Forever Yours

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 19 July 2015

Namanya Amie. Seru, cerewet, nggak jelas, agak berantakan, tapi keren, penyayang dan cantik. Cita-citanya jelas sudah, sebagai penulis novel. Tidak mengherankan kok. Malahan sudah nampak banget. Amie bisa menulis saat umurnya 4 tahun. Umur 5 tahun, Amie sudah mulai menulis cerpen-cerpen. Umur 6 tahun, ia sudah membuat serial cerita panjang. Umur 8 tahun, ia memulai novel pertamanya. Semua itu ditulisnya dengan tangan, bukan diketik. Semangatnya tidak bisa dikalahkan. Amie bertekad kuat. Selain pintar, ia juga sosok yang diinginkan semua temannya karena ia periang, dan selalu ceria. Fresh all day…

“Pagi, Amie…” Sapa Casey. Casey adalah sahabat Amie. “Hai, Casey. Pagi,” Amie balas menyapa. “Bagaimana? Siap untuk ulangan matematika?” “Ugh, harapannya sih gitu ya. Bukan matematika lagi tuh. Adanya mati-matian kita,” Casey tergelak. “Aku setuju itu,” “Hei, anak baru!!!” Seru Ruu. Ruu itu cowok yang selalu ribut waktu ada anak baru. Amie cuma bisa bengong. ‘Anak baru… Saat tengah semester?? Oh yeah, teman baru tengah semester!’ Pikir Amie ringan. “Eits, Dr. Lione datang!” Ruu heboh lagi. Amie hanya geleng-geleng kepala.

“Morning, class… Kita kedatangan murid baru. Ayo masuk, Nelton,” kata Dr. Lione sambil mempersilahkan Nelton masuk. “Selamat pagi,” sapa anak baru itu. Anak baru itu sangat tampan, dengan mata dingin yang menimbulkan kesan pendiam dan dingin. Rambutnya dipotong pendek agak acak-acakan tapi rapi. Wajahnya yang keras menimbulkan kesan cuek dan tak acuh. Seakan petir menyambar, gadis-gadis di kelas itu geleng-geleng hampir meleleh melihat Nelton. Semua kecuali Amie. Entah kenapa Amie tidak tertarik. “Huh, anak baru bikin onar,” gumamnya kesal.

Kring!! Kring!! Bel istirahat berbunyi. Murid-murid berhamburan ke luar kecuali Amie dan Nelton. Amie merasa canggung berada sendirian di kelas itu, terutama karena ada Nelton. Ia mengumpulkan keberanian untuk menyapa Nelton. “Halo,” sapa Amie. Nelton menoleh, wajahnya seakan kaget bahwa dirinya disapa. Dia cuma tersenyum cuek lalu berbalik tanpa balas menyapa. Amie mulai panas. “Jadi namamu Nelton ya, selamat datang di sekolah ini,” kata Amie lagi. “Ya, terima kasih,” jawab Nelton singkat dan dingin. ‘Bahkan ia tidak menanyakan namaku! Keterlaluan!’ Pikir Amie kesal. “Namaku Amie Colt. Salam kenal,” kata Amie lagi, menahan emosinya. “Oh,” lagi-lagi jawaban yang sangat singkat… Amie gak tahan lagi. Ia tidak lagi mempedulikan Nelton atau ia bisa meledak.

Tidak disangka, Nelton menghampiri Amie. “Hei, Emily, kudengar kau pintar. Bisa bantu aku menyelesaikan nomor ini?” Tanya Nelton. Amie menoleh, Nelton sudah ada di sampingnya. Amie memastikan lagi kalau dirinya yang dipanggil lalu menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada orang selain mereka berdua di kelas itu. “Hei, namaku Amie, bukan Emily,” bantah Amie. “Terserah. Kamu bisa bantu atau enggak?” Tanyanya ketus. Amie menahan emosinya. “Ok, aku bisa. Mana?” Kata Amie setengah merebut buku Nelton. “Nomor 3,” kata Nelton lagi. Amie memperhatikan soal itu. Soal itu sulit sekali. Ia belum belajar sampai kesana. Logikanya mulai berjalan. Nelton melihat Amie berpikir lama, lalu menyerahkan buku tugasnya dimana ia sudah menyelesaikan setengah dari soal tersebut. Amie menganga. Nelton sangat pintar! Bahkan melebihi dirinya. Amie merasa terpojok. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara. “Jadi? Mana penyelesaiannya?” Tanya Nelton memojokkan Amie. “A… Aku nggak bisa…” Kata Amie akhirnya. “Huh, percuma aku nanya yang pintar kalau gitu. Dasar,” kata-kata Nelton sangat menyakitkan hati Amie. Tapi Amie menahan semua rasanya dengan menulis cerita. Diam-diam Nelton memperhatikan Amie yang sedang sibuk menulis cerita. Ia tersenyum kecil. ‘Jadi cita-citanya penulis? Mungkin aku bisa belajar darinya,’ pikir Nelton. Cita-cita Nelton adalah penulis juga. “Hei, tau nggak Chris? Amie itu nggak pintar. Dia nggak bisa nyelesain satu pun dari soal nomor 3 ini! Aku saja sudah setengah,” bisik Nelton pada sahabat barunya yang langsung dapat, Christopher, dengan agak keras sehingga Amie mendengarnya. Sontak Amie berdiri, memukul mejanya sambil menahan emosinya yang semakin memuncak. “Oh ya? Huh, siapa suruh dia sok pintar,” tambah Christopher. Amie sudah mau menangis rasanya. “Memang. Dia sok banget Chris,” kata Nelton lagi. Amie gak tahan lagi. Air matanya menetes. Amie langsung menghapusnya dan berlari ke luar kelas. Untung istirahat masih tersisa. Nelton yang melihat Amie terpaku. Ia merasa sedikit bersalah. “Hei, Ton. Dari tadi aku ngomong didengerin nggak? Haloo, mikirin apa sih?” Tegur Christopher yang dari tadi ngoceh. “Eh, oh, umm… Sorry, sorry,” kata Nelton salah tingkah. Ia sama sekali tidak mendengar kata-kata Christopher. “Hei… Jangan-jangan kau suka sama Amie ya?!” Tanya Christopher curiga. Nelton langsung menggeleng. “Nggak mungkin,” jawabnya singkat. Christopher cuma angkat bahu.

Sore itu Amie mengurung diri di kamar. Dia tidak pernah berpikir tentang apa yang dipikirkan orang tentang dirinya. Pendapat yang dilontarkan Nelton dan Christopher tadi sungguh menyakitkan. Mereka bahkan sama sekali tidak meminta maaf. Semua teman dekat Amie menanyakan kenapa mata Amie merah setelah istirahat tapi Amie cuma menggeleng. Ia tidak mau mengingat kejadian itu lagi, tidak akan.

Tok tok tok… Terdengar bunyi ketukan di pintu kamar Amie. Amie mendongak lalu dengan susah payah bangkit dari tempat tidurnya. “Kenapa ma?” Tanya Amie saat membuka pintu sambil mengucek matanya, masih ngantuk. “Ada tamu lagi nunggu kamu di ruang tamu tuh. Anaknya cakep loh,” kata mama Amie. Perasaan Amie jadi nggak enak. ‘Jangan-jangan Nelton lagi… Gawat,’ pikir Amie. Bagaimanapun juga, Amie turun. Karena agak ngantuk, jalannya sempoyongan. Apalagi saat turun tangga. Memang benar… Tamu itu adalah Nelton. Saking kagetnya Amie, ia malah terloncat dari tangga. Untung ditangkap Nelton. “Dapat,” kata Nelton ringan. Wajah Amie bersemu merah karena malu. Mereka berdua lalu duduk di ruang tamu. “Jadi? Mau ngapain?” Tanya Amie dingin. “Mau minta maaf, Am. Sorry ya tadi itu,” kata Nelton. Amie pura-pura berpikir. “Karena tadi udah nolongin aku, kumaafin deh,” kata Amie dengan wajah aneh. Nelton terkikik. “Yes, dimaafin,” katanya. “Hei, hei, hei. Pangeran dingin… Di sekolah jaga popularitas, di rumah orang jadi si suka ngoceh. Gimana ini. Gawat kalau sampe cewek-cewek tau,” kata Amie. “Gak peduli aku. Mereka nyusahin aja,” “Kalau gitu ngapain la kamu pake lagak dingin di sekolah, buktinya sekarang aja ngoceh melulu,” “Entah ya. Mau kasih first impression gitu,” “Lah tadi katanya bakal ngerepotin,” “Kan awalnya aku gak tau kalau bakal ngerepotin,” “Makanya, think smart dong,” “Eleh, macam kamu pintar aja,” “Emang,” “Kambuh lagi narsisnya, pake nangis segala di sekolah,” “Darimana kamu tau?” Tiba-tiba percakapan itu terhenti. “Ya aku liat la,” jawab Nelton. Wajah Amie berubah jadi merah padam. Ia paling malu dilihat nangis. Apalagi sama cowok.

“Oh ya, kamu cita-citanya penulis ya? Aku juga loh. Ajarin lah. Aku pernah baca ceritamu, bagus banget,” puji Nelton. Amie mulai narsis lagi. Harusnya Nelton gak muji Amie. Bisa tambah parah penyakit narsisnya. Dasar Amie… “Iya… Aku cita-citanya penulis. Boleh, kita kerja sama aja,” kata Amie. Wajah Nelton berseri-seri. “Thanks ya. Oh ya, mau tau rahasiaku?” Goda Nelton. Amie menaikkan alisnya. “Apa?” “Namaku bukan Nelton. Namaku Frank. Karena kukira bakal kampungan, kuubah jadi Nelton,” kata Nelton. Amie cuma mengangguk kecil. “Nama Frank nggak kampungan kok. Aku lebih suka Frank daripada Nelton,” kata Amie. “Entahlah. Lagian udah ganti nama sekali, gak bisa ganti 2 kali,” kata Nelton. “Eh, udah jam segini. Aku mau les piano. Kapan-kapan lagi ya, Frank. Aku siap-siap dulu,” kata Amie sambil pergi ke atas, bersiap-siap lalu turun lagi. Nelton sedang bersiap dengan sepedanya. “Mau bonceng?” Ajaknya. Kebetulan, tempat les Amie lumayan dekat jadi Amie menerima tawaran Nelton. “Sebentar lagi sampai. Belok kanan di perempatan itu,” kata Amie memberi aba-aba. “Sip, bos,”

“Sudah sampai nih, tuan putri. Yok turun. Perlu digendong?” “Gila apa, turun dari sepeda aja digendong. Norak ko,” “Ya, iya. Bye. Nanti pulang jam berapa? Aku jemput,” “Jam 5 sore. Awas kalau telat ya,” “Iya deh,”

Sepanjang les piano, Amie tidak konsentrasi. Pikirannya melayang ke Nelton. ‘Rasa apaan sih ini? Gak mungkin aku in love with Nelton. Impossible,’ tutur Amie dalam hati. “Miss Amie, kenapa hari ini mainnya kacau? Ada yang terjadi?” Tanya Ms. Valerie, guru Amie. “Eh, enggak ms, enggak,” bantah Amie. Ia tidak berniat menceritakan perasaannya itu. Ia berniat untuk menyimpannya sendiri. Meski sudah berusaha konsen, pikiran Amie terus kembali ke Nelton. Sampai akhirnya, last minute, Amie berhasil main perfect sampai dipuji Ms. Valerie. Amie pun keluar dari ruko tempat lesnya. Nelton masih belum ada. Amie tersenyum licik. ‘Telat ya, Frank. Rasakan kemurkaanku,’ pikir Amie. Tiba-tiba mata Amie yang tajam menangkap sebuah pemandangan aneh. Nelton sedang berpelukan dengan Clare! Clare adalah primadona di tempat les Amie. Amie menyaksikan dengan kaget dan terpukul. Amie merasa dirinya seakan akan melorot lemas. ‘Apa aku cemburu!? Jangan… Jangan cemburu… Jangan!’ Amie memarahi dirinya sendiri. Amie berpaling, tidak sanggup melihat lebih lama. Amie kembali ke teras ruko lesnya dan duduk menunggu Nelton.

Lima menit kemudian, Nelton muncul juga. “Hai, sori ya telat,” kata Nelton. Amie hanya diam. “Hei, marah ya?” Tanya Nelton lagi. Lagi-lagi Amie nggak menjawab. Hatinya terlalu sakit untuk menjawab. “Jangan marah lah. Sori aku telat,” rajuk Nelton. Amie menggeleng. Suaranya agak serak. “Aku nggak marah, ayo pulang,” kata Amie sambil naik ke tempat bonceng Nelton. Nelton menatap Amie dengan bingung. Ada apa dengan Amie? Sepanjang perjalanan Amie diam terus. Nelton sibuk berceloteh agar Amie diam dan tanggapannya hanya “oh,” “begitu,” “oh ya?” “Ya,”. Hanya 4 kata itu diulang-ulang, sementara tatapannya terus seakan tertancap ke arah jalan. “Am, aku mau tau kenapa kamu jadi diam gini,” kata Nelton. “Ok, Ton. Aku kasih tau ya, aku nggak kenapa-kenapa. Jangan harap aku cemburu karena Clare!” Ups, Amie keceplosan menyebutkan nama Clare. “… Clare? Cemburu? Amie?? Kamu cemburu… Pada Clare??? Kenapa?” Nada Nelton seakan sangat mendesak. Sudah terlambat untuk kembali sekarang. Amie pun menceritakan semua yang dia lihat. Pada akhir kalimat Amie, Nelton terkikik. “Amie, Amie… Clare itu adikku!” Kata Nelton. Amie memang kaget. “Adik…mu?” “Iya! Kamu salah paham, Am. Lagipula, aku senang kamu merasa seperti itu,” kata Nelton. “Hah?” “Aku suka kamu, Amie,” kata Nelton dengan wajah jatuh cinta. Amie sangat kaget. “Aku juga… Aku juga…” Kata Amie sambil menjatuhkan dirinya ke pelukan Nelton. “I’m forever yours, Amie,” “And I’m forever yours, Frank,”

Forever Yours…

Cerpen Karangan: Angeline Audrey

Cerpen Forever Yours merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengharapan Pasangan LDR

Oleh:
Aku wanita berusia 22 tahun, di sini aku bercerita tentang pengharapan dan pengorbanan pasangan LDR seperti aku dan kekasihku. Saat itu aku berusia 20 tahun dan aku masih menjalankan

Ran dan Ron (Part 1)

Oleh:
Malam sudah larut, namun gadis belum juga terlelap. Matanya yang hitam kelam menatap sebuah foto di tangannya. Suara-suara teriakan terdengar dari luar kamarnya yang gelap. Perlahan setitik air mata

Normala Sang Purnama

Oleh:
Malam masih berayun bersama bintang, Angin masih meraba pepohonan, Tanah masih menghisap sisa air hujan, Dan aku tetap saja bersandar di kursi goyang tua ini, Di depanku terdapat beberapa

Singgahan Terakhir

Oleh:
Tempat yang selalu ingin kutuju adalah kamu Naungan terakhir yang ingin aku sambangi adalah kamu Waktu yang ingin kuhabiskan yaitu saat saat aku bersama sama dengan dirimu Well well

Ketika Diam adalah Pilihan

Oleh:
Pagi yang indah ketika nyanyian burung saling bersahutan. Mentari yang mulai berani menampakkan senyumnya, menambah keindahan pagi. Kesibukan di kampus pun telah menungguku. Aku pun pergi ke kampus dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *