Friendship or Friendzone

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 18 May 2018

“Nira..” Cewek yang merasa namanya dipanggil mencoba mencari suara bass yang memanggilnya. Seketika senyumnya mengembang setelah melihat siapa yang memanggilnya tadi.
“Dave, Aaaa…” tiba-tiba saja Nira memeluk cowok yang di panggilnya Dave tadi untung saja Dave telah siap dengan tindakan Nira. Dave terkekeh melihat Nira yang masih sama seperti dulu. Manja.
“Kenapa lo nggak bilang kalau lo pulang hari ini Dave, kan gue bisa jemput lo di bandara, atau seenggaknya gue bisa masak dulu buat lo, lo baru sam..” Nira terpaksa menghentikan celoteh panjangnya saat Dave membungkam mulutnya dengan gemas.
“Brisik banget sih, kayak ayam baru lahiran deh.” Katanya
“Ayam mah bertelur, Dave.” Sahut Nira sambil tertawa yang disusul tawa dari Dave.
“Gue sampe tadi pagi.” Kata Dave.
“Lo jahat banget gak mau ngabarin gue duluuu..” Nira mengatakan kalimatnya sambil bersungut-sungut sebagai tanda kesalnya.
“Sengaja. Wleee.” Wajah Dave yang menyebalkan membuat Nira melayangkan tinjunya ke bahu kiri Dave.
Mereka tertawa lagi.

Matahari sudah mulai meninggi, pagi ini sepertinya cocok untuk jogging keliling komplek, tapi Nira masih saja betah bergelung dengan selimut dan mimpinya. Entah apa yang dimimpikannya sampai ia bisa senyum-senyum sendiri dalam tidurnya sampai suara dering handphone harus membangunkannya dari mimpi indah itu. Dengan mata yang memicing mencoba menyesuaikan cahaya pagi dari jendela yang sengaja dibuka oleh sang mama, dicarinya handphone yang beraninya mengganggu kenyamanannya.

“Taniaa.. kebiasaan banget deh pagi-pagi gini teleponin gue.” Gumamnya kesal.
“Apa.!” Ketusnya setelah menggeser ikon hijau di Hp nya.
“Weits. Lembut dikit kenapa sih, Nir.” Protes Tania di seberang sana.
“Gue baru bangun lo udah telponin gue aja, gak ada kerjaan apa sih lo.” Kesal Nira.
“Ah elo, udah siang gini baru bangun. Hari ini tuh kita ada kuliah pagi makanya gue telponin lo. Baik kan guee.” Kata Tania dengan bangganya.
Oiya ya. Batin Nira.
“Gue udah tau kali, gue juga udah setel alarm”

“Hosh.. hosh..” Napas Nira terngengah-engah setelah berlarian sepanjang koridor fakultas biologi ke fakultas pertanian karena menyadari bahwa dia telat lagi hari ini. Sedari tadi Nira sudah dibayang-bayangi wajah kesal Pak Beno. Tapi tunggu dulu, apakah dia salah melihat jam tadi?. Mengapa Tania dan yang lain masih bersantai-santai di depan kelas. Bukankah harusnya kuliah sudah mulai dua puluh menit yang lalu?. Nira melihat jam tangannya untuk memastikan bahwa ia tak salah lihat tadi pagi.
‘Bener jam 8 lewat 20. Apa Pak Beno belum dateng ya.? Atau jangan-jangan ngga dateng nih.” Pikirnya
Penasaran, Nira akhirnya bertanya pada Tania dan jawabannya langsung membuatnya mengeluarkan sumpah serapah kepada Pak Beno.
“Dasar Pak Ben!. Tau gini enak juga gue tidur tadi!.” Umpatnya kesal.
“Gue ke kantin dulu ya, lo mau ikut nggak, Tan.? Gue belum sempat sarapan tadi.” Tawarnya pada Tania.
“Nggak ah. Lo aja sana. Gue udah.”
“Oh. Ya udah.” Nira berlalu menuju kantin. Sesekali menggerutu kesal.

“Iya, nanti aku jemput. Oke. Aku kuliah dulu ya, Ra.”
“Siapa Bro? Zara?.”
“Iyalah siapa lagi.”
Begitulah kira-kira percakapan yang terdengar oleh Nira saat melenggang melewati kelas Dave. Tanpa diberi tahu pun Nira sudah tahu siapa yang ada di ujung telepon. Pasti Zara, pacar Dave. Mereka sudah menjalin hubungan spesial sejak dua bulan terakhir. Dave yang memberi tahu Nira sendiri sesaat setelah ia dan Zara resmi jadian.

“DAVE!.” Sapaan dengan volume tinggi yang lebih tepat disebut teriakan itu cukup untuk sekedar membuat beberapa orang kaget terutama Dave dan Tama. Beberapa orang menggelengkan kepala setelah tahu siapa pelakunya. Sedangkan Tama masih mempertahankan wajah kagetnya membuat Nira tertawa geli.
“Dasar toak!. Kaget gue!. Untung gue gak punya sakit jantung!.” Bentak Tama kesal. Bukannya takut, Nira malah semakin tertawa geli. Dave menjitak kepala Nira membuat Nira sedikit menjerit.
“Sakit Dave.” Sungutnya.
“Sakit ya, maaf deh. Kekerasan njitaknya.” Kata Dave seraya mengelus kepala Nira lembut. Sejenak Nira terpaku atas perlakuan Dave barusan.
“Dih, geli tau!.” Kata Nira menepis tangan Dave dari kepalanya menyembunyikan ke gugupannya saat itu. Tama yang melihat Nira seperti itu jadi gemas dan ikut mengelus kepala Nira, tapi tidak selembut Dave sehingga membuat poni Nira berantakan.
“Tama!.” Ketus Nira.
“Ups. hehe.” ujar Tama cengengesan sambil mengangkat tangannya dari kepala Nira.
“Kantin yuk, gue belum sempat sarapan tadi.” Rengeknya memelas pada dua cowok di hadapannya. Tama dan Dave pura-pura tak mendengar dan mengalihkan pandangannya dari Nira ke sembarang arah membuat Nira kesal.
“Ah elahh. Ntaran aja deh bercandanya, gue beneran laper nih.” Nira menyeret lengan kanan Dave dan Tama menuju kantin dengan susah payah.
Tama menarik ujung bibirnya membentuk seulas senyum kecil melihat perlakuan Nira.
“Anak mami.” Kata Tama.
“Bomat.” Cuek Nira.
“Manja.” Kata Dave.
“Serah lo pada deh. Yang penting ayo ke kantin.” Nira tak peduli.

Bukan sekali dua kali ini terjadi. Nira kerap kali di landa sakit hati ketika memikirkan seseorang yang harusnya tak perlu ia pikirkan. Semakin dipikirkan, sesak di dadanya semakin bertambah.
“Heh, dasar ped*fil.” Lirihnya tersenyum kecut. Di tariknya selimut tebal berwarna biru langit miliknya hingga menutupi sebagian wajahnya. Tak lama setelahnya, ia pun memasuki dunia mimpi.

Semilir angin sore menerpa wajah dan rambut Nira yang tengah duduk di taman komplek. Beberapa kali Nira terpaksa menata rambutnya karena berantakan tertiup angin. Kebiasaan Nira yang satu ini tak bisa di ganggu. Setiap minggu sore Nira selalu menyisihkan waktu untuk datang ke taman komplek hanya untuk melihat anak-anak bermain atau kadang ia membawa serta bola basket kesayagannya dan berlatih di lapangan basket dekat taman. Kadang sendiri tapi tak jarang Tama dan Dave menemaninya berlatih. Tapi lebih sering Tama, Dave selalu sibuk dengan Zara. Yah, biasalah. Mingguan. ‘Jomblo kayak gue mah bisa apa.’ Katanya

Entah sejak kapan, sesak selalu dirasakannya saat hendak tidur seperti ini. Dengan sendirinya otaknya memutar kepingan-kepingan kenangan yang ia lewati disini. Terutama saat ia mengingat tentang kebersamaannya dengan sahabat kecilnya, Dave dan Tama. Akankah semuanya berakhir. Membayangkannya saja sudah membuatnya sesak.

Dulu, Nira tak pernah berpikir akan sejauh ini. Ia pikir semuanya hanya karena kagum, tapi semakin kesini semuanya menjadi jelas. Nira bukan sekedar kagum, tapi mulai meyayangi Dave melebihi batasnya. Tiap kali Dave bercerita tentang harinya bersama Zara, Nira memang terlihat antusias tapi di balik semua itu, siapa yang tahu kalau hatinya sedang tersayat-sayat. Berusaha menyimpan semuanya sendiri ternyata tak yang ia bayangkan. Dulu, Nira selalu berusaha membuat Dave tersenyum, karena Nira sangat mendambakan senyum itu terus terukir sehingga menjadi candu baginya. Tapi sekarang, untuk apalagi usahanya itu, bukankah sudah ada yang membuat Dave tersenyum setiap harinya?

“Bodoh! Bodoh! Bodoh!.” Ucapnya memaki diri sendiri. Matanya mulai berkaca-kaca meratapi nasibnya. Tanpa izin, setetes air matanya jatuh di susul tetesan berikutnya membentuk anak sungai di kedua pipinya.
“Gue salah Dave, gue terlalu baper sama persahabatan kita.” Katanya di tengah isak tangisnya yang tertahan.
“Gue harus apa Dave?! Gimana caranya gue ngatasin ini?.”
Sedangkan di luar sana, di balik pintu kamar Nira, Tama berdiri dengan kosongnya. Urung sudah niatnya untuk mengajak Nira keluar makan malam. Tama mendengar semuanya, isak tangis pilunya, pertanyaan hatinya, makian untuk dirinya sendiri, semuanya membuat Tama tersenyum pahit.
“Akhirnya gue denger semuanya langsung dari mulut lo, Nir.” Gumamnya di balik pintu.

Nira menghentikan tangisnya setelah mendengar pintunya diketuk oleh seseorang. Cepat-cepat dihapusnya sisa air mata di wajahnya dan langsung menutup wajahnya seolah telah tidur pulas.
“Gue tau lo belum tidur. Buka pintunya, Nir.”
‘Sh*t!. Tama ngapain sih!.”
“Gue mau tidur, Tam! Ngapain lo malem-malem gini ke rumah gue! Pulang sana!.” Bentak Nira kesal.
Tanpa seizin Nira, Tama membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci. Menyeret paksa selimut yang menutup tubuh Nira secara tiba-tiba sebelum Nira sempat protes karena Tama masuk ke kamarnya..
“Apaan sih, Tam!.” Nira berontak mempertahankan selimutnya.

Tama menyerah, dia lebih memilih duduk tenang di pinggir ranjang dan memperhatikan wajah bengap Nira akibat menangis tadi. Tama menatapnya dengan lembut, seolah megatakan ‘kenapa’. Entah karena apa, tiba-tiba saja Nira menabrakkan tubuhnya ke Tama, mencari kehangatan dan perlindungan di dada bidang Tama seolah memberi tahu Tama betapa hancur dan rapuhnya ia saat ini. Seperti burung yang patah sayapnya, keceriaan Nira yang selalu menjadikan hari Tama menyenangkan kini tak terlihat. Hanya ada Nira dengan isak tangisnya yang menusuk relung hati Tama yang paling dalam.

Membuat sesak hati Tama. Kemeja biru yang di pakai Tama basah tapi ia tak peduli, yang ia pedulikan sekarang adalah bagaimana caranya membuat sang mataharinya cerah kembali. Tama membalas pelukan Nira dengan erat seolah memberi kekuatan pada gadis itu. Tangannya secara refleks mengelus rambut panjang Nira dengan penuh hati-hati.
Beberapa menit baik Tama maupun Nira tak mengeluarkan sepatah katapun. Hanya ada suara tangisan Nira yang menggema di ruangan itu. Tama tahu, Nira akan menceritakannya bila memang sudah siap. Tama hanya perlu menunggu, menunggu pengakuan langsung dari mulut Nira tentang hal yang sebenarnya telah Tama ketahui sejak lama.

“Gue bodoh, Tam!.” Lirihnya di tengah tangisnya. Tama diam, menunggu kelanjutan kalimat Nira.
“Gue bodoh! Nggak seharusnya gue terlalu berharap sama dia! Nggak seharusnya gue berharap lebih dari persahabatan ini!.” Nira semakin terisak, melampiaskan kekesalannya pada dada Tama, memukulnya tanpa memikirkan sakit yang akan di rasa Tama.
“Udah, Nir. Gue ngerti apa yang lo rasain. Nggak ada yang bisa disalahin.” Kata Tama menenangkan.
“Gue tau, lo udah suka sama Dave sejak lama. Tapi lo pendem sendiri.”

Cukup lama mereka terdiam. Nira sempat kaget saat Tama mengatakan bahwa ia tahu tentang rasa sukanya kepada Dave. Tangisnya sudah reda dari beberapa detik yang lalu tapi ia masih enggan melepas pelukannya. Dia nyaman seperti ini. Begitu juga dengan Tama, dia tak akan pernah keberatan untuk memberi pelukan hangat kapanpun Nira butuh.
“Nir..”
“Hmm..?” Sahut Nira pelan.
Tama melepas pelukannya dan menatap mata Nira lamat-lamat. Mencari sebuah sinar yang biasanya selalu terpancar indah di sana.
“Sekarang lo mau gimana? Kasih tau Dave tentang ini?.” Nira menggeleng.
“Gue nggak mau berharap lagi ke dia. Dia udah punya Zara. Gue buta kalo nggak bisa lihat gimana bahagiaanya dia punya Zara. Gue nggak mungkin seegois itu, Tam.” Jawab Nira pelan dengan kepala tertunduk. Tama mengangguk meski tak di lihat Nira.
“Nir..” panggil Tama lagi. Nira mengangkat kepalanya, menatap mata Tama yang lurus di hadapannya. Nira kaget saat kedua tangan Tama menangkup kedua pipinya dan menghapus sisa air mata di sudut-sudut matanya. Setelahnya, Tama membelai lembut poni Nira yang sedikit basah terkena air mata.
“Nir..” Panggilnya lagi. Tiba-tiba saja Nira tertawa. Tama menatap gadis itu dengan satu alis terangkat, kebiasaan yang selalu Tama tunjukkan ketika ia heran.
“Lo udah tiga kali manggil gue.” kekehnya. Tama ikut tertawa menyadari kebenaran yang diungkap Nira.
“Gitu dong! Senyum gitu kan cantik.” Tama mencubit gemas pipi Nira.
“Kita sama-sama terjebak di friendzone dalam friendship yang kita jalani, Nir.” Tatapan Tama berubah sendu. Nira tertegun.
“Aku nggak ngerti, Tam.” Kata Nira.
Tama mendengus.
“Gue tau lo cukup pinter buat ngerti kalimat gue.” Kata Tama.
“Sakitnya sama, Nir. Mungkin lebih sakit gue yang harus liat lo nangisin Dave kayak gini.” Ungkapnya.

Hugg!
Lagi, Nira memeluk Tama erat.
Lebih erat dari pelukan yang pertama. Lagi, Nira menangis. Lebih pilu dari tangisan yang tadi.
“Maafin gue.. maafin gue yang nggak pernah ngertiin lo, Tam. Maafin gue yang nggak pernah sadar akan ketulusan lo. Atau mungkin gue emang nggak mau nyadarinnya, Tam. Maafin gue..” Tangisnya pecah tanpa dapat di bendung. Tama membalas pelukan Nira tak kalah erat. Di hirupnya aroma rambut strawberry Nira dalam-dalam. Hatinya tenang, setidaknya Nira sudah tau tentang apa yang dirasakannya. Setidaknya Nira mendengar apa yang selama ini disembunyikannya dalam hati.

“Izinin gue buat lo bahagia, Nir. Izinin gue nemenin lo saat sedih kayak gini. Izinin gue buat bantu lo ngelupain perasaan lo ke Dave.” Kata Tama. Nira mengangguk pasti.
“Iya Tam. Gue mau lo bantuin gue lupain perasaan ini, gue mau lo temenin gue saat sedih kayak gini. Buat gue bahagia, Tam.” Ucapnya membalas perkataan Tama.
“Ajarin gue buat cinta sama lo, Tam. Kayak lo cinta sama gue selama ini.” Papar Nira setelah pelukan mereka lepas.
“Pasti!.” Jawab Tama mantab.

“Nir, gue mau lo jadi istri gue.” Kalimat Tama barusan sukses membuat Nira kaget. Wajah Nira menunjukkan kebingungan yang amat sangat. Tak pernah diduganya jika Tama akan mengatakan ini. Secepat ini! Sebenarnya tak ada alasan apapun untuk Nira menolak Tama. Tama tampan, mapan dan yang penting Tama mencintainya.
“Lo serius? Secepat ini lo ngajak gue nikah?.” Dahi Nira penuh dengan kerutan kebingungan.
“Ya, kita nikah dulu baru pacaran. Gimana?.” Tanya Tama penuh harap. Dengan senyum manisnya, Nira mengangguk. Berkali-kali Tama mengucap terimakasih.
Apa yang harus dipertanyakan lagi ketika seorang lelaki telah meminangmu? Sedangkan cintanya yang lebih besar dari cinta milikmu untuknya. Bahkan ia rela menunggu Nira mencintainya. Tak ada alasan lagi bagi Nira untuk menyakiti Tama dengan menolaknya. Detik itu juga, Nira telah jatuh cinta sedalam-dalamnya ke hati Tama.

Cerpen Karangan: Cholida Nastaini
Facebook: Iin Nastaini

Cerpen Friendship or Friendzone merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Friendship or Love (Part 3)

Oleh:
Beberapa hari berlalu. Keno berencana untuk mengajak Nawala bertemu hari ini setelah beberapa hari sebelumnya ia sibuk dengan pekerjaan. Keno membuat pertemuan dengan Nawala dengan alasan untuk kesempatan bisnis

Kereta

Oleh:
Seperti minggu-minggu sebelumnya sepagi ini saya sudah berada di stasiun yang sama, melihat jam besar di atas sana menunggu kereta datang, berada pada orang-orang yang sesekali memadangi jam tanpa

Waktu Singkat

Oleh:
Pada suatu pagi aku berangkat ke sekolah, sesampainya di kelas aku duduk di bangku temanku di jajaran paling belakang saat itu aku sedang berbincang dengan temanku, tak lama kemudian

Ingatan Yang Hilang

Oleh:
Aku Ross Mochammad Alifano berumur tiga belas tahun, berkepribadi baik, sopan dan jujur. Pada suatu pagi yang berkabut tipis di depan rumah aku melihat seorang gadis cantik berambut pirang

Setelah Kepergianmu

Oleh:
Matahari masih bersinar dengan cerah hari ini…, awan putih pun masih menghiasi langit biru.., hari ini masih sama seperti hari kemarin. Tak ada yang berbeda tapi kenapa aku merasakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *