Fobia Kamu (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 April 2018

Aku cerita tentang pertemuanku dengan Erlangga di koridor kampus pada Candika. Candika tertawa mendengar ceritaku. Aku manyun.
“Hahaha.. lucu banget..” ucapnya
“Apanya yang lucu aku kan malu..” ucapku
“Ya itu, dia bilang dia seram makanya kamu takut ngelihat dia..” ucap Candika masih tertawa
“Huh… dia salah paham..” ucapku pelan
“Iyalah habis setiap ketemu lo nya ngacir..” ucap Candika.
“Terus gimana aku grogi banget dekat dekat dia.” ucapku lesu.
“Aku juga bingung kok bisa kamu segrogi itu, sudah cinta mati kamu sama dia ya..” ucap Candika.
“Jangan mati donk.. seram amat..” ucapku
“Lah kan perumpamaan non..” ucap Candika aku mengeditkan bahuku.
“Padahal kemaren itu kesempatan loh mengenal dia, kan baru kali itu dia nyapa kamu..” ucap Candika aku mengangguk.
“Tapi..” ucapku tertahan.
“Grogimu itu lo nyebelin..” ucap candika aku senyum kecut…

Aku keluar dari perpustakaan, mataku sedikit perih aku lalu melihat sekelilingku kembali membiasakan mataku dengan beraneka ragam warna dan bentuk. Aku berjalan menuju gerbang kampus, mau pulang. Tanah terlihat basah, hujan memang baru berhenti. Tadi saat di dalam perpustakaan hujan turun dengan derasnya. Banyak genangan air di jalan dan tiba-tiba lewat sepeda motor dengan kencang tepat saat aku berada di dekat air yang menggenang uuppsss.. basah deh. Aduh itu motor asal aja sudah tahu ada air tergenang hu.. uh.. masih lumayan cuma basah kena air tapi ini.. beserta lumpur.. huhuhu… jadi kotor. Aku membersihkan pakaianku.

“Kamu kenapa?” sebuah sepeda motor berhenti di sisiku.
“Kena cipratan air..” ucapku lesu lalu dia membuka helmnya. Erlangga…
“Baju kamu kotor banget..” ucapnya aku mengangguk.
“Ayo kuantar..” tawarnya.
“Nggak usah terima kasih..” ucapku.
“Ayolah kamu basah dan kotor seperti itu..” ucapnya.
“Nggak apa-apa..” ucapku.
“Buktikan kalau kamu nggak takut sama aku, ayo kuantar..” ucapnya aku jadi nggak enak hati lalu..
“Baiklah..” ucapku, Erlangga melepas jaketnya dan menyerahkannya padaku.
“Kamu basah, kalau naik sepeda motor bisa masuk angin dengan pakaian basah sepeti itu.” ucap Erlangga aku menerimanya lalu Erlangga menyuruhku naik ke boncengannya. Setelah memakai jaket aku lalu naik ke sepeda motor Erlangga kemudian kami melaju ke jalanan.

Aduh mimpi apa aku semalam bisa dibonceng Erlangga. Berada diboncengan Erlangga begitu nyaman dan terlindungi. Aku memang merasa jantungku berdebar tidak karuan tapi terasa nyaman. Erlangga mengantarku sampai rumah, setelah mengembalikan jaket Erlangga dia langsung pulang. Apa kata Candika kalau aku cerita tentang kejadian hari ini ya… hehehe…

“Apa diantar pulang?” ucap Candika matanya melotot tak percaya, aku mengangguk. Kami berada di ruang kuliah yang sedang kosong.
“Hebat…” ucap Candika lalu tertawa, kok malah tertawa sih…
“Aku bayangin kamu pasti deg-degan dan grogi banget dibonceng dia kan hahaha…” ucap Candika o… karena itu dia menertawai aku. Aku manyun huh… dasar.
“Candika…” ucapku lalu dia berhenti tertawa.
“Maaf…” ucapnya, aku mendesah perlahan.
“Aku merasa sangat nyaman berada di boncengannya dan itu bagaikan mimpi bagiku.” ucapku pelan.
“Kalau menurutku kamu harus berani berhadapan dengannya jangan mengikuti grogimu itu. Kamu mau seperti ini terus?” tanya candika aku menggeleng. Aku mendesah pelan.
“Ini adalah kesempatan AL, dia mulai memperhatikanmu.” ucap Candika.
“Memperhatikan apa? Semua hanya kebetulan aja.” ucapku.
“Hei… nggak ada yang kebetulan di dunia ini. Kalau kalian sekarang semakin sering ketemu itu berarti…” ucap Candika menghentikan perkataannya.
“Berarti apa? nggak usah lebay deh…” ucapku.
“Loh kok lebay…” protes Candika.
“Eh… coba ya kita pikirkan, dari dulu tu ya kalian kan nggak pernah tegur sapa. Kamu hanya melihatnya dari jauh dan dia tidak melihatmu. Nah sekarang kalian sering ketemu bahkan dia mengajakmu ngobrol. Coba kamu pikirin… berarti sekarang dia melihatmu…” ucap Candika semangat.
“Dia menyadari kehadiranmu…” ucap Candika lagi, iya benar juga sih… tapi ah sudahlah nggak mau memikirkannya. Aku nggak mau berharap terlalu jauh karena bila semua tak sesuai dengan harapan maka rasanya akan sakit sekali.
“Sudahlah Can, aku nggak mau bahas itu lagi.” ucapku lalu berdiri dan mengajak Candika ke luar. Perkuliahan hari ini sudah selesai, jadi kami pun melangkah ke luar kampus.

Pagi ini aku lebih awal tiba di kampus, kampus masih sepi hanya ada satu dua orang mahasiswa yang terlihat. Aku duduk di bangku taman depan ruang perkuliahan. Udara pagi yang segar berhembus perlahan, aku menulis di buku puisi baruku. Sayang banget buku lama sudah hilang padahal sudah banyak puisi-puisi yang kutulis di sana. Seseorang berdehem, aku melihat ada orang di depanku. Aku menaikkan wajahku, Erlangga…

“Kamu menulis apa?” tanyanya, aku tak mampu berbicara. Erlangga lalu duduk di sisiku, aku menutup bukuku tak mau Erlangga melihat apa yang kutulis.
“Rahasia ya…” ucapnya, aku menunduk. Aduh gimana ni… Aku diam aja.
“Kamu merasa terganggu aku di sini?” tanya Erlangga lagi, aduh… jantungku berdetak tidak karuan.
“Aku sebegitu menyeramkannya ya…” ucap Erlangga. Aku menoleh pada Erlangga yang sedang melihat kepadaku. Aku menggeleng.
“Lalu kenapa kamu selalu pergi ketika melihatku dan menghindar ketika ku ajak bicara?” tanyanya. Aku kembali menunduk.
“Kamu membenciku?” tanya Erlangga lagi, aku langsung menggeleng.
“Nggak kok…” ucapku.
“Lalu…” tanyanya, aduh gimana menjawabnya? Kan aku nggak mungkin bilang aku groggi kan… waduh… Aku diam aja.

“Oke… sepertinya susah untuk membuatmu menjawab pertanyaanku.” ucapnya.
“Jam berapa pulang kuliah?” tanyanya mengalihkan pembicaraan kami.
“Jam 10 aku sudah selesai, karena cuma 1 mata kuliah.” Jawabku.
“Kalau gitu aku tunggu kamu di sini, aku nggak ada kuliah hari ini. Kita pulang bareng ya.” ucap Erlangga, apa?
“Oke Er…” tiba-tiba Candika muncul dari belakang kami. Aku kaget, candika senyum. Aku melihat ke Erlangga, dia tersenyum. Candika menarik tanganku hingga aku berdiri.
“Kami masuk dulu ya Er.” ucap Candika, Erlangga mengangguk.
“Nanti Aldora nemui kamu di sini.” ucap Candika sambil menarikku pergi.

“Can… kamu kok jawab iya.” ucapku panik. Kami berjalan memasuki ruang kuliah.
“Sudah, kamu nggak usah panik gitu dong. Katanya kalau kita fobia akan sesuatu kita harus berani menghadapi fobia kita itu supaya kita bebas dari fobia. Jadi kamu harus lebih sering ketemu dan bicara dengan Erlangga supaya sembuh. Dari tadi aku lihat dari jauh, kamu tu diam aja. Kupikir nggak bisa nih kayak gini ya… jadinya aku ambil bagian dong. Supaya kamu itu bisa dekat Erlangga. Mau sampai kapan kamu hanya menatapnya dari jauh. Kamu harus sembuh dari fobiamu.” ucap Candika.
“Gila kamu…, maksud kamu aku fobia sama si Erlangga…” ucapku kesal.
“Ya… mirip-mirip gitu. Gejalanya juga sama kan… Gugup, jantung berdetak tak karuan kadang bisa sesak nafas, gemetar tangan dingin dan langsung lari kalau berhadapan. Lidah kelu tak mampu bicara bahkan terkadang hampir pingsan. Itu mirip miriplah dengan ciri-ciri fobia.” ucap Candika santai.
“Kamu tu…” belum selesai aku bicara, Candika memotong pembicaraanku.
“Sssttt… Itu pak Karim sudah masuk.” ucap Candika, aku menoleh ke depan. Pak karim sudah ada di depan kami semua. Aku memperbaiki dudukku dan melotot pada Candika, Candika tersenyum senang. Puas ngerjain aku.

Selesai jam kuliah Erlangga mengantarku pulang. Saat sampai di rumahku Erlangga meminta bicara padaku. Kami bicara di teras rumah.
“Al…” ucap Erlangga. Aku hanya diam, apa yang mau dibicarakan Erlangga padaku. Jantungku berdetak tak karuan, sebentar lagi mungkin aku bisa punya penyakit jantung kalau begini terus.
“Aku senang kamu mau aku antar pulang.” ucap Erlangga.
“Kamu mau nggak untuk seterusnya menemaniku aku…” ucapnya, apa maksud pertanyaan Erlangga ini. Kenapa dia minta aku menemaninya?
“Al…” panggilnya.
“Hah… eh… mmm maksudnya?” ucapku gugup. Erlangga mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Lalu menyodorkan kepadaku, aku menatap buku itu. Itu.. buku kumpulan puisiku… Jadi yang menemukannya Erlangga… Aku menerima buku itu dengan tangan gemetar… jadi Erlangga sudah tahu…

“Maaf karena nggak langsung mengembalikannya padamu. Aku sudah membacanya semuanya, maaf aku lancang. Ketika aku baca buku itu, aku merasa bersemangat lagi. Ternyata ada seseorang yang memandangku seperti itu, aku nggak menyangka aku bisa menjadi penyemangat seseorang.” ucap Erlangga. Aku menunduk.
“Jujur saat ini aku belum tahu pasti tentang perasaanku tapi aku ingin semakin dekat denganmu. Supaya kita lebih saling mengenal, kamu tidak lagi menghindari aku.” ucap Erlangga. Sebenarnya maksud Erlangga ini apa aku nggak mengerti…
“Sejak aku menemukan buku puisimu, aku lebih sering memperhatikanmu. Dan aku nggak mengerti sikapmu, kamu selalu buru-buru pergi saat berhadapan denganku, selalu menunduk. Padahal kalau aku baca di bukumu kamu suka aku. Tapi bukannya berusaha mencari perhatianku kamu malah menghindar.” ucapnya lagi. Jantungku berdetak kencang, aku harus bilang apa?

“Al… beneran kamu suka aku?” tanya Erlangga, aku hanya bisa mengangguk.
“Trus kenapa kamu selalu menghindari aku?” tanyanya, aku menarik nafasku pelan lalu…
“Aku… aku gugup saat ada di depanmu…” ucapku pelan, Erlangga tidak berkata apa-apa lalu…
“Aku pernah patah hati, untuk memulai yang baru aku belum yakin. Setelah beberapa kali berkomunikasi denganmu aku pikir sudah saatnya aku move on…, kamu mau membantuku…” ucap Erlangga.
“Kamu mau jadi pacarku?” tanya Erlangga lagi. Apa? Aku menaikkan wajahku dan menatap Erlangga.
“Pacar?” ucapku kaget.
“Iya, seperti yang kukatakan aku belum yakin dengan perasaanku tapi aku nyaman bersamamu. Kamu membuatku berpikir untuk memulai yang baru, kamu mau bantu aku untuk memulai cinta yang baru?” ucap Erlangga. Aku tak mampu bicara.
“Al… maukah kamu?” ucap Erlangga… Aku menatap Erlangga aku melihat ada kesungguhan di matanya.
“Al?” ucapnya lagi, aku mengangguk.
“Jawab aku dengan suaramu…” ucap Erlangga. Aku menarik nafasku pelan.
“Ya…” jawabku, Erlangga tersenyum kemudian menggegam jemariku.

Cannnn… akhirnya aku pacaran dengan Erlangga… Meski saat ini mungkin hatinya belum sepenuhnya milikku. Apakah kamu akan menduganya Can… Aku tersenyum…

Cerpen Karangan: Imelda Oktavera

Cerpen Fobia Kamu (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menikam Hati (Part 3)

Oleh:
Dekat Di dalam kelas saat pelajaran Bahasa Inggris. Aku mengerjakan tugasku dengan baik. “Na kamu kok kelihatan seneng banget sih hari ini.” Tanya Tika. “Heem. Gak tau ya. Kenapa

Cinta Tak Terhadang

Oleh:
Suatu saat kau akan mengerti apa yang kurasakan. Kalimat itu yang selalu menguatkanku selama ini. Mungkin bagi orang lain waktu 2 tahun sudah lebih dari cukup untuk move on

This World

Oleh:
Aku berjalan memasuki kelasku, hari ini adalah hari pertamaku berada di sekolah ini, dan sekolah masih sangat ramai. Saat aku sedang asyik melihat sekeliling sekolah tanpa sengaja aku menabrak

Tanah Air dan Udara

Oleh:
“Hey, di mana kamu? Baiklah aku menyerah”. Teriak seorang anak perempuan berumur 6 tahun. “Jadi kamu menyerah begitu saja?” Jawab seorang anak lelaki yang berumur 8 tahun di seberang

Pengorbanan Terindah

Oleh:
Allahhuakbar allahhuakbar… Suara adzan terdengar jelas dari masjid di sekolahku. Bel istirahat pun berbunyi beriringan dengan suara adzan. Aku bergegas ambil wudhu. Di sana aku harus mengantri, karena banyak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Fobia Kamu (Part 2)”

  1. Dinbel says:

    Seru banget ceritanya, good job untuk pengarang. Yang udah bikin aku baper karna membacanya. Di tunggu karangan selanjut nya ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *