap seindah dia. Padang rumput itu hanya ilusi semata.

Cerpen Karangan: Triyana Aidayanthi
Facebook: Triyana Aidayanthi
Seorang penulis pemula nan amatiran yang jatuh cinta dengan dunia menulis karena suka menggambar, hehehe aneh kan?
Salam kenal ya sobat..
Boleh dong kritik, saran, dan share pengalamannya
Twitter : @_triyanaa

Cerpen Feel Like I Have a Pair of Wings merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Delapan Belas Hari Berujung Sendu

Oleh:
Teet, bel tanda pulang sekolah berbunyi. Aku langsung keluar kelas dan menuju ke kelas Cintia. Seperti biasa, kami selalu pulang bersama. “Putri, tunggu!” teriak Cintia dari dalam kelasnya. Kawanku

Mencintaimu Lewat Doa

Oleh:
Satu persatu kenangan bersamamu mulai hadir lagi dalam benakku, kau menyapa dalam mimpiku. Dan seuntai senyuman menentramkan yang masih sama seperti dulu. Aku mungakin bisa menahan rasa rinduku yang

Misi Cinta

Oleh:
Udara sudah semakin dingin karena hembusan angin malam yang begitu dasyat sampe-sampe terdengar tangisan anjing tetangga gue karena kedinginan “AaaUuu…” “Tita… Tita tunggu!” “Rendy, Ada apa?” “Tita, tadi gue

Mystic Messenger

Oleh:
“Damn!” umpatku sembari mempercepat laju sepedaku. Kulirik arloji yang memeluk erat lenganku untuk kesekian kalinya, sedikit berharap agar jarum di dalamnya bergerak mundur barang 5 sampai 10 menit. 6:27,

Kabarnya

Oleh:
Sepertinya kau sudah lupa denganku, atau mungkin kau sekedar pura-pura tidak tahu. Entahlah apa yang merasuki diriku, menuliskan pesan ini padamu. Dunia memang banyak berubah tapi aku ingat selembar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *