First Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 28 May 2014

Aku tak punya pengalaman dalam pacaran. Setelah putus dengan pacar pertamaku 2 tahun yang lalu, aku tidak pernah dekat lagi dengan satu pun cowok. Aku merasa bahwa aku tidak memiliki cinta pertama, sampai sekarang aku tak tahu apa cinta itu. Tapi aku mengira bahwa pacar pertamaku, Sandy, adalah cinta pertamaku.

Sore setelah semua proses belajar mengajar selesai, aku masih sibuk dengan klub teater-ku di ruang aula teater. Kulirik hp-ku dan sudah ada 10 sms dari Audrey. Aku tidak mungkin meninggalkan teman-teman dari klub teaterku. Tapi aku merasa bersalah telah membuat Rena menunggu setengah jam.

“Lo, Lola!” seseorang memanggilku dari belakang dengan tidak sabaran. Aku menoleh dan kutemukan sosok itu lagi. Aku benar-benar tidak mau dia melihatku dengan pipi merah.
“Hah?” tanyaku pura-pura tidak terkejut melihatnya.
“Gue Vio, masih ingat kan?” Aku menatapnya sekali lagi. Bukan karena aku benar-benar tidak tahu. Tapi karena aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa.
“Kita ketemu beberapa kali dua minggu yang lalu. Gue anak baru teater, IPS 4, pindahan semester ini, ket—”
“Ketua Seksi Fotografi dan Dokumentasi kan? Iya kenapa?” Entah kenapa aku terdengar seperti tidak peduli padanya.
“Di luar ada yang pingsan.” Vio dengan segera berlari padaku dan meraih tanganku lalu menggringku keluar aula. Aku, dengan tegangnya, tidak bisa melepaskan tanganku darinya. Detak jantungku bahkan lebih cepat dari larinya saat ini.
“Hey, siapa yang—” Aku melotot melihat tubuh yang tergeletak di dekat koridor sebelum aula. Audrey terbaring disana dengan hidung berdarah. Tapi, yang terpikir pertama olehku adalah Vio.
“Lo kenapa nggak langsung bawa ke rumah sakit aja?” bentakku marah-marah padanya. Ia tampak shock dan kikuk. Tapi aku terus memakinya. “Sejak kapan dia pingsan? Audrey tadi ketemu Sandy nggak? Lo setidaknya bawa dia ke uks dulu.”
Aku tiba-tiba terdiam karena dadaku sudah sesak karena khwatir dengan keadaan Audrey. Lagian, cowok tinggi bertubuh kurus di depanku itu hanya terdiam tanpa ekspresi.
“Udah? Selesai marah-marahnya? Sekarang tolongin gue bawa dia ke mobil gue.”
“Mobil lo?” Entah kenapa aku menanyakan hal itu dan untung saja Vio tidak membuatku malu dengan menjawab pertanyaan bodoh itu.

Vio akhirnya menggendong Audrey sendirian saat aku mengambil tasku dan membawakan tas dan bekalnya Audrey. Sebelum sampai di mobil Vio aku hendak meng-sms orangtua Audrey tapi kuurungkan niat itu karena tidak ingin melihat Audrey sedih. Selama di perjalanan Vio hanya diam dan seolah tidak memperdulikan kehadiranku di samping kemudinya. Dia sempat ngebut sekali saat menemukan jalan pintas menuju rumah sakit terdekat.

Saat membawa Audrey keluar aku menolong Vio untuk membawanya ke dalam rumah sakit dan membaringkannya di tandu. Aku sangat cemas saat Audrey dibawa ke ruang pemeriksaan. Aku benar-benar ingin menangis. Aku tak bisa tidak menyalahkan diriku sendiri. Ini semua pasti salahku.
“Bukan salah lo kok.” Tiba-tiba suara bass Vio membuat jantungku semakin tak karuan. Dengan begitu tenang dia mendekat ke samping tempat dudukku.
“Apapun penyakit temen lo, gue nggak mau ikut campur. Tadi pas gue mau masuk aula, gue liat dia udah pingsan. Pas gue ngeliat kondisinya, dia nyebut-nyebut nama lo. Karena satu-satunya Lola yang gue kenal adalah lo jadi spontan gue langsung berlari ke dalam aula.” Cerita Vio membuatku mengerti dengan kondisinya dan berhenti menyalahkannya.
“Dan, mana ada coba UKS yang buka jam 5.”
“Gue sangka belum sesore itu masalahnya matahari rasanya masih terik banget.” Kataku masih mencoba menenangkan diri. Berkat Vio aku sedikit lega walaupun dalam hati aku masih sangat takut.
“Gue nggak lihat siapapun sama dia. Sandy, cowok yang lo bilang tadi.” Aku terkejut karena Vio masih mengingat kata-kataku sebelum Audrey dibawa ke rumah sakit. Dengan sifatnya yang terkesan dewasa dan usahanya untuk menangkan hatiku aku benar-benar tersentuh. Dia menyimpan segala unek-uneknya dengan tidak melawanku dan berusaha menjelaskan semuanya setelah aku agak mendingan. Aku menunduk tak tahu harus berbuat apa karena aku merasa sangat sedih sekali saat ini.

Tiba-tiba Vio meletakkan tangannya di atas bahuku. Aku terkejut dan langsung menoleh padanya.
“Sorry banget, ya Lo. Gue nggak langsung bawa temen lo ke rumah sakit.” Aku benar-benar menatap Vio dan dia juga menatapku. Vio terlihat sangat bersalah dan niat sekali untuk minta maaf padaku. Walaupun dia tidak mengatakan semuanya aku tidak menyangka dia akan minta maaf.
Disaat air mataku hampir tumpah, dokter datang menyelamatkanku.
“Syukur Alhamdulillah, anda Lola kan? Audrey dalam keadaan yang sehat sekali. Dia memanggil anda untuk ke dalam. Oh ya, jangan lupa ingatkan Audrey untuk selalu rutin cuci darah.” Kata dokter dengan ekspresi yang mebuatku juga ikut senang dan lega.

Aku masuk ke dalam ruangan Audrey dirawat. Tapi aku terkejut karena Audrey sudah siap-siap akan pulang.
“Dre, lo mau kemana?” tanyaku mendekat padanya.
“Ya pulang lah, capek tau nungguin lo hari panas-panas kayak tadi.” Jawab Audrey santai.
Aku memukul bahu Audrey dan dia berteriak kesakitan. Vio menatapku tak percaya telah melakukan itu.
“Udah tau kondisi lo gimana malah santai kayak gini.”
“Ya ampun Lo, kalem aja kali. Lo kan denger sendiri dari dokter kalau gue sehat banget. Gue cuma kepanasan kok makanya mimisan.” Jelas Audrey pura-pura ceria di depanku. Padahal sesungguhnya mungkin dia takut sekali orangtuanya bertanya-tanya malam begini belum pulang.
“Cowok lo?” Tanya Audrey sambil berbisik. Vio sedang berdiri sambil melihat-lihat ke luar jendela.
“Sssttt! Ih, dia yang bantuin lo kesini tau, kalo nggak ada dia. Bisa aja lo udah sekarat sekarang.”
Audrey malah tertawa. Sepertinya dia tahu bahwa aku dari awal sudah suka pada Vio hanya saja aku selalu menolak kenyataan itu saat dia bertanya-tanya kenapa akhir-akhir ini aku sering senyum sendiri dan semakin rajin hadir di klub teater.
“Sandy ada nggak?” Tanya Audrey ragu. Terlihat dia sangat sedih menanyakan hal itu.
Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Tapi saat aku tak sadar telah mengarahkan padangan pada Vio, aku terkejut karena dia sedang memperhatikanku dengan seksama.
“Gue pulang aja ya. Udah malem. Semoga kondisi lo semakin membaik.” Kata Vio sambil tersenyum tipis pada Audrey. Aku memperhatikannya sampai keluar dari dalam ruangan dan dalam hati bertanya-tanya kenapa aku tidak mengucapkan terima kasih.
Aku tak sempat mengucapkan betapa senangnya aku saat ada dia di sampingku.

Besoknya di sekolah, aku mencoba mencari-cari Vio, si sosok misterius itu. Tapi bahkan saat aku adalah anak teater yang paling lama pulang tak bisa menemukannya. Entah karena dia sibuk atau memang tidak mau bertemu denganku karena kejadian kemaren. Jika dia sebegitu merasa bersalahnya dia, sekarang malah aku yang merasa bersalah karena telah membuatnya bertindak seperti itu padaku.

Malamnya, aku dapat sms dari Vio. Aku sangat senang dan langsung fokus dengan smsnya.
“Ada apa sama lo dan Sandy?”
“Dari mana lo dapet nomor hp gue?”
“Yang dulu nanya siapa? Gue kan? Lo jawab dulu pertanyaan gue baru gue jawab pertanyaan gak penting lo.” Ih, tuh cowok kenapa berubah jadi menyebalkan begini.
Aku berpikir terlebih dahulu apa aku harus menjawab pertanyaan yang menurutku agak pribadi ini. Tapi, menurutku Vio bukan tipe cowok yang sensitif dan peduli terhadap masa lalu. Tapi sebelum aku menjawab Vio sudah meng-sms kembali.
“Gue dapet nomor hp lo dari Audrey.”
“Dari Audrey? Kok lo bisa tau nomor hp Audrey?” tanyaku mulai curiga.
“Ribet banget sih lo. Emang susah nyari nomor hp Sekretaris? Gue Tanya anak-anak dan mereka taunya nomor hp-nya Audrey dan gue Tanya deh sama dia.
“Audrey langsung ngasih?”
“Aduh, jangan kebanyakan nanya deh. Pertanyaan gue aja belum lo jawab.”
Lagi-lagi aku terdiam, terpaku dengan pikiranku sendiri Aku benar-benar suka dengan Vio dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Karena aku membiarkan Vio menunggu akhirnya dia meneleponku.
“Dimana?”
“Di-di rumah…”
“Kenapa suara lo gitu?”
“Maksudnya?”
“Ah, udahlah. Sekarang, ke taman deket rumah lo. Gue nunggu lo. Awas kalo nggak datang.” Tit tit tit tit tit… Vio mematikan teleponnya.

Aku langsung bergegas ganti pakaian dan memakai sweater karena di luar dingin sekali. Kenapa Vio bisa ada di taman dekat rumahku. Memangnya rumahnya dengan dengan rumahku. Dan ada apa dia ingin bertemu denganku malam ini.
“Nah, akhirnya Tuan Putri datang juga.” Kata Vio sambil tersenyum. Dia membuatku jantungku berdentak sangat kencang karena ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum dengan tulus. Aku harap dia tidak melihat gelagatku yang mulai salah tingkah ini. Aku sulit sekali menahan perasaanku saat ini.
“Ada apa?” tanyaku mencoba menenangkan diri.
“Gue kangen sama lo.” Jawab Vio cepat. Aku duduk di sampingnya dan mulai merasa tidak nyaman dengan perasaanku sendiri.
“Hah?”
“Sandy siapa lo?”
“Bukan siapa-siapa. Dia pacarnya Audrey.” Jawabku melupakan satu hal. Anehnya, Vio tetap menunggu aku melanjutkan kata-kataku. “Mantan pacar gue waktu SMP.”
“Trus kenapa bisa jadi cowoknya Audrey? Dia kan teman baik lo? Apa dia rampas dari lo?”
“Bukan. Nggak gitu kok. Karena dia…”
“Sakit? Lo merasa dia lebih pantas sama cowok yang lo cinta?”
“Aku nggak cinta sama Sandy.” Aku menatap mata Vio dengan lekat. “Audrey yang cinta sama dia. Waktu kecil Audrey selalu bilang akan menikah dengannya. Tapi saat dia mengetahui aku pacaran sama Sandy, dia benar-benar rela membiarkan Sandy bersamaku. Akhirnya aku memutuskannya dan sekarang Sandy sudah bisa mencintai Sandy. Aku juga merasa bersalah karena mungkin Sandy juga menyukai Audrey saat itu tapi karena aku lebih sering bersamanya di saat Audrey sakit.”
Vio hanya diam, bungkam tanpa berkata apa-apa lagi. Mungkin dia hanya ingin mendengar kata-kata dariku.
“Sandy bukan cinta pertamaku dan aku nggak punya cinta pertama.”
Aku bangkit dan berdiri. “Aku pulang.”
Tiba-tiba Vio meraih tanganku.
“Lola, mungkin karena pacar pertama lo. Tapi lo gak bisa menutup hati sama orang lain. Lo nggak boleh selalu nyalahin diri lo sendiri atas apapun yang terjadi. Cinta itu adalah tentang memilih dan yang memilih itu bukan kita tapi hati.” Jelas Vio membuatku terdiam. Aku selalu tak bisa percaya dengan apa yang diucapkan Vio. Kenapa dia selalu mengatakan sesuatu yang membuat jatungku berdebar sangat kencang. Bahkan di saat aku berdiri saat ini aku merasa lemah karena kakiku tak sanggup berdiri.
“Dan hati gue udah memilih. Gue suka sama lo, Lola”

Tiga bulan yang lalu, aku sendiri ikut diresmikan menjadi Sekretaris Klub Teater bersama Vio. Dia, yang saat itu dikenal dengan anak baru di sekolahku, juga berada satu ruangan rapat denganku. Vio memperhatikanku sejak hari itu. Dia selalu menungguku pulang dari klub dan bahkan mengambil beberapa fotoku. Butuh waktu lama baginya untuk mengenal diriku dengan baik. Mengenal Audrey dan Sandy yang tentunya dia sudah tahu sebelum dia berbicara denganku dua minggu yang lalu. Dia memberanikan diri berbicara denganku setelah tahu aku tidak punya pacar dan tidak dengan siapapun. Hobiku adalah mengoleksi boneka, makan es batu dan menulis naskah drama. Aku punya dua sepatu converse dengan ukran 37 dan 38, warna hitam dan abu-abu. Rumahku dekat dengan taman tempat kita jadian dan hatiku telah memilihnya, Vio.

Cerpen Karangan: D. Mela
Facebook: Dyni Mela Supastri

Cerpen First Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I’m Fell in Love

Oleh:
Ah, aku masih betah menatap wajah Geo. Dari jauh saja membuatnya cukup. Dengan duduk melamun, aku masih melihat Geo beranjak pergi bersama Hanif. Hari ini, seminggu sebelum acara ketulusan

Senyum Manis di Balik Air Mata

Oleh:
Sudah sekian lama aku bersamanya. Menjalani berbagai kisah yang yang tak mungkin bisa kulewati bersama siapapun. Suka dan duka kita lewati bersama. Senyumnya adalah semangat bagiku. Kesedihannya adalah kesedihanku.

Awal Dari Kebiasaan

Oleh:
Kebiasan adalah sesuatu yang bisa membuat saya bisa melawan segalanya. Iya kebiasaan yang selalu menghantarkan perasaan ini pada wanita berkulit sawo matang, berambut lurus, berbadan mungil dan cantik hatinya.

Sehangat Serabi Solo

Oleh:
Pasar Klewer. Huh, kenapa siang-kerontang begini aku malah kemari? Mengendarai motor matic-ku yang seakan menderu lelah mengantarkanku kesana-kemari di bawah terik matahari? Ohya, benar. Aku kemari karena kakakku. Ia

Bella si Mak Comblang

Oleh:
I think I love you… keu reon ka bwa yo cause I miss you… Suara merdu Song Hye Gyo yang dijadikan sebagai soundtrack untuk Full House terdengar dari handphone

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *