First Sight (Part 1) Missing the Old You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 August 2015

8 tahun yang lalu di sebuah gedung les Matematika…

“Sherin, besok jangan lupa traktir bakso di depan ya!”
“Oke, bos!”
Dua anak itu adalah Sherin dan William. Mereka berbeda kelas karena usia Sherin dua tahun lebih tua. Waktu itu Sherin kelas 4 SD dan William kelas 2 SD. Tetapi hal itu sama sekali tidak menghalangi mereka untuk berteman. William sendiri dikenal sebagai anak yang periang, jahil dan konyol.

Hingga pada suatu hari William sedih, tidak seperti biasanya. Bahkan ia tidak mau bermain dengan teman-temannya.

“Jadi besok Ci Sherin mau keluar dari les?”
“Iya Will, aku pindah rumah. Sebenernya agak berat sih ninggalinnya, tapi terpaksa juga. Rumahku tambah jauh dari sini, ntar aku mau cari les lain biar gak telat.”
“Jadi gara-gara itu…” William menunduk.

Rupanya ia sedih karena sherin akan pindah les entah kemana. Ya, dia merasa kehilangan (meskipun belum tahu arti cinta). Mereka pun berharap suatu hari akan bertemu lagi dan… hal itu pun terealisasikan 8 tahun lagi… pada saat mereka SMA.

“X-B, mana barisannya?! Masa kayak anak TK aja minta dibentak-bentak!”
Sherin sedang menjadi senior di MOS tahun itu.

“Mana ketua kelasnya, hah?” Tak ada satu pun anak yang bereaksi, sampai anak di barisan paling depan menyiapkan barisannya. Sherin pun marah lagi ketika akan masuk kelas setelah istirahat.

“Siap grak,” ketua kelasnya sama sekali tak bertulang. Sherin pun tak sabar melihatnya.

“Lo jadi ketua yang bener dong!!!”

Pada akhirnya senior lain yang menyiapkan barisan kelas X-B itu. Saat semua siswa telah masuk kelas, kini saatnya mengabsen. Sabar, batin Sherin. Ia melihat nama para siswa itu di daftar absensi, dan betapa kagetnya ketika ia melihat nama “William Anthony”. Ternyata ia adalah ketua kelasnya.
Mulai hari itu Sherin membenci William, tetapi masih belum seberapa.

Waktu pun berlalu, hingga suatu saat ia menceritakan tentang William kepada sahabatnya, Diana. william sudah berubah banyak. Ia yang dulunya periang, sekarang kelihatan murung dan agak aneh.

“Eh, itu kan William yang elo maksud?” tanya Diana ketika melihat William yang tengah lewat di depan mereka.
“Iya sih, tapi kok dia jadi aneh gitu.”

Tanpa sadar Sherin melirik William terus-menerus. Ia merasa ada hubungan yang masih ia ingat–pertemanannya. Namun entah mengapa ia merasakan sesuatu lebih dari itu –masa ia menyukai William?

“Woi!” Diana mengagetinya. “Ngelamun aja? Liatin William yaa? Suka yaa?”
“Hah? Nggak deh, amit-amit!” ia menjawab seraya meninju pelan lengan Diana. Mereka pun sama-sama tertawa.

Bel pulang sekolah berbunyi. Sherin keluar dari kelasnya dengan membawa setumpuk buku tulis teman-teman sekelasnya. Maklum, dia adalah wakil ketua kelas. Ia menuruni tangga lantai 4 dengan cepat ketika tiba-tiba ada seseorang yang menyenggolnya, sehingga buku-buku tersebut jatuh berceceran.

“Elo?” wajah yang tak asing lagi sudah ada di depan Sherin–William! Ia serasa ingin menghajarnya saja.

“Sorry Ci, nggak sengaja.”
Bukannya menolong, tapi ia malah berjalan meninggalkan Sherin yang tengah menata kembali tumpukan itu sendirian.

“Dasar bocah kelas 10 gak tau diri! Udah salah gak mau nolongin lagi!” Sherin berteriak keras, ia sudah tak dapat menahan emosi lagi. Di tengah kemarahannya, ada salah satu teman William yang datang menolongnya.

“Sini ci, aku bantuin.” Ia pun membantu Sherin. “Biasa ci, Willy emang aneh gitu.”
“Makasih ya,” Sherin mulai tenang. “Eh, kalo boleh tau kamu siapa ya, kok kayaknya aku pernah jaga kelasmu.”

Ternyata itu adalah Raymond, salah satu teman William juga.

“Makasih ya, Raymond! Bilangin tuh temen lo, jadi anak yang tau diri,” Sherin nyengir dengan sinis.

“Willy emang gitu, Ci. Orangnya aneh, sok cuek. Gue yakin pasti ia merasa bersalah banget.”
Kini Sherin tambah membenci William, tetapi masih saja tidak menutup kemungkinan bahwa ia menyukainya…

Keesokan harinya, jam pulang sekolahnya diisi kembali dengan kesialan.

“Hujan lagi,” omelnya. “Bahh…”
Sherin murung karena tak kunjung dijemput. Dalam kegalauannya itu, ada seseorang yang menghampirinya.

“Hai Ci…”

William lagi? batinnya ketika menoleh ke arah datangnya suara.
“Elo lagi… yeah, hai,” ia menjawabnya dengan dingin. Tetapi daripada kesepian, lebih baik mengobrol saja.

“Belum pulang juga lo?”

“Belum nih.”

Tak lama kemudian, sebuah mobil putih menjemput William. Duh, kenapa sih dia duluan yang dijemput? omelnya lagi dalam hati. Tetapi William malah menawarkan bantuan.

“Ci, mau ikutan juga?”

“Nggak usah deh, ntar ngerepotin,” Sherin menolak.
Tetapi ada suara dari mobil tersebut. Ternyata itu mamanya William.

“Nggak usah sungkan, ayo ikut!”

Dengan terpaksa Sherin masuk ke dalam mobil.

“Makasih ya, udah mau nerima tawaran gue.”
Sherin kaget dengan kata-kata itu. “Lha, bukannya gue yang harusnya terima kasih sama lo?” Ia terkekeh.

Kebetulan rumah mereka jauh dari sekolah, jadi mereka punya waktu yang lumayan untuk mengobrol.

“Jadi Will…” mamanya mulai berbicara. “Siapa cewek yang di sebelahmu itu?”
Sherin mulai salah tingkah. “Tante, ini Sherin, cici kelasnya Willy,” sergahnya dengan cepat. William pun melotot kaget dengan tingkah lakunya.

“Sherin? Sherin Stacyana?”

Hah, gimana dia tau nama gue, batin Sherin. Ia pun langsung mengeluarkan semua ingatannya.

“Tante, itu emang bener namaku. Bukannya dulu aku pernah satu les sama Willy?” Sherin mulai nervous. “Waktu itu aku kelas 4, Willy kelas 2 SD kan?”

Benar juga, batin mama William. Anaknya yang sejak tadi diam kemudian bersuara.

“Ma, ci Sherin sekarang galak!”

“Ih!” Sherin meninju lengannya. “Salah sendiri lo lemot!” Seisi mobil spontan tertawa.
Setelah lama di mobil karena macet, tiba saatnya Sherin tiba di rumah.

“Makasih ya, Tante! Bye, Will!”

Sesampainya di rumah, ia membongkar tasnya. Anehnya, di dalam tas terdapat selembar loose leaf kuning yang telah dilipat. Penasaran, Sherin membuka kertas tersebut.

Dear my hun Diana Latressa,
Aku terima cinta kamu sekarang juga. Love never looks at how old you are.
Love,
William.

William… dengan Diana?! batinnya. Sherin merasa begitu sakit hati. Entah mengapa, ia diam-diam menyukai William. Menyukai orang yang ia benci selama ini. Sherin merasa dirinya sudah gila sekarang.

Sebuah lagu ia mainkan dengan gitarnya. Hanya ini yang dapat ia lakukan sekarang–bernyanyi.

Last night I heard my own heart beating
Sounded like footsteps on my stairs
Six months gone and I’m still reaching
Even though I know you’re not there

I was playing back a thousand memories, baby
Thinking ’bout everything we’ve been through
Maybe I’ve been going back too much lately
When time stood still and I had you

Come back, come back, come back to me like
You could, you could if you just said you’re sorry
I know that we could work it out somehow
But if this was a movie you’d be here by now
… you’d be here by now

If This Was A Movie-Taylor Swift

to be continued…

Cerpen Karangan: Lenette Tee
Facebook: http://facebook.com/helen.imanuel
(Cerpen ini dilanjutkan sampai part 3)
I’m an amateur writer ^^

Cerpen First Sight (Part 1) Missing the Old You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebelum Senja (Part I)

Oleh:
“Sebelum dia akulah nomor satu dihatimu! Sebelum dia akulah yang paling berharga dimatamu! Tapi semuanya pudar setelah dia datang!” -Suara “Suara ini siapa?” Anak itu meraih sebuah foto hitam

Cinta Yang Singkat

Oleh:
Cinta mungkin bisa dikatakan ilusi tapi nyata dan berbentuk, yang berawal dari kenyamanan dan kelembutan. Hari pertamaku dipertemukan denganmu, hari pertamaku mengenalmu, mengenalmu dalam diam, mengenalmu dari kejauhan dan

LDR Yang Berawal Dari Game

Oleh:
Aku berkenalan dengan seorang laki-laki seusiaku, perkenalan dari sebuah game COC (Clash Of Clan) yang sampai sekarang masih jadi kesukaan orang-orang, dari situ aku semakin dekat dengannya, namanya Bagus.

Something Missing

Oleh:
Adzan Maghrib sudah berkumandang menandakan hari telah petang, ku langkahkan kakiku menuju koridor tempat wudu wanita di musala Rumah Sakit. Kini usiaku hampir menginjak 25 tahun, sudah 2 tahun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *