Flat White Coffee Dan Bunga Mawar Merah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 30 May 2016

Gadis bermata hazel itu berjalan tergesa-gesa sambil memegang kopi flat white di tangan kanannya. Rambut cokelat semi panjangnya terurai terombang-ambing mengikuti langkah besar pemiliknya. Mata hazelnya menatap liar orang-orang di hadapannya berusaha mencari sosok seorang pria yang saat ini dicarinya. Matanya menyipit memastikan melihat seorang pria setengah asia dan setengah canada yang sedang tertidur pulas dengan kepala miring dan tangan yang terlipat memeluk dirinya di bangku panjang yang berada di sekitar danau buatan dekat kompleksnya.

Gadis itu berjalan dengan cepat sambil berhati-hati memegang kopi flat white kesukaan pria yang seenaknya saja tertidur di kursi panjang itu. Niat ingin memarahi pria yang berada tepat di hadapannya kini telah hilang memudar tergantikan dengan niat ingin mengamati wajah tampan dengan alis tebal, bibir penuh yang tidak hitam karena si pria itu tidak pernah sekalipun mencoba untuk merok*k dan hidung mancungnya. Sinar matahari yang semulanya berarah langsung ke wajah Pierre kini terhalangi oleh tubuh ramping milik Sabrina. Mata gadis itu tak berpaling sedikit pun dari wajah tampan pria bermata biru saphire itu.

“Apa kau sudah puas melihat wajahku?” Ucap pria itu tiba-tiba yang sontak mengagetkan Sabrina dan segurat garis merah pun terlihat jelas di pipinya, tetapi dapat ditepiskannya rasa malu itu dengan sisa-sisa harga diri yang tinggi walaupun sebenarnya tinggal sedikit karena tertangkap basah menikmati salah satu hasil ciptaan Tuhan yang paling indah di depannya.

“Geer sekali kau. Ini kopinya, pegang sendiri kau kan punya tangan, pierre!” serunya saat melihat lelaki yang matanya masih sedikit menyipit hendak memajukan tubuhnya dan membuka mulutnya untuk meminum kopi kesukaannya yag dipegang oleh Sabrina.
“Ck! Kau ini pemarah sekali,” gerutunya yang tidak dipedulikan sama sekali oleh Sabrina. Alih-alih membalas perkataannya, Sabrina memilih untuk duduk sambil membuka buku Novel Pride and Prejudice, novel romantis klasik yang terkenal sepanjang sejarah. Pierre diam-diam mengambil setangkai mawar merah yang baru saja tadi pagi ia beli di perempatan kompleksnya, toko bunga yang menjadi langganannya.

Dikasihnya bunga itu di atas buku novel yang dipegang oleh Sabrina. Alih-alih terkejut, gadis itu diam memandang mawar kesepuluhnya yang didapatkan oleh Pierre sambil menetralisirkan detakan jantungnya yang semakin cepat. Selalu seperti itu, kapan pun mereka bertemu Sabrina akan membeli Flat White kesukaan Pierre dan sebagai balasannya pria itu akan memberinya setangkai bunga mawar merah. Sekiranya cukup ia menetralkan desiran membuncah di perutnya, ia beralih menatap Pierre yang ternyata sedang melihat ke arahnya dengan tatapan teduh dan senyum hangatnya. Gadis itu kikuk tentu saja, dipalingkan wajahnya dengan cepat menyembunyikan fakta bahwa pipi gadis itu terlihat merah merona.

“Tak usah seperti itu. Aku hanya ingin menikmati wajah merah meronamu. Ku rasa cukup menggemaskan,” Ucap Pierre sambil memegang rahang Sabrina agar berbalik melihat kearahnya yang langsung ditepis oleh gadis itu.
“Ck! Wajahku merah karena kepanasan, kau tidak bisa membedakan mana yang merah karena malu atau merah karena panas apa? Kalau iya, sayang sekali predikat Pria tampan nan pintar milikmu itu,”

“Terserah kau saja. Aku tetap menganggap bahwa kau sedang tersipu malu dan yang lebih menyenangkan kau begitu karenaku,” Ucapnya dengan nada final. Pierre terlalu hapal dengan tingkah gadis yang sampai sekarang masih terpampang jelas guratan merah di pipinya, tetapi gadis itu berpura-pura seolah-olah sedang menikmati membaca buku novel yang tadi sempat tak dibacanya. Sabrina selalu mengatakan hal yang berbalikan dengan apa yang ia rasakan di hadapan pria itu. Pierre tak pernah mempermasalahkan kebiasaan Sabrina, bahkan ia menganggap bahwa itu hal yang lucu di matanya.

“Ini minumlah juga, setidaknya untuk menghangatkan tubuhmu. Kau pasti tidak membeli kopi hangat untukmu sendiri bukan? Ck! Kau ini! Kau seharusnya sadar Manhanttan sedang dalam musim gugur, suhunya lumayan dingin, dasar gadis ceroboh,”
“Cerewet. Dasar lelaki jejadian,” Gumam Sabrina pelan agar tidak terdengar oleh Pierre yang sayangnya sekarang sedang mendelik kesal pada Sabrina.
“Anggap saja aku tak mendengar gerutuanmu,”

Gadis itu tersenyum lebar tanpa dosa sambil menyesap kopi flat latte milik Pierre. Sedangkan lelaki itu menatap Sabrina dan tersadar bahwa gadis ceroboh itu tidak memakai syal. Ia membenarkan letak kerah Sabrina sebelum pria itu melilitkan syal cokelat yang sebelumnya ia pakai pada Sabrina.
“Kau akan jatuh sakit jika tidak memakainya. Maka dari itu tutup mulutmu, jangan membantahku,”
“Eum, ya. Terima kasih,” Sabrina mempererat syal yang tercium bau parfum pria itu: bau yang sangat ia sukai.

Suasana terasa damai tak ada suara gaduh sedikit pun. Sabrina diam sambil membaca novel yang ia bawa sedangkan Pierre diam sedang berpikir matanya sesekali mencuri pandang pada Sabrina dan sesekali juga ia menjejali Sabrina kopi miliknya ketika dilihatnya jika gadis berambut cokelat yang sekarang terurai itu kedingin. Memang selalu begini hari-hari dimana mereka bertemu. Setelah mereka bercakap-cakap kata-kata yang terdengar biasa tetapi berpengaruh kuat, mereka tak akan berbicara lagi, hanya diam hingga hari menjelang malam. Seakan sadar bahwa kehadiran salah satu dari mereka yang berharga. Ketika sudah waktunya pulang, pria itu tak pernah sedikit pun membiarkan Sabrina pulang sendiri ditengah malamnya Manhattan. Seperti sekarang ini.

“Sudah sampai. Jadilah anak gadis yang manis. Sikat gigimu lalu tidur jangan lupa mengunci pintu apartemenmu,”
“Aku bukan seorang bocah berumur 5 tahun kalau kau mau tahu!” Teriak Sabrina sambil hendak membuka gagang pintu. Sebelum pintu itu terbuka, Pierre mengarahkan tangannya ke ubun kepala Sabrina sambil mengacak lembut rambut halus miliknya. “Selamat malam, Sabrina,” Gadis itu hanya mengangguk kaku lalu melenggang pergi dari jangkauan mata Pierre. Ketika dilihatnya gadis itu sudah berada di Lobby, Pierre menghidupkan kembali mobilnya dan melesat pulang.

– Sabrina POV
Aku menaruh tas berwarna pink Channel-ku di atas meja. Bunga mawar merah yang diberikan oleh lelaki yang dulunya merupakan teman masa kecil sekaligus tetanggaku itu ku taruh di vas bunga di dekat meja riasku. Bunga mawar merah ke-30 yang diberinya. Aku tahu tak selamanya bunga-bunga itu akan mekar adakalanya mereka akan layu maka sebelum itu terjadi aku akan memfoto bunga pemberiannya dan memajang langsung foto itu di dinding disertai tanggal kapan pria itu memberiku bunga-bunga itu. Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur empuk ukuran queen size milikku setelah semua selesai.

Aku bertemu lelaki berahang tegas itu tepat di taman kompleks sekitar apartemenku. Hari itu dia membawa setangkai bunga yang tidak ku tahui untuk apa dan untuk siapa gerangan bunga itu. Aku tak peduli karena perasaan membuncah ketika bertemu dengannya yang menjadi pusat pikiranku ketika itu dan kaki sialan milikku menuntutku untuk mengambil alih akal rasionalku yang membuatku harus duduk di sampingnya. Ia memberikanku bunga setelah baru saja aku duduk. Bahagia? Tentu saja aku bahagia. Walau tak bisa ku pungkiri bibir kecilku selalu saja mengeluarkan kata umpatan padanya tapi perasaan sedari kecil yang ku bawa tak bisa jua ku pungkiri.

Sebagai ganti tanda berterima kasih aku memberinya kopi Flat White yang hari itu entah kenapa aku hanya ingin membelinya. Mungkin sebagai tanda rindu padanya makanya aku membeli kopi itu yang ternyata hari itu juga aku bertemu pria yang sudah lama tidak ku temui itu. Dan hari-hari dimana hanya ada setangkai bunga mawar merah dan Kopi Flat Whitepun dimulai. Entah bagaimana caranya kami selalu bertemu di taman itu dan di bangku itu: setiap hari. Dering bunyi telepon terdengar nyaring, menyadarkan sang pemilik hp dari lamunannya. Segera ia bergegas memegang hpnya, yang ternyata sebuah pesan dari Pierre.

“Aku tahu kau sedang memikirkanku kan sekarang? Tetapi ini sudah larut malam. Berhenti berkhayal yang tidak-tidak dengan menggunakan tubuhku. Tidurlah, jangan lupa memimpikanku hm,” Sabrina mendengus sesaat membaca pesan omong kosong pria itu dengan cepat ia membalas dengan ketus pesan dari pria itu.
“Mimpi apa aku semalam bisa-bisanya bertemu lelaki gila sepertimu! Aku belum mau tidur. Apa pedulimu?”

“Kau tidak tahu, Rin? Kita bertemu tentu saja karena takdir. Takdirku memang tercatat untuk bersamamu. Kau harus tahu itu. Ck, tidur atau aku akan pergi ke sana. Aku sedang bersiap-siap ke sana sekarang kalau kau mau tahu,”
“Dasar pria pemaksa! Iya-iya aku akan tidur. Jangan berani-berani kau ke sini atau besok yang tersisa hanya namamu hm,”
“Ku rasa takdir tidak begitu buruk. Terima kasih kalau begitu –untuk takdir. Jangan membalas pesanku!”

Sabrina buru-buru mematikan hpnya, ia baru saja mengatakan pada pria itu bahwa ia senang bertemu dengannya. Hal yang sama sekali tidak terpikirkan olehnya. Untuk mengalahkan egonya dan jujur dengan perasaannya pada pria itu. Perasaan itu, perasaan membuncah yang selalu saja hadir jika semua hal itu berhubungan dengan Pierre. Ia sadar, sangat sadar bahkan bahwa ia: terlalu mencintai pria itu. Tak peduli ia juga mencintai Sabrina atau tidak, yang diperlukannya bahwa ia masih dapat berbagi oksigen di tempat yang sama dengan pria itu, bahwa jantungnya masih berdetak, untuk pria itu.

Desiran angin yang cukup kuat tak membuat Sabrina menghilangkan niatnya untuk pergi ke tempat dimana biasanya ia membunuh waktu bersama Pierre. Diketatkannya syal cokelat pemberian Pierre. Detik berubah menjadi menit sebagai mana halnya jam telah berganti menjadi hari. Entah sudah berapa lama mereka melakukan kegiatan yang dapat dianggap konyol oleh orang lain. Seperti biasa pria itu sudah duduk nyaman di sana. Setelah ia duduk di atas bangku panjang itu, dengan cepat ia menyesap kopi yang dibawanya.

“Hei! Itu punyaku. Jadi seharusnya aku yang meminumnya lebih dulu,”
“Sejak kapan ini menjadi milikmu? Aku yang membelinya,”
“Terserah kau sajalah. Kalau bisa minum semuanya hm. Cuaca cukup berangin sekarang,”
Sabrina tidak menjawab perkataan Pierre ia lebih memilih memusatkan pikirannya pada buku novel yang dibawanya. Ia tahu jika ia memalingkan kepalanya menghadap Pierre hanya tingkah konyolnya yang akan membuatnya terlihat bodoh. Ia tahu ia tak akan bisa menang dari senyum hangat pria itu. Ia sangat tahu kelemahannya tersebut.
“Sudah berapa tangkai bunga mawar yang kau punya sekarang?” Tanya Pierre memecahkan keheningan.

“Hm 49 kenapa?
“Kalau begitu dengan begini kau sudah memiliki 50 bunga mawar merah bukan?” Pierre memberikan bunga mawar itu untuk kesekian kalinya sedangkan Sabrina menutup buku novel yang sesaat tadi menjadi pusat pikirannya tergantikan oleh bunga mawar permberian Pierre yang baru saja didapatnya.
“Itu berarti sudah 50 hari sejak kita bertemu dan sudah 50 Kopi Flat White yang kita minum,”
Pierre menyelipkan untaian rambut Sabrina di belakang telinganya, menatap teduh mata ingin tahu gadis yang ada di depannya.

“Aku tahu kau pasti sudah mencari tahu arti warna bunga mawar merah kan? Untuk yang satu itu ku rasa aku tak perlu menjelaskan apa pun,” Ya, Sabrina tahu arti bunga mawar merah yang sering diberikan oleh Pierre, mereka melambangkan rasa cinta dan sayang yang sangat besar. Ia memilih menunggu apa yang akan dikatakan Pier selanjutnya sambil menetralisirkan degupan jantungnya yang berdebar lebih cepat dari hari-hari sebelumnya. Ia juga tahu bahwa pria itu mati-matian mengubur harga dirinya, setahunya pria di depannya ini bukan jenis pria romantis yang kau sering temui di drama-drama zaman sekarang.

“Tapi apa kau juga tahu bahwa jumlah dari bunga mawar juga berpengaruh? 1 mawar bunga mawar melambangkan cinta seseorang hanya untuk penerima bunga saja. Tapi kau tahu bahwa jumlah bunga mawar yang ku beri padamu lebih dari satu dan aku selalu memberimu setiap harinya, tanpa sedikit pun absen. Aku yakin kau pasti juga tahu maksudku kali ini,”

Sabrina memejamkan matanya memilih menekan pipinya ke telapak tangan Pierre saat pria itu mencoba menyentuh pipi halus Sabrina. Ia menganggukkan kepalanya tanda ia juga tahu alasan pria itu. Bahwa pria itu mencintainya setiap hari, tanpa sirna sedikit pun. Sabrina terlalu bahagia sekarang, jika memang ini hanya mimpi di detik selanjutnya ketika ia terbangun pasti hanya sakit yang dapat dirasakannya. Setetes bulir kecil terjatuh di sebelah mata kanannya –jika seseorang mengeluarkan air mata dari mata kanan menandakan bahagia, sebaliknya menandakan sedih. Kejadian itu tak luput dari mata elang Pierre, diapitnya wajah sendu Sabrina dan mengusap air mata Sabrina dengan ibu jarinya.

“Jangan menangis sekarang. Kau belum boleh menangis, belum saatnya. Dasar cengeng,” Gurau Pierre sembari mengelus kembali Pipi Sabrina. Bukannya kesal ataupun membalas perkataan Pierre seperti biasanya. Sabrina lebih memilih menjatuhkan tubuhnya dalam dekapan hangat Pria itu. Mencoba menghentikan tangisannya dengan menghirup aroma pria yang sekarang sedang membalas pelukannya.

“Kau ingat jumlah bunga mawar yang kau punya sekarang 50 tangkai dan sekarang dengarkan aku baik-baik. Kali ini aku akan menjelaskannya padamu. 50 tangkai bunga mawar menandakan cinta seseorang yang memberikan pada si penerima bunga bukanlah jenis cinta yang disesalinya,” Pierre mengetatkan pelukannya mencium ubun kepala Sabrina lama seolah mencoba memberitahu besarnya cinta yang ia miliki untuk gadis bergigi ompong dulunya.

“Aku mencintaimu, sangat. Setiap harinya tanpa berkurang sedikit pun tetapi sialnya selalu bertambah setiap harinya dan Rin, aku tak pernah menyesali mencintaimu sedalam ini dan selama itu,” Tak tahan dengan semua kejujuran pria itu, Sabrina kembali menangis mengeluarkan suara keras yang telah ia tahan sedari tadi. Pierre melepaskan pelukannya, menatap wajah penuh dengan air mata tetapi tak mengurangi sedikit pun kecantikan gadis yang selalu dipujanya. “Wajahmu sangat jelek, kau harus berkaca sekarang,” Dustanya.

Sabrina tetap menangis tetapi kepalan tangannya mencoba memukul tubuh kokoh pria di depannya. Pierre mengusap pipi Sabrina dan mengacak rambutnya menjadi berantakan. Gadis itu berhenti menangis, mencoba menatap sengit lelaki yang baru saja mengungkapkan perasaan padanya. “Untuk 50 kopi flat white itu,” Pierre merogoh jas musim seminya. Mengeluarkan kotak perhiasan dan membuka isinya. Sepasang cincin perak yang berbentuk hati dengan simpul sederhana. “Rin, would you be my future?”

Cerpen Karangan: Rifky Adina Irawan
Blog: Catatanbisuku.wordpress.com

Cerpen Flat White Coffee Dan Bunga Mawar Merah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mawar Berduri

Oleh:
“Udah! Kamu itu ternyata gak lebih dari seorang temen yang tega NUSUK sahabatnya dari BELAKANG! Aku benci sama kamu!” ucap seorang gadis bernama Ratu sweetthella “Ya udah… percuma ya

Sahabat Selamanya

Oleh:
Tita berjalan gontai sambil jari-jemarinya meremas-remas ujung jilbab putihnya. Beberapa saat kemudian Ia telah berada di ruang pertemuan OSIS. Setelah berelaksasi sekian detik, Ia pun menuju sebuah kursi kosong

My Feel

Oleh:
Sebuah halusinasi datang menghampiriiku, aku hanya terdiam tanpa berkata apapun. Hari ini aku sungguh kesal, masalahnya aku selalu dikhianati oleh temanku sendiri. Aku berasal dari keluarga yang kaya dan

All About Loving Someone

Oleh:
Aku bukan lelah mencintaimu. Aku hanya takut melukai hati yang rapuh ini… Aku melangkahkan kaki satu persatu keluar dari apartemen. Dengan menenteng sebuah tas berisi pakaian dan benda-benda pribadiku.

Harapan Kosong :(

Oleh:
Alina Nur Meilani anak pertama dari 2 bersaudara ini selalu mendapatkan nasib jelek dalam hal PACARAN. Tetapi sekarang saat alin merasa hidupnya sangat hampa ,seorang lelaki bernama Reza Arveadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Flat White Coffee Dan Bunga Mawar Merah”

  1. jihan says:

    kereeeennn bangett

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *