Filloshopia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 3 January 2022

Derasnya air hujan tak menyurutkan amarah yang ada dalam diri Fillo. Pasalnya, kekasihnya yang telah menjalin hubungan dua tahun lebih dengannya, baru saja memutuskan sesuatu yang sangat penting tanpa membicarakan masalah itu terlebih dahulu dengannya. Marah. Sangat marah. Fillo keluar dari mobilnya dan menerjang hujan deras menuju rumah Sophia. Tak peduli betapa gelapnya malam, apa yang bisa dilihat matanya kini hanyalah merah.

Tanpa mengetuk atau bahkan mengucapkan salam, Fillo menerobos ke dalam rumah. Kebetulan pintu rumah Sophia tidak terkunci. Sophia selalu membiarkan pintunya terbuka untuk Fillo. Dalam kasus ini, termasuk hatinya pula.

“Sophia!” teriak Fillo. Berdiri di tengah ruang tamu yang kosong sambil basah kuyup. Lantai yang tadinya bersih, kini kotor oleh genangan air dan jejak kakinya.
“Sophia!” teriak Fillo untuk yang kedua kalinya. Ketidaksabaran hadir dalam setiap napasnya.
Barulah kemudian, langkah kaki yang berlarian kecil terdengar mendekat. Sophia dalam balutan piama biru dan rambut berantakan, muncul setelahnya. Betapa terkejutnya dia, saat melihat Fillo berdiri basah kuyup akibat kehujanan.

“Fillo, kau kehujanan. Kau bisa terserang demam,” cemas Sophia. Dia bergerak mendekati Fillo, hendak menyuruhnya berganti pakaian dan menghangatkan diri, tetapi nada marah yang keluar menghentikan niatnya.
“Stop!”
“Fillo—”
“Kubilang berhenti, Sophia! Berhenti bergerak atau bahkan bicara.”
Baru bangun tidur dan masih tak mengerti akan apa yang terjadi, Sophia hanya menurut dan bertanya-tanya dalam hati. Ada apa ini?

“Dengarkan di sini.” Fillo memulai. “Apa-apaan kau, Sophia. Kenapa kau menerima tawaran kerja di perusahaan asing!”
Sophia hendak menjawab, tetapi sekali lagi, nada marah menyelanya.
“Siapa yang mengizinkanmu bekerja? Siapa yang bahkan memberimu ide? Siapa?!”
“….”
“Kau tahu aku benci berpisah denganmu, tapi apa ini? Kau malah merencanakan pergi ke luar negeri. Apa kau tidak memikirkan aku sedikit pun saat mengambil keputusan penting seperti itu, hah?”
“….”
“Aku tidak mau tahu. Besok cepat telepon perusahaan itu dan ajukan pengunduran dirimu.”
Sophia tetap diam seperti yang diperintahkan. Dia tahu bagaimana Fillo akan bereaksi terhadap keputusannya. Dia tahu … seperti yang sebelum-sebelumnya. Semua selalu sama.

“Apa aku sudah membuat diriku jelas? Berikan anggukanmu, Sophia,” perintah Fillo, lagi.
Apa yang benar-benar berbeda kali ini adalah sikap Sophia dalam menghadapi segala tuntutan Fillo. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak.” Sebuah jawaban yang mengundang amarah besar dari Fillo.

Hening. Cukup lama. Sebelum suara pukulan yang disusul pecahan kaca terdengar memekakkan telinga. Sophia merasakan adrenalin dalam dirinya. Jantungnya berdegup kencang. Manajemen kemarahan Fillo yang berantakan selalu membuatnya takut. Namun, dia sudah bertekad kali ini akan berbeda. Dia harus melawan. Dia harus mempertahankan keinginan dan pilihannya. Fillo tidak boleh lagi melarangnya. Fillo harus tahu di mana batasnya. Jika tidak ….

“Apa tadi kau bilang?” Fillo terlihat lebih mengancam, setelah aksinya yang menghancurkan lemari paling dekat dengannya. Dia tak pernah menyambut baik jawaban tidak.
“Tidak! Fillo, kau mendengarku dengan sangat baik,” tegas Sophia.
“Apa kau sialan bercanda denganku?”
Sophia menggelengkan kepalanya. Rambut yang tadinya berantakan, kini malah makin parah, tetapi siapa yang peduli?

“Fillo ….” Sophia menarik napas dalam-dalam. “Dengarkan aku kali ini saja, please. Aku perlu meluruskan beberapa hal dan meletakkan batasan.”
“Batasan?” Fillo tak percaya dengan apa yang didengarnya ini. Sialan. Sophia ingin mendorongnya pergi.
“Kita perlu melakukan pengaturan. Kau tidak bisa hanya menerobos masuk ke rumahku dan memberi perintah sesuka hatimu. Aku boleh menetapkan pilihan dalam hidupku sendiri, kau tahu.”
“Tidak ada pengaturan, sialan! Dan tentang menerobos masuk ke rumahmu, memangnya aku ini siapa? Apa aku orang asing bagimu?” cerocos Fillo penuh emosi.
“Bukan begitu, Fillo.” Sophia berkata dengan frustasi.
“Sophia, apa kau tahu apa yang sedang kau coba lakukan? Kau mendorongku pergi!”
“Fillo, stop!”
“Tidak. Lihat di sini, Sophia. Katakan padaku kau tidak mencoba mendorongku pergi. Lihat mataku dan katakan!” tantang Fillo.

Sophia merasa berat melakukannya. Dia tak tega menatap ke mata Fillo dan mengatakannya. Kata yang hanya akan menyakiti mereka berdua. Namun, jika tidak diungkapkan, dialah yang paling menderita setelahnya.
Fillo tak boleh lagi mendikte hidupnya. Jika Fillo tak bisa menerima pengaturan ini, Sophia harus melepasnya. Itu adalah keputusan paling bijak, paling masuk akal, dan paling baik bagi keduanya.

Sophia dibesarkan oleh orangtuanya untuk membuat keputusan bijak. Namanya sendiri adalah lambang kebijaksanaan. Satu hal yang membuat semua didikan itu tak mempan, adalah hubungannya dengan Fillo.
Dia tahu Fillo orangnya agresif dan banyak menuntut. Di awal hubungan, kedua orangtuanya juga sudah memberikan peringatan. Namun, pada saat itu, sifat Fillo yang dirasa buruk oleh orang lain, terlihat unik di matanya. Sophia merasa bisa mengimbangi Fillo. Di saat Fillo pemarah dan agresif, hadirlah dia dengan segala ketenangan dan kebijaksanaannya. Itu bukan ekspektasi yang sepenuhnya sia-sia.

Di beberapa kesempatan, keseimbangan mereka bagus. Itulah yang mendorong Sophia mempertahankan hubungan mereka. Dia bisa mengabaikan fakta bahwa Fillo secara perlahan-lahan mulai mengendalikan setiap pilihan dalam hidupnya.

Cinta mungkin indah, tetapi itu bisa jadi obsesi yang menyesatkan. Sophia tak meragukan perasaan Fillo kepadanya, dia tahu dari tatapan dan tindakan Fillo mencerminkan segalanya, tetapi … cinta yang dimiliki Fillo telah berubah menjadi obsesi. Itu menyesatkan tidak hanya Fillo, tetapi juga dirinya. Sophia yang tadinya bijak, perlahan melemah karena perasaan sayangnya untuk Fillo. Ini bukan bentuk hubungan yang dia inginkan.

“Hubungan ini tidak sehat,” ujar Sophia perlahan. Dia ingin Fillo memahami pengaturan dan melanjutkan hubungan mereka. Namun, melihat respon Fillo hingga saat ini, tak ada jalan lain lagi. “Aku minta kita put-”
“Berhenti di sana, Sophia.”
“Aku—”
“Kubilang berhenti!”
“Fillo, please ….”
Giliran Fillo menggelengkan kepalanya. Dia tak bisa menerimanya, dia tak merencanakan ini. Tidak ada agenda tentang ini di tahun mana pun. Tidak hari ini dan selamanya. Tidak pernah!

Sophia melangkah mendekat, meniadakan jarak di antara keduanya. Dia meraih kedua tangan yang selama ini selalu menggenggam erat miliknya. Tak pernah mau melepasnya. Tidak sekalipun.
“Fillo ….”
“Sophia, jangan ….” Fillo semakin menunduk. “Jangan berani-berani, please ….”
Hati Sophia hancur melihat perubahan sikap Fillo yang tadinya menggebu-gebu dan agresif, kini kepalanya tertunduk, napasnya saling beradu, dan bahunya gemetar. Fillo sedang menahan tangis.
Sophia selalu lemah di titik ini. Dia tak tahan melihat Fillo hancur. Dia ingin membuat Fillo bahagia. Namun, bagaimana dia bisa terus memberinya kebahagiaan, jika dirinya sendiri telah hancur terlebih dahulu.

Tindakan Fillo yang selalu menuntut dan agresif pada akhirnya melukainya. Dia tak bisa merasakan kebebasan lagi. Dia tak punya banyak pilihan, karena Fillo datang lebih dahulu dan memotong semuanya. Sophia sudah bertekad. Dia akan menyelesaikan apa yang dia mulai. Jiwanya menuntut ingin lepas dari penderitaan, akibat pilihannya yang kukuh ingin bersama Fillo.

Pada akhirnya, sifat bijaksana Sophia menang. Kali ini dia harus melepaskan Fillo. Tak peduli jika Fillo menangis darah dan menghancurkan dirinya sendiri. Tak peduli tampilannya yang hancur dan basah kuyup. Apa yang terbaik bagi mereka berdua adalah ini … perpisahan.

“Fillo … I’m sorry, Honey.” Sophia membisikkan kata-kata itu dengan nada yang lembut. “Terima kasih untuk semuanya. Aku cinta kau.”
Fillo dengan kuat menggelengkan kepalanya, menolak apa yang tak ingin dia dengar. Dia mundur dari sentuhan Sophia, menciptakan ruang yang menyakitkan bagi keduanya.
“Sophia, please ….” Fillo memohon untuk yang kedua kalinya.

Sophia menatap dengan nanar. Bibirnya membentuk lengkungan bulan yang indah, tetapi juga menyakitkan. “Maafkan aku, Fillo.”
“Sophia—”

“Kita putus.”

Cerpen Karangan: Rosie Danoor
Blog: wattpad.com/rosiedanoor
Rosie Danoor, perempuan kelahiran Oktober 1999 yang gemar membaca dan menulis fiksi. Introver akut dan pecinta kopi dingin. Penulis dapat dijumpai di platform Wattpad dengan username: @rosiedanoor

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 3 Januari 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Filloshopia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nyopet is My Job (Part 2)

Oleh:
“Iya, hm bukan penyakit yang serius kok. Kita kerja yuk?” ajak Pian. “Oke,” jawabku. Gue dan Pian naik angkot yang berbeda, di samping gue ada ibu-ibu yang gayanya menor

Besi dan Kapas

Oleh:
Aku hanyalah gadis biasa. Sangat sederhana. Di saat teman-teman wanitaku yang lain penuh make-up di sekolah, memakai baju ketat dan rok pendek sekali, aku hanya bingung. Untuk alasan apa

Indah Pada Waktunya

Oleh:
Setahun berlalu ingatan ku masih tertuju padanya sampai sekarang dia belum pulang entah kemana. Aku terlalu bodoh selalu nungguin dia selalu mikirin dia belum tentu dia mikirin aku. Perasaan

Menolak Rasa (Part 2)

Oleh:
Sudah hampir empat tahun aku tinggal di kota metropolitan ini. Banyak yang berubah dari diriku. Setelah tinggal di lingkungan yang baru, aku merasa lebih hidup. Teman-teman kuliah yang tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *