Friendship or Love (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 August 2017

Persahabatan. Sebuah hubungan yang sangat luar biasa. Kesunyian dalam hidup akan berkurang dengan adanya kehadiran seorang sahabat, seseorang yang dapat dipercaya, selalu setia menemani di saat sedih maupun senang. Percintaan. Sebuah hubungan yang tidak kalah luar biasa dari persahabatan. Tidak ada orang yang tidak membutuhkan cinta, bahkan saat seseorang baru dilahirkan. Hadirnya seseorang yang dicintai ataupun mencintai akan membuat hidup terasa lebih berarti, membuat seseorang merasa terlengkapi. Semua orang dapat merasakan kedua hubungan tersebut. Bahkan jika berlawanan jenis, tidaklah tidak mungkin seseorang mampu jatuh cinta pada sahabatnya sendiri tanpa merusak persahabatan mereka. Namun tidak memperkecil kemungkinan jika seseorang akan memilih antara persahabatan ataupun percintaan, jika saja seseorang tersebut merasa harus memilih atau bahkan mengorbankan salah satunya.

Dua orang pemuda tengah duduk di sebuah meja makan restoran cepat saji. Mereka bernama Zeno dan Keno, yang telah bersahabatan sejak lama. Memang seringkali mereka makan bersama untuk memperkuat persahabatan dan bertukan pikiran. Mereka mengobrol dengan santai sambil sesekali menggigit roti burger yang telah mereka pesan.
“Gimana Ken menurut lo?” tanya Zeno kepada Keno dengan mulut masih berisi makanan.
“Gila lo Zen, perasaan lo belom ada setahun pindah kerja ke sana udah naik jabatan aja,” jawab Keno seperti bangga.
“Beruntung aja gue bro. Tapi kan tanggung jawab gue jadi lebih besar, pekerjaan jadi tambah berat ya nggak?” keluh Zeno.
“Keberuntungan gak akan dateng kalau gak ada usaha kali Zen. Lagian lu gak usah ngeluh kali, gaji lo kan naik jadinya,” jawab Keno yang juga sedang mengunyah makanan.
“Nah itu dia Ken, kayaknya gue bakal jadi orang kaya duluan nih,” ledek Zeno dengan tawa kecil.
“Gak ada masalah Zen, lo jadi kaya duluan juga gue ikut seneng,” Keno memalingkan wajah berpura-pura tidak senang. Zeno jadi geli melihatnya.
“Bisa aja lo. Pokoknya gue tunggu lo nyusul gue, kalau lo butuh apapun kabarin aja gue,” kata Zeno dengan santainya.
“Ah jangan gitu Zen, gak enak kan gue,”
“Yah elah masih aja lebay lo Ken. Udah berapa lama sih kita temenan, sampai-sampai kita satu panti asuhan dulu. Nama panggilan kita aja hampir sama ibarat kayak saudara kembar beda ibu, walaupun masih gantengan gue sih,” gurau Zeno.
“Sialan juga lo Zen, kalo ngomong suka bener,” ujar Keno diselingi tawaan. Mereka berdua pun tertawa bersama. Aura persahabatan yang kuat sangat terlihat. Mereka melanjutkan obrolan seperti tak ada habisnya.

Begitulah persahabatan mereka. Saling mengenal sejak kecil membuat mereka sangat akrab layaknya bersaudara. Ditambah nasib mereka yang sama, tidak pernah mengenal kedua orangtua kandung mereka. Membuat hubungan persahabatan mereka semakin erat. Walaupun sebenarnya karakter mereka hampir berbanding terbalik. Zeno seseorang yang sangat aktif, agak bengal dan optimis. Sedangkan Keno lebih pendiam, sangat teratur, dan agak pesimis. Sejak mereka sekolah, mereka sudah saling membantu satu sama lain. Keno yang saat itu seringkali diganggu teman sekolahnya, selalu dibela oleh Zeno yang terkenal bengal dan pemberani. Zeno yang yakin jika Keno memiliki sifat yang lebih baik dan positif, selalu meminta pendapat maupun nasihat kepada sahabatnya itu.

Setelah selesai makan bersama, Zeno dan Keno memutuskan untuk kembali ke kediaman mereka masing-masing, Zeno mengantar Keno menggunakan mobil sedan pribadinya.
“Awet juga nih mobil seken pilihan lo Zen,” puji Keno sambil melihat sekeliling ruangan mobil.
“Jangan bilang gitu dulu Ken, takut gue. Baru juga 6 bulan dipakai, belom lunas pula,” Zeno merendah diri.
“Iya sih, tapi gue doain awet lah,”
“Amin sob. Gue anterin lo sampe kosan lo deh karena udah doain gue.” tawar Zeno dengan sedikit tertawa. Biasanya Zeno hanya mengantar sampai ke halte saja.
“Tau aja lo kalo gue kodein,” Keno pun ikut tertawa.
“Santai, mobil ini mobil lo juga kok Ken. Jadi kalo nanti lo udah beli mobil yang lebih bagus, mobil itu juga mobil gue.” Lagi-lagi kata-kata Zeno membuat mereka berdua tertawa.
“Kalo gitu rugi di gue dong. Tapi yang jadi masalah kapan gue belinya?”
“Nah itu dia lo pikirin,” Zeno berusaha memotivasi Keno.
“Gue sih emang lagi belom ada niatan, masih nyaman aja kemana-mana naik kendaraan umum,” begitu alasan Keno. “Lagian kenapa sih waktu itu lo ngebet banget beli mobil?”
“Ada deh. Mungkin nanti lo juga akan tau sendiri,” jawab Zeno santai. “Oh iya ngomong-ngomong kabar si Vika gimana Ken?”
“Baik, gue masih akrab sama dia kok, kontak-kontakan terus,” jawab Keno singkat.
“Oh bagus lah. Gue pikir-pikir dia cakep juga loh Ken, asik pula orangnya. Dan menurut gue lo bakal cocok sama dia.” Zeno mengeluarkan pendapatnya tentang Vika, seorang wanita yang telah menjadi teman akrab Keno sejak mereka masih kuliah.
“Cocok gimana maksudnya?” tanya Keno dengan cengiran malu, seolah ia pura-pura tidak mengerti maksud Zeno.
“Jadian gitu, lo udah kenal dia hampir 7 tahun juga,” Zeno berusaha mempengaruhi Keno.
“Dia kan sahabat gue Zen, kayaknya gue lebih nyaman kalo tetap begitu deh.”
“Emang masalah kalo lo jadian sama dia tapi tetap sahabatan?”
Keno terdiam mendengar pertanyaan itu. Sambil melihat keluar jendela mobil, ia terus memikirkan pertanyaan yang baru saja dikatakan oleh Zeno.

“Oi Ken, malah bengong lagi lo!” Seruan Zeno menyadarkan Keno dari lamunannya.
“Eh sorry bro,”
“Gimana?” tanya Zeno untuk memastikan. Ia sungguh penasaran dengan perasaan Keno terhadap Vika.
“Jujur emang ada perasaan suka sih gue sama dia, tapi belom yakin juga gue. Lagian belom tentu juga dia suka sama gue.” Keno terlihat cukup serius.
“Tuh kan udah gue duga,” Zeno tertawa ledek. Keno tersenyum malu. “Lo cari tau lah gimana perasaan dia, lo nya aja sih kurang aksi. Lama-lama gue yang sikat dah.” Zeno meledek lagi sambil terkekeh.
“Heh, maksud lo?” tanya Keno ketus, namun tetap dengan candaan.
“Weh galak amat bang, makanya cepetan dong,” jawab Zeno yang masih terkekeh.

Tiba-tiba saat sedang kebetulan melewati kantor tempat Vika bekerja, Zeno menengok ke jendela dan memperlambat mobilnya. Ia melihat seorang wanita sedang sendirian menunggu kendaraan umum di pinggir jalan.

“Eh Ken, itu bukannya si Vika?” tanya Zeno yang masih memastikan apa yang dilihatnya. Keno pun juga jadi melihat apa yang dilihat Zeno.
“Iya Zen itu si Vika! Putar balik dong!” seru Keno dengan agak terkejut, “gue pulang bareng dia aja deh naik kendaraan umum,” lanjutnya.
“Oh gitu, yaudah. Tapi kurang asik bro kalo lo bareng sama dia naik kendaraan umum.” Seketika Zeno memberhentikan mobilnya. Keno terlihat bingung dan tidak memahami maksud Zeno. “Jemput aja dia pakai mobil, biar agak keren dikit. Gue aja yang naik kendaraan umum,” kata Zeno sambil hendak keluar dari mobil.
“Eh tunggu dulu, serius lo Zen? Gak, gak usah, lagian dia kan tau kalo gue belom punya mobil.” Keno sungguh tidak menyangka dengan yang dilakukan Zeno.
“Yaelah Ken, lo bilang aja ini mobil sewaan atau apa kek. Yang penting jangan bilang kalo ini mobil gue aja, oke bro?” ujar Zeno dengan sangat santainya.
“Eh tapi..,” Keno terlihat kebingungan untuk berkata.
“Udah lo gak usah banyak tanya. Bawa pulang dulu aja, besok dibalikinnya. Pokoknya jangan sampai lecet nih mobil dan jangan kecewain dia.” Zeno mengedipkan sebelah matanya seolah meledek, kemudian pergi meninggalkan mobil miliknya itu. Keno terlihat keheranan, kemudian ia pun segera memutar balik mobil milik Zeno itu untuk menjemput Vika.

Keno memberhentikan mobil di depan Vika, kemudian membuka jendela.
“Vika! Sendirian aja. Bareng aku aja sini,” ajak Keno dengan senyuman hangat.
“Ehh ada si Keno Kaneza. Mauu dong bareng.” Vika menerima ajakkan sambil tersenyum manis. “Mobil baru nih Ken?” tanyanya dengan nada bercanda, yang juga sudah di dalam mobil.
“Boro-boro Vik, uang tabungan aja gak nambah-nambah, berkurang malah,” balas Keno dengan candaannya. Vika tertawa geli mendengarnya. Keno melihat wajah Vika yang sedang tertawa. Menurut Keno cara tertawa Vika sungguh unik, dan tidak pernah berubah sedikitpun sejak pertama kali ia mengenalnya saat ospek kuliah dulu.

“Terus ini mobil dari mana?” tanya Vika dengan wajah polos sejuta rahasianya.
“Anu, ini mobil sewaan. Tadi ada kerjaan yang harus nyewa mobil,” jawab Keno yang sedikit ragu.
“Kamu kenal dekat ya sama yang nyewain mobil ini?” Vika terlihat seperti telah mengetahui sesuatu.
“Em, iya sih lumayan. Eh tunggu, kok kamu bisa tanya gitu?” Keno tersadar bahwa pertanyaan Vika agak aneh.
“Oh enggaa, tadinya aku kira ini mobil pacar kamu itu,” kata Vika dengan nada meledek.
“Hah? Pacar aku gimana maksudnya?” Keno bingung dengan maksud perkataan Vika.
“Itu di kunci mobil ada gantungannya.” Vika menunjuk gantungan kunci mobil, dengan wajah seperti menahan tawa. Keno terkejut saat melihat gantungan tersebut, karena itu adalah gantungan dengan ukiran nama yang bertuliskan ‘Zeno Aria’, sahabatnya.
“Aduh, ketahuan lagi,” ucap Keno dengan wajah terlihat gugup. Vika sungguh geli melihat respon Keno.
“Santai aja kali Ken, masih suka terlalu serius aja kamu. Lagian kenapa gak jujur aja sih?” Vika mencubit lengan Keno sambil melanjutkan tawanya. Keno hanya tertawa malu. Selama perjalanan di mobil mereka terus bercanda tiada henti, suasananya sungguh sangat cair seperti sudah terbiasa.

Hari ini seperti biasanya Keno harus bekerja di kantor. Begitupun dengan Zeno. Mereka bekerja di kantor yang berbeda. Keno yang masih memegang mobil milik Zeno berencana untuk mengembalikannya sebelum ia bekerja, sehingga ia menelpon Zeno.
“Halo, Zen gue mau ke kosan lo nih, balikin mobil.”
“Sekarang? Gak usah nanti aja pulang ngantor lo bawa mobilnya ke kantor gue. Hari ini gue berangkat naik kendaraan umum dulu gak papa.”
“Oh gitu, yaudah sip.” Keno setuju dengan saran Zeno, dan ia pun berangkat kerja dengan mobil milik sahabatnya. Ia sudah terbiasa dengan kebaikan sahabatnya itu.

Tak terasa matahari sudah mulai menenggelamkan diri. Keno sudah selesai dengan pekerjaan-pekerjaannya di kantor. Tak lupa ia akan ke kantor Zeno untuk mengembalikan mobil, bahkan ia mengisi bensin mobil sahabatnya itu hingga penuh.

Sesampainya di kantor Zeno, Keno berencana langsung masuk untuk mencari Zeno setelah ia menghubunginya namun tidak aktif. Saat ia hendak masuk melalui pintu masuk kantor, ia menabrak seorang wanita yang sedang terburu-buru keluar.
“Aduh, sorry sorry,” ucap Keno sambil terkejut dan menyesal. Berkas-berkas yang di bawa wanita itu jatuh berserakan, sehingga Keno membantu merapihkannya.
“Gak papa kok, salah aku tadi terburu-buru,” jawab wanita itu dengan tergesa. Wanita itu tidak melihat wajah Keno sedikitpun, seperti sedang menyembunyikan wajahnya. Keno sesekali mengintip wajah wanita itu, yang ternyata terlihat sedang bersedih, bahkan seperti habis menangis. Wajah wanita muda itu sungguh sangat sendu.

Cerpen Karangan: Satria Akbar Difa
Inspired by the writer’s true story.

Cerpen Friendship or Love (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kita Yang Dulu Berhati Baik

Oleh:
Ahad, 14 hari setelah 30 Agustus 2015. Yuy, tanpa sengaja kutemukan surat tertanggal 30 Agustus 2007 -surat bermutu kelas teri yang tak tersampaikan padamu sesuai waktunya. Senyum aneh, geli

Diafy Forever

Oleh:
Halo namaku syafaat dini hari. Kalian bisa memanggilku dini. Aku mau cerita kisah nyataku. Aku sudah kelas 5 SD. Sebenarnya aku mempunyai sahabat bernama sajako anggotanya aku aulia, jingga,

Kisah Dibalik Jendela Kelasku

Oleh:
Kawan namaku Vania Amaira Putri. Aku sih biasa dipanggil sama teman-teman Vani. Temen-temenku bilang aku tuh orangnya bawel, ribet, suka heboh sendiri, tapi baik kok, katanya sih aku tuh

Sebungkus Sesal

Oleh:
Suasana hari ini sangat sepi. Hanya suara gesekan dedaunan pada tanah yang menjadi melodi siang ini. Ya, siang yang panas ini. Tak ada awan, yang ada hanyalah sinar mentari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *