Firasat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 18 April 2016

Namaku Zihni Fathina Azni, orang-orang biasa manggil aku Prizy, Princess Zihni itulah julukan aku. Gak heran orang-orang di sekolah manggil aku princess karena penampilan aku yang cantik dan anggun. Selain cantik, aku juga jadi orang nomor satu di sekolah. Pertama, aku ketua Cheerleaders. Kedua, aku ketua vokal grup se-SMP di Bandung. Ketiga, aku pemimpin Perkumpulan Anak-Anak Aktif se-Bandung, dan masih banyak yang lainnya. Azka Prasaja, cowok yang menurutku sempurna. Dia ganteng, baik, dewasa, pinter, setia, dan hal lainnya yang membuatku semakin cinta padanya. Dia ketua OSIS di sekolah sekaligus ketua tim basket. Benar-benar cowok idaman setiap wanita. Aku pun merasa beruntung sebagai pacarnya.

Bel pulang sekolah berbunyi, anak-anak pun berhamburan ke luar kelas. Tak terkecuali aku yang sedang ditunggu oleh seseorang. “Hai Kak! Udah lama, ya?” tanyaku hingga mengagetkan Kak Azka.
“Prizy, gak kok. Berangkat yuk!” ajak Kak Lukman.
“Emm.. gimana, ya. Sebenernya tadi aku dikasih tahu mau ada rapat P3A (Perkumpulan Anak-Anak Aktif). Mendadak banget, jadinya gak sempet ngasih tahu. Apa aku gak usah dateng aja?” kataku merasa bersalah.

“Jangan! Siapa tahu rapat penting, hal kayak gini mah bisa kapan-kapan, ya gak?” balas Kak Azka melarangku, walaupun wajahnya mengisyaratkan kekecewaan. Aku pun hanya diam tak menjawab, merasa menjadi orang paling bodoh.
“Prizzy, My Princessku. Kamu gak usah sedih, oke. Lagian aku juga mau latihan basket. Jangan cemberut dong!” kata Kak Azka menghiburku sambil mencubit kedua pipiku.
“Ah, sakit. Ya, deh. Tapi kakak gak marah kan?” tanyaku. Kak Azka hanya mengangguk.
“Aku janji, gak akan lama kok. Nanti aku kabarin sama kakak, oke!” balasku sambil mengacungkan dua jempol.
“Sip, deh.” Singkat Kak Azka.

Seusai rapat P3A, aku segera menghubungi Kak Azka, “Kak, aku udah pulang. Jemput ya!” aku mengirim pesan pada Kak Azka. 5 menit, 10 menit, 15 menit tak ada balasan dari Kak Azka. Aku pun mencoba menelepon, tapi handphone nya tak aktif. Daripada berlama-lama menunggu, aku putuskan untuk naik taksi saja. Di jalan, aku terus kepikiran dengan Kak Azka. Apa dia marah? batinku. Lamunanku pun buyar setelah melihat sesuatu yang membuatku tak percaya. “Udah, Pak. Di sini aja.” Setelah membayar taksi, aku pun mencoba melihat dari dekat, semoga itu bukan Kak Azka, doa batinku.

“Ka..Kak Azka,” ucapku tak percaya. Tak terasa butiran air membasahi pipiku.
“Zihni, kamu kok ada di sini?” ucap Kak Azka mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Oh, jadi ini kelakuan kakak selama aku pergi. Kakak selingkuh. Apa kakak udah gak mau pacaran sama aku, apa kakak udah bosen sama aku? Aku benci kamu, pokoknya sekarang kita PUTUS!!!” ku lontarkan semua kata-kata yang ada dalam pikiranku.

“Zihni…Zihni, tunggu aku mau jelasin.” Terdengar suara Kak Azka yang mengejarku. Aku pun tak peduli, hanya berlari dan berlari mencoba menjauhi kenyataan yang telah aku lihat. ‘bruk’ terdengar sebuah suara seperti orang jatuh, tapi aku tak memperdulikannya hingga tak terdengar suara Kak Azka lagi. Aku pun tetap berlari hingga aku tak melihat datang sebuah mobil dari sebelah utara dengan kecepatan tinggi yang menabrakku seketika.

Di sebuah taman yang hanya ada aku dan Kak Azka, “Kamu mau gak jadi pacar aku?” tanya Kak Azka berlutut sambil menyodorkan sebuket bunga.
“Tapi, aku kan hanya gadis culun dan polos dengan kacamata bulat menghiasi wajahku. Aku gak pantes buat kakak.” kataku, walaupun sebenarnya aku memiliki perasaan yang sama dengan Kak Azka. “Zihni, aku suka kamu karena aku suka kamu apa adanya bukan karena penampilan kamu. Kamu mau kan?” tanya Kak Azka sekali lagi.
“Tapi..” jawabku. Kak Azka meminta dengan muka memelas.
“I..iya a..aku mau kak.” Jawabku terbata-bata.

Kak Azka kegirangan hingga memelukku. Jam waktu berputar ke masa-masa aku dan Kak Azka pacaran, “Kak aku mau tanya sesuatu, boleh gak?” kataku sambil menyandarkan kepalaku ke bahu Kak Azka. “Boleh, mau nanya apa?” balas Kak Azka yang sedang menghabiskan es krimnya.
“Kenapa kakak milih aku? Kan cewek yang lebih dari aku itu banyak.” Sahutku yang juga sedang memakan es krim.
“Karena, kamu itu cewek lugu dan culun yang bisa aku bodohin, hahaha..” Kak Azka mengejekku.
“Ih, aku serius.” Aku pun hanya cemberut dengan reaksi Kak Azka.
“Iya, iya. Sebenarnya aku suka sama kamu karena kamu sabar walau dicemooh dan diejek orang, kamu tetep rendah hati meski pinter, dan satu lagi..” jawab Kak Azka membuatku penasaran.

“Dan apa?” tanyaku penasaran.
“Dan kamu itu cantik banget kalau lagi senyum atau ketawa terus aku juga sama eyesmile kamu, manisss banget.” Jawab Kak Azka panjang tapi gak lebar. Jam waktu terus berputar-putar ke masa-masa aku dan Kak Azka pacaran. Saat aku mencoba membuka mata, pikiranku hanya tertuju pada seseorang yaitu Kak Azka.

“Emm…Kak, Kak Lukman ada di mana?” tanyaku setengah sadar setengah mengigau. Ku lihat mama sedang menatapku sayu.
“Ma, Kak Azka ada di mana?” tanyaku pada mama, tapi mama hanya diam membisu.
“Zihni, ada seseorang yang mau nemuin kamu.” Jawab mama tanpa ekspresi.
“Hai, Zihni. Gimana kamu, baikan? Syukurlah, kalau kamu udah sadar setelah hampir 10 hari koma,” ujar seorang wanita yang tak ku kenal. Jadi, aku koma 10 hari, batinku.

“Kamu siapa?” tanyaku heran.
“Kamu lupa. Aku yang waktu itu kamu kira selingkuhan Azka, kenalin nama aku Safira.” Jawab dia sambil memberikan senyumnya padaku.
“Aku gak butuh kamu, aku hanya mau Kak Azka!!” Sahutku dengan nada kesal.
“Zihni, tenang dulu. Azka ngasih ini buat kamu.” Katanya sambil menyodorkan sepucuk surat.
“Surat?” heranku. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung membacanya.

“Kuningan, 23 November 2013. Untuk My Princess, Zihni. Zihni kamu gimana kabarnya? Aku kangen banget sama kamu. Aku tahu aku yang salah. Aku tahu aku bodoh. Tapi, tolong. Tolong maafin aku atas kebodohan aku ini. Aku memang salah seharusnya aku kenalin kakak aku, Safira. Ya, Kak Safira adalah kakak aku yang baru datang dari London dan dia meluk aku karena rasa kangennya sama aku, bukan karena dia selingkuhan aku. Aku udah coba buat mau jelasin ke kamu tapi kamu malah pergi ninggalin aku. Aku sedih sampai akhirnya asma aku kambuh dan akhirnya aku jatuh pingsan. Kamu tahu gak Zihni, sebenarnya hari itu hari anniversary kita yang ke setahun, kalau aja kamu mau aku ajak pergi, aku bakal bawa kamu ke suatu tempat yang paling spesial. Tolong Zihni, aku mohon kita jangan putus karena aku masih sayang banget sama kamu. Cepet balikan ya, sayang. I LOVE YOU and Happy Anniversary.”

Setelah membaca isi surat, tak terasa butiran-butiran air membanjiri pipiku. Aku tak kuasa menahan tangis karena kebodohan dan penyesalan yang tiada henti.
“Kak, sekarang dia mana?” tanyaku pada Kak Safira.
“Azka, Azka sekarang udah pergi.” Jawab Kak safira membuatku tak percaya.
“Kak, mana Kak Azka? Mana dia?” tangisku tak dapat dibendung lagi. Aku menjerit-jerit histeris hingga perawat datang dan memberikan obat penenang padaku.

Setelah sadar, aku masih melihat Kak Safira di sampingku sedang tertidur pulas. Aku sudah seperti orang gila yang kehilangan akal. Dengan langkah sempoyongan, aku berjalan menyusuri tangga menuju lantai paling atas. Di sana, aku melihat Kak Azka sedang berdiri dan tersenyum kepadaku. “Kak.. Kak Azka,” aku mencoba mendekati Kak Azka tapi dia semakin menjauh hingga tanpa aku sadari aku terjatuh dan melayang dari lantai 10 gedung rumah sakit. -bayangkan sendiri kelanjutannya.

“Halo.. Zihni, kamu gak apa-apa?” tanya Kak Azka sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke depan mukaku.
“Ka..kakak masih hidup?” tanyaku keheranan.
“Ya, iya dong. Kamu pikir aku udah mati?” Jelas Kak Azka. Mungkin aku hanya mimpi, dalam batinku.
“Hidung kamu merah, mimisan.” kaget Kak Azka.
“Ya udah, kita pergi aja sekarang,” ajakku sambil menutup hidung dengan tisue.

“Katanya kamu bilang ada rapat P3A, terus gimana?” Kak Azka bingung.
“Mungkin aku izin dulu kali, ya.” Kataku.
“Ya, terserah kamu.” kata Kak Azka.
“Sekarang kita jalan aja, yuk. Hari ini kan Anniv kita ke setahun.” Kataku senang.
“Aku mau ajak kamu ke tempat spesial, loh.”
“Oh, ya. Seru tuh kayaknya.” Kami pun berlalu pergi sambil bergandengan tangan. Oh, iya ada satu hal yang aku lupa, sebenarnya aku bisa baca masa depan.

THE END

Cerpen Karangan: Trie Shendi Mulyani
Facebook: Trie Shendi Mulyani
I really like all things about Korea, especially dramas and kpop. My favorite artist is suzy and TOP. I very love them.

Cerpen Firasat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Love Story (Part 1)

Oleh:
Kulangkahkan kaki ini, menuju ruang yang berada di paling selatan gedung sekolahku bagian barat. Kelas baru, dengan ukuran sekitar 5×5 meter. Cukuplah untuk menampung sekitar 32 murid. Welcome to

Cinta di Kedai Ice Cream

Oleh:
Sore itu langit Jakarta cukup cerah, aku berjalan menikmati suasana sore yang indah. Lampu-lampu jalanan mulai dinyalakan, di ujung sana matahari mulai turun, pulang ke peraduannya. Aku sampai di

Kenapa Aku Bolos Sekolah

Oleh:
Namaku Munira, yang biasa di panggil irha. Kini aku duduk di bangku SMA kelas 12, di sebuah sekolah yang cukup terfavorit di tempatku tinggalku, yah SMA Negeri 1 Barru

Idealis Sang Pendaki

Oleh:
Embun pun masih menempel di dedaunan, sinar sang mentari masih tertutup awan pagi, belum ada tanda-tanda terik hari ini. Di lapangan hijau pagi sekali sudah ramai pecinta olahraga, sibuk

Sapu Tangan Merah

Oleh:
Sore itu aku bersiap-siap akan mengikuti turnamen di daerah tempat tinggalku, kebetulan aku membawa motor sendiri mengikuti rombongan anggota kesebelasanku. Di tengah perjalanan, kira-kira di dekat perbatasan masuk kota

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *