Fine Mapple Drops

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 23 August 2017

Ini bukan kisah seromantis cinta Jack dan Rose di kapal Titanic, juga bukan kisah setragis Romeo dan Juliette yang sama-sama memilih mati demi cinta mereka. Tidak. Ini hanya sebuah kisah cinta biasa yang terjadi pada orang-orang biasa juga —dibumbui sedikit rasa putus asa, kesepian, harapan, dan kebahagiaan— dimulai dari dua anak manusia yang dibesarkan dalam keluarga berbeda. Tunggu, ini juga bukan soal perbedaan status sosial dimana yang satu bergelimang harta dan yang lain miskin sehingga orangtua si kaya tidak menyetujui cinta mereka. Tidak tidak. Tema itu sudah basi. Dua orang dalam kisah ini sama-sama dibesarkan di keluarga berada, hanya saja fase kehidupan menuju remaja selalu membawa kesepian pada individunya. Dan kesepian itulah yang mempertemukan mereka di sebuah danau, saat musim gugur, 12 tahun lalu.

Semua ini dimulai dari sudut pandang Ryu Hyeju, seorang gadis berusia 12 tahun yang senang mengepang rambutnya dengan pita hijau setiap kali berangkat ke sekolah. Ia gadis yang ceria, banyak bicara, tetapi terlalu malu untuk mengungkapkan emosinya pada orang-orang. Di usia mudanya, ia sudah berpikir bagaimana agar dirinya selalu tampak positif di mata orang lain. Ceria dan menyenangkan, tidak ada yang tahu bahwa perceraian kedua orangtuanya membuatnya amat sangat kesepian. Gadis itu membutuhkan seseorang yang mau mendengarnya, tetapi bukan seseorang yang ia kenal di dunia nyata. Kenapa? Karena ia takut orang itu akan mengasihaninya. Ia takut orang itu akan tahu bahwa selama ini ia hanya pura-pura bahagia. Jadi apa yang harus ia lakukan?

Hyeju tidak punya ide apapun sampai suatu sore, sebuah film yang ia tonton melalui saluran tivi bersemut memberinya inspirasi. Film itu bercerita tentang seorang gadis seumurannya yang menghanyutkan surat botol berisi harapan agar ia sembuh dari penyakit mematikan ke sebuah sungai. Beberapa hari kemudian, terjadilah keajaiban. Ilmu kedokteran menemukan vaksin untuk penyakitnya dan gadis itu pun sembuh. Katanya, seorang malaikat memungut surat gadis itu, lalu membantu para ilmuwan menemukan vaksinnya. Dan dalam sekejap, otak dangkal Hyeju mempercayai apa yang dilihatnya. Jika ia menghanyutkan sebuah surat botol ke sungai, maka seorang malaikat akan memungut dan membantunya menyelesaikan masalah.

Dear malaikat,
Aku tahu ini bodoh dan sedikit tidak masuk akal, tapi aku memang sengaja menulis surat ini untukmu. Namaku Ryu Hyeju, umurku 12 tahun. Aku tidak terlalu pintar dan tidak terlalu cantik, tapi itu semua bukan masalah. Maksudku, aku punya masalah lain yang lebih penting. Ayah dan ibuku bercerai setahun lalu, dan itu benar-benar membuatku frustrasi. Hatiku sedih sekali. Apa yang harus kulakukan, malaikat? Kalau aku menunjukkan kesedihanku, orang-orang akan mengasihaniku, ibu pun juga akan bertambah sedih. Bisakah kau memberiku saran?
Tolong balas suratku yah. Alamatku di Perumahan Gyeongdu no 14, distrik Gangnam, Seoul. Jangan lupa beritahu aku namamu 🙂
Ryu Hyeju

Adalah Park Jiho, seorang anak laki-laki seumuran Hyeju yang tanpa sengaja menemukan surat botol itu ketika ia bermain-main di sungai dekat sekolahnya. Ia membaca surat itu, lalu tertawa geli karena mendapati isinya lebih konyol dari film Barbie koleksi adik angkatnya. Tetapi Jiho akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah balasan.

Dear Hyeju,
Halo Hyeju, namaku Park Jiho. Kau bisa memanggilku Jiho saja. Aku turut berduka cita atas perceraian orangtuamu, dan kuharap kau tabah menghadapinya. Kedua orangtuaku meninggal ketika aku masih kecil—aku tidak pernah ingat bagaimana wajah mereka. Setidaknya nasibmu jauh lebih baik daripada aku. Tapi kalau kisahku tidak membuatmu merasa lebih baik, kau bisa mengirimiku surat kapan saja. Aku akan membalasnya. Aku janji.
Park Jiho

Jadi, nama malaikat itu adalah Park Jiho, pikir Hyeju kecil. Ia kembali membalas surat itu, Jiho kembali membalasnya beberapa hari kemudian, dan begitulah seterusnya mereka berkomunikasi hingga musim berganti, salju mencair, bunga-bunga bermekaran, lalu berguguran kembali.

Dear Jiho,
Aku melihat teman les musikku dijemput kedua orangtuanya sementara aku harus berjalan sendiri sambil membawa biolaku. Padahal saat itu hujan deras…

Dear Hyeju,
Orangtua angkatku membelikan sepeda baru, tapi kemudian temanku yang berbadan besar —Lee Sunwoo— meringsekkannya dalam satu injakan. Sepertinya dia dendam padaku…

Dear Jiho,
Aku mendapat nilai bagus dalam tes musik hari ini, tapi sayangnya ibu tidak terlalu peduli. Kurasa dia punya pacar baru yang membuatnya jatuh cinta…

Dear Hyeju,
Tiba-tiba aku ingin melarikan diri dari rumah karena orang tua angkatku tidak mengijinkanku ikut klub taekwondo. Mereka tidak mengerti…

Dear Jiho,
Melarikan diri? Ke mana?

Dear Hyeju,
Kapan?

Dear Jiho,
Apa rencanamu?

Dear Hyeju,
Bagaimana?

Dear Jiho,
Apa yang bisa membuatku tahu kalau itu kau dalam satu kedipan?

Dear Hyeju,
Sweater putih, headphone, dan jaket hitam. Kau?

Dear Jiho,
Pita hijau. Kutunggu jam 9 pagi. Jangan terlambat.

Di dunia ini, kebahagiaan itu hanya ada dua macam. Pertama, kebahagiaan yang kau sadari setelah momennya berlalu. Kedua, kebahagiaan yang kau sadari ketika momennya berlangsung. Dalam hal ini, pertemuan Jiho dan Hyeju 12 tahun lalu di sebuah musim gugur itu adalah kebahagiaan jenis pertama. Memangnya apa yang bisa kau harapkan dari pertemuan konyol dua anak kecil yang belum mengerti dunia? Mereka mengatakan banyak tentang perasaan mereka dalam lembaran surat-surat itu, tetapi ketika mata-mata polos mereka bertemu langsung, pipi pun merona merah dan suara seakan tenggelam di dasar danau yang dingin. Sekali lagi, mereka hanya anak-anak ingusan yang dipertemukan oleh kesepian.

Sepulang dari sana, mereka tidak lagi menulis surat satu sama lain. Mungkin mereka malu. Mungkin malas. Atau mungkin pertemuan itu membuat mereka terlalu bahagia hingga tidak ada lagi yang perlu dicurahkan melalui surat-surat sendu.

Tetapi takdir Jiho dan Hyeju tidak berhenti sampai di situ. Tiga tahun kemudian, mereka bertemu lagi dalam upacara penerimaan siswa baru Seoul Art High School. Saat itu Jiho datang terlambat. Ia berlarian menuju aula yang sudah dipenuhi wajah-wajah asing teman-teman barunya, lalu berdiri di barisan paling belakang sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah sebelum seseorang tiba-tiba memanggil namanya.

“Park Jiho?”.

Suara lembut gadis itu seperti sebuah simfoni familiar yang berasal dari masa lalu. Jiho mengangkat kepalanya, menoleh, lalu mendapati seorang gadis berpita hijau berdiri tepat di sampingnya. Gadis itu sudah bertumbuh jauh lebih tinggi dari terakhir kali mereka bertemu —tetapi tentu tak cukup tinggi untuk mengalahkan badan jangkung Park Jiho. Ia tersenyum, kedua matanya membentuk sepasang bulan sabit yang berkilauan. Dan bagaimana pun juga, Jiho tidak mampu menahan ribuan kupu-kupu dalam rongga dadanya untuk tidak menyeruak. Satu hal yang ia pahami: ia jatuh cinta.

Cerpen Karangan: Airi Inoue
Blog: azureicesky.wordpress.com

Cerpen Fine Mapple Drops merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
“Tunggu Yu…” Tian memanggilku dari kejauhan. “Ayo cepet, nanti telat” jawabku sambil nafas terengah engah Karena berlarian. “untung aja kurang 2 menit kita udah ada di sekolahan.” Kata Tian

Wanita Perindu

Oleh:
Aku ini gadis kecil yang baru naik kelas 3 Sekolah Dasar aah anggap saja aku si imut, kakak juga bisa panggil aku Sera. “Hey… maen yuk!” ajak cowok kecil

Stasiun Cinta

Oleh:
Dari kejauhan terlihat wanita sedang duduk di kursi tempat perhentian kereta api, atau bisa disebut stasiun. Wanita itu tampak sedang memakai alat yang terpasang di telinganya, sepertinya musik yang

Apalah Arti Menunggu

Oleh:
Ini adalah kisahku, kisah dimana semua menjadi serba salah kisah yang membuatku menjadi bodoh, kisah yang membuatku tau apa itu cinta yang sesungguhnya bukan cinta yang semu. Waktu terus

Sahabat Pertama dan Terakhirku

Oleh:
Hai kenalin nama aku Eka. Kali ini aku mau bercerita tentang persahabatanku bersama teman-temanku. Aku punya sahabat yang sangat menyayangiku, mereka adalah Iluh, Candra dan Vian. Kami berjanji untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *