Fobia Kamu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 April 2018

Cinta memang bisa membuat seseorang menjadi aneh. Ya.. aneh seperti aku saat ini berdiri di balik pohon yang tak jauh dari lapangan basket sambil mengintip ke lapangan basket kampus. Keren banget dia di lapangan hmmm…

“Hoi… ngapain..” Candika sahabatku menepuk bahuku, aku kaget.
“Can..” ucapku kesal sambil cemberut, Candika tertawa.
“Senang lo buat aku kaget.” ucapku.
“Lagian ngapain ngumpet di situ.” ucap Candika.
“Bukan ngumpet aku..” kata-kataku terhenti.
“Ngintip Erlangga..” ucap Candika, aku senyum.
“Pake senyum lagi, kamu kalau langsung lihat juga nggak apa. Toh di pinggir lapangan itu orang pada banyak yang nonton.” ucap Candika.
“Tapi..” ucapku terputus.
“Dia nggak bakalan tahu kok kalau kamu cinta stadium akut sama dia.” ucap Candika. Mataku melotot padanya. Candika malah tertawa.
“Sudahlah Aldora, kamu kayak anak SMU aja. Yuk..” ucap Candika sambil menarik tanganku.
“Candika..” ucapku mencoba menahan tubuhku di tempatku berdiri, tapi percuma karena aku dan Candika sudah berjalan ke pinggir lapangan basket. Aduhhh… Candika…

“Nah dari sini ngelihatnya lebih jelas..” ucap Candika sambil melihat ke lapangan.
“Can lo..” belum selesai aku bicara Candika bicara.
“Ngapain dari jauh..” ucap Candika hu.. uh.. ni anak nyebelin kalau lagi gini…
“Lihat ke lapangan donk Al.. tu pujaan hatimu masukkan bola ke ring..” ucap Candika.
“Can..” ucapku tertahan duh bisa kedengaran orang lain ni.. aku menutup mulut Candika.
“Bisa nggak lo ngomongnya pelan aja, ntar semua orang jadi tahu.” ucapku.
“Hihihi.., sorry lupa.” ucapnya, aku mendengus kesal.

Memang sih kalau menonton dari sini lebih jelas tapi masalahnya debaran jantungku pun lebih jelas kerasnya berdebar… Seru juga permainan mereka.. Ayo Erlangga… ucapku dalam hati mendukung sang pujaan hati. Tapi saat mereka rebutan bola bolanya jatuh dengan keras sehingga bolanya terpental ke arahku o..ow..
“Awas Al..” kudengar suara Candika tapi terlambat itu bola sudah mengenai bahuku. aduh.. sakit..

“Lo nggak apa-apa Al?” tanya Candika, aku memegang bahuku yang sakit.
“Sakit..” ucapku, Candika mengusap usap bahuku.
“Eh.. maaf ya..” Leonard sudah ada dekat kami di belakangnya ada Erlangga.
“Ngak apa-apa..” ucapku, Erlangga meraih bola yang jatuh di rerumputan tak jauh dariku.
“Sekali lagi maaf.” ucap Leonard lalu mereka kembali ke lapangan.

“Yuk pulang..” ajakku pada Candika.
“Sakit banget ya Al..” ucap Candika.
“Ngak apa-apa kok Can, tapi kita pulang aja yuk..” ucapku
“Ayuk..” ucap Candika lalu kami berbalik pulang sebelumnya aku kembali melihat ke lapangan. Erlangga melihat ke arah kami. Aku lalu memalingkan wajahku..
“Sorry Al, aku tadi yang ajak kamu ke pinggir lapangan jadi kena bola deh kamu. Bukannya dapat Erlangga malah dapat timpukan bola..” ucap Candika, aku senyum
“Sudah ah Can.. kayak parah aja.” ucapku Candika tertawa lalu kami pulang.

Aku dan Candika lagi di kantin, aku asyik dengan coklat di tanganku. Candika di sebelahku asyik bertelepon dengan pacarnya Gian. Makan coklat memang sudah hobbyku hehe… kalau lagi makan coklat terkadang lupa tuh sama sekeliling kayak Candika kalau lagi bertelepon dengan pacarnya.

“Al..” Candika memanggilku aku noleh, rupanya si cantik ini sudah selesai bertelepon.
“Apa..” ucapku.
“Lo kalau makan coklat selalu lupa sekelilingmu, tuh lihat di depan kita ada Erlangga.” ucap Candika pelan.
“Hah..” ucapku bego.
“Yeileh ni anak..” ucap Candika lalu memegang kedua pipiku lalu mengarahkannya ke depan kami dan bertepatan banget Erlangga melihat kami. Uppsss…, aku kaget banget lalu terbatuk mungkin tersedak coklat yang kumakan, lah ni coklat berkhianat banget samaku sempat-sempatnya menggangu tenggorokanku disaat seperti ini. Aduh malu banget..
“Eh minum Al..” ucap Candika sambil menyodorkan minuman padaku, aku meminumnya wajahku pasti memerah. Candika menatapku dengan wajah meminta maaf..

“Gimana ni Can, malu banget aku.” ucapku pelan sambil menatap Candika nggak berani melihat ke depanku, Candika senyum meringis.
“Dia masih melihat kita?” tanyaku, Candika menganguk tanpa suara.
“Kita keluar yuk..” ajaknya, aku mengangguk lalu Candika berdiri dan aku mengikutinya. Candika membayar makanan kami lalu kami keluar aku menunduk.
“Maaf ya Al..” ucap Candika saat di luar kantin.
“Ngak apa Can.. selalu aja ada hal memalukan kalau berada di depannya..” ucapku lesu.
“Maaf..” ucap Candika sambil merangkul bahuku, aku mengangguk. Kami berjalan menjauh dari kantin.

Aku dan Candika lagi jalan di jalan setapak taman kampus. Taman kampus terlihat ramai dengan para mahasiswa. Aku sedang membaca kumpulan puisiku untuk didengar Candika supaya dia bisa menilai mana yang bagus untuk dimasukkan ke sebuah majalah.

“Ni lagi satu lagi Can..” ucapku.
“Masih dengan objeknya Erlangga.” ucap Candika sambil melihatku.
“Hehehe…, iya…” ucapku melirik Candika lalu menaikkan buku kumpulan puisiku kedepan mataku sambil membacanya.
“Kayak baca Pembukaan UUD’45 aja lo..” ucap Candika, aku senyum.
“Dengerin donk Can..” ucapku
“Iya..” ucap Candika sambil melihatku, kami masih berjalan. Aku membacanya bak seorang pujangga, Candika senyum.

“Kamu seperti mentari…
Indah di setiap kehadiranmu…
Pagi hari dengan warna kuning keemasanmu mencerahkan hari
Sore hari dengan warna kemerahanmu..
Memberi warna sendu yang indah di ujung senja
Membuatku selalu menanti kehadiranmu..
Meski hadirmu bukan hanya untukku..
Tapi aku bahagia mendapatkan sinarmu..
Karena selalu menghangatkan ha…”

Belum selesai baca aku sudah terhenti karena aku menabarak seseorang.
“Aduh..” ucapku bukuku terjatuh, di depanku berdiri Erlangga..
“Mm.. ma..af..” ucapku terbata bata, Erlangga menatapku. Aku langsung berbalik pergi.
“Al..” panggil Candika.. kupercepat langkahku.
“Hei tunggu..” ucap Candika saat berhasil menyusulku.
“Aduh Can..” ucapku.
“Kok langsung pergi sih..” ucap Candika.
“Aku grogi di depannya Can, nih pegang tanganku dingin dan gemetaran.” ucapku, Candika memegang tanganku.
“Iya, parah lo..” ucap Candika
“Mau gimana Can, emang gini diriku..” ucapku Candika mendesah pelan.
“Eh.. bukuku…” ucapku teringat buku kumpulan puisiku.
“Jatuh..” ucapku lalu berbalik ke tempat aku nggak sengaja menabrak Erlangga tadi, teringat tadi buku itu terlepas dari tanganku saat menabrak Erlangga. Tapi bukunya sudah nggak ada… aku mencari carinya di sekitar kami tabrakan tadi..

“Yah elo main tinggal aja.” ucap Candika.
“Can.. bukunya nggak ada gimana ni, kalau ada yang baca bisa ketahuan rahasiaku di situ kan aku ada nulis nama Erlangga. Gimana ni Can..” ucapku panik nggak peduli dengan perkataan Candika. Candika ikut mencari buku itu sudah kami cari di sekitar taman kampus tetap aja nggak ketemu aku lalu duduk di rerumputan taman.
“Tenang Al.. semoga yang nemu bukan orang jahil..” ucap Candika, aku mendesah pelan. Aku nggak bisa tenang kalau buku itu nggak kutemukan.

Hari ini nggak ada kejadian aneh berarti yang menemukan buku itu tidak mengembar-gemborkan pada orang mengenai isi bukuku itu. Hari ini aku bisa bernafas lega. Aku celingak celinguk…
“Ngapain lo celingak celinguk..” ucap Candika yang sudah ada di sisiku.
“Mau lihat Erlangga..” ucapku.
“Mau apa kalau sudah ketemu, mau lari..” ucap Candika menyindirku.
“Ah Can kamu nyindir aja.” ucapku cemberut.
“Habis lo aneh.. orangnya nggak ada dicari eh… sudah di depan mata malah buang muka atau kalau nggak ngacir…” ucap Candika aku cuma senyum.

“Tuh pangeranmu sudah muncul.” ucap Candika aku mengikuti arah mata Candika. Erlangga memakai kemeja kotak-kotak dan jeans biru.
“Sudah jangan terus dipelototi.. ntar keluar tu biji matamu..” ucap Candika aku senyum.
“Sudah lama dia nggak serapi ini ke kampus..” ucapku
“Ya semenjak putus dengan Yola..” ucap Candika, ya setahun lalu hubungan Erlangga dan Yola kandas. Aku sedih melihat Erlangga jadi berubah, tidak serapi dulu dan banyak melamun. Walau aku akhirnya memiliki harapan dalam kesendirian Erlangga. Mungkin nggak ya aku bisa di sisinya…
“Sudah jangan dipelototi terus ntar luntur tu dia..” ucap Candika.
“Emang dicuci..” ucapku Candika tertawa.
“Yuk ke ruangan ntar lagi kuliah dimulai.” ucap Candika aku mengangguk. Lalu kami masuk ke ruang kuliah.

Sudah dua minggu lewat kejadian di taman dan tidak ada tanda-tanda ada orang yang membocorkan isi bukuku. Bolehkan aku bernafas lega.. berharap orang itu selamanya nggak akan membongkar isi bukuku itu..
Aku jalan sendiri sepulang kuliah melewati taman kampus. Candika sudah pulang duluan di jemput pacarnya. Aku berjalan santai, di depanku ada beberapa mahasiswa berjalan sambil ngobrol. Aku ke pinggir menghindari tabrakan dengan mereka tapi salah satu dari mereka karena asyik bercanda dengan temannya malah menabrakku. Aduh.. aku hampir aja jatuh. Untung ada yang menahan tubuhku dari belakang.
“Eh sorry..” ucap cowok yang menabarakku, aku cuma senyum. Dia melirik orang yang di belakangku. Aku berbalik dan…
“Hati-hati..” ucapnya. Erlangga.. Aku kaget yang menahan tubuhku dari belakang Erlangga. Aku mau langsung pergi tapi tanganku dipegang Erlangga. Aku menatapnya..
“Jangan buru-buru, pelan-pelan saja..” ucapnya, aduh jangan-jangan tanganku dingin nih. Dia pasti heran ni.. aku tertunduk lalu Erlangga melepaskan pegangannya.
“Terima kasih..” ucapku lalu berbalik pergi. Ihh.. selalu begini ngacir kalau berhadapan dengan Erlangga huh.. bodohnya aku…

Aku berjalan di koridor kampus kualihkan pandanganku ke sisi kiriku, ada beberapa mahasiswa main basket di lapangan. Cuaca sore ini memang asyik untuk olah raga. Aku berhenti dan berdiri di sisi koridor kampus melihat ke lapangan. Apakah Erlangga ada di sana.. aku perhatikan mereka satu persatu sepertinya Erlangga nggak ada.

“Mau nonton basket kok jauh banget..” seseorang sudah di sisiku, aku noleh dan kaget.
“Kok kaget gitu ngeliat aku..” ucapnya, Erlangga sudah ada di sisiku.
“Ngg.. nggak apa-apa..” ucapku gugup.
“Aku menyeramkan ya..” ucapnya, aku menggeleng sambil memegang erat buku di tanganku.
“Kok kayaknya setiap ngeliat aku kamu ketakutan gitu..” ucap Erlangga.
“Ng..gak kok.” ucapku aduh kok jawabnya pakai terbata-bata gini sih..
“Nah tu dari jawabanmu kelihatan kamu takut sama aku.” ucapnya lagi, ni mah bukan takut tapi grogi…
“Aku pergi dulu..” ucapku aduh nggak bisa lama-lama dekat ni cowok tanganku dingin dan gemetar. Ih.. kenapa aku gini aku membenci diriku kalau lagi begini. Aku berbalik hendak pergi tapi buku di tanganku terjatuh. Aduh ini buku pakai jatuh lagi, aku berjongkok memungutnya.
“Hati-hati..” ucap Erlangga aku mengangguk tanpa menoleh lalu ngacir… seperti kebiasaanku…

Cerpen Karangan: Imelda Oktavera

Cerpen Fobia Kamu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Best Friend Forever

Oleh:
Mentari pagi belum juga muncul. Maklum jam masih menunjukkan pukul 05.00 WIT. Jam alarmku berbunyi makin kuat, sepertinya ia tak sabar membangunkanku. Segera aku bangun dari tempat tidur lalu

Sebatas Mimpi

Oleh:
Kau berbicara banyak kata hari ini, yang bahkan aku pun tak memikirkannya sama sekali. Kita masih berdua, hingga malam datang dan langit terang berganti gelap. Kau mengantarkanku sampai tepat

Cinta Tak Terduga

Oleh:
Aku sedang berbicara lewat hp dengan sahabatku, Anggun, “Iya, Gun nanti sore jadi kok ke toko buku. Tenang aku antar kamu kok.” kataku sambil menyeruput minuman dingin yang ku

Komunikasi Obat Rasa Sakit

Oleh:
Begitu berat yang kurasa saat jari jemariku harus mengetik kata-kata agar dapat terhubung lagi, takut dia tidak membalas pesanku, setelah lebih dari delapan bulan yang lalu kita memutuskan untuk

Long Last

Oleh:
Aku Icha, saat ini menjadi siswi salah satu MTs favorit di Indonesia. Sahabatku bernama Assa, entah dia mengganggapku sahabat atau tidak. Aku menganggapnya sahabat sejak kami mulai dekat di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *