Friendship

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 14 May 2016

Masa SMA? Banyak orang beranggapan dimana kita menemukan jati diri. Bukan, itu adalah masa dimana kita memulai untuk mencari jati diri. Dimana kita dihadapkan dengan berbagai masalah yang mengharuskan kita untuk menghadapi beban batin yang terkadang sangat berat. Seperti cinta.. yang terkadang muncul tanpa disadari. Banyak yang bilang, cinta muncul karena terbiasa. Dan begitu pula denganku.

Tak ada yang lebih indah dari perasaan saat sedang jatuh cinta. Apalagi pada masa-masa remaja. Menyukai seseorang di sekolah adalah hal yang biasa bagi remaja di kalangan SMA. Momen dimana remaja mulai menaruh perasaan yang lebih pada lawan jenis, namun terkadang menyisakan luka yang sulit dijelaskan. Tapi bagaimanapun, masa-masa seperti itu tak akan terlupakan. Tampak seorang siswa yang ciri-cirinya memiliki tinggi sekitar 155 cm, dengan rambut panjangnya yang terurai indah, kulit putih, dan hidung mancung. Namanya Akira. Ia diam-diam sedang memperhatikan seseorang di lapangan yang sedang bermain basket. Sedari tadi ia hanya diam dan sesekali menyunggingkan senyumnya.

Tiba-tiba saja seseorang yang sedang ia perhatikan dari tadi itu menoleh dan tersenyum ke arahnya. Ia pun terkejut dan segera berlari menuju kelasnya. Dio, cowok manis, tinggi, dan jago main basket itu adalah cowok yang paling populer di sekolah. Tim basketnya telah banyak menjuarai berbagai pertandingan dan mendapatkan penghargaan. Selama beberapa bulan ini, Akira selalu memperhatikan gerak-gerik maupun hal-hal yang menyangkut tentang Dio. Akira menyukai Dio sejak saat Nadine memperkenalkan Dio padanya. Nadine adalah sahabat Dio sejak kecil, mereka sudah sangat akrab layaknya saudara. Awal bertemu dengan Dio, Akira mengira Dio adalah pacar Nadine.

“Dio!” seru Nadine. “Kenalin ini teman gue, namanya Akira.” Dio tersenyum pada Akira dan menyapanya.
“Hai, gue Dio.” ucapnya dan lagi-lagi ia menyunggingkan sebuah senyum yang mampu membuat jantung Akira berdetak sangat cepat. Tak hanya Nadine yang memperkenalkan Akira pada Dio. Dio juga mengenalkan Evan teman yang berada dalam team basket yang sama dengannya pada Nadine dan Akira.

Sepulang sekolah, Akira berjalan menyusuri trotoar seorang diri. Hatinya sedang berbunga-bunga memikirkan Dio. Semakin hari, Akira semakin dekat dengan Dio. Ia berpikir Dio mempunyai rasa padanya. Akira menceritakan pada Nadine, kalau Dio mengajaknya jalan sore ini. Nadine ikut senang mendengarnya, karena sejak Dio menyatakan perasaannya pada Nadine setahun yang lalu, Dio tak pernah dekat dengan seorang selain Nadine. Setibanya di taman, Akira melihat Dio sedang duduk di bangku sambil menatapi handphonenya.

“Udah lama nunggu? Maaf, gue telat.” ucap Akira lalu mengambil posisi duduk tepat di samping Dio.
“Nggak lama amat kok. Gue di sini baru sekitar sejam lah.” jawab Dio. Akira tertawa mendengar candaan yang dilontarkan Dio.

“Semalam ngapain aja sama Dio?” tanya Nadine. Akira diam saja tak menjawab pertanyaan Nadine, malah lari meninggalkan Nadine yang masih penasaran lantaran pertanyaannya belum dijawab. “Akira!!” teriak Nadine. Saat Nadine hendak berlari mengejar Akira. Sebuah bola basket mendarat di kepala Nadine dan ia pun tak sadarkan diri.
Setelah beberapa menit tak sadarkan diri. Akhirnya Nadine sadar dan menyadari bahwa dirinya sekarang berada di UKS.

“Nad, kamu nggak apa-apa, kan?” tanya Akira mendekati Nadine.
Nadine tersenyum, “nggak apa-apa gimana? Kepala aja sampai diperban gini,” ucap Nadine dan menertawakan wajah Akira yang menatapnya dengan sangat khawatir.
“Ngomong-ngomong, yang bawa aku ke sini siapa?” tanya Nadine seraya memperbaiki posisi duduknya.
“Evan. Dia juga yang udah..” ucapan Akira terpotong.
“Kamu udah baikan? Maaf ya, tadi nggak sengaja sampai bolanya kena kepala kamu,” ujar Evan.
“Iya. Aku nggak apa-apa kok. Santai aja,” jawab Nadine lalu tersenyum. Sementara Nadine dan Evan asyik berbincang, Akira mengambil kesempatan ke luar dari UKS tanpa sepengetahuan Nadine.

Hujan kembali membasahi sosok tubuh Dio yang tengah asyik bermain basket seorang diri tanpa memikirkan derasnya guyuran hujan yang membuat satu per satu siswa meninggalkan lapangan, yang tadinya juga tengah bermain basket. Dio memang sangat suka bermain basket saat hujan turun itulah salah satu alasannya tak mau meninggalkan lapangan. Siswa lain hanya mampu terdiam di bawah gedung yang terlindung dari air hujan melihat Dio yang masih bermain basket di lapangan. Dio tak akan mendengarkan ucapan maupun ajakan orang lain yang mengingatkannya untuk meninggalkan lapangan karena hujan semakin deras, kecuali itu adalah Nadine.

“Dio!!” teriak Nadine. Dio hanya menoleh ke arah Nadine dan tersenyum lalu melanjutkan bermain basket. Nadine tahu yang harus ia lakukan. Ia segera mengambil sebuah payung dan dengan sigap berjalan ke arah Dio. “Dio, udahan mainnya! Hujannya semakin deras.” Ucap Nadine setengah berteriak. Tanpa banyak bicara, Dio segera meraih payung yang ada di tangan Nadine.

Dio berada di UKS tengah menghangatkan tubuhnya yang masih kedinginan. Tok..tok..tok..
“Permisi, Dio ini aku bawakan segelas teh hangat,” ucap Akira yang tanpa menyadari raut wajahnya memerah. “Oke. Makasih ya, Kira,” jawab Dio.
“Kalau begitu, aku mau ke kel..” ucapan Akira terpotong.
“Kenapa buru-buru? Di sini aja dulu, lagian ini kan belum bel masuk,” ucap Dio. Akira pun mengurungkan niatnya untuk kembali ke kelas dan memilih untuk tetap tinggal di UKS bersama Dio.

Mereka sangat asyik berbincang, bahkan sesekali Akira tertawa melihat Dio melakukan gerakan lucu. Akira terus memandangi wajah Dio tanpa disadarinya ternyata Dio juga sedari tadi tengah memperhatikannya. “Kok melamun?” tanya Dio membuyarkan lamunan Akira.
“Eh, iya. Tadi kamu nanya apa?” tanya Akira malu.
“Bel barusan bunyi, loh. Kamu nggak masuk ke kelas? entar kamu dimarahi kalau telat masuk, loh,” jawab Dio.
“Ah, aku lupa. Kalau gitu, aku ke kelas dulu ya,” ucap Akira dan meninggalkan Dio di UKS seorang diri.

Sebulan kemudian. Akira semakin dekat saja dengan Dio. Bahkan mereka sering jalan. Nadine mengetahuinya, dan berharap Dio benar-benar jatuh hati pada Akira. Namun harapan Nadine salah. Sepulang jalan bersama Dio, Akira terlihat murung. Ia memasuki kamarnya dan langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur dan mulai menangis. Ia mengingat kejadian tadi sewaktu ia dan Dio tengah dalam perjalanan pulang.

“Akira. Aku mau ngomong sesuatu.” ucap Dio lirih. Akira senang bukan main, ia mengira Dio akan mengutarakan perasaannya.
“Sebenarnya, selama ini aku cuma nganggep kamu sebagai sahabat, nggak lebih dari itu. Dan aku pikir, aku nggak mau buat kamu berharap lebih. Aku udah lama suka sama Nadine, aku udah berkali-kali juga ngutarain perasaan aku sama Nadi…” ucapannya terpotong.
“Haha, iya nggak apa-apa kok Dio. Aku juga cuma nganggep kamu sebagai sahabat,” Ucap Akira sigap sambil menahan sesak yang menyeruak di dalam dadanya.

Dengan susah payah ia menahan air mata yang mungkin akan benar-benar mengalir jika Dio melanjutkan kalimatnya yang akan membuatnya lebih sakit hati lagi. Untung saja pada saat yang tepat mereka tiba di depan rumah Akira. “Kenapa harus Nadine? kenapa Nadine tak menceritakan ini padaku?” batin Akira sembari menghapus air matanya yang membasahi wajahnya.

Keesokan harinya saat tiba di sekolah. Akira melihat Nadine berjalan dari arah yang berlawanan hendak menyapa Akira. Buru-buru Akira menghilang dari pandangan Nadine dan memilih untuk bersembunyi. Walau ia tahu kalau Nadine sama sekali tak mempunyai perasaan apa pun pada Dio. Tapi, hatinya masih belum bisa menerima kenyataan ini. Di kelas pun Akira tak merespon apa pun yang dikatakan oleh Nadine.

“Lihat Akira nggak?” tanya Dio.
“Nggak, Akira kenapa sih? kok dia nggak ngerespon apa pun yang a…” belum selesai Nadine berceloteh, Dio telah menghilang dari pandangannya. “Kenapa sih semua orang hari ini pada aneh? tiba-tiba gitu menghilang,” batin Nadine.
Akira yang saat ini tengah asyik membaca buku tanpa menyadari sosok Dio yang tepat berada di hadapannya. Saat Akira hendak mengembalikkan bukunya pada rak buku, ia kaget melihat Dio yang tiba-tiba saja ada di depannya. “Bisa kita bicara sebentar?” pinta Dio dengan memasang raut muka memohon.

“Kamu marah sama Nadine?” tanya Dio memulai pembicaraan diantara mereka.
“Nggak kok,” jawab Akira singkat.
“Lalu, kenapa kamu nggak ngerespon Nadine?” tanya Dio lagi.
“Tahu dari mana kamu?”
“Nadine yang cerita,” jawab Dio lagi-lagi dengan memamerkan senyumannya yang mampu membuat jantung setiap orang yang melihatnya jadi berdetak lebih cepat.
“Kalau kamu senyum kayak gitu di depanku, mana bisa aku ngelupain kamu? Please, don’t make me crazy like this, Dio..” batin Akira mengutuki kebodohannya yang dengan semudah itu luluh hanya dengan senyum dari seorang Dio.

Sesudah mendengar penjelasan dari Dio, Akira memutuskan untuk menemui Nadine yang sedari tadi ia abaikan. Nadine sedang asyik menikmati hidangan makan siangnya. Akira menghampiri Nadine lalu mengambil posisi duduk tepat dihadapan Nadine.

“Nad, maafin aku, ya. Udah cuekin kamu dari pagi,” ucap Akira tanpa basa-basi.
“Kamu kira enak dicuekin gitu? Aku nggak mau maafin kamu, sebelum kamu ngabulin satu permintaanku,” jawab Nadine dan tersenyum bahagia penuh arti.
“Nadine, jangan yang itu dong. Aku malu tahu. Aku beliin buku kesukaan kamu aja, ya,” pinta Akira.
“Nggak ada penawaran apa pun. Pokoknya malam ini kita harus double date. Kamu pasangan dengan Dio. Aku dengan Evan.” Benar, Nadine dan Evan memang sudah menjalin hubungan sejak seminggu yang lalu. Tepatnya saat Nadine terkena bola basket itu.

Malam itu Akira sangat gugup untuk bertemu Dio setelah kejadian sebelumnya. Tapi, ia terpaksa menemui Dio demi mendapatkan maaf dari Nadine. Sebenarnya, Akira tahu Nadine sudah memaafkannya, hanya saja ini memang menjadi alasan Nadine untuk membuat Akira dan Dio kembali akrab seperti dulu.
“Hei Akira, Dio. Telat banget datengnya,” sapa Evan.
“Haha iya, tadi nungguin Akira lama banget.” Lagi-lagi Dio melontarkan candaannya yang sebenarnya tak lucu namun dapat mengundang tawa dari Evan, Nadine, begitu pun Akira yang tertawa dengan canggung.

Hari demi hari berlalu, Akira telah berhasil menghapus perasaannya pada Dio. Kini Akira dan Dio tetap menjalin persahabatan. Bahkan lebih akrab dari Nadine dan Dio sebelumnya. Akira akhirnya sadar bahwa persahabatan itu lebih penting dan terbaik dari segalanya. Karena persahabatan adalah saat dimana kita saling memiliki, tanpa ada saat dimana kita akan memutuskan hubungan satu sama lain.

Tamat

Cerpen Karangan: Aresha Anggireani Cherlita
Facebook: Anggi Cherlita

Cerpen Friendship merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Thank You, Kezia

Oleh:
Best Friend. Yap. Itulah kata yang dapat menggambarkan persahabatanku dengan Kezia. Namanya, Kezia Sekar Agni. Dialah temanku, yang lebih tepat disebut Best Friend Forever (Bff). Bulan lalu, Bulan September,

Our Love Story

Oleh:
Malam ini, kurasakan betapa indahnya pemandangan malam ini berselimut kabut hitam pekat, yang berhiaskan bintang-bintang yang gemerlap bak ditabur berlian yang bersinar di hamparan pasir hitam. Hingga kusadari malam

Inikah Cinta

Oleh:
Namaku Gristina Aprilia Galuh Panuntun. Umurku kini 15 tahun, lebih tepatnya seragam putih abu-abu ada padaku sekarang. Ya, sudah menuju sikap labil memang. Tapi Cinta? Ah, Aku sangat tidak

Flamela

Oleh:
“Bagaimana perasaanmu padaku?” tanyaku pada orang itu. “Perasaanku akan tetap sama baik itu dulu, sekarang ataupun nanti” jawabnya tegas. “Benarkah?” pertanyaanku hanya di jawab anggukan olehnya. Cukup lega setelah

I Like You Like I Like a Lake

Oleh:
Namira menghempaskan tubuh mungilnya ke atas tempat tidur dengan kasarnya. Menumpahkan semua air matanya disana. Kesedihannya memuncak sudah. Sesekali Ia berteriak histeris dengan menutupkan bantal ke wajahnya. Tak terbayangkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *