Fortunate Girl (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 6 April 2018

Mina adalah seorang gadis berumur 17 tahun. Ia adalah gadis yang cantik dan ceria. Tidak hanya cantik ia juga pintar dalam akademik dan nonakademik. Ia selalu mendapat juara satu di kelasnya. Dia bercita-cita menjadi pemgusaha terkenal. Setiap hari dia pergi ke perpustakaan sekolah untuk membaca buku-buku tentang bisnis. Ketertarikannya pada dunia bisnis sudah besar. Tapi untuk saat ini sangat tidak memungkinkan dia bisa mewujudkan cita-citanya. Ya, Mina adalah gadis yang terlahir di keluarga miskin. Ayahnya adalah seorang kuli bangunan. Sedangkan ibunya adalah seorang pengurus rumah tangga. Untuk membantu perekonomian keluarga setiap hari mina membuat kue lalu dititipkan di kantin sekolah. Hasilnya untuk keperluan sekolah dan sisanya diberikannya pada ibunya. Sungguh gadis yang mulia.

“Ibu…!” serunya saat melihat ibunya hampir jatuh.
Ia menghampiri ibunya dan langsung membawa ibunya ke kamar.
“ibu istirahat saja, biar aku yang menyelesaikan pekerjaan rumah” katanya.
Ibunya hanya mengangguk. Ia sebenarnya juga sedih melihat putri semata wayangnya itu. Seandainya ia bisa memberikan kehidupan yang layak. Tapi apalah daya ia hanya bisa pasrah pada takdir. Semoga saja putrinya menjadi orang yang sukses.

Pagi hari sudah tiba. Matahari sudah muncul di langit timur. Mina tengah sibuk menyapu rumah, dan mencuci baju. Sebelum berangkat sekolah ia melakukan pekerjaan rumah. Ayahnya sudah siap untuk bekerja.
“nak, kamu mau ayah antar?” tawar ayahnya.
“tidak ayah, lebih baik aku sendiri saja. Mungkin Hido akan menjemputku” jawabnya.

Ayahnya hanya mengangguk mengiyakan. Hido adalah temannya Mina. Hido adalah putra dari pejabat kota. Pertemuan mereka berawal dari sebuah toko buku. Ketika semua orang mencemooh Mina, Hido lah yang tidak melakukannya. Hido justru membawa Mina pergi dari kerumunan. Saat itulah Mina dan Hido sering bertemu. Saat itu Hido adalah seorang mahasiswa semester Tiga.

Mina berjalan keluar gang. Di sana sudah ada mobil terparkir. Itu adalah mobilnya Hido.
“hai, kamu sudah lama?” tanya Mina pada Hido.
“tidak, aku baru saja sampai” Jawab Hido.

Mereka pun berangkat. Sepanjang perjalanan ada banyak hal yang dibahas. Mereka bercanda bersama. Hido memang mencintai Mina, tapi Mina tidak sadar kalau ia mencintai Hido.

Tak lama kemudian sampailah di sekolah Mina. Mina sekolah di SMA NUSA HARAPAN. Itu adalah sekolah terfavorit. Ia mendapat beasiswa untuk sekolah di sana.
“terima kasih, Hido” ucapnya.
“sama-sama” jawab Hido.
Itulah percakapan singkat mereka berdua.

Mina masuk ke kelas dan Hido berangkat ke kampus. Sesampainya di kelas Mina langsung duduk di bangkunya. Ia tidak punya teman yang benar-benar tulus. Teman sekelasnya hanya mau berteman dengannya saat butuh saja. Tapi ia tetap diam dan membiarkan hal itu terjadi. Guru masuk dan pelajaran dimulai. Waktu menunjukkan pukul 09:15. Waktunya istirahat. Mina berjalan menuju perpustakaan. Sesampainya di sana ia memilih buku yang akan ia baca. Suara orang memukul meja meja di depannya. Ia terkejut, tapi setelah itu kembali tenang.

“Mina, apa kabar?” sapa seorang teman.
Ia adalah Sely, seorang teman yang dikenalnya dua bulan yang lalu. Sely berbeda dengan yang lain. Ia lebih menerima Mina apa adanya.
“Baik, seperti biasa” jawab Mina.
“Mina, sebenarnya apa hubunganmu dengan Hido? Apa kamu pacarnya?” tanya Sely tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Mina terkejut. Ia bingung, sebenarnya apa hubungannya dengan Mina. Sekadar teman atau lebih. Ah memikirkan itu membuatnya bingung.
“entahlah, kupikir hanya berteman. Kami hanya melakukan sesuatu yang layaknya teman” jawabnya.
“tidak ada berteman antara laki dan perempuan. Salah satu atau keduanya akan saling jatuh cinta” balas Sely.

Bel berbunyi yang menandakan waktu istirahat telah usai. Mina dan Sely kembali ke kelas masing-masing. Di kelas, Mina duduk di bangkunya. Guru pun masuk dan memulai pelajaran. Setelah pelajaran selesai bel pulang berbunyi. Mina keluar dari sekolah. Di sana sudah ada mobilnya Hido. Mina masuk.
“kok sudah di sini, apa ada berita bagus?” Tanya Mina antusias.
“kamu memang gadis keberuntunganku. Aku mendapat nilai sangat baik. Itu semua karena dukunganmu” katanya memeluk Mina.
Mina diam. Apakah hanya berteman? Pikirnya. Akan lebih baik jika ia bertanya pada Hido. Pelukan lepas, Hido mengangkat alis.
“kenapa? Ada yang salah?” tanya Hido.
“apa hubungan kita? Bukankah kita hanya berteman? Aku bingung”

Mendengar itu Hido langsung tertawa keras. Mina hanya menatap bingung. Mina adalah gadis yang lugu. Ia tidak mengerti tentang apa itu cinta. Melihat Mina yang menatapnya hido berhenti tertawa. Ia meluncur.
“Mina, memangnya kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Hido.
“Tadi Sely mengatakan kalau tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Salah satu atau keduanya pasti saling…” Diam sejenak.
Hido menunggu apa yang akan dikatakan Mina. Tapi Mina tetap diam.

“saling apa? Hah?” tanya Hido penasaran.
Tapi Mina tetap diam. Apa mungkin ia jatuh cinta pada Hido? Apakah mungkin ia merasakan yang namanya cinta?
“Mina, apa yang dikatakan Sely?” tanya Hido yang masih penasaran.

Tak lama kemudian sudah sampai di gang menuju rumah Mina. Mobil berhenti, Mina hendak turun tapi ditahan Hido.
“sebelum melanjutkan perkataanmu, kamu tidak boleh keluar” kata Hido.
“baiklah. Saling jatuh cinta, tapi itu tidak mungkin. Kita kan hanya berteman” jawab Mina kesal.
Mina hendak keluar tapi lagi-lagi Hido menahannya. Hido memeluk Mina.
“aku berharap kamu bukan hanya menjadi temanku, tapi lebih dari itu” bisik Hido.

Mina berlari keluar dari mobil. Sementara Hido tersenyum senang. Sebenarnya setelah mendengar perkataan Sely, Mina sadar kalau dia mencintai Hido. Tapi ia tidak mau mengembangkan perasaannya. Perbedaaan yang sangat jauh membuat Mina takut.

Sore itu, ibunya Hido mengajak Mina untuk bertemu. Mereka memang sudah saling mengenal. Mina sudah kenal dengan keluarganya Hido. Ibunya Hido sudah duduk di sebuah restoran sedangkan Mina baru saja datang.
“halo nyonya” sapanya seraya duduk.
“aku akan langsung saja. Kau harusnya tahu diri. Kau dan Hido sangatlah berbeda. Kau jauhi Hido dan jangan temui anakku lagi. Karena kalau sampai hal itu terjadi, aku akan menghancurkan keluargamu” ancam ibu Hido yang lalu pergi.
Mina meneteskan air mata. Haruskah ia mengalami semua ini. Kenapa harus keluarganya yang selalu terancam. Mina pulang dengan air mata. Ia harus menghindari Hido. Ia memang mencintai Hido, tapi ia lebih mencintai orangtuanya. Karena cintanya harus usai.

Keesokan harinya Mina berangkat agak pagi, membawa kue yang akan dijualnya. Ia sengaja melakukannya untuk menghindari Hido. Pukul 06:30 Hido menunggu Mina di tempat biasa. Lima belas menit berlalu, tapi Mina belum juga sampai. Akhirnya Hido memutuskan untuk menghampiri Mina di rumahnya.

“bibi, apa ini rumahnya Mina?” tanyanya pada ibu Mina.
“benar ada apa?” tanya ibu Mina.
“Mina sudah berangkat atau masih di rumah? Saya sudah menunggunya. Nama saya Hido” katanya.
“dia sudah berangkat tadi pagi” jawab ibu Mina.
Mendengar itu Hido langsung berpamitan. Ia masuk ke mobil dan meluncur. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Mina. Tidak biasanya Mina menghindarinya.

Sementara Mina sudah ada di kelas. Ia mengikuti pelajaran hingga selesai. Pukul 12:30 adalah waktunya untuk pulang. Mina tidak tahu kalau Hido sudah menunggunya di depan gerbang.
“Mina tunggu!” Hido menarik tangan Mina.
“lepaskan, aku bilang lepaskan!” bentak Mina yang membuat Hido terkejut.
Tidak biasanya Mina berbicara dengan nada membentak. Untuk itu Hido membawa Mina masuk ke mobilnya.
Karena takut Mina kabur, Hido mengunci pintu mobilnya. Mereka sempat diam sejenak.

“katakan apa alasannya kamu menghindariku? Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Hido.
Mina hampir meneteskan air mata, tapi ia tahan. Ia harus membuat keputusan.
“dari awal kita sudah salah. Tidak seharusnya kita berteman. Lihatlah sepatu kita, bentuknya tidak sama. Itu berarti kita tidak bisa bersatu” jawab Mina.
“begitu? Jadi orang yang sepertiku tidak pantas untukmu?” tanya Hido.
“bukan kamu yang tidak pantas untukku tapi aku yang tidak pantas untukmu. Sudahlah anggap saja kita ini orang asing. Anggap saja aku ini tidak pernah ada” tegas Mina yang menahan air mata.
“apa ibuku menemuimu? Katakan padaku Mina! Kau bilang tujuan kita tidak sama. Baik, aku akan menjauhimu. Tapi ingat kita adalah sehati. Aku mencintaimu begitu pula denganmu. Aku akan mengingatmu selamanya. Sampai hari itu tiba, ketika kita bersatu karena takdir. Aku akan tetap mencintaimu” Hido memeluk Mina.

Tanpa mereka sadar, ada seseorang yang sedang mengawasi. Orang itu adalah orang suruhan ibunya Hido. Setelah melihat Mina pergi dan Hido meluncur dengan mobilnya. Orang itu kemudian menghubungi ibunya Hido. Mengatakan bahwa Mina dan Hido masih bertemu. Itu membuat ibunya Hido marah.
“aku akan membuat gadis itu menderita. Ia berani memgingkari janjinya” Batin ibunya Hido.

Malam terasa sunyi. Mina dan keluarganya sudah tertidur pulas. Tidak ada yang mengira akan terjadi sesuatu malam ini. Mina mendengar suara orang ribut. Ia mendengar seseorang menyiramkan sesuatu ke rumahnya. Ia tidak berfikir buruk. Ia kembali tertidur. Setelah terbangun ia merasa kekuarangan oksigen. Rumahnya penuh dengan kepulan asap. Dengan nafas berat ia berlari menuju kamar orangtuanya.

“ayah! Ibu! Ayo kita keluar!” Dengan sigap orang tuanya bangun.
Ayahnya mengambil jaket tebal. Lalu mereka berlari keluar. Kayu bangunan terjatuh dan hampir menghantam Mina. Ayahnya, ibunya, dan ia sendiri berusaha keluar dari rumahnya.
“nak, keluarlah. Pakailah ini, berjanjilah pada ayah dan ibu kalau kau selamat” kata ayahnya memakaikan jaket ketubuhnya.
“nak, ini sudah waktunya untuk kami. Jaga dirimu baik-baik. Kau akan bahagia meski tanpa kami” ibunya menambahkan.
“ibu, ayah, kenapa semua ini terjadi pada kita? Aku akan menuruti perkataan kalian. Aku akan berlari tanpa menengok belakang” katanya dengan berat hati.

Gadis itu berlari kencang. Hingga ia bertemu seorang tim penyelamat yang membawanya keluar. Ia memandang rumahnya. Semua tinggal kayu yang gosong. Ia duduk di bawah pohon. Ia menanggis tersedu-sedu. Tangisnya berhenti ketika mendengar seorang laki-laki sedang menelepon. Orang itu memakai cincin berbentuk tengkorak.
“aku sudah selesaikan tugasku. Rumahnya sudah terbakar. Tidak mungkin ada yang selamat. Nyonya Edward, misi kita selesai” kata orang itu.
“bagus, aku akan mengirim uangnya” jawab orang yang ada di telepon.
Orang itu pergi. Mina hanya menutup mulutnya agar tidak berteriak. Ia kembali duduk lemas. Nyonya Edward adalah ibunya Hido. Kenapa semua ini begitu rumit? Pikirnya. Ia akan membalaskan dendamnya.

Keesokan harinya, Mina berpamitan kepada para tetangganya. Ia akan pergi meninggalkan desanya.
“semua aku minta maaf, aku tidak bisa menepati janjiku akan membangun desa ini” ucapnya.
“tidak nak, kami semua akan merindukanmu. Ini ada sedikit uang dari kami. Tolong diterima ya” kata perwakilan tetangganya.
Mina menerimanya dengan senang hati. Para tetangga memelukanya satu persatu.
“jika ada seseorang yang mencariku, bilang saja kalau aku sudah meninggal. Orangnya bernama Hido. Anggaplah aku sudah meninggal” pintanya.
Semua orang menganguk. Mina pergi, ia masih berat hati meninggalkan tempat kelahirannya.

Setelah Mina pergi, Hido datang ke tempat tinggal Mina. Ia tidak melihat ada seorang pun. Sampai seorang laki-laki menghampirinya.
“anda cari siapa?” tanya orang itu.
“saya Hido, apakah korban kebakaran rumah itu selamat?” tanya Hido.
“semua meninggal, tidak ada yang selamat. Jasadnya tidak ditemukan. Mungkin saja hangus bersama rumahnya” jawab orang itu yang langsung pergi.

Hido langsung tumbang. Ia tidak percaya dengan semua itu. Ia meneteskan air mata. Ia berteriak memanggil nama Mina hingga membuat seluruh tetangga Mina keluar. Tapi setelah tahu Hido ada di sana mereka kembali ke dalam rumah. Hido kembali ke rumahnya. Ayahnya menyambutnya dengan sejuta pertanyaan. Hido tampak lesu, ia bahkan berjalan tidak teratur.

“nak, bagaimana keadaan Mina? Apa dia baik-baik saja?”
“Mina dan keluarganya tewas, ayah” katanya yang langsung memeluk ayahnya.
Ayahnya juga ikut sedih. Tapi ibunya berpura-pura terkejut dan ikut bersedih.
“sebelum aku melihat sendiri jasadnya, aku tidak mau beranggapan Mina sudah meninggal” Hido masuk ke kamarnya.

Cerpen Karangan: Tia Nur Agustin
Facebook: Tia Agustin

Cerpen Fortunate Girl (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Do You Know My Name

Oleh:
Aku Arga Liana, aku biasa dipanggil Arga, tapi sahabatku memanggilku Lana. Umurku 13 tahun, lahir di Jakarta 28 Maret. Memang terlalu muda untuk menuliskan cerita ini, tapi ya sudahlah.

Raden Jakawantoro

Oleh:
Pada suatu hari lahir bayi tampan, putra dari pasangan jaya wantoro dan sri yantuniyalara. Kedua orangtua itu sangat bahagia dengan kehadiran bayi di tengah-tengah mereka. Sangat banyak calon-calon nama

Menanti Cinta yang Tak Pasti

Oleh:
Mengapa aku di takdirkan untuk bertemu dengan nya Jika itu hanya membuat hati ku terluka Mengapa ku masih tetap mencintai nya? Dan mengapa pula ku masih menanti nya? Padahal

About Me

Oleh:
Gue beda dengan yang lain dan gue paham, itu membuat gue sering dibully. Mulai dari SD sampai gue SMP. Gue penakut dan jarang sekali tuk berani ngelawan mereka. Sampai

Kamu Yang Terakhir

Oleh:
“Kamu yang terakhir”. Itulah kalimat yang selalu muncul di dalam hatiku setelah mengenal dia. Di minggu pagi yang cerah ini aku duduk di taman sambil memandangi layar handphoneku. Tring…

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *