First Love Andina Rasty

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 30 June 2014

Berawal dari Sahabat menuju sebuah pernikahan…
Aku rasty aku adalah perempuan normal yang juga bisa merasakan jatuh cinta, tapi aku jatuh cinta ke hati yang salah, hati seorang sahabat yang sudah 8 tahun bersama, aku hanya bisa memendam perasaan ini tidak pernah terfikir untuk diungkapkan, mungkin karena aku wanita, kadang cinta yang kita pendam bisa menyiksa perasaan dan kejiwaan, ketika kita melihat orang yang kita cintai tertawa bukan karena kita melainkan orang lain cinta itu bisa menusuk nusuk perasaan bahkan dia bisa melukai hati dan menggoresnya secara perlahan sehingga meninggalkan luka, bahkan aku adalah seorang wanita yang menyembunyikan perasaan tanpa mengetahui apakah perasaaan itu telah ditunggu olehnya.

Pagi ini aku sulit sekali untuk bangun, badanku terasa sangat berat untuk berdiri, tapi dia memaksaku untuk bangkit dia adalah Rian sahabat baik yang aku ceritakan itu, dia mengambil 1 gayung air dingin dan menyirami wajahku dengan air dingin itu, aku kaget dan terbangun, aku sejenak menatap rian, sepertinya dia sudah siap untuk berangkat kuliah, “apa kuliah baru sadar kalau hari ini senin”, aku sibuk mencari handuk, dan kaca mata. rian hanya senyum melirikku, dia cuman bilang “kamu itu kalau niat belajar bangun dong pagi pagi”, aku hanya menjawab “iya deh lu paling cakep deh”, dia hanya membalas tawa, terkadang rian bisa sangat menyebalkan dan terkadang dia juga bisa sangat perhatian.

Selesai berpakaian kulihat rian memandangi akurium milik ayah, dia bilang “ikanyanya bagus lucu, aku suka banget mas koki, ternyata ayah kamu suka ikan hias”, aku cuman bisa tersenyum memandangi rian “ya udah yuk berangkat nanti telat”,

Di dalam mobil aku melihat sebuah akurium kecil milik rian, aku bingung kenapa ada akurium di dalam mobil apa ikannya gak mabok, aku memandangin akurium itu dan menarik perhatian rian, “oh itu iyah aku sangat suka ikan hias jadi aku buat akurium di dalam mobil”, “tapi kan ini di dalam mobil apa gak mabok yan ikannya”, “yang enggak lah jelek, kan jalanya gak ada yang rusak di dalam komplek maupun di jakarta”, “ih tapi kan kasihan ini ikannya, mancung…”, “ok deh nanti aku pindahin, ada benernya juga kata kata mu, baru kali ini si jelek pinter”, “yeee udah dari lahir yah aku pinter mancung”. Setelah sampai di kampus aku dan rian bergegas memasuki lokal, lokal kami hanya berbeda 2 jarak.

Siang ini rian sms aku katanya dia udah nunggu di kantin, aku segera berlari ke kantin mungkin rian sudah menunggu lama, ketika aku berada di kantin aku melihat rian tersenyum dan tertawa dengan wanita lain postur tubuh wanita itu pendek dan rambutnya yang hitam dan lurus, perasaaanku yang tadinya stabil jadi terbakar, perasaan itu menusuk nusuk lagi dan meninggalkan luka yang amat teramat sakit, aku berjalan perlahan mendekati rian. “hey rasty, duduk duduk kenalin nih amel temen sekelasku waktu smp, kamu ingat gak si amel?”, aku kaget ternyata itu amel, aku terlalu cepat cemburu tanpa tahu siapa wanita itu, “oh iya iya amell tau tau, gimana kabar kamu mel?”, “aku baik baik aja kok rasty, oh iya kalian masih akrab seperti dulu yah aku salut dengan persahabatan kalian”, dia memuji persahabatan aku dengan rian dia tidak tahu gimana aku menyimpan perasaaan kepada cowok aneh ini, rian pun tersenyum membalas perkataan amel, “iya dong kan kami saling melengkapi udah gitu jarak rumah rasti kan dekat dari rumah ku mel yah sering jumpa” amel tersenyum memandangin rian, aku melihat mata amel begitu menyimpan rasa kepada rian, apa mungkin?. ntahlah aku juga tidak tahu, siapa yang bisa tahu perasaan seseorang, aku hanya bisa duduk dan diam, “oh ya nanti malam ada waktu gak mel, kamu juga rasty”, pasti rian ingin mengajak aku dan amel bakar BBQ di rumahnya, sudah aku tebak, “ada kok rian” ucap amel dengan senyuman manisnya itu, “bagus dehh, kamu rasty”, “kapan sih aku gak ada waktu buat kamu yan”, “esehhh manteppp”. Setelah selesai makan bakso dan bercerita panjang lebar kami pun bergegas ke rumah rian untuk mempersiapkan segalanya.

Di rumah rian aku dan amel menyiapkan kayu bakar dan rian menyiapkan daging untuk di panggang, sibuk sibunya kami datang abangnya rian yaitu bang reza, dia begitu tampan sama seperti adiknya, dia datang untuk meminjam mobil, “yan abang pinjam mobil, mobil abang lagi rusak, katanya tuh montir datang siang ini eh ditungguin malah gak datang”, “ya udah nih bang pakai, mau malam mingguan nih”, “halah biasa aja mau ngumpul bareng nonton manchester united lawan arsenal”, “waw seru tuh bang”, “iya selamat menikmati daging panggang yah yan”

Setelah abang reza pergi untuk menonton bola kulihat amel mendekati rian untuk membantu rian membakar daging, dalam hati aku hanya bisa bilang “tuhan kenapa harus di depanku mereka seperti itu”, aku berdiri dan berlari ke luar, aku gak tahan dengan pemandangan itu, rian cuman bilang mau kemana, aku pikir dia peduli sama aku ternyata dia lebih nyaman dengan teman lamanya itu.

Aku duduk di depan rumah rian sambil menatapi langit membayangkan impian yang selama ini aku simpan, membayangkan cinta itu datang menemuiku, tapi dia belum sadar sampai sekarang aku harus lebih berusaha lagi. tidak lama aku duduk, bang reza pulang dia datang dan menanyaiku kenapa aku berada di luar aku hanya menjawab aku sedang tidak ingin berada di dalam kak, dia cuman tersenyum, aku kaget bang reza mengatakan “Kakak temanin yah, kamu kayanya sedang sedih, coba cerita sama kakak mungkin kakak bisa bantu”, aku gak nyangka bang reza mau menemaniku dan ingin aku curhat kepadanya. “aku malu kak pada diriku sendiri”, “loh emang kenapa, apa yang membuat kamu menjadi malu pada diri kamu sendiri?”, “salah gak kak kalau aku menyukai rian”, bang reza kaget, wajah terang berubah jadi gelap mungkin ni efek dari perkataaan itu tadi, “dik dengar kakak yah, kakak juga sedikit kaget mendengar kamu mengatakan itu, kamu Suka sama rian dan status kalian adalah sahabat baik, Cinta itu soal perasaan dik, kalau kamu memang suka sama rian ungkapkan secepatnya jangan malu, bukan karena kamu seorang wanita kamu harus menyimpan perasaaan tapi karena kamu adalah wanita kamu menjadi lebih berani mengungkapkan, kejar dia mungkin dia belum tahu yang sebenarnya”, “kak aku belum berani mengungkapkan perasaan ini kak, aku takut merusak persahabatan ku dengan rian”, “jangan seperti itu dik, kakak tau bagaimana rian, ya”sudah kamu ke dalam bicara empat mata dengan rian, pergilah”. aku bangkit dan masuk ke dalam, ketika aku masuk aku melihat rian dan amel berpelukan, gelas dalam genggaman pun terjatuh ke lantai, aku meneteskan air mata tapi kutahan untuk menangis dan teriak, aku berlari ke arah luar dan menabrak kak reza, kak reza heran melihat ku berlari sambil menangis, sepertinya rian tahu aku berlari, dia mengejarku tapi aku tidak menghiraukan itu semua perasaaan kesal, sedih, emosi, takut dan benci menyelimuti perasaaan ku hari ini, aku tidak ingin bertemu rian besok dan selamanya, aku benci dengannya mungkin malam itu adalah terakhir ku melihat rian, terkadang aku rindu kepada rian sesekali aku membuka jendela dan memandangi rumah rian, tapi kelihatannya rian selalu pergi dari pandangan ku, apakah dia merindukanku, badan ku terasa lemas kepalaku menjadi pusing, aku mau istirahat dan gak ingin memikirkan kejadian semalam.

Pagi ini aku mendengar sebuah teriakan dengan nama “rasty rasty keluarlah”, aku mendadak bangun dari kasurku dan membuka jendela, silaun mentari membuat mataku menjadi lebih terbuka, ternyata itu rian, aku menutup jendela dan turun menemuinya. Sesampai di bawah aku membuka gerbang dengan masih memakai baju tidur, aku bertanya pada dia “Mau ngapain?” dia berusaha menjelaskan kejadian tadi malam, “aku mau ngejelasin semuanya sama kamu, aku udah tau perasaan kamu ke aku ras, bang reza sudah cerita semuanya, aku gak tau kalau kamu menyimpan perasaaan sama aku, ras tolong kasih aku kesempatan, kamu boleh benci sama aku ras tapi tolong jangan hilangin perasaan itu juga, aku sayang sama kamu ras, aku ingin kita sama sama lagi, soal tadi malam kamu melihat amel meluk aku, kamu udah salah paham ras, bokapnya akan pindah ke australia aku memeluknya hanya pelukan perpisahan enggak ada lebih ras, kamu mau kan ras maafin aku”, dia menjelaskan semuanya sambil meneteskan airmata, genggaman tangannya begitu kuat, aku menjadi menangis mendegarnya, “cukup yan cukup, hapus air mata itu, itu bukan rian yang rasty kenal”, aku memeluk rian sambil menangis, rian mengatakan, aku mencintaimu ras dia mencium keningku dan aku mulai benar benar menangis dan memeluknya sangat erat, aku juga menyayangimu yan, aku mau kita bahagia bersama dan selamanya.

Dan mulai hari itu aku dan rian berubah, kami menjadi lebih akrab lebih dari sahabat baik tapi AKU DAN DIA Berubah menjadi KITA sebuah Persahabatan Berubah jadi cinta, setiap kali aku berharap kepada tuhan nama rian selalu ada dalam selingan doa dan harapan itu.

5 tahun berlalu aku dan rian menjalin sebuah akad pernikahan Aku Dan dia yang berubah menjadi Kita sekarang berubah lagi Menjadi Kami, menjadi sebuah keluarga yang begitu bahagia.

TAMAT

Cerpen Karangan: Luay Zahirul Ginting
Blog: http://luayzahirulwriter.wordpress.com/
@luayzahirul23
PIN:75D68777
thanks cerpenmu.com for publish

Cerpen First Love Andina Rasty merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga Buat Bunda

Oleh:
Jangan bermain cinta, kalau kamu gak siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi. Yaahh memang, cinta mampu merubah segalanya, seakan semua akan jadi seperti apa yang ada di khayalan kita.

Mengenalmu

Oleh:
Sauatu malam di kamar audy. “Mel kenal sama rishaldy nggak? ini nih dia ada di akun path gua belum lama gua visit pathnya ternyata dia seorang penulis” ucap audy.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *